Fate – Part 3 [ Cerbung IC ]

Hai saya balik.

Maaf sempet vakum, lagi sok sibuk *ga nanya* dan akhirnya, bagian 3 selesai. Dimana di setiap cerbung saya pasti part 3 yang paling abstrak dan gak jelas. Maafkan maafkan. Hope you like it guys!! Check itu out

|
|
|
|
|
V

-Lusa,Choco Cafe, 17:45-
“Lo serius mau balik?” tanya Chelsea karena Bagas mengajaknya untuk pertemuan perpisahan di Choco Cafe, tempat dimana Bagas pertama kali bertemu Chelsea saat Chelsea baru pulang dari German.

“Yeah..” ucap Bagas mengaduk aduk kopinya. “Lagian gue ngak ada lagi yang mau dikerjain kan?” lanjutnya.

“Hmmm..” ucap Chelsea ragu sembari menyembunyikan sesuatu.

“Emang bener kan? Nyokap gue udah selesai ulang tahun.. Gue juga harus nanya nanya ke Salma apa yang harus gue bawa..” ucap Bagas seakan serius.

“Ngak bisakah lo pulang lusa aja? Atau besok deh..” ucap Chelsea. Bagas menggeleng lemah.

“Kayaknya enggak deh..” Chelsea menghembuskan nafas beratnya. Mengalihkan matanya ke arah panggung.

“Nggg…” ucap Chelsea pelan. “Lo bisa nyanyiin satu lagu buat gue?” lanjutnya.

“Nggg, no..” ucap Bagas singkat lalu meminum kopinya. Chelsea sangat kesal, bahkan sangat sangat kesal. Entah kenapa ia jengkel dengan pria ini, pria yang seakan tidak ingat tentang hari bersejarah mereka disini.

“Kenapa sih lo?” tanya Bagas karena raut muka Chelsea yang mendadak lemas.

“Ngak apa apa..” ucap Chelsea sambil memperhatikan kopi yang ia aduk. Hening tercipta, entah sudah berapa kali ia mengaduk kopi itu, tanpa meminumnya.

“Gak diminum Chel?” tanya pria di depannya itu.

“Cape kak..” jawab Chelsea. “Cape hati..” lanjutnya. Bagas terdiam sebentar, bahkan cukup lama. Berfikir apakah ia pantas untuk melakukan hal ini kepada Chelsea?

“Kak, gue pulang aja ya..” ucap Chelsea saat Bagas tak kunjung membuka suaranya. Chelsea bangkit dari bangkunya, sementara Bagas hanya bisa diam. Kini, Chelsea sudah sampai di depan pintu cafe, melihat ke arah belakang yang ternyata Bagas masih terdiam disana.

“Bahkan lo cuman diem ya kak.. Ngak ngejar gue..” tatap Chelsea pedih sebelum keluar dari pintu.

“Jangankan ngejar..” ucap Chelsea menarik nafas sebentar. “Lo nanya kenapa gue pergi aja enggak..” lanjutnya. Akhirnya Chelsea keluar dari Cafe itu, dengan keadaan gontai.

Chelsea membanting dirinya ke atas tempat tidurnya. Fikirannya sudah entah kemana sekarang, ia sudah berfikir keluar dunia khayalannya. Merasakan sebuah perasaan yang pernah ia rasakan sebelumnya.

“Hmmm…” ucapnya pelan.

“Lo masih nganggep gue kan?” tanya Chelsea pelan. Dia menutup matanya sebentar, dan mulai sedikit terlelap. Sampai akhirnya, seseorang mengetuk pintu kamarnya.

“Siapa?” ucap Chelsea malas. Mendengar tak ada jawaban, Chelsea terpaksa harus membuka pintu itu.

“Bodo amat..” pilihan akhirnya karena ia benar benar malas membuka pintu itu. Sampai akhirnya, ia benar benar masuk ke dalam ambang mimpinya.

-21:55-

“Hah?” ucap Chelsea. “Lo.. Lo..”

“Iya, gue mau ke bandara dulu ya..” ucap Bagas bersiap siap di depan mobilnya. Chelsea yang baru keluar dari rumahnya pun kaget, karena baru ia bangun, Bagas sudah ada di depan rumahnya.

“Yah.. Tap.. Tap..”

“Udah ya, gue harus ke jogja nih..” ucap Bagas mengecek arlojinya. “Nitip salam buat semuanya nanti..”

“Tapi kan kak – ”

“Chel.. Gue harus pergi..” ucap Bagas memotong ucapan Chelsea. “Ngerti dong..” lanjutnya. Chelsea terdiam, ia tak mengerti kenapa Bagas bisa memperlakukannya seperti ini, yang pertama kalinya.

“Kak? Lo beneran lupa?”

“Lupa apa sih?” ucap Bagas mulai kesal. “Ngomong to the point dong..” lanjut Bagas.

“Lo ngak bisa besok aja?”

“Lo egois ya Chel?” ucap Bagas tiba tiba. “Gue udah bilang ngak bisa ya ngak bisa..” lanjutnya.

“Ya tapi kan – ”

“Ahh.. Lo ngak bisa nerima gue kalo gue harus balik? Lo ngak mau gue sukses nanti? Lo mau gue dibully gara gara MOS?” ucap Bagas mulai serius. Chelsea terdiam, tak berani menatap mata Bagas yang sebenarnya tersirat wajah main main.

“Yaudah.. Cape gue ngomong sama lo.. Gue mau pergi aja..” ucap Bagas lalu pergi mengendarai mobilnya menjauhi rumah Chelsea. Chelsea terdiam, lalu perlahan, kakinya seakan terjatuh di atas tanah. Chelsea terdiam menunduk. Tak tau apa yang harus ia lakukan sekarang.

“Lo tau kak? Baru aja 2 hari ini kita seneng.. Kita damai, kita bareng.. Sekarang kita harus pisah lagi? Lo bener bener ga mikirin perasaan gue kak? Lo.. Lo..” ucap Chelsea tak kuasa melanjutkan kata katanya. Ia terdiam, tak lama ia menangis. Ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, agar tak terlihat airmatanya turun. Suasana di perumahan sepi hari ini, tak tau mengapa. Sudah cukup lama ia menangis, hampir sekitar setengah jam. Dan tak ada mobil/motor yang lalu lalang di dekatnya, tak seperti biasanya. Udara dingin yang masuk ke dalam tubuhnya karena ia menggunakan hot pants, dan baju kaos biasa yang hanya sampai setengah lengan saja. Perlahan, ia bangkit dari tempatnya dan masuk ke dalam rumahnya, dengan langkah agak tertatih karena lututnya cukup sakit saat itu.

Ia masuk ke dalam kamarnya, mama dan papanya belum pulang dari kerjaan mereka. Chelsea mengambil segelas air yang ada di meja kecil itu, lalu meminumnya. Mengecek jam dinding kamarnya, lalu menyelesaikan minumnya.

“22.25, pantesan aja ngak ada yang lewat. Biasanya jam 21.30 aja udah sepi kayak kuburan..” ucapnya singkat. Ia lalu keluar kamar, mengecek lantai bawah, kamar pembantu dari ia kecil, Mbak Dina. Ia membuka pelan pintu kamar itu, dan terlihat pembantu itu sedang tidur. Pembantu yang lumayan cantik, yang sudah Chelsea anggap kakak sendiri. Dirinya dengan Mbak Dina hanya berbeda 3 tahun. Ia menutup kembali pintu kamar itu. Lalu kembali ke kamarnya.

Chelsea lalu mengecek handphonenya setelah setengah jam menangis di depan rumahnya. Chelsea membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang terjadi. Lalu menelfon Marsha sesaat dan membuang handphonenya ke arah pintu kaca besar, tempat menuju teras kamarnya, teras lantai atas rumahnya. Tak peduli handphonenya lecet atau rusak, ia hanya menangis sambil memeluk Avel, boneka pemberian Bagas itu.

“El..” ucapnya pelan. “Gue harus apa sekarang El?” lanjutnya lalu memeluk Avel seakan tak mau ikut kehilangan boneka itu.

Marsha ikut terkejut dengan pesan singkat Bagas kepada sahabatnya, Chelsea itu.
‘Chel, gue udah nelfon lo 15 kali tapi ngak lo angkat?’
‘Lo benci sama gue?’
‘Lo manja banget sih, Childish tau..’
‘Angkat telfon gue..’
‘Pliss, kalo lo ngak angkat telfon gue, gue mau kita putus..’
‘Lo bener bener mau putus?’
‘Oke, kita putus.. Ngak ada lagi kata KITA diantara gue sama lo sekarang..’
‘Bye..’

Marsha membelai rambut Chelsea pelan, lalu mengusapnya secara perlahan
“Sabar Chel.. Sabar..” ucap Marsha pelan.

“Sabar gimana Sha? Lo kira ngak sakit jadi gue? Ini untuk yang pertama kalinya gue berantem besar sama dia gara gara gue ngak angkat telefon dia, emang gue ngapain Sha? Gue nangis Sha! Bukan ngapa ngapain!! Dan dia minta putus Sha? Padahal besok gue anniv Sha!! Mungkin teori gue salah, dia ngak akan dapet cewe lain, tapi gue bener tentang dia bakalan ninggalin gue.. Gue sakit Sha.. Gue ngak pernah berantem gini sebelumnya sama dia, 2 tahun gue sama dia Sha.. Tapi sekarang? Lo kira ngak nyesek hah? Gue cape Sha.. Cape..” ucap Chelsea membuang semua unek uneknya kepada sahabatnya ini, Marsha.

Marsha tersenyum, lalu kembali memegang kepala Chelsea pelan,”Lo kuat Chel.. Tuhan tau lo kuat..” ucap Marsha dan kemudian memeluk Chelsea pelan.

“Gue ngak butuh saran lo Sha..” ucap Chelsea. “Dan gue bener bener harus sendiri sekarang..” lanjutnya. Marsha menaikkan alisnya, bingung dengan perkataan Chelsea ini.

“Lo ngusir?”

“Tapi ini yang terbaik buat gue saat ini..” ucap Chelsea lalu beranjak dari tempat tidurnya. Lalu menarik tangan Marsha agar keluar.

“Tapi Chel – ”

“Pliss Sha..” ucap Chelsea membawa Marsha sampai depan kamarnya. Marsha terdiam di depan pintu Chelsea. Lalu, keluar kamar Chelsea dan membalikkan badannya. Anak itu benar benar menangis.

“Maaf ya Sha.. Gue bener bener butuh sendiri..” ucap Chelsea lalu tersenyum. Persis seperti senyum seseorang yang sedang rapuh.

“Oh ya Sha satu lagi..” ucap anak itu sebelum bener bener menutup pintu kamarnya itu.

“Sekarang 1 September kan? Belum tanggal 2?” tanya Chelsea agak serius. Marsha mengangguk lemas, seakan merasakan apa yang dirasakan anak itu.

“Wake me up when September end!!” ucap anak itu lalu membanting pintu kamarnya. Terdengar suara bahwa ia menangis dan Chelsea kembali tidur di atas kasurnya. Tidur sembari menangis..

Marsha berjalan menuju ruang tamu Chelsea sambil mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. “Hallo kak.. Rencana lo bener bener sukses bikin dia gila!!”

Tok tok tok..

Untuk yang kesekian kalinya pintu kamar gadis ini diketuk oleh seseorang. Gadis ini terbangun dengan malasnya.

“Papa mama ngapain sih ngetok pintu malem malem? Biasanya juga pulang besok..” ucap gadis itu lalu beranjak dari tempat tidurnya. Dengan malas, ia membuka pintunya daannn…

“Happy Anniversary to Us!!” teriak pria itu di depan gadis itu. Gadis itu terdiam, ia membeku. Pria di depannya itu memegang kue dengan lilin berangka 2 dan 3 buah lilin batangan di sekelilingnya. Pria di depannya masih tersenyum sabar melihat reaksi selanjutnya dari gadis ini.

“Ayo tiup lilinnya..” ucap pria ini lagi. “Happy anniversary 2 tahun 3 bulan sayang!!” lanjutnya.

“Satu.. Dua.. Ti – ”

BRAKK!!

Ucapan pria itu terpotong karena gadis ini membanting pintu kamarnya dengan teramat kencang, hampir tidak bisa tertutup sempurna lagi. Gadis ini menghembuskan nafasnya berkali kali, mengatur emosinya, antara ingin menangis, atau ingin tetap marah.

“Chelsea!!” teriak pria diluar kamar.

“Chelsea.. Lo kenapa sih?” tanya pria itu lagi.

“Chelsea apa – ”

“Kita udah putus bego!!” potong gadis itu dengan setengah teriak. Gadis itu berusaha menuangkan amarahnya, kekecewaannya, kekesalannya kepada mereka semua tetapi apa yang bisa terjadi, ia tak mampu melampiaskannya. Karena ia sudah terlanjur cinta kepada pria itu.

“Chelsea.. Aku cuman becanda tadi. Aku – ”

“Bacot!!” amarah gadis itu lagi. “Lo udah mutusin gue, udah sukses buat gue hancur, udah pas bikin gue nangis sia sia..” lanjutnya.

“Tapikan, gue – ”

“Sesuai kata lo, ngak ada lagi istilah kita dalam hubungan gue dan lo!!” bentak gadis itu lagi. Semua terdiam.

“Gue cape, jangan ganggu gue lagi!! Sana pergi ke Jogja dan jangan balik lagi ke hadapan gue..” ucap gadis itu lagi. Lalu beranjak ke tempat tidurnya. Ia menangis sendirian, menjerit sendirian. Ia menarik rambutnya dengan keras, sementara dari luar terdengar suara teriakan minta maaf, tetapi gadis ini tetap mendiamkannya.

“Chelsea please..” ucap Bagas lagi. Chelsea tetap menangis di atas kasurnya. Akhirnya, Bagas memilih masuk ke dalam kamar Chelsea yang pintunya sedikit rusak itu. Bagas menepuk pundak Chelsea perlahan. Chelsea sempat menengok, dalam kesempatan itu, Bagas tak mau menyia-nyiakan kesempatannya dan ia langsung memeluk Chelsea saat itu juga. Tangis Chelsea semakin kuat, sekuat pelukan yang diberikan Bagas kepadanya.

“Lo tau gue ngak bisa nahan hati gue kak..” ucap Chelsea tiba tiba. “Lo tau kalo gue sayang banget sama lo kak..” lanjutnya. Bagas tersenyum, tak ada pemberontakan dari gadis ini sama sekali.

“Gue cuman bercanda..” ucap Bagas pelan. “Gue tau lo ngak bener bener mau hubungan ini berakhir..” lanjut Bagas.

“Iya kak.. Iya..” ucap Chelsea. “Gue cuman takut perasaan lo berbeda saat lo suka sama gue dengan saat sekarang..” lanjut Chelsea. Bagas tersenyum sekilas.

“Perasaan gue ngak akan hilang ke lo..” ucap Bagas. “Tapi bakalan semakin bertambah..” lanjutnya. Merekapun menikmati malam terakhir mereka bertemu, sebelum besok Bagas benar benar akan kembali ke Jogjakarta.

-One Week Later, UGM,16:45-
“Ah elah Salma.. Ngertiin gue bentar dong..” keluh pria itu karena Salma terus bertanya kepadanya bagaimana cara penyelesaian soal yang diberikan dosennya kepadanya. “Gue belum ada hubungin Chelsea hari ini..” lanjut Bagas. Salma mengerutkan alisnya.

“Oh, ada yang lebih mentingin pacar daripada temen..” ucap Salma sambil mengambil bukunya yang berada di depan Bagas. Bagas merebut kembali buku Salma dari tangan Salma dengan tatapan mengalah.

“Iyalaha iya.. Sini sini..” ucap Bagas lalu kemudian mengerjakan beberapa tugas yang diberikan oleh dosennya Salma.

“Gila!!” keluh Bagas memijit kepalanya pelan. “Yakali tugas anak sastra dikerjain sama anak hukum..” lanjutnya. Salma melihat ke arahnya sekilas. Bagas nyengir ngaco,”Eh Salma.. Becanda Sal.. Becanda..” lalu Bagas melanjutkan mengerjakan tugas Salma di perpustakaan sekolah, sementara Salma membaca kumpulan sastra terkenal Indonesia.

“Salma?” ucap seseorang dari kejauhan. Salma menyipitkan matanya, lalu mengerutkan keningnya, berfikir siapakah wanita yang sedang menghampirinya. Kemudian, matanya berbinar dan mendekati wanita itu sambil memeluknya.

“Cindaii!!” teriak Salma tak kalah senang dengan ekspresi gadis itu. Bagas menaikkan kepalanya, lalu mengerutkan keningnya sejenak.

“Lo kan?” ucap Bagas agak keras membuat mereka melihat ke arah Bagas.

“Lo?” ucap Cindai kini melepas pelukannya dengan Salma.

“Lo cewe nyebelin yang ngambil tempat duduk gue di AW lagi itu kan?” ucap Bagas.

“Oh jadi lo, cowo childish yang ngotot mau duduk di meja makan biasa gw makan..” ucap gadis itu. Sementara mereka adu mulut, Salma menunjukkan wajah polos, benar benar tak mengerti arah percakapan mereka.

-SMA Idola, 17:15-
Chelsea lengkap dengan seragam cheersnya menunggu dijemput di depan pagar sekolah. Masalahnya, sudah dari 2 jam yang lalu ia minta dijemput tetapi jemputannya belum datang sama sekali sampai sekarang.

“Ahh sial..” ucap Chelsea mengotak atik handphonenya. “Bosen banget, bingung mau apa..” lanjutnya.

“Ah ka Bagas ga ngebales line gue lagi..” ucapnya sambil sesekali selfie. Beberapa menit kemudian, sms masuk datang dari supir Chelsea sendiri yang memberitahu bahwa supirnya tidak dapat menjemput Chelsea dikarenakan suatu hal.

“Ah madafaka..” ucap Chelsea hampir membanting ponselnya. “Gue nunggu sampe lumutan tapi gajadi di jemput?!” lanjutnya. Ia kemudian berjalan menuju taxi dimana berhenti. Di tengah perjalanan, seseorang memberhentikan motornya di depannya.

“Naik ka..” ucapnya. Chelsea melihat ke arah helm anak itu, ia tak mengenali anak itu sama sekali.

“Lo siapa?” tanya Chelsea tidak menyentuh motor anak itu sama sekali. Kemudian, anak itu membuka helmnya. Chelsea dapat melihat jelas anak yang pernah membuatnya lelah berjalan mencari dimana Miss Dry yang ternyata tidak memanggilnya.

“Lo ade kelas yang berani nipu gw kan? Gue ngak dipanggil Miss Dry lagi itu kan?” ucap Chelsea menuju ke arah bagian depan motor dan bersiap memarahi adik kelas itu.

“Hehehe.. Sorry kak..” ucap anak itu menggaruk garuk kepalanya.

“Sorry sorry aja lo. Lo kira enak apa jalan dari kantin ke kantor guru dan ternyata Miss Dry ada di perpustakaan? Lo kira – ”

“Shutt.. Diem ka..” ucap anak itu sambil meraih dagu Chelsea agar ia terdiam. Sementara anak itu melihat ke kiri kanan memastikan tidak ada siapapun yang melihatnya disitu, jantung Chelsea berdegup kencang. Lumayan tampan, pikirnya. Matanya, alisnya, dan bentuk mukanya mirip sekali dengan si dia. Si dia yang jauh disana. Saat anak itu mengalihkan pandangannya ke depan, dimana Chelsea ada di depannya, jantung anak itu juga berdegup cepat. Pipi chelsea memerah, sementara anak itu malah tersenyum memasang tampang cool.

“Eh..” ucap anak itu melepaskan tangannya dari dagu Chelsea. “Sorry kak..” lanjutnya. Chelsea mengangguk lemah, entah apa yang ada di fikirannya tentang anak ini, dia merasa aneh.

“Mau aku anter kan kak?” tanya anak itu lagi melihat Chelsea terdiam di sampingnya.

“Eh? Kemana?” ucap Chelsea menoleh ke arah anak itu.

“Ke rumah kakak..”

“Emang lo tau rumah gue dimana?”

“Aku tau lah kak.. Kalo enggak ngapain aku nawarin..” ucapnya. Chelsea mengangguk, lalu kemudian naik ke atas motor itu. Entah kenapa saat berada di atas motor itu, Chelsea merasa bahwa yang mengendarainya adalah Bagas, seseorang yang jauh disana, ia merasa aneh dengan anak itu.

Akhirnya mereka sampai di rumah Chelsea setelah sepanjang perjalanan keheningan tercipta. Chelsea turun, lalu berdiri di depan anak itu sebentar sebelum membuka gerbangnya dan masuk ke dalam rumahnya.

“Mmm, kak.. Besok mau aku jemput ngak?” ucap anak itu memecah keheningan.

“Eh? Ngak tau deh.. Tergantung..” ucap Chelsea menggigit bibir bawahnya pelan.

“Ngg.. Yaudah deh kak..” ucap anak itu. Chelsea mengeluarkan ponselnya lalu berniat memegang spion motor anak itu, tetapi tak disangka tangan anak itu sedang ada di spion sekarang. Chelsea refleks menjauhkan tangannya, dengan muka memerah, ia menunduk.

“Sorry ya kak.. Maaf..” ucap anak itu melepas tangannya dari spion motornya. Chelsea mengangguk, berusaha menyembunyikan rasa anehnya ini.

“Gw cuman mau nanya line lo dong. Manatau besok mau nebeng..” ucap Chelsea sok akrab kepada anak ini. “Sorry bukannya gw manfaatin tapi kan emang tadi lo yang nawarin gue buat – ”

“Ya gak apa apa kak..” potong anak itu. “Kakak ngak cari muka kok, aku yang cari muka..” lanjut anak itu.

“Oh.. I.. Iya…” balas Chelsea berusaha netral.

“Nama aku Aga Rama Putra kak. Line aku agaptr21..” balas anak itu. Chelsea menggigit bibirnya lagi.

‘Ampas!! Kenapa harus Aga Rama Putra sih namanya..’ ucap Chelsea dalam hati.

“Ngg.. Kakak ngak masuk?” tanya anak itu. Chelsea menganggukkan kepalanya.

“Iya.. Kamu pergi dulu aja..”

“Oke kak.. Aku pulang ya..” pamit anak itu. Chelsea mengagguk, lalu anak itu kemudian memakai helmnya dan melaju pergi dari rumah Chelsea itu.

-Malioboro, 18:30-
“… Nggg.. Ya.. Oh.. Ya..” ucap cowo itu sambil memainkan pspnya lagi.
‘Yayaya.. Daritadi ohya ya doang..’ ucap suara di sebrang sana.
“Ya terus gue harus jawab apaan..”
‘Lo kenapa sih? Daritadi tau ngak. Gue line gak lo bales, lo ga nelfon gue. Bahkan gue yang nelfon lo duluan.. Dan lo – ‘
“Ah shit.. Kalah kan..” potong Bagas berusaha konsentrasi kepada pspnya.
‘Hah? Lo lagi main game ya?’
“Hehehe..” ucap Bagas nyengir seadanya.
‘Ah yaudah ya, gue mau ngeline orang dulu..’
“Heeh..”

Dan percakapanpun berhenti dengan sebegitunya saja. Bagas biasa saja, ia masih sibuk dengan pspnya. Beberapa menit kemudian, dia mulai bosan dengan pspnya.

“Hmm..” ucap Bagas pelan. “Kenapa gua ketemu lagi ya sama cewe gak jelas tadi..”

“Ah elah najis gua sama dia..” ucap Bagas pelan. “Gue kan yang duluan duduk di meja AW itu..” lanjutnya kemudian membenamkan kepalanya di atas kasur dan tertidur melewati tugas tugas yang lupa ia kerjakan.

Dering telfonku membuatku tersenyum di pagi hari
Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi
Entah mengapa aku merasakan hadirmu disini
Tawa candamu menghibur saatku sendiri
Aku disini dan kau disana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa
Meski kau kini jauh disana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat dihati..

Hanya lagu itu yang bisa membuat mood Bagas naik. Hari ini, ia sangat kesal. Ia merasa sangat sial hari ini, dari ia bangun kesiangan, lalu ia telat masuk kelas, dan sialnya, ia ternyata satu kelas dengan gadis ‘perebut meja di AW’ itu. Dan kesialan tak berhenti di situ saja, bangku kosong hanya ada di samping gadis itu. Dari tadi, ia tidak mendengarkan dosen berbicara, ia memasang earphone dan ia mendengarkan lagu itu dalam dalam, dan membayangkan sosok Chelsea disana.

“Woy..” teriak seseorang sambil menguncang badan Bagas sedikit. Bagas dengan malas menoleh ke arah orang itu.

“Apaan sih lo..” ucap Bagas yang semakin kesal karena yang meneriakinya adalah gadis itu.

“Lagi disuruh ngerjain soal itu..” ucap gadis itu sambil menunjuk papan tulis. Bagas melihat ke arah papan tulis lalu dengan acuh tak acuh kembali menutup matanya dan menikmati lagu itu lagi.

“Woy, lo budeg?” ucap gadis itu lagi.

“Gua males ngerjain soal..” ucap Bagas singkat.

“Males?” ucap gadis itu bingung. “Sepinter apa sih lo waktu SMP sampe songong banget sekarang..” lanjutnya.

“Bukan urusan lo kan?” ucap Bagas lagi, lalu mengencangkan volume itu dan tak perduli dengan siapapun yang berbicara kepadanya.

Bel pulang sudah berbunyi sejak beberapa jam yang lalu, tetapi pria ini masih duduk di tempatnya dan masih mendengar lagu itu. Tiap putaran, tak pernah ia bosan mendengar lagu itu. Mungkin ini adalah putaran ke seribu ia memutar lagu itu. Dan ia menikmati putaran dengan putaran dengan sangat serius, sampai akhirnya ia mematikan lagu itu dan melihat ke sekitarnya. Sudah kosong. Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar kampus dan kemudian langsung beralih ke parkiran dan memasuki mobilnya. Bagas lalu menghubungi Chelsea, kekasihnya.

‘Ya kak? Ada apa?’

“Lo selesai UN kapan?” tanya Bagas langsung to the point.

‘Hah?’ ucap yang di sebrang sana. ‘Maksud lo nanya itu apa?’

“Lo ngak lagi sama cowo lain kan?” tanya Bagas. “Pokoknya lo harus kuliah di UGM. Gue ngak betah jauh jauh dari lo..” lanjut Bagas. Tak terdengar suara dari sebrang sana.

“Chel.. Jawab..” ucap Bagas lagi.

‘Ya bulan April gue UN..’ jawab wanita disebrang sana.

“Hmm..” ucap Bagas pelan. “7 bulan lagi Chel.. Lo bisa kan jaga hati?” lanjut Bagas.

‘7 bulan?’ tanya orang itu kaget. ‘Gue kesana ya bulan Juli lah..’ lanjutnya.

“Cih..” ucap Bagas pelan. “Yang jelas lo bisa kan setia sama gue?”

‘Lo apa apaan sih?’ tanya Chelsea. ‘Pertanyaan lo gak logika tau gak..’

“Lo tinggal bilang bisa..” jawa Bagas. “Lo bisakan? Lo janji?”

‘Hrr.. Apa coba..’

“Chel gue serius..”

‘Mm, ya.. Gue bisa..’

“Janji?”

‘Janji..’

“Hmm..” ucap Bagas menghembuskan nafas beratnya.

‘Lo juga janji dong..’

“Iya gue janji..” ucap Bagas. “Janji mati gue..” lanjutnya.

-SMA Idola, 16:20-
“Kak..” ucap seseorang saat Chelsea baru saja keluar dari kelasnya.

“Eh elo..” ucap Chelsea lalu terdiam, tak jadi melangkah jauh dari kelasnya.

“Ngg.. Kakak hari ini pulang sama siapa?” tanya anak itu. Jantung Chelsea berdegup kencang, ia merasakan hal yang beda saat anak ini bertanya seperti itu.

“Ngak tau deh..” ucap Chelsea cepat.

“Aku anter aja kak..” ucap anak itu. “Sekalian aku traktir deh..” lanjutnya.

“Traktir?” ucap Chelsea heran.

“Iya..” ucapnya. “Kita makan mie ayam aja ya kak..” lanjutnya. “Maaf ngak bisa traktir pizza..” ucapnya lagi.

“Eh iya..” ucap Chelsea merasa tak enak. “Gue ngak maksud mengarah kesono..” lanjut Chelsea.

“Jadi.. Bisa ngak kak?” tanyanya lagi.

“Hmm.. Oke bentar..” ucap Chelsea lalu mengetik pesan untuk seseorang.

“Yah sorry.. Gue dijemput..” ucap Chelsea pelan. Anak itu terbesit rasa kecewa di wajahnya.

“Yah..” ucap anak itu. “Pliss kak.. Pliss..” ucap anak itu lagi. Chelsea kembali mengetik pesan untuk supirnya dan akhirnya berkata,”Oke.. Gue pulang sama lo..”

“Hah?!” ucap anak itu membulatkan matanya. “Beneran kak?” tanyanya lagi. Chelsea hanya mengangguk.

“Oke deh kak ayo!!” ucap anak itu lalu menggandeng tangan Chelsea.

“Eh? Aga?” ucap Chelsea bingung dengan maksud gandengan tangan Chelsea. Aga langsung melepaskan tangan Chelsea dan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.

“Eh sorry..” ucapnya. “Gak sengaja..” lanjutnya.

“Yaudah ayo..” ucap Chelsea tak ingin menikmati suasana seperti ini. Ia langsung berjalan di depan Aga sampai ke parkiran.

“Kak..”panggil Aga dari belakang. Chelsea menoleh.

“Apa?” tanya Chelsea mulai kesal karena Aga tak beranjak sedikitpun dari tempatnya.

“Maafin Aga ya kak. Maafin Aga kalo kakak ngak suka sama sikap Aga. Maafin Aga kalo sikap ini ngebuat kakak kesel. Serius, Aga cuman – ”

“Halah berisik. Ngapain sih minta maaf? Udahlah ayo cepetan..” potong Chelsea lalu melanjutkan perjalanan menuju parkiran motor.

Aga lalu mengantarkan Chelsea ke kedai mie ayam langganannya. Tak terlalu besar memang kedai itu, tetapi rasanya enak dan harga yang ekonomis sehingga membuat kedai ini dipenuhi oleh anak anak sekolah. Tetapi ada yang berbeda. Hampir semua orang yang ada disana tidak ada yang berasal dari sekolah elit setara international seperti sekolah Chelsea. Chelsea dan Aga masuk dengan seragam sekolah mereka, dapat terlihat jelas emblem sekolah mereka di lengan sebelah kanan mereka. Semua pandangan mengarah ke arah mereka, seakan heran mengapa anak sekolah elit seperti mereka berada di kedai seperti ini, bukannya di mall mall besar ibukota.

“Eh mas Aga..” ucap sang penjual mie ayam. “Eh dia siapa mas?” tanyanya lagi.

“Oh dia. Kakak kelas pak.. Oh iya pak mie ayamnya dua ya, yang enak buatnya..” jawab Aga sambil tersenyum. DEG, Chelsea terdiam. Senyum lelaki itu mirip seperti senyum seseorang yang sedang ia rindukan sekarang, senyuman seorang ‘Kak Bagas’

“Kak? Kenapa? Ada yang salah ya? Tempatnya kecilnya? Atau – ”

“Gue gapapa gausah bawel..” potong Chelsea pelan. Sementara anak itu hanya mengangguk faham.

“Ngg kak. Maaf ya kayaknya kakak ngak pantes deh makan disini..” ucap Aga tiba tiba.

“Eh? Emang kenapa?”

“Soalnya sepanjang sejarah gak ada anak Idola yang masuk sini. Baru aku doang dan satu satunya. Ya kakak taukan mereka mainnya ke mall mall besar, pake mobil mewah. Lah aku mainannya kesini kak, pake motor. Motornya gak yang mahal lagi..”

“Apaan sih. Biasa aja kali.. Gue juga mau nyobain gimana rasanya makan disini..” ucap Chelsea kemudian mengeluarkan ponselnya dan asik memainkannya.

“Kak? Kakak betah ya main ponsel terus?” tanya Aga tiba tiba setelah beberapa menit terjadi keheningan.

“Eh? Emang kenapa?”

“Ya aneh aja. Aga tau hp Aga emang jelek tapi walaupun temen temen Aga bawanya yang mahal Aga gak suka aja ngeliat ponsel lama lama..”

“Hmmm..” jawab Chelsea pelan.

“Kok cuman hmm kak?”

“Lagian gue bingung mau jawab apaan. Bawel banget deh lo jadi anak..”

“Yah elah gitu amat kak. Lagian handphone lama lama diliatin buat apaan sih? Coba sini kita main. Gimana kalo selama kita makan gak ada yang boleh megang handphone. Kalo ada yang pegang dia nraktir makan besok deh..” ucap anak itu lalu mengeluarkan ponsel touchscreen yang bermerek Samsung Galaxy Ace 3 dan menaruhnya di atas meja. Chelsea melihat handphone itu sebentar lalu pandangannya beralih ke arah pria itu.

“Serius?”

“Seriuslah. Ayo, kakak berani?”

“Siapa takut!!” ucap Chelsea lalu menaruh Iphone 5s Goldnya di atas meja itu. Mereka terdiam sampai akhirnya mie ayam datang.

“Mas Aga maaf ya lama soalnya tadi banyak yang mesen mas..”

“Iya pak. Ngak apa apa..” ucap Aga lalu mengambil mie ayam yang diberikan bapak tua itu. Kemudian memakannya. Chelsea memakannya pelan. Matanya mengalih kepada ponselnya. Tangannya bergerak pelan kearah sana tetapi Aga dengan sigap menepis tangan Chelsea.

“Baru beberapa menit udah nyerah..” ucap Aga.

“Apasih. Lagian buat apa sih ada game ginian?”

“Biar kita terbiasa berbicara. Bukan ngetik..”

“Halah, apadeh..” ucap Chelsea lalu memakan mie ayamnya cepat.

“Gausah cepet cepet kak. Kakak kenapa sih? Bosen? Ayo kita ngobrol aja..” ucap Aga melihat ke arah Chelsea. Chelsea pasrah, ia mengikuti kemauan anak itu dan bercanda dengannya. Anak itu seru juga, pikir Chelsea. Tak lama, ponsel Chelsea menyala. Ada yang menelfonnya. Dan itu adalah…… Kak Bagas.

“Kak. Kalo kakak pegang ntar kakak traktir akuloh besok..” ucap Aga mengingatkan.

“Bodo amat..” ucap Chelsea agak jutek. “Gue ga peduli kehilangan beberapa uang buat traktir lo daripada didiemin kak Bagas..” ucap Chelsea lalu mengangkat telfon Bagas.

“Ya kak ada apa?” ucap Chelsea. Aga hanya diam, dan pasrah. Apadaya dia ingat kalau Chelsea masih memiliki kekasih, yaitu Bagas. Kakak kelas yang dulu ikut nge-MOS dia. Tak lama Chelsea menutup pembicaraannya dengan Bagas.

“Kenapa kak?” tanya Aga penasaran dengan telfon singkat itu.

“Entahlah Kak Bagas aneh hari ini..”

“Kenapa kak?”

“Dia nanya gue mau kuliah dimana dan nyuruh gue kuliah di UGM..” ucap Chelsea menaruh ponselnya dan memakan kembali sisa mie yang belum ia habiskan. Aga sedikit tersedak mendengar itu.

“Hah? Kakak kuliah di Jogja?”

“Iyalah. Dimana lagi..” ucap Chelsea. “Gue sebenernya bisa dimana aja, tapi gue kepengen sama Kak Bagas aja..” lanjut Chelsea.

‘Yah elah garagara Bagas lagi..’ ucap Aga dalam hati sambil tersimpan rasa kesalnya.

“Oh begitu kak..” ucap Aga seadanya. Chelsea hanya mengelengkan kepalanya dan kembali memakan mienya.

‘Maaf Kak gue bohong. Gue lagi makan sama Aga. Tapi buat apa lo cemburu sama Aga? Gue gak akan suka sama dia kali..’ ucap Chelsea dalam hati sambil sesekali melihat ke arah Aga.

~

Sinar terang masuk melalui jendela dan mendarat tepat di wajah gadis ini. Gadis yang mencoba menikmati harinya, gadis yang mencoba menjalani hari harinya yang pasti berbeda dari 2 tahun yang lalu, tanpa seorang yang bisa membuatnya merasa sempurna. Ia akhirnya bangun dari tidurnya dan membuka gorden jendela, menarik nafas udara pagi yang benar benar bersih.

“Hai. Pagi.” ucap gadis itu agak kaku. Dia merasa ada sesuatu yang menjanggal di pikirannya hari ini. Dia lalu pergi ke kamar mandi kamarnya, melihat ke arah kaca dan membasuh mukanya di wastafel bawah kaca itu. Dia kembali melihat ke arah kaca. Pucat. Wajahnya pucat. Dia bingung dengan.apa yang terjadi. Apa dia ada masalah? Dia rasa tidak, siapa yang akan menjadi lawan masalahnya? Apakah orang tuanya? Tidak. Ia jarang bertemu orang tuanya. Atau adik? Pembantu? Orang seisi rumah? Dia rasa juga tidak. Aga? Tidak mungkin, baru kemarin ia makan mie ayam dengan pria itu. Atau mungkin… Bagas? Itu juga tidak mungkin menurutnya, karena kemarin dia dan Bagas masih telfon telfonan, chatting dan malahan hal yang jarang sekali mereka lakukan. Saling mendoakan.

“Gue kenapa ya hari ini?” ucap gadis itu lalu menaruh tangannya di atas pipinya.

“Gue kok ngerasa lemes? Apa gua sakit?”

“Hmmm…” ucap gadis itu lalu menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya.

“Gue yakin gue gapapa..” ucap Chelsea lalu mandi dan bersiap siap menjalani harinya.

-Kampus UGM, 10:45-
“Kenapa harus lo sih?” tanya Bagas saat sampai kelas dan yang tersisa hanya bangku disamping wanita yang sangat ia kesali.

“Yamana gue tau, siapa suruh telat..” balas wanita itu. Bagas mau tak mau terdiam, ia lalu duduk di bangku samping cewe itu.

“Gue perasaan gak ada cari masalah sama lo deh Gas..” ucap cewe itu, Cindai, saat Bagas duduk di sampingnya. Bagas menoleh sebentar, lalu memalingkannya lagi.

“Terus?” ucapnya.

“Ya kenapa lo sensi banget sih sama gue?” tanya Cindai.

“Gak..” ucap Bagas singka lalu memakai earphone dan mendengarkan lagu favoritenya.

“Huh, kalo gue nanti mati penasaran lo yang gue gentayangin..” ucap Cindai. Bagas hanya mendiamkannya, malas mencari urusan.

Jam kelas Bagas telah usai. Buru buru, dia berjalan keluar kelas menuju parkiran. Ia masih menggunakan earphone dengan gaya coolnya, tanpa mendengar suara gadis meneriakkan namanya sambil berlari. Bagas melewati tangga kampus, gadis itu masih berlari, dengan jarak yang lumayan jauh dengan Bagas, saat ia hendak turun, ia terjatuh. Dan akhirnya sampai dibawah dengan suara yang lumayan keras dan berada 6 meter dibelakang pria itu.

Bagas menoleh ke belakang, dilihatnya Cindai terjatuh dengan darah segar mengalir dari beberapa bagian tubuhnya. Bagas menghampirinya dan bertanya,”Lo kenapa?”

“I..ni..” ucapnya sambil menyerahkan sebuah buku catatan milik Bagas yang tertinggal. Ia lupa, besok pelajaran itu akan diujiankan.

“Gas..” ucap Cindai pelan. Bagas tersadar bahwa disana ada Cindai yang tergeletak. Suasana kampus cukup sepi mungkin karena kelas lain belum pulang, maka dari itu tidak ada seorangpun disana kecuali mereka berdua.

“Oh iya gue hampir lupa.. Lo gimana? Lo.. Lo.. Lo gue bawa ke UKS aja ya..” ucap Bagas panik sambil mengangkat Cindai dari lantai.

“Disini. Mana ada. UKS. Pea.” ucap Cindai sambil tersenyum kecil. Kemudian Cindai terdiam, darah segar masih mengalir dari kepala, badan, dan kakinya. Ia berkata sesuatu dengab perlahan.

“Gas.. Gue.. Ga salah. Kan. Sama.. Lo?”

“Ngak dai, lo ngak salah..” ucap Bagas lalu sampai di tempat peristirahatan anak anak fakultas kedokteran, disana sudah ada dokter kampus, salah satu mahasiswa fakultas kedokteran di kampus itu.

“Jatuh dari tangga, tolong..” ucap Bagas langsung menaruh Cindai di atas kasur disitu. Dokter itu memeriksanya sebentar.

“Wah ini harus membutuhkan donor darah dan jahitan mas..” ucap mahasiswa itu. Bagas memegang jidatnya agak frustasi.

“Jadi gimana?” tanya Bagas.

“Ke dokter mas. Disini tidak ada peralatannya..” ucapnya.

“Oke tolong panggil ambulance sebelum ia kehabisan darah..” ucap Bagas. Mahasiswa itu mengangguk.

“Gas..” ucap Cindai dengan pelan.

“Ya?”

“Lo janji ya. Jangan. Ngejutekin gue. Lagi.” ucap Cindai perlahan.

“I.. Iya..” ucap Bagas. “Gue janji..” lanjutnya.

“Janji ya. Beneran.”

“Iya..” ucap Bagas. “Gue ngak akan ngejutekin lo, Cindai..” lanjutnya.

“Makasih ya..”

“Gue akan ngejaga lo, sampai gue ngak ada..” ucap Bagas. “Gue janji..” lanjutnya.

Bersambung~

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: