Fate – Prolog [ Cerbung IC ]

Ini adalah cerita lanjutan ‘Kita Berdua Bahagia’

Lulusan SMA Idola merayakan perpisahan sebesar besarnya. Mereka terpancar wajah bahagia. Tak terkecuali Bagas, murid kelas IPA yang meraih tingkat ke-2 sesekolah, tingkat ke-2 se Jakarta dan tingkat ke-4 se Indonesia. Semua sudah rapih dengan jas -pria- dan kebaya -wanita- masing masing. Semua tampak rapih, sambil sesekali melontarkan senyum berat untuk berpisah.

Semenjak SMA, keadaan banyak yang berubah di SMA Idola. Mulai dari Cindai yang pindah sekolah ke Jogja, ataupun Fattah yang telah putus dengan Marsha dan melanjutkan sekolah di Australia. Ataupun Naoca yang pindah kembali ke Bandung karena papanya pindah pekerjaan. Atau Novi yang ikut sang papa mama kembali ke Manado karena neneknya sakit-sakitan. Atau Ivan yang pindah ke SMA Negeri. Dinda yang pindah sekolah ke Pulau Dewata. Atau juga tragedi Marsha yang malah jadian dengan Rafli, teman sekaligus tetangga Chelsea. Atau tragedi Difa yang sekarang mengincar Angel, sang kakak kelas. Atau Gilang yang sudah putus hubungan dengan Cindai tetapi sekarang tinggal di rumah Chelsea karena ternyata punya ikatan saudara dan kebetulan ia tinggal jauh dari orangtuanya. Dan banyak lagi..

Salma, gadis tomboy yang daritadi siap untuk membacakan puisi terakhir di sekolah ini, menangis sebentar. Tak kuasa sudah 3 tahun ber-SMA disini, 3 tahun menjadi baik, 3 tahun tau arti dari kebaikan, sekarang hanya terdiam di atas panggung. Menunggu waktu yang tepat untuk membacakan puisi.

Waktu demi waktu berjalan, acara telah selesai. Bagas berniat untuk menghampiri pujaan hatinya, ya!! Siapa lagi kalau bukan Chelsea, wanita terkenal dengan sosialita yang tinggi, manja, golongan anak mampu, pintar dan memiliki paras yang tak sembarang orang bisa memilikinya. Di bangku belakang kiri paling pojok, Chelsea terdiam. Bagas berusaha melewati barisan bangku yang lumayan panjang, satu satunya jalan agar bisa mendekati Chelsea, karena samping dan belakang Chelsea sudah tembok aula. Sudah tinggal beberapa detik lagi Bagas akan sampai, tiba tiba Bagas terdiam. Tanda tanya besar memenuhi kepalanya. Ada apa dengan anak ini, fikirnya.

“Chel? Kamu kenapa?” tanya Bagas mendekati Chelsea dengan hati hati. Chelsea terdiam, lalu menghapus air matanya segera, seakan akan ia sedang kelilipan. Yap, Chelsea sedang menangis.

“Eh kakak…” ucap Chelsea. “Aku ngak kenapa napa kok kak..” ucapnya lagi.

“Kenapa nangis kalo gitu?” ucap Bagas lalu duduk di samping Chelsea. Chelsea terdiam, beberapa detik kemudian, Chelsea menangis sejadi-jadinya di bahu Bagas. Bagas jelas heran, ini pertama kalinya ia melihat Chelsea nangis tanpa sebab. Bagas membiarkan Chelsea melakukan hal itu dan menunggu Chelsea selesai. Sembari menunggu, Bagas memegang pundak kiri Chelsea, yang tidak menempel pada pundaknya, dan mengelusnya, agar bisa sedikit menenangkan Chelsea. Banyak orang melirik ke arah Bagas seakan bertanya, ada apa? Tetapi Bagas hanya menjawab dengan menaikkan sebelah pundaknya. Sudah 15 menit mereka disana, aula sudah sepi. Hanya tinggal mereka berdua, dan akhirnya Bagas memberanikan diri memulai percakapan dengan Chelsea.

“Chel… Kamu kenapa?” tanya Bagas tetapi tak dijawab oleh Chelsea.

“Chel?” tanya Bagas yang bingung dengan tingkah Chelsea. Lalu, Bagas memeluk Chelsea dari samping kemudian ia baru mengetahui bahwa Chelsea tertidur.

“Tidur? Halaahhh…” ucap Bagas tak percaya dan akhirnya ia menggendong Chelsea di belakangnya. Lalu menuju parkiran sekolah dan akhirnya menidurkan Chelsea di bangku depan mobilnya atau lebih tepatnya di sampingnya. Bagas kemudian naik ke dalam mobil dan menjalankan mobil, keluar dari area sekolah.

Jakarta, adalah Ibukota Indonesia yang tak henti-hentinya diselimuti oleh kemacetan. Seperti sekarang, mobil yang digunakan oleh kedua pasangan remaja ini terjebak macet total di dekat Bundaran HI. Sudah lama Bagas menunggu kemacetan yang benar benar total, mobilnya tak bisa bergerak sedikitpun. Akhirnya ia menyetel lagu ‘Mariah Carey ft Luther V- Endless Love’ yaitu lagu favorite Chelsea dan Bagas. Musik mulai menyala dan Bagas ikut bernyanyi. Perlahan, kemacetan mulai bisa hilang. Sedikit semi sedikit mobil Bagas bisa berjalan diantara kemacetan ini.

“My love..” nyanyi Bagas sedikit menyetir mobilnya maju 6cm, lalu 6cm lagi, dan seterusnya.

“There’s only you in my life.. The only thing that’s bright..” ucap Bagas lalu menatap Chelsea yang masih tertidur.

“My first love, you’re every breath that I take.. You’re every step I make.. And I.. I want to share.. All my love with you.. No one else will do…” nyanyi Bagas lalu mengenggam satu tangan Chelsea. Chelsea sedikit tersentak tetapi kemudian tetap tidak bangun dari tidurnya.

“And your eyes.. Your eyes, your eyes. They tell me how much you care. Ooh yes, you will always be.. My endless love..” nyanyi Bagas diakhiri dengan mencium punggung tangan Chelsea.

“Two hearts, two hearts that beat as one.. Our lives have just begun..” nyanyi Bagas kemudian membelai tangan Chelsea dengan jempolnya.

“And Forever.. Forever.. I’ll hold you close in my arms. I can’t resist your charms..”

“And love.. Oh, love. I’ll be a fool, for you.. I’m sure. You know I don’t mind. Oh, you know I don’t mind.. Cause you, You mean the world to me..”

“And yes.. You mean the world to me. I know I’ve found in you. My endless love and love. I’d play the fool. For you, I’m sure
You know I don’t mind..”

“Whoa, you know I don’t mind. Oh, yes. You’d be the only one. Cause no, I can’t deny. This love I have inside. And I’ll give it all to you.. My love.. My love, my love..”

“My.. Endless Love…” akhir nyanyian Bagas lalu mencium lagi punggung tangan Chelsea. Tak lama setelah itu, Chelsea terisak sedikit. Bagas menyadari hal itu dan bertanya,”Kamu sudah bangun?”

“Ya..” ucap Chelsea singkat lalu memalingkan mukanya ke arah jendela mobil untuk melihat keadaan luar, tetapi masih membiarkan Bagas memegangi tangannya.

“Tadi kenapa” tanya Bagas lalu melepaskan tangan Chelsea dan mulai mengelus-elus rambut Chelsea. Kemudian kembali fokus ke jalan karena kemacetan mulai hilang. Chelsea tidak menjawab, keheningan tercipta diantara mereka, dengan ditemani lagu tadi yang tersetel dari awal lagi.

“Aku tau kamu udah bangun dari tadi..” ucap Bagas karena tak mendapat jawaban sama sekali dari Chelsea.

“Yaudah..” ucap Chelsea singkat masih tak mau suasana cair.

“Kamu kenapa sih? Aneh banget..” tanya Bagas tak mengerti dengan perubahan sikap Chelsea. Tetapi Chelsea masih diam.

“Bukannya aku ngak peka Chelsea, cuman untuk kali ini aku ngak ngerti kamu kenapa. Oke, kamu kecewa aku ngak bisa nebak seperti biasanya tetapi ya mau bagaimana? Aku bener bener ngak tau..” ucap Bagas ingin segera mendapatkan wajah ceria Chelsea. Chelsea menghembuskan nafas beratnya dan mulai membuka mulutnya.

“Aku takut kak..”

“Takut apa?” tanya Bagas. Chelsea memejamkan matanya dan menggigit bawah bibirnya sambil menahan agar air matanya tidak mengalir.

“Aku takut kamu dapet cewe lain yang lebih cantik di Jogja nanti..” ucap Chelsea. Bagas terdiam, memang benar, Bagas memang akan melanjutkan kuliah di Jogja, kota pelajar. Tetapi hal yang mustahil kalau Bagas akan mendapatkan cewe lain, dan menghianati Chelsea, gadis yang paling sempurna di matanya.

“Chel, jangan gitu…” ucap Bagas pelan. “Aku ngak mungkin ngelakuin itu..” lanjutnya.

“Aku cuman takut kak..” ucap Chelsea. “Karna aku pernah ngerasain disakitin kamu.. Dengan kepura-puraan kamu aja udah sakit. Kamu pura pura ngegodain cewe lain kalo kita lagi ke mall, atau kamu pura pura siul kalo ada cewe lain lewat. Aku tau itu cuman bercanda. Tapi kamu bercanda aja aku sakit, apalagi kamu beneran dapet yang lain disana?”

“Chel!! Kamu kok jadi negative gitu sih pikirannya? Kita udah pacaran 2 tahun Chel.. Aku fikir ngak akan ada bedanya setelah aku pindah. Aku yakin, kita bakalan tetap bersama..”

“Kenapa kakak yakin?”

“Karena kakak hanya suka sama kamu!! Kakak merasakan cinta pertama itu sama kamu.. Bukan yang lain..”

“Tapi kan – ”

“Kalau kamu omongin itu lagi, hati hati aja Tuhan beneran kasih kakak kesempatan buat bareng yang lain..”

“Tuh kan..” ucap Chelsea bete. Bagas tersenyum penuh kemenangan, dan dia memegang kembali tangan Chelsea sambil berkata,”Thats one of the billion impossible things ever i do.. Trust me, believe me!! I’m a royal man.. I will give all my feel to you. And only you..”

“Promise?”

“More than promise!!”

-Bandara Halim Perdana Kusuma, 13:45-
Bagas terus membawa kopernya sementara Chelsea tak henti hentinya berbicara dan tak mau melepaskan gandengan tangan Bagas. Hari ini, hari terakhir mereka bertemu secara langsung.

“Jangan nakal ya disana..”

“Jangan lupa makan ya..”

“Jangan lupa bales BBM aku ya..”

“Jangan lupa bales LINE juga..”

“Tiap jam 7 malem aktifin Skype ya..”

“Jangan jadi pemales ya..”

“Jangan mabuk mabukan ya..”

“Jangan pernah ke diskotik ya..”

“Jangan jadi orang ngak bener ya..”

“Jangan berantem mulu ya, kerjaannya..”

Bagas menjawab semua perintah Chelsea dengan perkataan,”Iya..” atau “Iya sayang..” atau juga “Heeh, Chelseaa…” atau juga,”Iya.. Aku janji..” atau juga,”I dont forget it!!” Tetapi saat Chelsea bertanya, “Jangan lupa sama janji kamu ya..” Bagas melotokan matanya. Bingung dengan sikap Chelsea yang mengungkap kejadian tentang kisah mereka kemaren.

“Aku ngak akan inkar..”

“Aku serius sayang sama kamu..” ucap Chelsea menatap mata Bagas dalam.. Sangat dalam

“Aku lebih sayang sama kamu..” ucap Bagas. “Ingetin aku supaya jangan lupain janji aku..” lanjutnya main main.

“Ish.. Orang lagi serius..”

“Iya sayang.. Iya..” ucap Bagas lalu mencium kepala Chelsea.

“Udah ya aku pergi dulu.. Jaga diri kamu baik baik.. Dan kamu juga harus janji jangan cari yang lain disini..”

“Iya.. Gue ngak – ”

“Apalagi yang brondong..” ucap Bagas bercanda.

“Ishh.. Ogah amat sama ade kelas..” ucap Chelsea lalu melipat tangannya di atas perutnya.

“Yauda aku mau pergi dulu ya..” ucap Bagas lalu mengelus pelan rambut Chelsea. Seakan tak mampu pergu jauh darinya.

“Iya.. Baik baik ya..” ucap Chelsea. Bagas hanya melihat Chelsea dalam, kemudian memeluk Chelsea erat. Sangat erat.. Tak terasa Chelsea meneteskan air matanya dan membalas pelukan Bagas lebih erat.

“Satu hal yang harus lo inget Chel..” ucap Bagas berbisik kepada Chelsea.

“Gue sayang sama lo..” lanjutnya.

“Iya kak, gue juga..” ucap Chelsea. Beberapa menit kemudian mereka melepaskan pelukan mereka. Bagas melambaikan tangan ke arah Chelsea seakan sudah mau berangkat dan air mata Chelsea jatuh lagi. Ia melambaikan tangan juga, Bagas memberhentikan langkahnya dan membiarkan kopernya berdiri tegak disana lalu kembali menghampiri Chelsea.

“Gue lupa satu hal..” ucap Bagas. Chelsea hanya terdiam dan menaikkan satu alisnya. Bagas langsung mencium pipi Chelsea dan kembali ke kopernya. Chelsea diam, dia senyum haru. Tak lama mereka kembali melambaikan tangan bersama-sama dan akhirnya Bagas berteriak,”I LOVE YOU CHELSEA…” sambil melambaikan tangannya lagi. Chelsea mengacungkan jempolnya, tak kuat untuk berteriak. Dan Bagas akhirnya mulai mendekati pesawat. Chelsea melihat kepergian Bagas dari jendela.

“Ini kayak dulu ya kak.. Tapi ketuker, dulu gue yang mau pergi..”

“Semoga lo ngak ngecewain gue kak.. Semoga..” ucap Chelsea menghapus air matanya.

“Oh iya kak, gue juga sayang sama lo..” ucap Chelsea kemudian melambaikan tangan lagi karena Bagas melambai lagi saat akan memasuki pesawat.

“Pliss, gue berharap lebih sama lo.. Jangan kecewain gue..” ucap Chelsea menunggu hingga pesawat benar benar pergi.

Bersambung..

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: