Tanpa Judul – Part 7 {Ending} [Cerbung Idola Cilik / IC / ICIL ]

SMA Indische, Jumat pagi sangat ramai dengan adanya glady resik untuk Open House hari Sabtu besok.. Mulai dari anak kelas 1 SMA yang mengadakan gelar musik dan anak kelas 2-3 SMA yang memeriahkan berdasarkan ekstra yang mereka pilih. Beberapa perwakilan kelas 2 dan 3 akan ada yang menjadi MC, mm sekitar 4 orang saja, termaksud Agni.
“Ya, sekarang kita akan menja… Ahh, salah salah.. Maaf maaf.. Ulang..” ucap Agni mulai frustasi karena tidak hafal hafal dengan teks yang akan ia bacakan, ia tak sepintar Sivia dalam merangkai kata kata, di kartu yang ia pegang hanya ada daftar acara, bukan perkataan yang harus ia ucapkan.
“Iya, keren banget kan ya tadi penampilan anak kelas X.7 dengan ngeband lagu Semputna..” ucap Kak Angel memulai percakapan sebagai MC.
“Iya, sekarang kita akan melihat penampilan dari ekstra IPA dengan percobaan mereka..” ucap Agni dengan cepat.
“Arhhh, salah Ag.. Terlalu cepat.. Salah, kamu fokus dong..” ucap Pa Dave sebagai pembina para MC ini. Agni menjambaki rambutnya sendiri, ia dan 3 orang lainnya berdiri di sudut panggung dengan kelas lain yang sedang pertunjukkan di belakang mereka.
“Fokus Agni, fokus..” ucap Pa Dave. “Kamu pasti bisa, bapak yakin.. Pelan pelan aja, jangan terlalu terburu-buru..” lanjutnya.
“Mmm, iya pak..” ucap Agni kemudian menghembuskan nafas beratnya. Agni mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, tatapannya terdiam pada lapangan basket, Cakka sedang bermain basket bersama Rio, Alvin, Gabriel dan semuanya. Ia tersenyum sejenak, lalu ia melihat ke arah Shilla yang sedang latihan Cheers di lapangan upacara dan Ify yang sedang menghafal not not piano yang akan ia mainkan sementara Sivia beserta tim mading asik menghias sekolah mereka. Agni menghembuskan nafasnya, kemudian tersenyum, entah kenapa kekuatan dalam dirinya balik lagi.
“Ni, siap siap..” bisik Ka Angel pelan karena Pa Dave menyuruh mereka mengulang dari awal. Agni mengangguk, lalu ia berusaha membuat kata yang pas..
“Iya, keren banget kan tadi penampilan anak kelas X.7 dengan acara ngeband mereka?” ucap Ka Angel.
“Pastinya dong Ngel, anak Indische..” balas Ka Septian membalas perkataan Ka Angel, Pak Dave mengangguk-angguk seakan mengatakan bagus, kini giliran Agni berbicara.
“Ya.. Pastinyalah harus bagus, kita juga pasti bangga sekolah di Indische nah sekarang kita akan melihat penampilan dari ekstra kulikuler IPA dengan percobaan mereka yang pasti akan menarik dan sayang untuk kalian lewatkan..” ucap Agni dengan santai, di bawah, Pa Dave mengacungkan jempol pas sekali para anak ekskul IPA naik ke atas panggung lalu mereka turun ke bawah, menghampiri Pa Dave.
Agni menghembuskan nafas lega, kini ia masih melihat daftar daftar acara yang harus ia karang ceritanya..
“Gue baru tau kenapa nyewa MC itu mahal. Ternyata susah banget ya jadi MC..” ucap Agni, ia memegang dahinya untuk mengelap keringatnya.
“Nih..” ucap orang menyodorkan pocari sweat di hadapannya, Agni melihat ke arah orang itu, Cakka.
“Makasih..” ucap Agni tersenyum kepada Cakka.
“Iya sama sama, capek kan ya?”
“Banget.. Jadi MC aja harus mikir segala..”
“Biarin, biar otaknya ngak berdebu..” ucap Cakka mengejek Agni. Agni menunjukkan wajah sinisnya. Lalu cakka menjepit lengannya ke leher Agni, sambil berbisik di telinga Agni,”Ngak usah sinis gitu lah..”
“Aaaarrrr, lepasin..” ucap Agni berusaha melepas lehernya yang dijepit oleh Cakka.
“Iya, udah nih..” ucap Cakka lalu melipat tangannya sambil memejamkan matanya.
“Ck, kenapa lo?” tanya Agni sambil meminum pocari pemberian Cakka.
“Ag..”
“Apaan?”
“Mmm, besok.. Besok..”
“Apa?”
“Besok lo ke acara pesta dansa dan topeng bareng gue ya..”
“Emang ada?”
“Ada lah, biasanya juga setiap open house acara terakhirnya pesta dansa dan topeng..”
“Yah yasudahlah..”
“Beneran Ag?”
“Iya..”
“Ngak bohong?”
“Yaudah deh ngak jadi..”
“Yahh Agniiiii….”
“Makanya jangan banyak nanya..”
“Iya.. Maaf..” ucap Cakka masih cengir cengir sendiri. Kembali, Agni dipanggil ke atas panggung. Yah, mau tidak mau dia memang harus kembali latihan.
“Semangat Agsay..” ucap Cakka pelan lalu pergi dari sana. Agni hanya senyum, ucapan pelan Cakka bisa terdengar hingga gendang telinganya. Ia menggelengkan kepala lalu kembali naik ke atas panggung.

====================

“Hey…” ucap Dayat saat Zahra membuka matanya. “Sudah bangun? Nyenyak banget..” lanjutnya.
“Eh Day..” ucap Zahra memegangi kepalanya, ia ingat semua yang terjadi dan ia rasa, ia tak perlu tanya apa yang terjadi menurut sudut pandang Dayat.”Makan ya..” ucap Dayat lalu membukakan bubur yang diberikan rumah sakit untuk Zahra.
“Ngak laper ah..”
“Yah, tapi seenggaknya makan dong..”
“Ngak..” ucap Zahra menolak mentah mentah.
“Mmm, yaudah sih..” ucap Dayat menutup bubur itu dengan tutup tupperware, “Tapi besok ngak boleh ikut Open House dan jangan minta jajanin ya!!” lanjutnya.
“Yahhh..” keluh Zahra lalu dengan cepat berdoa dan memanyunkan mulutnya.
“Jelek ah.. Jangan begitu..” ucap Dayat lalu mengelus pelan rambut Zahra.
“Lagian ngak mau makan dipaksa..”
“Makanya jangan sakit..”
“Kamu kok jadi bawel sih, kayak Rio?”
“Apa?” tanya Dayat. “Kamu?” lanjutnya. Zahra terdiam, ia baru sadar bahwa ia seharusnya tidak mengucapkan kata ‘kamu’ sekarang. Kini, ia merasa harga dirinya rendah, sangat rendah.
“Udah ngebet banget ya?” goda Dayat sambil mengaduk aduk bubur Zahra.
“Ah, males ah..” ucap Zahra langsung menutup kepalanya dengan selimutnya.
“Hey..” ucap Dayat pelan. “Ngak apa apa kamu bilang begitu.. Aku ngak pernah nganggep kamu rendah hanya karena kamu duluan bilang aku kamu..” lanjutnya. Zahra terdiam, lalu dengan perlahan membuka selimut yang menutupi kepalanya.
“Yaudah..” ucap Zahra cepat. Lalu, ia membuka mulutnya. Dayatpun memasukan bubur yang ada di sendok ke dalam mulut Zahra.
“Day..” ucap Zahra pelan.
“Ya?”
“Habis ini anterin aku ke sekolah ya..”
“Buat apa?”
“Aku mau latihan drama..”
“Kamu udah digantiin kok, ngak usah khawatir..” ucap Dayat berusaha menyembunyikan kepanikannya.
“Ngak ah..”
“Ih, bebal ya..” ucap Dayat greget dengan kelakuan gadis di depannya ini.
“Kan biar bisa kamu traktir waktu Open House..” ucap Zahra. Dayat menaikkan satu alisnya, heran.
“Tanpa kamu ikut drama juga bisa kok..”
“Ngak ah.. Ngak spesial nanti..”
“Kok?” tanya Dayat pelan, tak mengerti dengan jalan fikiran gadis ini.
“Kalo habis drama, aku bisa kasih kamu upah sebagai bayaran makanan itu..” ucap Zahra ngaco.
“Kok kamu ngak nyambung?”
“Sudahlah..” ucap Zahra menengahi. “Ikutin aja Day..” lanjutnya.
“Hmm, okelah.. Makan aja ya sekarang..” ucap Dayat lalu kembali menyuapi Zahra. Hati mereka berdua bergetar, merasakan sesuatu yang berbeda. Saling suka, tetapi tak berani mengungkapkan kepada satu sama lain.
‘Gue sayang lo Ra.. Sampai kapanpun..’ batin Dayat tersenyum, sangat ikhlas.
‘Gue sayang lo Dayat..’ batin Zahra juga ikut tersenyum.

====================

“We are INDISCHE.. Give we I.. Give we N.. Give we D.. Give we I.. Give me S.. Give we C.. Give me H.. Give – ”
“Stop.. Kurang kompak..” potong pelatih Cheers kepada tim Cheersnya.
“Ucapan diawal keras, tapi akhir akhirnya melemah..” lanjutnya. Tim Cheers hanya mengeluh kesal. Mereka sudah mengulang hampir 20 kali gerakan ini, gerakan dasar. Tetapi memang sang pelatih yang perfectionis, yang ingin segala sesuatu sempurna.
“Come on guys.. Kita pasti bisa.. Semangat!! Go go cheers go go cheers go!!” ucapnya menepuk tangannya berkali kali memberikan arahan kembali.
“We are INDISCHE!! Give we I.. Give we N.. Give we D.. Give we I.. Give we S.. Give we C.. Give we H.. Give we E.. Go Indische go Indische GO!!!” teriak mereka tak ingin mengulang lagi. Sang pelatih mengerutkan kening. Mempertimbangkan keputusannya untuk berkata ‘ya’ atau ‘ulang’.
“Ulang..” ucapnya lagi. Tim Cheers mau tak mau harus mengulang lagi gerakan mereka.
“We are INDISCHE… Give we I.. Give we N.. Give we – ”
“Stop… Aren, kamu ngak kompak..” ucapnya.
“Arhh..” gerutu Shilla lalu menarik nafas dan membuangnya. Membuat dirinya se-rilex mungkin. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dan terdiam pada lantai 3 sekolah. Dimana ia mendapati Alvin sedang melihatnya dengan senyum mautnya. Shilla terdiam membeku, beberapa detik kemudian, ia membalas senyuman pria itu.
“Shilla.. Apa yang kamu lakukan? Fokus please!!!” ucap sang pelatih karena teman temannya sudah mulai tetapi ia masih melihat ke arah Alvin.
“Sorry Miss Uchie.. Sorry..” ucapnya lalu kembali fokus.
“Fokus fokus fokus…” ucap Miss Uchie yang lalu memberikan aba aba.
“We are INDISCHE… Give we I.. Give we N.. Give we D.. Give we I.. Give we S.. Give we C.. Give we H.. Give we E.. Go Indische go Indische GO!!!!” teriak mereka dengan semangatnya. Miss Uchie tersenyum dan memberi tepuk tangan.
“Good Job girls.. Oke, istirahat sejenak.. Lalu kita akan latihan gerakan terakhir oke..” ucapnya lalu pergi dari lapangan upacara itu. Shilla duduk di pinggir lapangan dengan tim Cheers lainnya. Tak lama, Alvin datang membawa sekotak makanan.
“Nih makan Shill..” ucap Alvin memberikan kotak makan itu kepada Shilla.
“Yah Vin.. Ini belom kelar, masa dikasih makanan.. Enggak ah..” ucap Shilla menolak halus.
“Kenapa? Ntar ngak ada energi loh..”
“Kalo makan ntar diulang bisa sampe 100 kali..”
“Yaudah deh kalo begitu.. Ada yang bisa aku bawain?” tanya Alvin ramah sambil menaruh tempat makan itu di belakangnya.
“Mmm, minuman berenergi aja deh..”
“Ya udah, aku beli dulu di kantin ya..” ucap Alvin lalu beranjak pergi. Saat Alvin datang, Miss Uchie sudah menyuruh Shilla dan Tim Cheers untuk kembali latihan.
“Nih Shill..” ucap Alvin.
“Yah, udah ada Miss Uchie..”
“Udah biarin aja..”
“Yah nanti kamu dimarahin..”
“Gapapa, aku ngak takut sama dia. Lagian kalo – ”
“Alvin!!!” teriak Miss Uchie kepada Alvin karena ia mengganggu Shilla dan Tim Cheers lainnya.
“Siap Miss..” ucap Alvin lalu berdiri dengan tegak, maklum, Alvin adalah salah satu anggota upacara sekolah ataupun pramuka dan keorganisasian lainnya dan Miss Uchie adalah pembinanya.
“Lari keliling lapangan 7 putaran..”
“HAH?” tanya Alvin kaget. Bagaimana bisa ia dihukum hanya karena mendekati Shilla.
“Cepat atau – ”
“Iya Miss..” ucap Alvin lalu dengan malas bergerak menjauh.
“Yah setidaknya gue masih bisa ngeliat Shilla..” ucap Alvin pelan dan mulai berlari. Terkadang saat ia melihat wajah Shilla, semangatnya seakan ada dan ia seakan tak mau mengakhiri kegiatannya itu.

“Eh Vin.. Ngapain lo disono?” tanya Gabriel menghampiri Alvin yang sedang berlari tak jelas di lapangan upacara.
“Miss Uchie hukum gue Gab..”
“Gara gara?”
“Gue caper ke si Shilla..” ucap Alvin lalu masih tetap berlari. Gabriel mencari sosok Shilla yang dimaksud oleh Alvin.
“Dasar..” ucap Gabriel pelan lalu mengarah ke arah Sivia.
“Vi.. Sini gw bantu..” ucap Gabriel mendekati Sivia yang sedang menggantungkan hiasan di langit langit koridor utama.
“Eh Gab jangan..”
“Ngak apa apa..”
“Eh tapi Gab.. Eh Gab.. Gabbbb!!!” teriak Sivia saat Gabriel akan naik ke atas kursi dan kursinya goyang, lalu menyebabkan Sivia terjatuh. Gabriel dengan reflex langsung menangkap Sivia dengan satu tangannya, alhasil, Sivia tidak jatuh tepat sekali di lantai.
“Rhhh.. Batu banget sih lo!!” ucap Sivia kesal dan menepuk-nepuk celananya.
“Maaf..” ucap Gabriel lalu turun dari kursi yang tinggi itu.
“Lo gak apa apakan?” ucapnya lagi.
“Tanya sama ini nih..” ucap Sivia menunjuk tangannya yang agak berdarah sedikit.
“Yah.. Sivia..” ucap Gabriel tak percaya dengan apa yang terjadi.
“Apa yah yah mulu?” tanya Sivia kesal. Lalu, Gabriel dengan cepat membopong Sivia yang tak kenapa-napa itu menuju UKS. Sivia hanya diam, ia membeku. Melihat wajah Gabriel yang fokus akan membawanya ke UKS dia tersenyum pelan tapi pasti hingga membentuk sebuah senyuman manis.
“Yah Vi.. UKSnya tutup..” ucap Gabriel melihat ke arah Sivia yang sedang ia bopong itu. Perlahan, ia merasakan hal yang sama. Ia membeku karena senyuman Sivia itu.
“Gue sayang sama lo..” ucap Gabriel yang berbicara dari hatinya.
“Gue juga..” balas Sivia tak menyadari apa yang ia ucapkan. Mereka bertatapan sampai beberapa lama dan akhirnya, tersadar karena bel tanda usai latihan dibubarkan.
“Eh.. Maaf..” ucap Gabriel lalu menurunkan Sivia. Sivia hanya tersenyum tersipu malu. Lalu, mereka diam, salting sendiri, menggaruk-garukkan kepala mereka yang tidak gatal dan akhirnya merubah warna muka mereka.
“Gue.. Turun duluan ya Vi..” ucap Gabriel akan berjalan. Sebelum akhirnya ia pergi, Sivia mendaratkan kecupan di pipi Gabriel. Gabriel terdiam membeku sementara Sivia langsung kabur saat itu juga.
“Emang cuman elo, Via..” ucap Gabriel memegang pipinya itu.
“Yang bisa ngebuat gue lupa diri..” lanjutnya lalu berjalan menuju lapangan upacara. Berniat menyusul Alvin dan akan balapan motor dengannya.

====================

Ify terus memainkan tuts tuts pianonya. Kini, nadanya semakin cepat dan akhirnya, ia menyelesaikan lagunya.
“Cape?” tanya Rio saat Ify memegang dahinya dan meminum air putih di sampingnya itu..
“Lumayanlah..”
“Udah boleh pulang belum?”
“Sebenernya udah dari setengah jam lalu..”
“Mau pulang?” tanya Rio duduk di dekat Ify.
“Hmm, ayok lah..” ucap Ify. Ify dan Rio pergi menuju parkiran.
“Naik Fy..” ucap Rio. Ify mengangguk dan akhirnya menaiki motor Rio. Sepanjang perjalanan, keheningan tercipta sampai akhirnya, Rio menarik tangan Ify agar melingkar di pinggangnya. Ify terkaget, tapi akhirnya ia menerimanya juga. Sudah setengah jalan mereka lalui, sampai akhirnya Rio melawan arah menuju rumah Ify. Ify mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan apa yang dilakukan Rio.
“Yo? Kok?”
“Shuuuttt.. Kita jangan pulang dulu..”
“Jangan culik gw Yo..” ucap Ify pelan. Rio hanya terkekeh pelan, lalu tersenyum dan berkata,”Hanya gue kan yang bisa nyulik lo?”
“Lo beneran mau nyulik gue Yo?”
“Menurut lo?”
“Enggak..”
“Yaudah, diem dulu..” ucap Rio lalu membawa Ify ke suatu tempat. Tempat dimana Ify impi impikan bisa masuk kesana tanpa uang orangtuanya, dan kini terkabul.
“Yo, lo serius?”
“Yapp..” ujar Rio lalu menggandeng tangan Ify masuk ke dalam tempat itu. Ia mengarah ke arah kasir.
“Selamat datang di Theater JKT48. Ada yang bisa dibantu?”
“Mba, saya mau beli tiket Handshake sama Shanju dan Nabilah..” ucap Rio lalu mengeluarkan dompetnya.
“Ada lagi?”
“Ngak mbak..”
“Kita lagi ada promo untuk konser Theater pribadi mas..”
“Apa itu mbak?” tanya Rio. Mbak mbak itu menjelaskan dengan teliti, dan Rio mengerutkan keningnya. Tertarik untuk membeli tiket itu..
“Berapaan ya mbak?” tanya Rio benar benar ingin membeli.
“Yang paling murah 14 juta mas.. Yang paling mahal 50 juta..” ucap mbaknya. Rio menegukkan ludahnya. 14 juta? Apa ia memiliki uang sebanyak itu? Lalu pandangannya mengarah kepada Ify. Ia mempunyai tabungan sekitar 20 juta, tetapi itu adalah impiannya untuk membeli motor ninja kesukaannya. Tapi sepertinya, senyum gadis itu adalahnya semangatnya sekarang.
“Oke, saya beli yang 14 juta mbakk..” ucap Rio lalu mengeluarkan kartu kreditnya.
“Oke mas, sekitar jam 4 sore, mas akan menonton konser ini dahulu lalu akan dijalankan sesuai kesepakatan tadi.. Tetapi acara handshake akan dimulai jam 3.30 mas..” ucap mbak mbak itu lalu memberikan tiket itu kepada Rio.
“Oke deh mbak.. Makasih ya..” ucap Rio lalu mendekati Ify. Ia mengecek jam tangannya, ternyata masih jam 14.00, ia harus menunggu sekitar 1 setengah jam lagi.
“Fy..” panggil Rio kepada Ify yang sedang duduk di ruang tunggu.
“Ya Yo?” ucap Ify bangkit berdiri.
“Makan dulu yuk.. Masih lama..” ucap Rio lalu menggandeng tangan Ify menuju suatu rumah makan favorite Rio di sekitar situ.

====================

“Serius Pak, bisa?” tanya Zahra tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia diperbolehkan oleh sang pembina ekstra Drama untuk mengambil perannya lagi.
“Iya.. Lagian saya yakin kamu pasti sudah hafal..” balasnya kepada Zahra.
“Wahh.. Makasih ya pak.. Makasih..”
“Iya, kamu tidak usah ikut glady resik.. Saya yakin kamu pasti bisa walaupun tidak mengikuti glady resik ini..” ucapnya lagi.
“Terimakasih pak.. Terimakasih..” ucap Zahra lalu menyalami tangan guru itu. Lalu keluar dari ruang guru. Ia memberitahukan Dayat tentang apa yang diberitahu oleh pembina ekstra drama tadi.
“Baguslah.. Bagus.. Ayo kita pulang sekarang..” ucap Dayat.
“Ngak ke agni via ify shilla du – ”
“Mereka udah pulang..” ucap Dayat tersenyum. Lalu dengan senang hati Zahra mengikuti kembali Dayat menuju parkiran dan pulang ke rumah.

“Lo seriusan Zaa?” tanya Agni di kamar Zahra saat mereka sedang main bersama.
“Iya.. Gue serius..”
“Ahh.. Cie yang udah dipercayakan di Ekstra Drama..”
“Jangan mulai Ag, pliss..”
“Haha, tapi lo beneran ngak apa apa?”
“Iya Ag.. Bantuin gue ngehafal aja yuk..”
“Ayo..” ucap Agni sambil menilai acting Zahra dalam hal ini.

====================

“Gue suka sama lo..” ucap Alvin saat Shilla sedang meminum jus jeruk di restaurant favorite mereka.
“Gue.. Gue..” ucap Shilla tergagu. Shilla bingung, apa yang harus ia katakan.
“Shill..” ucap Alvin memegang tangan Shilla.
“Would you be mine?” lanjutnya. Shilla terdiam, ia tak bisa berkata apa apa lagi. Dia hanya menunduk.
“Hey..”ucap Alvin memegang dagu Shilla dan menaikkannya ke atas.
“Apa jawaban lo?”
“Gue juga suka sama lo..” ucap Shilla pelan. Tak terasa pipi Shilla memerah dan Alvin tersenyum entah artinya apa yang jelas mereka sangat senang hari ini.
“Vin..” ucap Shilla.
“Ya Shilla?”
“Bisakah kamu meyakinkan aku bahwa kamu benar benar suka sama aku?”
“Apa yang bisa aku lakukan?”
“Bisakah kamu jujur, apakah kamu beneran suka sama siv – ”
“Enggak.. Aku  cuman suka kamu. Itu semua hanya acting semata..”
“Serius?”
“Iya..”
“Ada bukti?” tanya Shilla. Alvin memainkan alisnya lalu perlahan mendekat ke arah Shilla. Menatap wajah Shilla dan semakin dekat.. Semakin dekat.. Sedikit lagi, dan saat Shilla menutup matanya, Alvin berbicara di telinga Shilla,”Buktinya aku bisa bikin kamu deg-deg-an gini..”

Shilla terdiam, ia merasakan malu yang luar biasa hebat. Ia kira Alvin akan menciumnya tapi..
“Ngak usah malu.. Aku hanya ingin kamu sudah tau bahwa aku benar benar suka sama kamu..” ucap Alvin lalu kembali memegang tangan Shilla.
“Jadi jawabannya?” tanya Alvin penuh harap.
“Jangan bikin aku berfikir untuk yang kedua kalinya..” ucap Shilla. Alvin menaikkan alisnya tak mengerti, Shilla mengangguk mantap dan akhirnya, mereka bersama menyantap es krim kesukaan mereka, dimana dari sinilah mereka bisa saling kenal.

====================

“Yuk Fy.. Udah mau mulai handshake nya..” ucap Rio kepada Ify saat mereka sedang duduk di Cafe sebelah Theater. Ify mengangguk mantap lalu ia digandeng Rio menuju Theater.
“Selamat datang di Theater JKT48. Ada yang bisa dibantu?” ucap mba mba yang lain, ramah.
“Saya mau ikut handshake..” ucap Rio.
“Handshake siapa mas?” tanya mba mba tersebut kepada Rio.
“Nabilah sama Shanju mbak..” ucap Rio.
“Oh disana mas. Nanti tinggal berikan tiket di setiap stand yang ada disana..” ucap mba mba itu ramah lalu menunjuk sebuah stand.
“Siap mbak..” ucap Rio. Mereka ke arah stand masing masing dan handshake dengan idola masing masing.

“Yo, mau kemana lagi?” tanya Ify saat mereka selesai handshake, Rio membawanya kedalam sebuah tempat seperti aula tetapi terdapat panggung.
“Nonton aja..” ucap Rio lalu duduk di sofa yang disediakan pas untuk dia dan Ify. Mereka duduk di atas sofa dan menonton panggung tersebut, tak lama, para anggota JKT48 berdatangan dan menyanyikan dan menari sekitar 3 lagu. Ify takjub, ia tak pernah merasakan sensasi seperti ini. Dilihatnya Rio, Rio hanya tersenyum sambil berkata,”Nikmatin aja..”
JKT48 terus beraksi. Sampai akhirnya pada lagu yang kelima, Melody menuju ke depan panggung dan berkata.
“Selamat sore, Kak Ify dan Kak Rio. Saya Melody. Saya leader disini, di team J generasi pertama. Sesudah ini, saya dan teman teman saya akan menyanyikan sebuah lagu, tetapi mohon maaf jika kurang memuaskan, semoga kalian suka..” ucapnya lalu kembali kedalam barisan. Musik dinyalakan dan akhirnya terdengar suara nyanyian mereka.

Jika kamu merasa bahagia
Semoga saat ini kan berlanjut
Selalu selalu selalu ku akan terus berharap

Walaupun ditiup angin
Kuakan lindungi bunga itu

Cinta itu suara yang
Tak mengharapkan jawaban
Tapi dikirimkan satu arah

Dibawah mentari tertawalah
Menyanyi menari sebebasnya

Karena kusuka suka dirimu
Kuakan selalu berada disini
Walau didalam keramaian
Tak apa tak kau sadari

Karena kusuka suka dirimu
Hanya dengan bertemu denganmu
Perasaanku jadi hangat
Dan menjadi penuh

Disaat dirimu merasa resah
Berdiam diri aku mendengarkan
Kuberi payung yang kupakai tuk hindari hujan

Air mata yang terlinang
Kan ku seka dengan jari di anganku

Cinta bagai riak air
Meluas dengan perlahan
Yang pusatnya ya dirimu

Walaupun sedih jangan menyerah
Kelangit!
Impian!
Lihatlah!

Kapanpun saat memikirkanmu
Bisa bertemu kebetulan itu
Hanya sekali dalam hidup
Kupercaya keajaiban

Kapanpun saat memikirkanmu
Akupun bersyukur kepada tuhan
Saat kutoleh ke belakang
Ujung kekekalan

Karena kusuka suka dirimu
Kuakan selalu berada disini
Walau didalam keramaian
Tak apa tak kau sadari

Karena kusuka suka dirimu
Hanya dengan bertemu denganmu
Perasaanku jadi hangat
Dan menjadi penuh
Ujung kekekalan

JKT48 membungkuk dengan hormat lalu Ify berdiri sambil terus bertepuk tangan.
“Terimakasih..” ucap mereka.
“Keren yo.. Keren banget..” ucap Ify menitikkan air mata. Rio hanya tersenyum ringan.
“Kak.. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh teman kakak yang bernama Rio ini..” ucap Nabilah, oshinya Ify. Ify heran. Rio mendekati panggung lalu memberikan instruksi kepada mereka.
“Mmm. Hai Fy..” ucap Rio diatas panggung.
“Yo? Kok?”
“Lo ngak usah heran Fy..” ucap Rio menggaruk kepalanya itu. “Gue sebenernya mau ngomong sesuatu..”
“Hah? Apaan?”
“Sebenanya, gue suka sama lo..” ucap Rio kemudian membungkuk di atas panggung dan mengeluarkan seikat bunga. Dibawah panggung hanya ada Ify yang membeku. Tak tau apa yang harus dilakukannya.
“Lo mau ngak jadi pacar gue Fy?” saat Rio menyebutkan kata kata itu, para member JKT48 langsung menyanyikan sebuah lagu. Lagu kesukaan Ify.

Walaupun diri ini menyukaimu
Kamu seperti tak tertarik kepadaku
Siap patah hati kesekian kalinya
Yeah! Yeah! Yeah!

Ketika kulihat di sekelilingku
Ternyata banyak sekali gadis yang cantik
Bunga yang tak benar tidak akan disadari
Yeah! Yeah! Yeah!

Saat ku melamun terdengar music
Mengalun di Kafetaria
Tanpa sadar kuikuti iramanya
Dan ujung jari pun mulai bergerak

Perasaanku ini tak dapat berhenti
Come on! Come on! Come on! Baby!
Tolong ramalkanlah

Yang mencinta Fortune Cookies
Masa depan tidak akan seburuk itu
Hey! Hey! Hey!
Mengembangkan senyuman kan
membawa keberuntungan

Fortune Cookie berbentuk hati
Nasib lebih baiklah dari hari ini
Hey! Hey! Hey! Hey! Hey! Hey!

Janganlah menyerah dalam menjalani
hidup
Akan datang keajaiban yang tak
terduga
Ku punya firasat tuk bisa saling
mencinta denganmu

Ingin ungkapkan perasaan padamu
Tetapi aku tak percaya diri
Karena reaksimu terbayang di benakku
Yeah! Yeah! Yeah!

Meski cowok bilang gadis ideal
Yang punya kepribadian baik
Penampilan itu membutuhkan
Selalu hanya gandis cantik saja
Yang kan dipilih menjadi nomor Satu
Please! Please! Please! Baby
Lihatlah diriku

Yang mencinta fortune cookies
cangkang itu ayo cepat pecahkan saja
Hey! Hey! Hey!
Apa yang kan terjadi siapapun tak ada
yang tahu

Air mata fortune cookies
Aku mohon jangan menjadi hal yang
buruk
Hey! Hey! Hey! Hey! Hey! Hey!

Dunia ini kan dipenuhi oleh cinta
Esok hari akan berhembus angin yang
baru
Yang membuat kita terlupa akan hal
yang menyedihkan

Come on! Come on! Come on! Baby!
Tolong ramalkanlah
Yang mencinta Fortune Cookies
Masa depan tidak akan seburuk itu
Hey! Hey! Hey!
Mengembangkan senyuman kan
membawa keberuntungan

Fortune Cookie berbentuk hati
Nasib lebih baiklah dari hari ini
Hey! Hey! Hey! Hey! Hey! Hey!

Janganlah menyerah dalam menjalani hidup
Akan datang keajaiban yang tak terduga
Ku punya firasat tuk bisa saling mencinta denganmu

Ify tersenyum menyeka air matanya. Tak pernah terfikirkan bahwa Rio akan nembak dia dengan cara seperti ini.
“Lo boleh kedepan sekarang Fy..” ucap Rio di atas panggung, kini berdiri dan masih memegang bunga itu. Ify menurut, ia berjalan menuju panggung.
“Fy.. Gue suka sama lo.. Lo mau ngak jadi pacar gue?” tanya Rio sekali lagi. Para member terdiam. Kemudian, Nabilah bersorak,”Terima.. Terima.. Terima..” dan akhirnya semua member bersorak seperti itu.
“Gimana Fy?”
“Gue.. Gue mau Yo..” ucap Ify menyeka kembali air matanya. Para member bertepuk tangan dan Rio lompat ditempat sekali kemudian mendekati Ify dan memberikan bunga itu.
“Gue harap, kita bakalan abadi Fy..”
“Gue juga maunya begitu Yo..” dan really, seperti pada akhir cerita yang menyenangkan. Mereka berpelukan..

====================

“Kalo aku suka kamu gimana?” tanya Sivia saat dirinya dengan Gabriel sedang asik melempar batu ke danau tempat mereka biasa bersama.
“Gue udah tau kok..” ucap Sivia lembut, lalu tersenyum.
“Terus gimana?”
“Apanya?”
“Lo mau ngak jadi pacar gue?”
“Ahh Gab..” ucap Sivia masih asik melempar batu ke danau. “Gue belum mau pacaran..”
“Yah..”
“Maaf ya..”
“Iya Vi, gak apa apa.. Gue bakalan selalu nunggu elo..”
“Aishh lo baik banget..”
“Demi lo Vi..”
“Tapi Gab.. Gue ngak mau kalo lo nembak gue terus dan tanya kapan gue siap jadi pacar lo..”
“Terus lo maunya gimana?” Gabriel menggigit bibirnya keras. Ia merasa belum siap untuk menghadapi ini semua.
“Tapi gue mau lo langsung nikahin gue..” ucap Sivia bercanda. Gabriel membuang nafasnya lega.
“Yaudah habis SMA langsung kawin aja yuk..”
“Eh.. Enak aja, lo fikir gue mau apa pernikahan dini..”
“Kan tadi lo yang minta..”
“Lo kayak ngak ada harapan banget sih mukanya.. Udah jelas gue mau..”
“Hah? Serius?”
“Kenapa enggak?”
“Masa sih?”
“Lo ngak mau?”
“Beneran Vi?”
“Ah ngak jadi deh..” ucap Sivia lalu berhenti melempari batu ke danau.
“Yah Via.. Gue becanda..”
“Cape ah becanda sama lo, dibawa serius terus..”
“Yah yaudah deh.. Maaf..”
“Ada syaratnya..”
“Apa?”
“Nikahin gue ya habis gue tamat S1..” ucap Sivia mencari kesibukan.
“Kalo Tuhan izinin sih ya gue mau mau aja..”
“Beneran?”
“Iyahhh..”
“Yaudah, gue mau jadi pacar lo..”
“Ah ciee.. Besok gue ada temen deh ke Open House..”
“Lo nembak gue buat gitu doang?”
“Enggak Via.. Enggak..”
“Janji ya?”
“Iya yaampun..”
“Yaudah, jangan bohongin gue. Gue ngak suka janji palsu..”
“Iya, i’ll promise…”
“Yaudah ah.. Gue mau pulang..” ucap Sivia lalu bangkit dari bangku danau.
“Bentar..” ucap Gabriel.
“Apa?”
“Mendung nih.. Ngak mau main hujan dulu aja?” tanya Gabriel kepada Sivia.
“Boleh ah..” ucap Sivia lalu melepaskan jaketnya dan berlari merasakan gerimis yang lama lama menjadi hujan.
“GUE SAYANG SIVIA….” teriak Gabriel diantara derasnya hujan.
“GUE JUGA SAYANG SAMA GABRIEL…” teriak Sivia kemudian disambut oleh pelukan hangat Gabriel disela hujan turun.

====================

“Ag..” ucap Cakka saat mereka sedang di depan A&W. Mereka yang awalnya berniat membeli buku kemudian akhirnya makan juga di restaurant cepat saji, A&W.
“Apaan?”
“Lo serius kan mau pergi ke Opem House bareng gue?”
“Iya..”
“Kalo gitu, kita sekalian pacaran aja ya..” ucap Cakka. Agni tersedak saat akan meminum lemon tea-nya. Dan saat itu juga, pandangan Agni dan Cakka saling bertemu. Agni mencari kebohongan di mata Cakka, tetapi tak ada. Cakka benar benar tulus, fikirnya.
“Lo bener bener ngak suka ya Ag sama gue?” tanya Cakka saat melihat ekspresi Agni tersedak.
“Kata siapa?”
“Terus, lo ngapain – ”
“Lo aja sendirinya belum bilang suka sama gue..”
“Ya kalo gue nembak lo berarti gw suka sama lo..”
“Belum tentu..” ujar Agni lalu memakan ayamnya lagi.
“Yaudah..” ucap Cakka menghembuskan nafasnya.
“Gue suka sama lo, Agni. Lo mau ngak jadi pacar gue?” tanya Cakka serius. Agni terdiam cukup lama sampai akhirnya dia berkata,”Kenapa lo suka sama gue?”
“Lo itu unik. Gue udah lama suka sama lo, lo itu beda. Lo bukan tomboy, tapi peduli. Lo itu ngak – ”
“Stop.. Gw ngak suka disanjung tinggi gitu..”
“Tapi itu beneran.. Lo emang begitu..”
“Yaudah, gue mau. Tapi jangan sanjung gue lagi..”
“Tapi Ag – ”
“Lo ngak mau?”
“Bukannya gitu. Tapi.. Lo emang pantes disanjung. Lo keren, lo hebat, lo – ”
“Cak, pliss… Demi gue..” ucap Agni, Cakka terdiam. Entah kenapa ia tak bisa berhenti memuji gadis ini.
“Kita udah pacaran oke Cak.. Gue ngak keberatan dengan keberanteman kecil kita, tapi yang jelas, kita harus bisa Cakk ngelawan rasa egois kita.. Gue juga sayang lo..” ucap Agni enteng sambil memegang pipi Cakka lalu iseng menepuknya.

====================

SMA Indische penuh dengan orang yang berdatangan. Baik siswa maupun tamu. Jalan di depan sekolah dipaksa ditutup agar memenuhi tempat parkir, tentunya dengan izin polisi setempat. Gadis ini dengan anggunnya menaiki panggung dan bersiap siap untuk menjadi MC.
“Selamat datang di Sekolah Menengah Atas Indische.. Untuk pertama tama kami ingin mengucapkan terimakasih karena kalian sudah datang kesini. Kami mau mengadakan pembukaan dengan acara potong pita dan pelepasan balon oleh kepala sekolah SMA Indische..” ucap Agni membawa enjoy tugasnya saat ini. Sementara Cakka dibawah sudah memberikannya jempol dan asik merekam moment dimana Agni aktif menjadi MC sekolah.

Shilla, Agni, Ify dan Zahra melaksanakan pentas mereka dengan sukses. Sampai akhirnya malam telah tiba. Acara yang mereka tunggu-tunggu telah datang, yaitu Acara Pesta Topeng SMA Indische. Semua asik mengganti pakaian mereka sehingga toilet dan ruang ganti dari lantai 1-3 penuh. Ada juga yang mengganti baju di kelas yang telah terisi dengan kaum masing masing, tak terkecuali kelas 12-8 yang kini diisi oleh kaum hawa oleh SISAZ dan kawan kawan.
SISAZ keluar memancarkan aura yang berbeda. Semua pandangan mengarah kepada mereka. Dan akhirnya mereka menghampiri DCRAG yang menunggu mereka didekat meja panjang untuk mengambil minum. Sebelum mengarah kepada mereka, SISAZ memakai topeng mereka terlebih dahulu dan mulai mendekati DCRAG yang sudah memakai topeng dahulu.
“Lo Agni?” tanya Cakka tak percaya dengan gadis yang berada di sampingnya itu.
“Menurut lo?” tanya Agni. Cakka tersenyum, dia benar benar Agni, fikirnya.
DCRAG dan SISAZ terdiam cukup lama di bawah pohon, karena kaum adam tak berani mengajak pembicaraan dengan kaum hawa terlebih dahulu karena menurut mereka, pasangan mereka sekarang cukup cantik.
“Mmm.. Sebelumnya, gue mau ngaku dulu sama kalian..” ucap Dayat mencairkan suasana, semua pandangan mengarah kepada Dayat.
“Apa?” tanya Alvin ikut tidak betah dengan kebekuan ini.
“Sebenernya.. Gue.. Mmm, gue…” ucap gugup sambil melihat ke arah Zahra.
“Apa?” tanya Alvin lagi.
“Sebenernya aku suka sama kamu, Zahra..” ucap Dayat yang kemudian membuang muka. Semua melihat ke arah Zahra dan kembali melihat ke arah Dayat.
“Gi… Gi… Gimana Ra?” tanya Dayat kembali gugup.
“Lo malu maluin gue ah…” ucap Zahra singkat.
“Lo bisa kan sms gue, gak usah didepan mereka..” ucap Zahra hampir mau nangis.
“Gue malu, diledekin mereka nanti. Mereka belum pacaran, baru kita doang Day..” ucap Zahra. Dayat salah tingkah, menyesal dengan perbuatannya. Semua saling tatap satu sama lain.
“Maafin gue Day.. Gue juga suka sama lo. Maaf udah buat lo kecewa… Maaf..” ucap Zahra akan pergi dari sana, tetapi tangannya ditahan oleh Agni.
“Jujur Ra.. Gue udah jadian kemaren sama Cakka..” ucap Agni cepat. Semua memelototkan matanya.
“Kok bisa?” ucap Rio pelan.
“Bisalah, emang kenapa?” tanya Agni.
“Gue juga jadian kemaren sama Ify..” ucap Rio.
“Gue juga kemaren sama Shilla..” ucap Alvin.
“Kita juga kemaren..” ucap Sivia dan Gabriel bersamaan. Semua memasang tatapan cengo, apalagi Zahra dan Dayat.
“Jadi, kalian janjian?” tanya Dayat heran.
“Enggakk!?!” jawab mereka kompak. Agni memasang muka frustasi.
“Kok bisa?” tanya Agni melepas genggaman tangannya di tangan Zahra dan memegang jidatnya.
“Tapi pasti beda…” ucap Alvin yakin.. “Pasti..” lanjutnya.
“Udah jelas jelas kita sama Vin!!” ucap Agni lagi.
“Gila, gue ngak ngerti kenapa bisa begini..” ucap Cakka menghembuskan nafas beratnya.
“Gue jam 03.30 siang..” ucap Alvin, berharap nasibnya tidak kembar dengan sahabat sahabatnya.
“Gue jam 04.30..” ucap Rio setelah Alvin.
“Gue jam 05.30..” ucap Gabriel sefikiran dengan Alvin.
“Gue jam 06.30..” ucap Agni. “Sambil dinner bareng..” lanjutnya.
“Yaampun..” ucap Dayat. “Kalian… Kok bisa?” lanjutnya masih heran.
“Ashhh.. Hidup gue ngak jauh jauh dari kalian..” ucap Gabriel kini mengangkat suara.
“Hah…” ucap Sivia sambil menghembuskan nafas beratnya.
“Yaudahlah masih mending dikasih space 1 jam.. Daripada bersamaan..” ucap Shilla.
“Yaudah.. Toh pasangannya juga beda beda kan.. Nikmatin aja malem ini bareng pasangan masing masing..” ucap Ify mengambil alih perselisihan itu.
“Bener kata Ify.. Ayo kita seneng senengin malem ini..” ucap Sivia. Lalu mereka turun ke lapangan pertanda siap mengikuti pesta dansa dan topeng.
“Ra..” ucap Dayat pelan.
“Hmm?”
“Kamu nerima aku ngak?”
“Heeh..”
“Apa Ra?”
“Iya..” ucap Zahra agak membesarkan suaranya.
“Hehehe.. Makasih ya Ra.. Gue sayang sama lo..”
“Gue juga Day.. Jangan kecewain gue ya..”
“Gue janji Ra..”
Lalu merekapun bertindak layaknya pasangan sesungguhnya dengan pasangan mereka masing masing.

Selesai…

Yeee akhirnya selesai. Makasih buat yang udah baca, i love you so much.. Makasih udah dihargain dengan like/comment, sehingga saya tidak merasa seperti membuat cerita bagi patung..

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: