Fate – Part 5 [Last Part // Cerbung IC]

Its very very different. Yeah, different.

-Bogor, Indonesia, 17:30, 2020-
Chelsea membuka mulutnya lebar lebar. Ia tak sanggup melawan kantuknya saat mengerjakan tugas dari sang dosen. Sudah berjam-jam ia berada di perpustakaan namun ia tak kunjung pulang. Ia belum menemukan jawaban dari tugasnya itu. Ia sudah melamun sejak satu setengah jam sebelumnya, tak fokus mencari jawaban tugasnya. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke kost-annya.

Dijalan ia benar benar seperti orang mabuk. Berjalan saja ia merasa sangat sulit. Ia merasakan tak ada tenaga lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk menaiki becak menuju kostannya.

Chelsea tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa. Ia tidak terlalu manja lagi sekarang. Ia bisa mengerjakan pekerjaan rumah, ia bisa memasak, dan ia bisa mengerjakan apapun yang dia inginkan tanpa meminta bantuan kepada orang lain.

Ia sadar bahwa inilah masa depannya. Disinilah ia harus melangkah. Ia sadar bahwa ia tak bisa terus bergantung pada orang lain.

Di dalam becak, ia benar benar setengah tertidur. Ia menaiki becak yang rumah tukang becaknya dekat dengan kostannya.

Hampir saja ia memasuki alam mimpi. Tiba tiba tubuhnya bergetar. Ia merasakan guncangan hebat. Ia terbangun dari kantuknya untuk memastikan keadaan. Tetapi keadaannya memang seperti itu. Iya, seperti itu. Becak itu, ataupun dia, ataupun apapun yang ada disekitarnya bergoyang. Gempa bumi.

“Neng, gempa neng.. Gempa..” ucap tukang becak itu kepadanya. Ia turun dari becak itu dan berlari menuju tempat terbuka. Bukan hanya dia, orang banyak juga berlarian menuju tempat itu. Beramai ramai menuju tempat terbuka dan berusaha menghubungi orang terdekat.

Tetapi tidak ada sinyal sama sekali.

Ia berusaha menghubungi orang orang terdekatnya. Ia berusaha menghubungi orangtuanya, sahabatnya maupun orang yang tersayang namun tak terhubung sama sekali.

Setengah jam gempa itu berlalu dengan guncangan yang dahsyat mencapai 7,6 SR. Bangunan bangunan besar hancur. Untung saja sudah jauh dari kampusnya. Beberapa jalan terbelah dua dan lain sebagainya.

Chelsea sampai di kostan. Ia baru saja mandi dan memakai baju. Dengan handuk yang masih menggantung di kepalanya, ia memasak beberapa buah chicken nugget untuk disantapnya. Saat ia selesai menggoreng, ia menaruh makanan itu di meja sebelah kasurnya.

Tak lama, ponselnya berdering. Tak ada nama orang yang menelfonnya disitu. Ia mengangkat telfon itu.

“Hallo?” ucap Chelsea. Namun, sambungan itu dimatikan oleh orang yang ada di seberang sana. Ia hanya menaikkan bahunya dan melanjutkan makannya.

Ia melanjutkan makannya namun tak lama, ponsel itu berdering lagi. Dengan nomor yang sama, Chelsea mengangkat telefon itu lagi.

“Hallo?” ucap Chelsea lagi. Namun untuk yang kedua kalinya orang itu mematikan sambungan telefon itu.

“Apaan sih iseng banget..” lanjutnya lalu memakan kembali makanannya. Sesudah itu ia menaruh piringnya di wastafel ia mencuci piring itu beserta gelas dan yang lainnya. Ponsel itu berbunyi namun Chelsea belum selesai mengerjakan pekerjaannya itu. Ia mengabaikan deringan ponsel itu.

Setelah ia selesai mencuci piring, telfon itu berbunyi lagi. Kali ini dengan sabar Chelsea menjawab telefon itu.

“Hallo?” ucap Chelsea tak sabaran

“Hai Chel..” ucap seseorang di seberang sana. Chelsea terdiam, tak percaya orang ini menghubunginya lagi.

“Eh.. Iya.. Hai..” ucap Chelsea sedikit gugup.

“Ngg… Saya.. Saya.. ” ucap orang disana tergagu sendiri. “Saya mendengar bahwa di Bogor tadi terjadi gempa bumi dengan skala yang besar. Kamu tidak apa apa?” lanjut orang itu berusaha senetral mungkin.

Saya khawatir..” ucap orang itu melanjutkan kata katanya setelah lama tak ada jawaban dari Chelsea.

“Oh ya?” tanya Chelsea.

“Iya..” ucapnya. “Siapa lagi yang bisa saya khawatirkan selain kamu?”lanjutnya.

“Thank you but.. I’m fine..” ucap Chelsea dengan suara senetral mungkin. Ia mengusap sudut matanya yang secara tak sadar akan tumpah beberapa butiran bening menuju pipinya.

“Hahhh.. Feelin’ happy to hear that..” ucap yang disebrang sana. Chelsea melangkahkan kakinya keluar kostannya. Menuju suasana outdoor ditemani bintang bintang menghiasi langit malam.

“I.. I.. I wanna say… I.. I miss you..” ucap yang disebrang sana lagi. “Sorry saya terlalu lancang untuk berkata demikian tapi-”

“No problem..” balas Chelsea cepat. “I feelin’ it too when i hear your voice again. Its almost five years yeah..” balas Chelsea.

“I’m sorry, I.. I.. I cant be a good friend for you.. I was do a big mistake..” ucapnya.

“No problem and i think isnt your mistake. It is God’s plan, yeah i think..” balas Chelsea.

“Chelsea..” ucap yang disana lagi. “Saya mau minta maaf. Maaf pernah ngecewain kamu, pernah ngebuat kamu kesel, saya emang bukan orang yang terbaik buat kamu. Saya-”

“Sudah saya maafkan dari dulu..” potong Chelsea.

“Kamu lagi dimana?”

“Dirumah ka..”

“Jangan panggil aku kakak, aku ingin kita berteman saja. Panggil nama saya saja..”

“Okay if you want that..” ucap Chelsea. “Im in home, Bagas Rahman Dwi Saputra..” lanjutnya.

“Rumah? Emang lo punya rumah di Bogor? Bilang aja di kostan..” ucap yang disebrang sana yang ternyata adalah Bagas. Mencoba merangkai kaca yang sudah menjadi serpihan beling, berusaha mencairkan itu kembali, mengulangnya dari awal.

“Iyadeh. Lagi di teras kostan..”

“Me too..” ucap Bagas. Keheningan tercipta diluar sana. Keadaan kaku sunyi sepi dan segalanya bersatu.

“Ga nanya..” ucap Chelsea pelan, Bagas mendengarnya hanya tersenyum, gadis ini benar benar memaafkannya.

“Jujur, gue iri sama orang yang ada disana..” ucap Bagas.

“Dimana?” tanya Chelsea.

“Yang ada di balik bulan, orang orang dunia paralel..” jawabnya. “Mereka yang menjadi ‘aku dan kamu’ pasti sedang bahagia..” lanjutnya.

“Ya, saya juga iri..” jawab Chelsea melihat ke arah bulan purnama di langit kostannya. Butiran bening itu mengalir lagi.

“Mereka pasti sedang dinner bareng..” ucap Bagas.

“Mereka lagi ledek ledekan bareng..” jawab Chelsea.

“Ya mereka lagi pegangan tangan..” ucap Bagas lagi.

“Dan mereka lagi merasakan rasanya cinta sejati..”

“Mereka lagi memuji pakaian satu dan yang lain..”

“Mereka menanyakan tugas satu sama lain..”

“Mereka curhat curhatan tentang dosen..”

“Dan yang penting.. Mereka masih pacaran..” jawab Chelsea mengakhirinya. Ia mengusap air matanya yang tak gengsi untuk jatuh.

“Atau mungkin tunangan..” jawab Bagas. Mereka terdiam satu sama lain. Suasana mellow membuat mereka semakin.. Hmm, kalian tahu bagaimana suasananya.

“Can you be-”

“Im sorry i think no..” jawab Chelsea cepat, menghapus air matanya lagi. Ia mematikan sambungan telefon itu dan menangis sejadi jadinya.

“Kenapa sih.. Kenapa..” ucap Chelsea lirih. “Lo dateng disaat yang ngak pas kak..” lanjutnya.

Chelsea memasuki kostannya lagi dan berbaring di atas tempat tidurnya. Menangis sejadi jadinya.

“Kenapa lo baru dateng sekarang..”

“Kenapa lo ngak dateng lima tahun yang lalu..”

“Atau kenapa lo ngak dateng sama gue tahun lalu..”

“Sebelum gue punya ini..” akhir ucapan Chelsea melihat jari manisnya yang sudah dilingkari oleh sebuah cincin.

-2 month a go, Jogjakarta, 12:30, 2020-
Bagas mengangkat toga-nya tinggi tinggi. Ia baru saja lulus kuliah sekarang. Setelah menyelesaikan skripsinya. Ia sekarang lebih aktif dalam bidang tulis menulis cerita dan menyebarkannya di blog pribadinya.

Ia menulis kisah kisah anak SMA Idola, teman temannya dulu.

Ia sedang ada di choco cafe, tempat nongkrongnya sewaktu SMA. Pasalnya, setelah kejadian itu hubungan Chelsea dengan Bagas membaik. Ia dan Chelsea sudah membangun silaturahmi dari awal lagi. Saling sapa saling mengingatkan satu sama lain.

“And thats how i tell to him ’bout… Rhhh gimana ya gue nulis surat ini..” ucap Bagas sedikit frustasi dengan surat lamaran kerjanya sebagai pengacara pribadi perusahaan asing.

Bagas meminum kopinya lagi. Ia menikmati setiap detik di hidupnya sekarang. Ia mensyukuri hal yang harus ia syukuri.

Tiba tiba ponselnya berbunyi.

Oh dari Chelsea.

“Hallo ada apa? Saya sibuk nih..” ucap Bagas bercanda.

“Hmm sedikit menganggu sih tapi ngak apa apa deh. Memang ada apa sih? Kangen ya?” jawab Bagas lagi.

Namun jawaban gadis itu membuat Bagas terpaku. Bagas terdiam. Tak tau harus berbuat apa.

Bagas tak menjawab suara gadis itu. Ia mencerna kata kata yang diucapkan gadis itu.

“Congratulation..” ucap Bagas dengan senyum yang dipaksakan.

Telfon itu dimatikan oleh Bagas. Dan tak lama sms masuk berbunyi. Ya, Bagas tak percaya akan situasinya sekarang.

-Jakarta, 10:45,2020-
Bagas membetulkan dasinya. Ia berkaca pada kamar di rumahnya yang lama.

“Gas ayo..” ucap 2 orang memasuki kamarnya. Ia adalah Fattah dan Salma, teman SMA-nya. Ia mengangguk dan memasuki mobilnya dan menuju suatu tempat.

Tempat itu ramai sekali oleh anak Idola dan teman teman kampus orang itu. Bagas duduk di meja bundar bersama Fattah dan Salma, tak lama datang Difa, Rafli, Marsha, Angel dan yang lainnya.

“Gila gua fikir Chelsea bakalan nikah sama Bagas ternyata enggak..” ucap Rafli kepada kumpulan anak anak itu.

“Gue sih kalo jadi Bagas ngak akan kuat..” ucap Difa.

“Loh harusnya kan kalian mendoakan supaya Chelsea bahagia..” ucap Salma.

“Lo ngak tau sih kalau kita udah cinta terus ditinggal kawin gini rasanya ngak enak..” ucap Fattah, beberapa orang mengangguk mengiyakan. Bagas hanya terdiam, tersenyum sudah berkumpul bersama anak anak Idola.

“Lo sih rese..” ucap Marsha kepada Bagas. Bagas menjawabnya dengan senyuman khasnya.

Oh iya tentang Cindai. Cindai sekarang sudah bekerja di luar negeri maka dari itu ia tak bisa berkumpul bersama mereka.

Tak lama, Chelsea datang dari arah pintu bersama pasangan hidupnya, Aga.

Bagas sadar, orang itu mirip dengannya. Ia sadar Chelsea masih menyimpan rasa untuknya. Ia sadar bahwa Chelsea menjadikan pria itu pelampiasannya.

Chelsea berjalan dari arah pintu menuju panggung dari tempat itu. Semua orang bertepuk tangan, menyorakinya dengan kata selamat. Chelsea terlihat dewasa, tak terlihat seperti anak anak lagi.

Saat Chelsea lewat di sebelah Bagas, Bagas bertepuk tangan. Ia sadar bahwa ia masih mencintai Chelsea. Tetapi, jika ia mencintai Chelsea, ia tak merasa tersakiti atau merasakan apapun. Ia bahkan berharap Chelsea dan pasangannya akan bahagia selamanya. Ia berharap mereka akan menjalani hidup yang bahagia.

Bagas bertepuk tangan dengan senyum tertulus yang pernah ia pasang.

~~~

Anak anak Idola sudah berfoto dengan Chelsea dan pasangannya. Kini tinggal Bagas, Alvin, maupun Debo. Yang pernah mempunyai hubungan dengan Chelsea.

“Selamat ya babe..” ucap Alvin cipika cipiki dengan Chelsea.

“Thanks ko..” jawabnya.

Merekapun berfoto. Bagas hanya memasang tampang normalnya. Sesudah itu Bagas hanya melihat Chelsea. Ia merasakan sesuatu yang sangat ikhlas saat melihat wanita itu mengenakan pakaian pengantinnya.

“Chels, forgeted my mistake to you. Oke?” ucap Debo mengeluarkan jari kelingkingnya. Chelsea menyahutnya dan mengangguk.

Kini Chelsea melihat ke arah Bagas, Bagas hanya tersenyum ikhlas kepadanya. Chelsea melihat wajah itu lalu memalingkannya. Ia tak kuat jika harus menangis disitu.

“Eh kita boleh cium Chelsea sebagai tanda perpisahan ngak?” tanya Alvin.

“Boleh saja, asal dia mau..” ucap pasangannya Chelsea.

Chelsea mengangguk namun saat Alvin dan Debo akan mendekati Chelsea, Aga menghalanginya.

“Tapi harus cium gue dulu..” ucap Aga.

“Yah kok gitu. Ngak adil..” ucap Alvin.

“Itu bukan perjanjian kita dari awal..” ucap Debo.

“Ah ringankan sedikit..”

“Tidak bisa..”

“Boleh ya..”

“Tidak..”

“Kenapa lu pelit banget..”

“Karena-”

Ucapan pasangannya terhenti karena Bagas langsung mencium Aga. Entah apa yang terjadi Bagas malah teringat saat ia masih bersama Chelsea. Kenangan mereka. Suka duka mereka. Semuanya sudah ia jalani dan sekarang ia menyia-nyiakannya. Ia sangat menyesal namun turut berbahagia.

‘Masakan lo ngak enak’

‘Nih gue punya gelang couple kita’

‘Gue takut lo dapet yang baru kak..’

‘Ngak akan kok sayang..’

‘Gue akan setia sama lo..’

‘Gue akan menjadi pasangan yang baik buat lo..’

‘Saya khawatir..’

‘Kamu tidak apa apa?’

‘Aku mencintaimu kak..’

‘Aku sayang kamu..’

‘Jangan lupa balas BBM ku ya..’

‘Jangan lupa makan..’

‘Jangan lupa buka skype tiap jam 7 malem..’

‘I miss you..’

‘Sorry tapi kita ngak bisa ulang semua dari awal..’

Dan yang lainnya. Bagas menyudahi mencium Aga. Ia melihat ke arah Chelsea yang menangis terharu. Ia yakin, baik ia maupun Chelsea masih memiliki perasaan yang sama. Ia masih mencintainya. Ia berhasil membuktikan bahwa ia masih mencintainya. Ia berhasil melakukan tantangan yang diberikan oleh pasangannya. Alvin maupun Debo tercengang.

“Aku emang egois dan konyol.. Aku ngak akan berhenti membuat kamu terkejut dengan sikapku..” ucap Bagas di hadapan Chelsea. Chelsea mengelap matanya lagi. Dan akhirnya mereka berpelukan bersama. Bagas tak berniat mencium Chelsea, hanya membuktikan bahwa ia mencintai Chelsea. Ia masih memiliki rasa kepada gadis ini.

Bagas sadar ini jalannya. This is his fate, his destiny. Seberapapun ia cinta kepada Chelsea, jika Tuhan bilang mereka ngak bisa bersatu, ya mereka tak akan bersatu. Ia mencintai gadis ini sejak lama. Saat mereka masih duduk di bangku kelas 6 SD. Ia masih polos.

Bagas tak menyesal pernah kenal Chelsea. Ia bersyukur penah kenal Chelsea. Penah punya hubungan sama Chelsea. Karena ia sadar tak selamanya apa yang ia ingini akan terwujud. Chelsea mendapatkan pria yang lebih baik darinya dan ia percaya ia akan mendapat wanita yang lebih baik dari Chelsea karena sudah diatur oleh Tuhan. Tetapi walaupun begitu, ia tetap mencintai gadis ini.

You will always be.. My endless love..

Tamat~

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: