Fate – Part 2 [ Cerbung IC ]

-SMA Idola, 06:55-
Gadis ini duduk di kursinya dengan wajah cemberut. Masuk ke dalam kelas dengan wajah tak niat bersekolah. Marsha yang akan duduk di sebelah gadis ini menampakkan wajah penasaran bercampur aneh, aneh dengan sikap sahabatnya ini.

“Lo kenapa?” tanya Marsha memberanikan diri bertanya kepada sahabatnya itu.

“Gue bego.. Bego banget..” ucap Chelsea menjambaki rambutnya pelan.

“Eh? Kenapa?” tanya Marsha dengan muka serius.

“Gue lupa cass hp gue Shaa…” ucap gadis itu dengan muka serius.

“Hishh..” ucap Marsha agak kesal. “Gue kira kenapa..” lanjutnya.

“Ahh gue kesel..” ucap Chelsea memajukan bibir bawahnya setengah centi. “Kalo dia jalan lagi sama cewe gimana?” lanjutnya.

“Cuek aja..” ucap Marsha. “Kalo dia buat lo, dia pasti balik..” lanjutnya.

“Shhh… Dia belum pergi ninggalin gue!!”

“Ya manatau..”

“Sialan..” ucap Chelsea lalu merasa bosan, jarinya tak beraktifitas seperti biasa. Tak ada yang bisa ia marahi, ia tanyai, maupun ia hubungi. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Gue bisa..” ucap Chelsea pelan. “Gue bisa ngak hubungin dia sebentar..” lanjutnya. Kemudian fokus belajar di sekolah, membuang jauh jauh perasaannya dan meluangkan waktunya dahulu kepada pelajaran.

Chelsea mengedarkan pandangan kepada sekelilingnya. Kantin sekolah berasa sedang mengawasinya, memata matai dirinya. Ia selalu menengok ke kanan, kiri, belakang bahkan atas, selalu gelisah di setiap saat. Marsha yang sedang memakan bakso itu selalu melihat ke arah Chelsea yang celingak celinguk gelisah, sambil meminum juice jambunya. Kini, ia meminum dengan sedotan panjang dan tak henti melihat ke arah kanan kiri belakang dan lain lain.

“Lo kenapa sih?” tanya Marsha bingung dengan perubahan sikap Chelsea, yang tak bisa diam.

“Hah? Oh gue pasti – ”

“Kak..” potong seseorang sambil menepuk pundak Chelsea.

“AAAA…” teriak Chelsea pelan lalu menepuk nepuk dadanya, kaget bukan main.

“Upss, sorry kak..” ucap anak itu. Chelsea menaikkan alisnya, merasa heran siapakah anak itu.

“Lo sia – ”

“Aku disuruh Miss Dry buat manggil kakak..” ucapnya. Chelsea mengangguk nganggukkan kepalanya. Anak itu sempat mengintip sedikit ke arah kantong rok Chelsea, tak tau mengapa di mukanya ada rasa kecawa. Lalu ia pergi keluar dari kantin, meninggalkan Chelsea dan Marsha yang bergegas pergi ke kantor guru.

“Yah..” ucap seseorang mengeluh setelah merongoh laci meja pujaan hatinya ini.
“Gimana?” tanya teman disampingnya.
“Kayaknya dari 2 minggu lalu ngak ada satupun yang diambil deh..” balasnya.
“Yaudah deh, lo kirim aja surat terus taruh di atas mejanya biar dia bisa ambil semua yang lo kasih..”
“Bener juga..” ucap lelaki itu lalu menulis sebuah surat yang ia selipkan di tempat pensil pujaan hatinya.
“Ayo cepet ntar ada yang liat lohh..”
“Iya bentar..” ucap pria itu lalu bergegas menulis. “Selesai..” lanjutnya. Setelah itu mereka pergi meninggalkan tempat itu sebelum ada yang melihatnya.

Chelsea telah sampai di kelas dengan semua hinaannya, caci makinya, sumpahnya kepada anak tadi. Anak yang berkata bahwa ia dipanggil Miss Dry, padahal yang dimaksud bukan Chelsea dirinya melainkan Chelsea kelas lain.

“Sumpah ya anak itu.. Coba aja gue tau dia siapa, kelas mana, bahkan rumahnya dimana.. Gue samperin kesana..” amarah Chelsea masih tak terima. Faktor pertama karena keadaan kantin jauh dari ruang guru, jika mau ke ruang guru harus melewati lapangan basket dan selanjutnya lapangan upacara yang super duper luas banget!! Bisa kali ya, 3ha lapangan doang, soalnya kisaran siswa SMA Idola +/- 3600 orang, itu baru SMA belum SMP/SD/TK. Lalu di ruang guru ngak ada Miss Dry, dikatakan Miss Dry berada di ruang perpustakaan lantai 3. Perpustakaan itu di lantai 3 pas banget diatas kantin. Gimana mereka ngak ngeluh, ngak ada jalan adem lain selain lewat lapangan lagi..

“Nggg… Chel?” tanya Marsha di sela sela amarah Chelsea.

“Apa??”

“Lo punya secret admirer?” tanya Marsha. Chelsea memutarkan pikirannya. Dia punya SA?

“Hah masa Sha? Kenapa emang, ada yang ngirim gue note dari SA gitu?” tanya Chelsea. Marsha menyerahkan sesuatu, kemudian Chelsea buru buru mengecek tempat yang dimaksud SA, dan ia mendapatkan banyak sekali coklat, di bawah laci meja belajarnya.

“Gila..” ucap Chelsea, sementara mata Marsha hanya berbinar kaget melihat coklat sebanyak itu.

“Dia tulis, dia udah 2 minggu dia ngasih itu Chel..” ucap Marsha.

“Entahlah Sha..” ucap Chelsea. “Gue cuman merasa aneh dan mual dengan semua ini. Ini konyol, terlalu norak..” lanjutnya sambil memegang perutnya dengan tatapan entahlah.

-Jl. Malioboro, Jogjakarta, 16:30-

“Yayaya..” balas pria ini masih fokus terhadap rubiksnya. Padahal, dari 8 jam sebelumnya, ia khawatir karena gadis ini tidak membalas pesan di semua akun yang ia kirim, dan padahal dia juga telah memberikan gadis ini pulsa.
‘Yayaya aja terus.. Lo ngak kangen?’
“Enggak ah..” ucap pria ini masih asik memainkan rubiksnya.
‘Ah terserah lo..’ ucap gadis itu. Beberapa detik, keheningan tercipta.
‘Gas kalo lo ga mau ngomong apa apa lagi gue matiin aja ya..’ ucap Chelsea tak suka dengan kedinginan Bagas ini.
“Ye.. Bentar dulu, gue lagi main rubiks..”
‘Ngapain lo nelfon gue waktu lo main rubiks?’
“Etdah.. Iye, Chel besok gue persiapan MOS. Gue kayaknya gabisa deh bales chat lo sebelum jam 4-an.. Soalnya gua kan harus di sekolah..”
‘Yah kak.. Tap – ‘
“Chel.. Gue baru persiapan MOS. Baru pembagian kelompok atau mungkin dikasih tau bahan bahan MOS.. Gue ngak mungkin langsung se-liar itu kan?”
‘Ah tau deh.. Terserah lo..’
“Percaya sama gue Chel.. Gue – ”
‘Iya..’
“Yah, jangan gitu, gue kan belum selesai ngomong..”
‘Gue udah tau tujuan omongan lo..’
“Yah tap – ”
‘Udah ah.. Gue mau kerjain pr dulu..’
“Yah Chel tap – ” omongan Bagas terhenti karena Chelsea sudah mematikan sambungan telfon terlebih dahulu.

“Dasar manja..” ucap Bagas ringan lalu memainkan rubiksnya lagi.

“Apa gue ngak usah ikutan MOS dulu aja ya?” tanya Bagas pada keheningan kamar kosnya.

“Gue takut ada apa apa sama Chelsea..”

“Nggg… MOS ngak terlalu penting sih..”

“Ngg… Yaudah deh, gue ngak ikutan MOS aja..” ucap Bagas, lalu ia mencari tiket ke Jakarta di ponselnya lalu menggumam sebentar. “Tapi gue cuman bisa seminggu doang..” ucap Bagas, ia memijit kepalanya pelan.

“Tapi gak apa apa deh..” ucap Bagas lagi. ” Gue bulan lalu Anniv gak ketemu, 5 hari lagi gue anniv..” lanjutnya.

“Ahh.. Emang ini waktunya gue pulang dulu ya..” ucap Bagas lagi. “Tapi gue ngeles alesan apaan ya..” lanjut Bagas.

“Hmm, gimana kalo alesannya gue mau ketemu nyokap dulu?” Bagas terus memutarkan pikirannya. Sampai akhirnya mendapatkan jawaban yang tepat untuk bolos kegiatan MOS itu. Tak lama, ia menelfon Pak Bambang, omnya sekaligus guru pengawas MOS calon mahasiswa baru.

“Halo om…” ucap Bagas saat disebrang sana sudah mengangkat telfonnya.
“Om, Bagas izin ngak ikutan MOS, boleh kan ya?”
“Om tau kan sebentar lagi mama ulang tahun? Jadi Bagas mau di rumah aja..”
“Boleh om? Baguslah om, terimakasih ya om..”
“Iya om, terimakasih lagi ya om..” Bagas mematikan sambungan telefonnya dan berteriak di dalam kamarnya. “Yeayy, Jakarta i’m coming.. Chelsea, wait me for a hours baby!!”

“Gue udah sampe Salma..” jawab Bagas saat Salma menanyakannya mengapa ia tidak datang ke acara persiapan MOS itu.
“Iya, gue lagi tiduran di kamar gue yang lama..”
“Iya, lo baik baik deh disana ya.. Gue titipin deh kangen lo sama orang sekitar..”
“Oke byee..” ucap Bagas lalu mematikan sambungan telefonnya. Ia kemudian menikmati suasana kamar yang sudah entah berapa minggu ia tinggalkan.

“Kamar gue tetep sama dari 6 minggu yang lalu ya..” ucap Bagas lalu bersantai di tempat tidurnya sambil menonton acara televisi yang ada di tv-nya.

“Bagassss!!!!!” teriak seseorang dari luar kamar. Bagas buru buru mematikan televisi dan memperagai pose orang yang sedang tidur.

“Bagas bangun…” ucap orang itu saat memasuki kamar Bagas.

“Gas..” ucap wanita itu lalu menggocangkan sedikit badan Bagas.

“Ada apa ma?” ucap Bagas lalu mengucek-ucek matanya, seakan benar benar baru bangun tidur.

“Bangun dong..”

“Sabar ma, baru bangun nih, susah berdiri..”

“Maksud kamu baru bangun dari 5 jam lalu ya?” ucap mamanya, Bagas membuka matanya lebar lebar.

“Kok?”

“Nah, ketauan kan.. Udah sana bangun, udah jam 12 nih, ngebo banget ya..” ucap mamanya lalu mengusap kepala Bagas pelan.

“Ckk, gaseru ah.. Mama serba tau..” ucap Bagas, lalu ia bangun dari tempat tidurnya lalu mengambil ponsel yang ada di meja samping kasurnya.

“Anterin mama yuk..” ucap sang mama. Bagas mengerutkan keningnya. “Ke CityWalk Sudirman..” lanjut mamanya.

“Buat?”

“Mama mau ke outlet temen mama, katanya dia jual baju baju bagus Gas.. Biar bisa lah kamu bawa ke Jogja nanti..” ucap mamanya, Bagas terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya. “Yaudah deh, ayo..” ucap Bagas. Setengah jam kemudian, Bagas mengeluarkan mobil dari garasi rumahnya, dan mengantar mamanya ke tempat yang mamanya minta.

“Rrrhhhh…”gumam Bagas untuk yang keseribu kalinya. Mamanya tak bilang bahwa mamanya mau mengajak teman lainnya pergi bersama mereka. Yang mengganggu Bagas adalah anak teman mamanya itu. Bagas yang sedang fokus menyetir itu, diganggu hebat oleh anak itu. Kadang, anak itu memencet ini, itu, buka ini, itu, dan lain lain.. Bagas hanya diam diam menebar aura benci, sementara kedua wanita dibelakang sedang asik ngobrol ria.

“Hey.. Jacklyn, please..” ucap Bagas penuh penekanan pada anak gadis yang tak bisa diam itu.

“Ma..” ucap Bagas agak manja. “Jacklyn nih..” lanjutnya sembara mengadu kepada mamanya.

“Ah Bagas dia kan masih anak anak.. Biarkan saja lah..” ucap mamanya lalu mengbrol lagi. Bagas menunjukkan muka tak sukanya kepada Jacklyn itu.

“Bagus, lo udah ngenganggu gue ya..” ucap Bagas. Jacklyn yang masih berusia 4,5 tahun itu tetap mengacak-acak mobil Bagas. Sampai akhirnya ia membuka laci untuk yang keseribu kalinya karena Bagas langsung menutupnya.

“Shut up!!” ucap Bagas tajam. Jacklym menatap lebih tajam lagi, lalu menggigit tangan Bagas. Bagas menjerit sedikit lalu kembali fokus ke arah jalanan.

“Untung jalanannya lagi macet. Kalo lagi normal gue udah nabrak mobil kali ya..” ucap Bagas lagi. Ia menaruh tangannya ke sandaran jog mobilnya, lalu menarik nafas sebentar dan mengeluarkannya. Di tempat ini memang selalu macet, dan Bagas ingat kapan terakhir kali ia pergi kesini, bersama pujaan hatinya, menuju mall yang sama.

CKREEKKK

Terdengar suara robekan terjadi di sebelah Bagas. Bagas lalu melihat ke arah sampingnya, dan menemukan Jacklyn sudah merobek….

“JACKLYNN!!!” teriak Bagas penuh amarah. Baik mamanya, ataupun teman mamanya ini langsung melihat ke arah Bagas.

“Bagas diam dulu dong..” ucap mamanya. Bagas yang ingin mengambil hasil sobekan Jacklyn itupun tidak diizinkan oleh Jacklyn, terjadilah tarik menarik antara Bagas dengan Jacklyn demi mendapatkan robekan kertas itu.

“Kasih ke gue.. Sekarang..”

“No!!” jawab Jacklyn dengan ganasnya. Jacklyn memang pintar berbahasa Inggris, maklum dari Jacklyn berumur 5 bulan, ia tinggal di Amerika bersama teman mamanya Bagas ini.

“Hhhrrr, children!! From i was child until now, i dont like any children!!” balas Bagas dengan tatapan kesalnya. Jacklyn membalas tatapan Bagas tak kalah tajam.

“Give it to me!!”

“No!”

“Give it or – ”

“No!!”

“Jacklyn..” ucap Bagas serius. Kali ini, Jacklyn menggigit tangan Bagas. Bagas melepaskan robekan itu. Kemudian, Jacklyn merobeknya lagi. Bagas bagaikan dirobek robek saat itu juga, bagaimana bisa ia membiarkan hal yang ia jaga selama ini, dirusak oleh tangan orang yang tak dikenalnya.

“Give it..” ucap Bagas lagi, Jacklyn tetap tidak memberikannya.

“No..”

“Give it or – ”

“You’re stupid!! It’s just paper..”

“Oh child, you can’t read? It’s my homework..” ucap Bagas ngeles, agar anak perempuan ini memberikan kertas itu kepadanya.

“Lie!!”

“Give it or – ” ucapan Bagas terhenti karena Jacklyn merobeknya menjadi lebih kecil lagi. Dan Bagas sudah geram dibuat seperti ini langsung membuat tindakan kecil yang berharap membuat anak ini jera.

“HAAAAAAAA!!!” teriak Jacklyn karena Bagas menjambak rambut Jacklyn. Rambut hitam yang lumayan panjang dan lurus itu, sedang ditarik oleh Bagas, sangking jeranya.

“Give it!!” teriak Bagas. Entah setan apa yang merasuki mama Bagas dan temannya sehingga tak beraksi apa apa, tetap asik ngobrol. Jacklyn akhirnye memberikan kertas itu, lalu terpancarlah wajah ingin menangis dari wajah imut Jacklyn itu.

“I dont care!!” ucap Bagas karena menurutnya Jacklyn minta ia kasihani. Bagas melihat kertas kertas yang dirobek, ia sekarang merasa sangat marah. Itu adalah surat Chelsea untuk dirinya saat Chelsea baru duduk di bangku SMA, saat Chelsea baru pulang dari luar negeri untuk menajalankan operasinya, saat Chelsea masih polos dan Bagas masih sedikit kekanak-kanakan.

Jacklyn memberikan satu buah tangannya kepada Bagas, tanda ia mau meminta maaf. Bagas menyahuti tangan Jacklyn lalu menaruh kertas itu di dalam dompetnya lalu menjalankan mobilnya karena macet mulai berkurang.

Bagas terus menampakkan ekspresi kesal. Bagaimana bisa, mamanya menyuruh dia dan Jacklyn untuk berjalan jalan di Mall sementara mamanya berbelanja dan melihat outlet temannya itu? Bagas terus menggendong Jacklyn, karena jika dilepas, Jacklyn mungkin bisa hilang entah dimana. Bagas memilih tempat yang tepat yaitu di Mc Dona*** terdekat.

Bagas membeli sebuah es krim sementara Jacklyn hanya melihatnya penuh memelas, berharap Bagas memberikan sedikit es krim itu untuknya.

“You wan’t it?” tanya Bagas kepada Jacklyn. Jacklyn mengangguk-angguk dengan muka memelas.

“Buy with your money!!” ucap Bagas lalu tetap asik memakan es krim itu. Selesai makan es krim, Bagas masih menggendong Jacklyn, dengan mengancam jika Jacklyn tidak bisa diam, maka Bagas tak akan segan segan menjambak rambut Jacklyn. Sampai akhirnya Bagas melihat dari belakang seorang wanita dengan rambut panjang yang hitam. Bagas tahu jelas siapa si empunya rambut itu. Bagas lalu mendekatinya dan menutup matanya. Wanita itu hanya kaget, sementara temannya membelokkan duduknya lalu juga kaget dengan apa yang terjadi.

“Stupid, you make she blind!!” ucap Jacklyn saat Bagas menutup mata gadis ini dari belakang. Jacklyn yang mau jatuh karena Bagas dempet dengan ketiaknya itupun melanjutkan kata katanya,”Let me sit down on the chair..”

“Ini siapa sih?” ucap gadis itu benar benar tak mengenali siapa yang menutup matanya.

“The boy who make you can’t see..” balas Jacklyn tak suka Bagas jepit.

“Shut up Jacklyn.. I dont make she blind, i only – ”

“Ka?” ucap wanita itu lalu bergetar hebat, tak lain adalah Chelsea. Bagas bisa merasakan air mata yang jatuh dari mata Chelsea karena tangannya yang berada di mata Chelsea.

“Yah, ketahuan deh..” ucap Bagas lalu membuka mata Chelsea. Chelsea lalu melihat ke arah Bagas, seakan tak percaya pria ini ada di hadapannya sekarang.

“Jacklyn, sit in here!!” ucap Bagas lalu menujuk tempat duduk di depan temannya Chelsea, yaitu Marsha. Lalu, Bagas duduk di depan Chelsea.

“If i dont do it?”

“I dont give you ice cream..” lanjut Bagas. Jacklyn terdiam lalu duduk di samping Bagas.

“So.. Where’s my ice cream?” ucap Jacklyn saat ia sudah duduk di samping Bagas.

“Hell..” balas Bagas. Bagas yang baru saja duduk itu, terpaksa harus berdiri lagi dan memesan es krim.

“Kak, gue aja yang beliin..” ucap Marsha saat Bagas akan keluar dari kursinya itu.

“Ngg.. Oke deh Sha, ini uangnya ya..” ucap Bagas lalu menyerahkan 2 lembar 100 ribuan kepada Marsha. “Beli 4 ya, gue sama kayak Chelsea. Lo tau kan rasa favorite dia apaan..” ucap Bagas. Marsha mengangguk, dan matanya tertuju kepada Jacklyn.

“Mau ikut?” tanya Marsha sambil memberikan tangannya kepada Jacklyn, Jacklyn meraih tangan Marsha lalu menganguk dan berjalan bersama Marsha menuju tempat pemesanan. Marsha ingin memberikan waktu berdua untuk Bagas dan Chelsea.

“Hai Chel..” ucap Bagas lalu meraih tangan Chelsea dan memegangnya. Chelsea terdiam membeku, perlahan butiran butiran kecil keluar dari matanya.

“Kok nangis?” tanya Bagas. “Lo ngak suka gue disini?” tanya Bagas lagi.

“Gue.. Gue kira.. Mmmm… Gue kira..” jawab Chelsea agak tidak yakin.

“Apa Chels?”

“Gue kira kemaren lo bikin alesan supaya ngak hubungin gue. Gue kira lo capek hubungin gue terus.. Gue kira – ”

“Jadi lo gini karena pikiran negative lo?” tanya Bagas memotong pembicaraan Chelsea. Sementara Chelsea hanya mengangguk. Bagas menarik nafas sebentar dan melihat wajah Chelsea yang tadi diwarnai dengan air mata.

“Terus kenapa lo nangis?” tanya Bagas lagi.

“Gue takut gue berhalusinasi, soalnya gue udah ngira dari semalem kalo lo udah ketemu yang lain. Gue kira lo udah mau mutusin gue, gue takut karena ketakutan gue jadi gue ngeliat orang serasa ngeliat lo.. Gue – ”

“Stop..” potong Bagas.

“Chelsea sayang..” ucapnya lalu mengelus elus tangan Chelsea dengan jempolnya, masih memegang tangan Chelsea. “Segala sesuatu yang diawali dengan berfikir negatif, akan membuat yang punya fikiran tersebut tertekan..” lanjut Bagas.

“Lo harus bisa berfikir positive Chel. Lo harus bisa berfikir kalo gue sayang sama lo..” ucap Bagas lagi. “Buktinya kemaren gue ngeLINE lo, BBM, WA, DM, nge sms, nelfon, tapi ngak lo angkat.. Dan akhirnya, gue ngisiin lo pulsa kan..” ucap Bagas. “Karena gue yakin lo bukan mengabaikan gue, gue yakin ada sebab yang ngak menuju pada kalimat ‘lo marah sama gue’ atau ‘lo bosen sama gue’ dan hasilnya bener kan? Lo lupa bawa hp..” lanjut Bagas. Bagas melepas genggamannya dari tangan Chelsea, lalu mengelap pipi Chelsea dengan tangannya.

“Ta.. Tapi.. Kok lo bisa.. Disini?”

“Gue males MOS.. Mending gue pulang, sekalian besok lusa nyokap ulangtahun..” ucap Bagas.

“Oh..” ucap Chelsea singkat. Bagas mengangkat satu alisnya. “Kenapa?”

“Enggak..” balas Chelsea melihat ke arah Marsha yang membawa es krim dari arah sana.

“Kok cuman jawab oh?”

“Terus mau jawab apa lagi?” tanya Chelsea. Bagas, tau arah pembicaraan Chelsea, malah ingin mengerjainya.

“Mmm, habis mama ulang tahun sih gue langsung balik..” ucap Bagas. Chelsea sedikit kaget lalu bersikap normal.

“Yaudah..” jawab Chelsea lalu menanti Marsha datang, sementara Bagas hanya senyum kemenangan.

“Wah, asik nih rasa blueberry..” ucap Bagas. Marsha membagikan jatah makanan kepada mereka satu satu. Lalu perhatian Chelsea menuju kepada Jacklyn.

“Dia siapa kak?” tanya Chelsea ke arah Jacklyn.

“Anak temennya nyokap..” jawab Bagas lalu kembali memakan Ice Cream itu.

“Hey, kamu siapa?” tanya Chelsea lalu menyentuh kepala anak itu. Sementara anak itu hanya diam, malu malu kucing.

“Malu? Lo bisa malu? Dimobil kelakuan lo kayak kucing garong aja sekarang malu malu kucing..” ucap Bagas. Jacklyn melihat ke arah Bagas tajam.

“Hah? Kucing garong?” ucap Chelsea lalu melepas tangannya dari kepala anak itu. “Ngak mungkin lah, anak cewe yang cantik, rambutnya panjang, poninya tebel, matanya bagus, hidungnya mancung, putih, dan badannya bagus ini punya kelakuan kayak kucing garong..” lanjut Chelsea.

“Emang dasar anaknya aja yang sok imut..” ucap Bagas.

“Shut up donkey!!” balas Jacklyn. Bagas kaget, baru kali ini ada anak kecil yang mengatainya dengan kata kasar seperti itu. Pasalnya, di Amerika sana, keledai adalah hewan paling bolot, lemot, dan ditunjukkan sebagai kata kasar untuk berkata ‘goblog’.

“Hey…” ucap Bagas tak terima. “Respectful, please..” lanjut Bagas geram.

“Dia pinter Inggris kak?” tany Chelsea saat Jacklyn hanya membalas omongan Bagas dengan mengeluarkan lidahnya.

“Lumayan..” jawab Bagas. “Dia dari kecil dibawa mamanya ke Amerika..” lanjut Bagas.

“Dia bisa bahasa Indonesia?” tanya Chelsea lagi.

“Ngak bisa ngomong jelas, tapi faham..” jawab Bagas.

“Hey, what’s your name?” tanya Chelsea kepada Jacklyn.

“Jacklyn.. But you can call me jack-jack..” jawab Jacklyn dengan imutnya. Bagas bergedik ngeri melihat Jacklyn berkata se-imut itu.

“Oh Jacklyn..” ucap Chelsea. “A beautiful name..” lanjutnya.

“Thankyou.. And your name is Chelsea, right?” tanya Jacklyn kepada Chelsea. Chelsea tersenyum heran.

“Yes.. You know from?”

“The donkey..” potong anak kecil itu sambil menunjuk Bagas.

“Rrhhh..” geram Bagas lagi.

“He’s so stupid..” ucap Jacklyn ingin membuat Bagas marah.

“Ha? Seriously?” tanya Chelsea bercanda.

“Yes..” ucap Jacklyn. “His IQ low than donkey..” lanjutnya. Sementara Marsha, Chelsea dan Jacklyn memojokkan Bagas. Bagas hanya diam. Tidak mau ikutan percakapan cewe cewe yang ia anggap gila di sebelahnya.

Bersambung…

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: