Tanpa Judul – Part 6 [Cerbung Idola Cilik / IC / ICIL ]

“Ashh, sesuatu yang gue takutin terjadi juga kan..” ucap Ify sesudah mematikan panggilan dari Agni. Ia langsung mengganti baju tidurnya dengan baju layak dipakai keluar rumah dan mengecek jam tangannya.
“Ck udah jam 08.45 mana ada angkot lewat..” desis Ify pelan. Lalu, ia mencari orang yang pas yang bisa ia ajak ke RS Garmasi, tempat Shilla dulu dirawat.
“Cakka, lo dimana?” tanya Ify saat Cakka sudah mengangkat telefonnya.
“Udah di Garmasi, lo sendiri?”
“Aishh, gue mau otw tapi angkot pasti sepi.. Gue kepengen nebeng makanya..”
“Si Rio belom..”
“Kenapa harus anak itu sih?”
“Lo sensi bener sih Fy.. Tanya dulu sono, daripada lo gak bisa dateng?”
“Yahh…” ucap Ify kecewa dan langsung mematikan panggilannya dengan Cakka. Ify terdiam, apakah ia harus mengikuti saran Cakka atau ia menunggu taxi saja? Ah, jam segini taxi sudah sepi, takut ada penjahat, batin Ify bimbang. Ify memutarkan ponselnya dan menggigit bibir bawahnya, ia memejamkan matanya sambil berfikir lagi. Terus berfikir sampai akhirnya ia tak sadar seberapa lama ia berfikir..
“Fy..” panggil seseorang dari luar kamar. “Ada yang nyari kamu tuh..” lanjutnya.
“Ahh, Cakka lo emang baik..” desis Ify pelan. Iapun keluar kamarnya dan berkata,”Siapa ma?”
“Ngak tau deh Fy.. Dia maunya nunggu diluar..”
“Aishh tumben si Cakka..” ucap Ify pelan.
“Mau kemana sih Fy?”
“Aku mau ke Garmasi lagi ma..”
“Shilla kenapa lagi?”
“Bukan Shilla, Zahra..”
“Kenapa dia?”
“Ngak tau, makanya Ify mau nengok dulu.. Ify pergi dulu ya ma..” ucap Ify mencium tangan mamanya.
“Iya, hati hati ya Fy..” ucap mamanya memegang lembut rambut Ify, Ifypun pergi ke luar rumah dengan wajah biasa saja.
“Cakk, baik bener lu.. Untung aja gue ngak — Rio?” ucap Ify saat ia menepuk pundak orang yang ia kira Cakka ternyata Rio. Ify membuka matanya lebar lebar, tak percaya bahwa yang ada di hadapanny adalah Rio, iya, Mario Stevano.
“Naik..” ucap Rio memakai helmnya dan bersiap siap, Ify diam.
“Kenapa?” tanya Rio lagi.
“Kok bisa?”
“Naik aja susah banget sih lo..”
“Hhrrr, iya iya..” ucap Ify akhirnya naik motor Rio juga. Rio membawa motornya dengan keadaan biasa saja, takut dikira anggota genk motor oleh polisi. Selama perjalanan, keheningan tercipta. Baik Rio maupun Ify tak ada yang membuka percakapan duluan.
“Yo..” panggil Ify.
“Hmm?” balas Rio agak canggung.
“Kok lo bisa – ”
“Liat udah jam berapa..” ucap Rio agak dingin. Ify mengecek jam tangannya, jam 09.30
“Astaga..” desis Ify. “Selama itukah?” lanjutnya.
“Gue udah sampe sono, disuruh jemput lo..” ucap Rio datar.
“Yo..” ucap Ify lagi, kini Ify merasa ada yang berbeda dari Rio. Bukan Rio yang hangat, namun Rio yang cuek dan dingin.
“Apa?”
“Gue.. Gue..”
“Jangan bertele tele deh..” potong Rio tak suka dengan cara bicara Ify.
“Maaf..”
“Gak usah minta maaf. Lo mau minta maaf juga percuma, ini udah terjadi..” ucap Rio dingin. Ify berusaha setenang mungkin dan tidak menyuruh Rio terus seperti ini. Ify mencari akal agar Rio sok cuek lagi kepadanya.
“Mmm.. Sebenernya..” ucap Ify gantung.
“Gue gak beneran jadian sama Debo kok..” lanjutnya. Rio berhenti seketika itu juga, Ifypun memegang jog motor dengan sangat kuat supaya ia tidak terdorong kedepan karena rem Rio. Rio terdiam, masih dengan posisi seperti ini. Ia menarik dan membuang nafasnya berulang ulang, berusaha menstabilkan nafasnya yang masih terengah engah..
“Yo, lo kena – ”
“Lo kenapa bohong gini?”
“So.. Sorry Yo.. Gue.. Gue..”
“Basi cara lo!!” potong Rio cepat. Kini, Rio menghadap kearah Ify. Benar benar melirik Ify tajam. Ia tak tahu harus berkata apa lagi, ia sekarang sangat benci dengan gadis di hadapannya ini.
“Lo ngerasa hebat bisa ngebuat gua cemburu?” lanuut Rio, Ify kemudian menggeleng dengan cepat.
“Bukan gitu, masalahnya gue – ”
“Bacot..” potong Rio ringan, kini ia tak bisa mengontrol emosinya lagi. Ify merinding, ngeri dengan tikah laku Rio sekarang.
“Tapi Yo -”
“Turun dari motor gua..” potong Rio, Ify menaikkan alisnya, heran.
“Turun!!!” bentak Rio lagi. Ify mengeluarkan air matanya, ia tak tau harus berbuat apa sekarang.
“Lo bisa denger ngak? Gue bilang – ”
“Gue denger..” ucap Ify lalu turun dari motor Rio, ia menyeka matanya, berusaha menyembunyikan air matanya. Rio luluh, ia tak bisa membuat gadis yang ia suka menangis. Seketika, ia merasa dejavu dengan kejadian yang terjadi 6 tahun lalu..

“Ke, maaf..” ucap Rio saat dirinya dan Keke sedang ‘lunch’ di restoran cepat saji kesukaan mereka.
“Kenapa?”
“Aku belum bisa jadi yang terbaik..”
“Maksud kamu?”
“Aku terlalu hina buat kamu, kamu terlalu baik buat aku..” ucap Rio menggigit bibir bawahnya.
“Ja.. Jadi?” ucap Keke berusaha tak menunjukkan air matanya, ia menunduk dalam.
“Sebaiknya kita putus..” ucap Rio menggigit bibir bawahnya. Ini diluar dugaannya, ia hanya menjalankan tugasnya untuk mengerjai Keke karena besok ia akan ulang tahun, tetapi Keke menganggap ini serius. Ia meneteskan air matanya dan berkata,”Bisakah besok saja kita putusnya?”
“Ngg…”
“Pliss Yo..”
“Maaf Ke, ngak bisa..” ucap Rio. Keke memejamkan matanya sebentar. Ia mengarur nafasnya supaya stabil.
“Aku tau Yo..” ucap Keke pelan.
“Tapi.. Aku cinta sama kamu..” lajutnya. Rio merinding, ia seperti terpotong potong hatinya. Ia merasa ‘heart attack’ dengan ucapan Keke tadi.
“Maaf, belum bisa buat kamu nyaman..” ucap Keke lalu bangkit dari bangkunya.
“Tapi satu hal yang harus kamu tau..”
“Aku cinta sama kamu..” ucap Keke agak bergetar, terdengar jelas ia menangis, mengangis dengan terisak pelan. Lalu ia mencium pipi Rio. Rio terdiam, ia membeku. Merasakan suatu kesesalan yang merejalela dalam dirinya. Keke kembali berjalan keluar restaurant tersebut. Rio terdiam, ia berusaha mengejar dan menjelaskan, tetapi ia tak bisa. Ia merasakan hawa tak enak, merasa akan ada yang mengambil Keke.. Setelah setengah jam lebih Rio melamun, ia bangkit dari duduknya dan menyusul Keke.
Di arah jalan menuju rumah Keke, kemacetan terjadi. Riopun mengerutuki jalur yang ia lalui, ia hanya menggigit bibir bawahnya, berharap tidak terjadi apa apa.
“Gila.. Ternyata kecelakaan bro..” ucap orang disampingnya bercakap cakap, Rio berusaha tak peduli dengan omongan orang dan memikirkan sebuah kata kata yang cocok ia lontarkan kepada Keke.
“Iya bro, gue ngak bohong. Tukang ojek itu ngebawa cewe, cantik bro.. Tapi banyak banget darah di kepalanya, ngeri gue ngeliatnya..” lanjut orang itu. Rio tertarik untuk melihat orang itu dan memarkirkan motornya ke arah tritoar di pinggir jalan. Rio berjalan cepat menuju kemacetan, ia nyelip diantara motor dan mobil yang membuat jalanan penuh. Sesampainya, ia melihat sebuah mobil ambulance dan beberapa tim medis yang menangani korban. Motornya jauh terpental sekitar 20m dan sebuah tronton dipinggir jalan diperiksa oleh polisi. Rio mendekati tim medis itu dan langsung membeku melihat siapa sang korban. Keke, sedang dalam kondisi parah, sangat sangat parah.. Keke melihat ke arah Rio dan tersenyum. Rio merinding, merasa bersalah.. Keke masih menangis, kini tangisnya lebih banyak dari sebelumnya, darah yang keluar dari kepalanya juga ikut mengalir seperti air mata. Tim medis memasukkan alat bantu pernafasan pada kepala Keke dan memberikan perban di kepala Keke untuk pertolongan pertama. Lalu, saat mencoba untuk memakai perban, tim medis menggunakan alat pendeteksi jantung ‘mini’ (yang biasa dipakai pada saat darurat) kepada Keke. Rio menangis, merasa bersalah, tetapi ia tidak bisa berjalan walau hanya 1cm saja, ia hanya bisa mengedipkan matanya, tak percaya. Keke masih menangis, kini darahnya hampir menjadi air matanya, Keke menggerakkan tangannya sambil membuat bahasa isyarat yang berarti “aku cinta kamu..” dan pada saat itu juga, ia tersenyum sambil masih menangis.
“Gue juga cinta sama lo Ke, ini cuman tipuan kita kita buat besok. Kan besok kamu ulang tahun.. Ini kerjaan aku, bang Sion, Illey, Angga, Tissa, Obiet, dan yang lainnya kok Ke..” ucap Rio pelan sambil mendekati Keke.
“Kamu siapa?” ucap para tim medis.
“Saya kenal dengan gadis ini, lanjutkan saja pekerjaan kalian..”
“Ya, tetapi kamu siapa?”
“Saya pacarnya..” ucap Rio ringan. Pada saat Rio sampai di sebelah Keke, Keke mengangkat tangannya, Keke seakan berkata agar Rio memegang tangannya. Rio berfikir dahulu apakah ia akan meraih tangan Keke atau tidak. Dan pada saat Rio berniat memegang tangan Keke, tim medis selesai memperbankan kepala Keke. Riopun menggerakkan tangannya untuk memegang tangan Keke yang terangkat untuknya, alat pendeteksi jantung kecil yang dipakai Keke menujukkan tanda ‘garis’. Pada saat itu juga Rio menangis dan langsung memegang tangan Keke yang sudah dingin. Lalu ia memeluk Keke, tim medis hanya menjambaki rambut mereka, menyesal dengan perbuatan mereka yang terlalu lama memakaikan perbannya.

Rio tak ingin mengulangi kesalahannya untuk yang kedua kalinya, ia segera sadar dari lamunannya dan kembali naik ke atas motor..
“Yasudah, naik Fy..” ucap Rio. Tetapi, ia menunggu sampai 5 menit dan tidak ada yang naik juga. Jantung Rio deg-degan. Ia tak berani melihat ke arah belakang dan..
“Ify lo kemana?” ucap Rio pelan. Rio turun dari motornya dan mencari Ify yang sudah entah kemana. Rio mengedarkan pandangan ke sekitar, tetapi tetap tidak ada Ify. Iapun mencari dengan motor sampai akhirnya ia berhenti di sebuah tempat.. Yang tak pernah ia duga bahwa Ify akan masuk kesana..

====================

“Shill..” panggil Gabriel. “Kenapa mondar mandir melulu?” lanjutnya.
“Aku nyari Ify tapi dia ngak dateng dateng nih daritadi..” ucap Shilla. Baik Alvin maupun Sivia membulatkan matanya. Aku? Batin mereka. Sejak kapan mereka ngomong aku kamu? Batin mereka lagi.
“Yaudahlah, paling bentar lagi juga nyampe..” ucap Gabriel tenang. Cakka ikut memalingkan pandangannya pada jam tangannya.
“Waduh, jam 10.30 belum pada dateng juga?” ucap Cakka heran.
“Mereka kemana aja sih?” tanya Agni heran. “Apa mereka dinner dulu gitu?” lanjutnya.
“Impossible..” jawab Cakka.
“Apa mereka berantem dulu?” ucap Dayat membuka suara. “Kan Rio masih syok liat Ify jadian sama Debo..” lanjut Dayat. Cakka memutarkan bola matanya, berfikir dengan jernih apakah itu bisa saja terjadi.
“Mungkin aja sih..” ucap Cakka. Sementara Agni, Shilla, Alvin, Gabriel dan Sivia membulatkan matanya. Mereka tak percaya bahwa Ify benar benar jadian dengan Debo.
“Hah? Masa?” tanya Agni sangat tidak percaya.
“Iyalah, ngapain kita bohong..” ucap Cakka.
“Gila..” ucap Agni menarik nafas sambil memegangi jidatnya, berusaha tak panik.
“Pasti Rio broke banget..” lanjutnya.
“Pastilah, pasti banget..” ucap Gabriel. Kini baik Alvin, maupun Agni menunjukkan wajah khawatir, khawatir takut apa apa terjadi..
“Ngg..” ucap Shilla melihat ke arah Sivia yang juga heran. “Apa yang lo fikirin sama dengan yang gue fikirin Vi?” lanjut Shilla.
“Mungkin Shill…” balas Sivia.
“Apa yang lo fikirin Vi?” tanya Shilla lagi.
“Kan Debo sama Ify….” ucap Sivia melihat ke arah Shilla, seakan meminta pertolongan Shilla untuk menjawab secara bersama sama.
“Saudaraan?” ucap Shilla dan Sivia bersamaan.
“Hah?” ucap mereka membuka mulut mereka seakan tak percaya..
“Apa jangan jangan…” ucap Cakka gantung.
“Ashhh…” desis Agni. “Banyak banget yang suka jadi dramaqueen..” lanjutnya. Baik Gabriel Shilla Alvin Sivia terdiam, Agni seakan menyindir mereka juga. Entah kenapa Agni tak merasa menyindir mereka karena memang tidak menyindir mereka, dan Agni malah menanyakan pendapatnya pada Sivia.
“Ya kan Vi?” tanya Agni.
“Vi?” tanya Agni karena tak dapat jawaban.
“Eh, apa?”
“Banyak banget disini yang jadi dramaqueen..” ucap Agni.
“Yah, mana gue tau..” ucap Sivia berusaha tak acuh.
“Ck.. Lo kan tau kal – ”
“Telfon Debo aja minta keterangan..” ucap Shilla mencairkan suasana. “Toh nomor Ify sama Alvin ga bisa dihubungin..” lanjutnya.
“Ide bagus..” ucap Agni yang lalu membuka ponselnya dan menelfon Debo, mantan ketua kelas di kelas Agni waktu kelas 9.
“Tapi, gue ngak tau nomornya masih yang ini apa bukan..” lanjutnya.
“Selaw..” ucap Gabriel. “Yang penting ada..” lanjutnya. Agnipun menelfon Debo, benar, sudah tidak aktif lagi. Tak lama dokter keluar dari ruangan Zahra..
“Gimana dok?” tanya Dayat yang paling semangat.
“Kalian bisa melihat dia di dalam sekarang..” ucap sang dokter.
“Baik..” ucap Dayat semangat dan memasuki ruangan diikuti oleh teman temannya. Sementara Shilla diam dam tetap terdiam di tempat, saat semua sudah masuk ke dalam kamar rawat Zahra dia berkata dengan pelan,”Gue harus menyelesaikannya hari ini juga..”
“Iya, hari ini Shil..” lanjutnya.
“Ngak peduli apapun yang terjadi..”
“Lebih baik lo jujur daripada lo sesek Shil..”
“Iya, pulang dari sini gue harus jujur..” ucap Shilla lalu memasuki ruang rawat Zahra.

====================

“Fy..” panggil Rio saat ia menemukan bahwa Ify sedang berjalan di antara rel kereta api. Ify sepertinya tak mendengar teriakan Rio, ia tetap berjalan di atas rel itu. Rio berusaha mengejar Ify, sesampainya di atas rel pertama, seseorang berteriak,”Mbak, awas mbak!!!” Rio melihat ke arah orang itu, orang itu adalah satpam stasiun kereta jayakarta, stasiun terpadat dan tak pernah sepi pemberangkatan dari jaman dahulu. Tetapi sekarang situasi berbeda, hanya ada seorang satpam dan beberapa orang di dalam stasiun, menunggu kereta. Rio melihat ke arah kiri dan kanan, tepat Ify berada pada rel ke-enam dan kereta akan lewat pada rel ke-sembilan. Rio dengan sigap berlari mengejar Ify yang bisa dikatakan ‘seperti orang yang sedang mabuk’ saat ini tak mendengar teriakan satpam. Rio berlari sambil meneriakan nama ‘IFY’ dan berharap Ify mendengarnya. Tetapi, tidak!! Ify sudah berada di rel ketujuh sementara Rio masih di rel ke-empat. Jarak antara beberapa rel sekitar 5m, Rio merasa sedikit pegal karena jarak antara rel satu dengan lainnya itu jalurnya naik turun, bukan lurus, apalagi ditambahi bebatuan besar maupun jutaan kerikil yang menjadi penghalang antara kerikil satu dengan lainnya. Tetapi, semangat tak mau kehilangan orang yang ia cintai membuat Rio tak mengenal ‘pegal’ atau ‘lelah’ ia tak merasa percuma meneriakan dan mengejar Ify. Ify semakin dekat, kini Ify sedang berusaha melewati rel kedelapan, Rio dengan ‘super speed’nya mengejar Ify, kini ia berada di rel keenam. Dengan tenaga super ekstra ia melewati rel ketujuh, dan kedelapan. Tinggal dualangkah lagi Ify mencapai rel kesembilan dan tinggal beberapa detik lagi kereta akan sampai di depan Ify, Rio tak peduli seberapa keringat yang muncul pada dahinya, ia akhirnya sampai di rel kedelapan dan dengan sedikit melompat, ia menarik tangan Ify sehingga Ify tertarik ke belakang, menimpa badan Rio yang mendarat dahulu di atas rel penuh dengan batu dan kerikil. Kereta pun lewat dengan kencangnya di hadapan Rio maupun Ify, Rio tersadar dan masih memegang tangan Ify yang ia raih tadi, sementara Ify masih shock dengan yang terjadi.
“Fy, bangun dari badan gue dulu Fy..” ucap Rio kepada Ify. Ify berusaha menarik tangannya dari Rio tetapi Rio menggeleng dan berkata,”Jangan lepasin tangan lo buat gue Fy, lo cukup duduk dulu aja, gue cuman butuh bernafas dengan mengenggam tangan lo..” Ify menaikkan alisnya, heran dengan apa yang terjadi. Saat beberapa menit kemudian, Rio menaikkan wajahnya, sehingga Ify dapat melihat dengan jelas darah yang ada pada alis Rio atau pada pipi Rio atau dibawah bibir Rio, itu adalah darah pengorbanan diri Rio untuk Ify. Rio rela wajahnya terkena serpihan batu sehingga berdarah atau lebih parah lagi, ada kawat disana sehingga di pipi Rio terbentuk sebuah goresan panjang dari alis sampai dagu Rio, Ify terkejut, ia tak menyangka bahwa Rio melakukan ini untuk dirinya.
“Fy..”
“Gue ngak mau ngulangin kesalahan gue untuk yang kedua kalinya..”
“Gue ngak mau ngulangin kesalahan gue lagi Fy..”
“Maksud lo?” tanya Ify heran.
“Gue.. Ngak mau telat megang tangan lo, karena gue ngak mau kehilangan orang yang gue cintai untuk yang kedua kalinya..” ucap Rio lagi, kini ia bangun dari posisi ‘tengkurep’nya, Ifypun bangun dari posisi duduknya, kini Rio dan Ify berdiri, saling menatap satu sama lain, tanpa melepas genggaman tangan yang masih mereka lakukan.
“Lo kenapa ngelakuin ini Yo?” tanya Ify kaget. Rio hanya tersenyum, walau darah masih mengalir dari bawah ujung mulutnya, Ify menitikkan air matanya, ia tak percaya dengan apa yang Rio lakukan.
“Gue ngak mau kehilangan lo Fy..”
“Tapi… Kenapa Yo?”
“Gue sayang sama lo Fy..” ucap Rio kini memeluk Ify, tangan Rio terlepas memegang tangan Ify, dan memeluk Ify dengan kedua tangannya, Ify membalas pelukan Rio.
“Gue.. Gue juga Yo..” ucap Ify menitikkan air matanya dan jatuh di baju Rio. Lalu, samar samar terlihat cahaya dari arah kanan Rio, Rio menoleh, ternyata akan ada kereta yang akan jalan di rel itu, Riopun berbisik kepada Ify,”Gue rela mati jika itu di pelukan lo Fy, lo boleh mundur Fy.. Biarkan gue mati tapi jangan lepas pelukan lo Fy..” Ify menjatuhkan air matanya dan membalas ucapan Rio,”Gue baru aja merasakan rasanya perasaan gue terbalaskan. Apakah gue tetep harus ngebiarin lo, orang pertama yang melakukan itu mati sia sia? Yo, ikut gue, mundur Yo..”
“Ngak Fy, gue mending mati dengan keadaan begini daripada harus dirumah sakit segala..” balas Rio.
“Oke, gue ikut lo Yo.. Jangan lepas pelukan lo juga Yo..” balas Ify.
“Jangan gila Fy, lo ngak boleh gini..”
“Gue ngak mungkin rela kehilangan orang pertama yang ngebales perasaan gue dengan perasaan yang sama Yo..”
“Fy, beberapa detik lagi kereta bakal nabrak gue Fy.. Pliss mundur..”
“Gue ngak mau..” bebal Ify. Rio melihat ke arah kanannya, sekitar 40 detik lagi kereta itu akan menabraknya dengan Ify. Ia menghitung waktu, 40… 39… 38…
“Yo, lo serius?”
“Gue serius Fy, lo berubah pikiran boleh mundur. Gue cinta sama lo Fy, gue sayang sama lo..” balas Rio. Ify menangis, berfikir bahwa tak pernah melakukan hal yang lebih gila daripada hal ini.
“Tapi Debo Fy?”
“Gue sama dia cuman bercandaan doang Yo.. Debo itu sepupu gue, dia lagian udah jadian sama cewe lain kok Yo..” ucap Ify.
“Lo ngak jadian sama dia kan?” tanya Rio.
“Ngak Yo, dia cuman sepupu gue.. Gue ngak suka sama dia, gue suka sama lo..” Rio tersenyum, lalu ia berkata,”Gue cinta sama lo..” Rio terus menghitung waktu.. 12.. 11.. 10… 9…
“Gue juga cinta sama lo Yo..” ucap Ify, Rio perlahan merubah gerakannya menjadi mencium jidat Ify. Ify masih memeluk Rio. Rio melirik matanya ke aeah kanan, lalu Rio agak mendorong Ify kebelakang, Ify terdorong namun kemudian Rio berbalik mundur karena melihat sesosok cahaya, yang sedang berdebat dengan cahaya lainnya. 5… 4… 3… 2… Ify memejamkan matanya, Rio masih rileks daaannnnnnn……
“Selamat ulang tahun lebih 2 minggu, Alyssa…” bisik Rio. Ify membuka matanya lebar lebar, ternyata kereta itu berjalan dibelakang Rio. Ify terkaget dan melepaskan pelukan Rio. Ia memukul dada bidang Rio dan menangis dengan derasnya.
“Lo tega Yo..” ucap Ify, Rio menarik tangan Ify dan memeluknya lagi.
“Sorry Fy, sumpah demi apapun juga gue dari awal emang mau nyelametin lo.. Ini bukan skenario gue, gue baru sadar kalo kereta itu bakalan jalan di belakang gue pada saat detik ke 6..” ucap Rio sunggu sungguh, kini ia tak melepas pelukan Rio.
“Bohong..”
“Sumpah Fy, apa lo ngak ngerasa tadi gue ngedorong lo kebelakang?” tanya Rio. Ify mengangguk lemah, “Gue baru sadar kalo arah cahayanya di belakang gue..” lanjut Rio. Ify masih menangis, kini makin kencang. Ia mengangguk dan berkata,”Apa ucapan lo juga skenario lo Yo?”
“Asssshhhhh Fy, gue ngak punya skenario apapun, hanya 6 detik lalu skenario gua..” ucap Rio pelan, lalu Ify melepas pelukan Rio dan melihat ke arah Rio.
“Serius?” tanya Ify.
“Iya, hari ini gue serius..” Rio mengangkat tangannya, bermaksud supaya Ify meraih tangannya. Ifypun meraih tangan Rio, bersama Rio mereka berjalan menuju stasiun.
“Mmm, Fy..”
“Apa Yo?”
“Maaf gue tadi ngerjain lo..”
“Ngak apa apa Yo..” ucap Ify tersenyum tulus. “Tapi jangan keseringan juga..” lanjutnya.
“Yaa, kalo lo mulai sih ya gue ladenin..”
“Lah kok?”
“Iyalah, kita 1-1 sekarang.. Lo bohongin gue tentang Debo, gue tentang kejadian tadi..” ucap Rio. Ify mulai menaikkan alisnya dengan tatapan sinis, sedetik kemudian ia kembali seperti biasa dan tak memfikirkan perkataan Rio tadi.
“Kok ngak marah Fy?”
“Ngak apa apa.. Lo udah jujur kan tadi?”
“Mmm, iya Fy.. Gue bener bener suka sama lo..” ucap Rio. Pipi Ify memerah, dan akhirnya mereka berjalan dari rel empat menuju stasiun dengan keheningan tercipta. Dari jauh, dari rel kedelapan, seorang wanita berbaju putih dengan rambut panjang tersenyum, wanita dalam wujud roh itupun tersenyum puas dan berkata perlahan,”Kamu bener bener belajar dari pengalaman kamu Yo.. Aku ngak nyesel dulu nuker 2 hari terakhir aku buat meninggal agar suatu saat nanti aku bisa melakukan 2 hal demi kamu, Yo.. Emang seharusnya aku meninggal setelah ulang tahun, tetapi aku berani menukarnya supaya aku masih bisa jaga kamu, dan aku udah pake 2 kali, saat nyelametin kamu dan cewe itu tadi sekaligus merubah arah jalur rel kereta yang mau nabrak kamu..” Rio menengok ke arah belakang, ia melihat wanita itu dan wanita itu melambaikan tangan dan menghilang. Rio tidak merinding, ia malahan tersenyum sambil berkata,”Makasih Ke.. Aku tadi liat kamu agak nahan kereta yang bakalan nabrak Ify supaya aku bisa ngeraih tangan Ify dan kamu ngerubah jalur rel saat aku nengok ke arah kanan, maafin aku tentang kesalahan aku dulu…” Rio kemudian berjalan kembali dengan Ify dan menaiki motor Rio dan berangkat menuju RS Garmasi.

====================

“Kalian dari mana aja?” tanya Agni saat Rio dan Ify sampai di kamar rawat Zahra.
“Ada deh Ag..” ucap Rio masih mengenggam tangan Ify. Semua perhatian tertuju pada tangan Ify dan Rio.
“Ohhh..” ucap Sivia agak dikeras-keraskan. Ify bingung mengapa Sivia bersikap seperti itu, Sivia mengarahkan matanya ke tangan Ify dan Rio. Ify dan Rio menyadari arah tatapan Sivia dan langsung melepaskan genggaman tangan mereka, baik Ify maupun Rio salah tingkah dan mencari kesibukan masing masing.
“Baikkan?” tanya Sivia lagi.
“Apaan sih?!” ucap Ify.
“Dia udah tau belum kalo lu sama Debo it – ”
“Udah..” potong Rio. Ify mengalihkan pandangan kepada ranjang Zahra. Sementara semuanya langsung ber”o” ria karena mendapati bahwa Ify dan Debo tidak benar benar jadian.
“Dia kenapa?” tanya Ify melihat perlan di jidat Zahra.
“Kecelakaan kecil, besok katanya udah bisa siuman..” kata Dayat mewakilkan semuanya.
“Ahh, padahal jam 7-an gue masih telfonan sama dia..” ucap Ify.
“Jam 7?” ucap Dayat.
“Iya..” ucap Ify.
“Perasaan jam 7 gue yang nelfon dia..” ceplos Dayat, semua teman temannya memandang Dayat dengan pandangan menggoda.
“Ohh, jadi Dayat nelfon Zahra malem malem..” ucap Agni. “Pantes Zahra awalnya ngelarang gue maen di rumahnya..” lanjutnya.
“Astaga..” ucap Daya geleng geleng menyesali perbuatannya tadi.
“Eh iya deh Day, gue jam 06.45 selesai telfonan sama Ara..”
“Errr Ify, gue jadi keceplosan gara gara lo kan..” ucap Dayat tajam.
“Hehe, peace.. Dia kecelakaan gimana?”
“Yah, cuman jatoh dari tangga doang sih, tapi darahnya banyak yang kebuang Fy..” ucap Dayat. Ify hanya geleng geleng sambil bergumam ngak jelas.
“Oh ya, nih gue sama Ify tadi bawain nasi goreng..” ucap Rio. Rio menaruh nasi goreng itu diatas meja kamar rawat Zahra.
“Ah yo, ini udah jam berapa coba..” ucap Sivia mendekati Rio yang masih berdiri dekat meja itu. Rio mengecek ponselnya, matanya membulat sempurna dengan jam yang ditunjukkan oleh ponselnya itu.
“Gila, jam 11.45 ? Ahh, kita ngapain aja tadi Fy?” ucap Rio tak percaya.
“Gak apa apa lah Yo, yang penting gue ngerasa bahagia tadi..” ucap Ify. Semua menaikkan alis mereka.
“Bahagia kenapa Fy?” tanya Cakka, perwakilan.
“Ah Cakka, kepo sekali..” ucap Ify.
“Yah walaupun udah jam 11.45 malem tapi gak apa apalah ini daripada nganggur..” ucap Sivia lalu mengambil sebungkus nasi goreng yang Rio dan Ify bawa.
“Iya, gue beli banyak. Gue beli 10..” ucap Rio. “Manatau ada yang mau nambah..” lanjutnya.
“Gila, ini udah malem Yo.. Lo kira kita rakus?” ucap Cakka, Rio menaikkan alisnya, tidak seperti biasanya, batinnya.
“Ah, tapi karena Rio udah beli banyak yaudah gue 3 gak mau tau pokoknya gue 3..” lanjut Cakka. Rio membuang nafasnya dan mendapatkan inti bahwa, Cakka tidak benar benar kerasukan.
“Yaelah, Cakka sama Sivia rakus amat..” ucap Dayat geleng geleng kepala. “Lo gak ikutan Ag?” lanjutnya.
“Yah, apa boleh buat..” ucap Agni.
“Vin, makan jangan main hp mulu..” panggil Sivia.
“Bentar; gue masih hutang tugas kimia sama Pa Duta.. Ya kalo gue bisa kirim email sekarang ya sekarang aja..” ucap Alvin.
“Pinter.. Copy buat gue ya..” ucap Sivia.
“Yeh, enak aja.. Lo kira gue ngak stress daritadi ngedit sana sini?” ucap Alvin. “Gue ngak mau keliatan copas banget..” lanjutnya.
“Yaelah sekali kali baik gitu sama temen lu, apalagi yang paling canteks ini..” ucap Sivia sambil makan lagi.
“Iya canteks, tapi amberegul..”
“Yeh, ini semok, bukan amberegul..” lawan Sivia.
“Ayolah Vin, lo ngak usah urusin tugas itu mulu. Nih makan..” ucap Rio sambil melempar sebungkus nasi goreng, dengan sigap Alvin menangkapnya.
“Fy, Day.. Makan dulu nih..” tawar Rio.
“Iya ah, gue juga laper nih..”ucap Dayat lalu menghampiri Rio.
“Ah, gue nanti aja..” ucap Ify dan duduk di bangku samping ranjang Zahra.
“Lo mau berapa jatahnya?” tanya Rio.
“Ya elah satu aja lebih..” ucap Ify.
“Makan satu aja susah banget lo, pantes cungkring..”
“Hina aja terus..” ucap Ify, Rio hanya nyengir sebagai permintaan maafnya.
“Eh sisa 2 nih.. Siapa yang belom dapet?” ucap Rio.
“Buat tambah aja nanti..” ucap Dayat. Rio meng-iya-kan.
“Oh iya, Gabriel Shilla gak ada suaranya?” tanya Rio lagi. Sekarang, semua anak mencari cari sosok Gabriel Shilla. Dan benar, mereka tak ada disana. Seketika mimik wajah Alvin dan Sivia berubah.
“Eh Fy.. Liat?” tanya Agni kepada Ify.
“Nggg, liat..” ucap Ify. Semua melotot, apalagi Sivia dan Alvin.
“Dimana?” tanya Sivia cepat.
“Disana…” tunjuk Ify pada kursi di pojok yang bersebrangan dengan tempat tidur Zahra. Semua memalingkan pandangannya ke arah Gabriel Shilla. Baik Sivia maupun Alvin terbakar api cemburu. Gabriel tiduran atas kursi dengan kepalanya di atas paha Shilla. Sementara Shilla tertidur dengan posisi terduduk.
“Eh, jam 1 kita semua pulang ya..” ucap Agni mencairkan suasana. “Besok masih ada glady resik buat Open House..” lanjutnya.
“Gue disini deh..” ucap Dayat. “Gue ngak ikutan glady resik besok. Ngak ngisi acara..” lanjutnya.
“Yaudah kita semua pulang berarti ya.. Lo disini sendirian..” ucap Agni lagi. Baik Rio, Alvin, Cakka dan Sivia tidak angkat suara karena asik makan..
“Iya.. Gak apa apa..” balas Dayat.

“WOY!!!!” amuk Sivia setelah ia dan teman temannya berkali kali meneriaki Shilla dan Gabriel agar bangun. Baik Shilla maupun Gabriel setelah mendengar teriakan Sivia langsung terbangun. Terlihat jelas amarah di mata Sivia, sementara Gabriel dan Shilla merasa sangat bersalah.
“Kita semua pulang.. Cepat beres beres..” ucap Sivia datar dan langsung pergi dari ruangan rawat Zahra. Gabrielpun mengejar Sivia lalu semuanya keluar kamar meninggalkan Dayat disana yang akan bersama Zahra.
“Day, gue udah sms mamanya Zahra, besok dia kesini.. Jagain Zahra ya, jangan sampe kenapa napa..” ucap Agni. Dayat hanya mengangguk karena sudah mengantuk.
“Gue salah Vi.. Maaf..” ucap Gabriel kepada Sivia sambil meraih tangan Sivia saat mereka keluar dari rumah sakit. Alvin hanya membiarkan hal itu terjadi dan mendekati Shilla. Sivia diam, ia sedang memberontak tetapi tidak bisa. Ia tetap mencintai pria ini, pria yang sudah lama mencuri hatinya ini. Tak lama, Sivia memejamkan matanya, tak bisa berkata apa apa.
“Lo kenapa Vi?”
“Gue salah Vi? Emang..”
“Tap – ”
“Stop Gab.. Stop..” potong Sivia. “Gue udah maafin lo dari awal..” lanjutnya.
“Jadi, lo mau – ”
“Ngak..” ucap Sivia ringan. “Gue masih gamau deket sama lo, sorry.. Entah kenapa hati gue – ”
“Gue tau lo bohong..” potong Gabriel.
“Apa buktinya?”
“Ini buktinya..” ucap Gabriel lalu mencium pipi Sivia. Sivia hanya terdiam, ia tak bisa berkata apa apa sekarang. Jantungnya berdetak tak karuan, ia berusaha menyembunyikan senyumnya tetapi gagal. Ia tak bisa menyembunyikan bagian speechleess dirinya, ia tak bisa menyembunyikan sebuah rona yang ada di pipi putihnya, rona merah yang membuatnya semakin lucu, menurut Gabriel. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan kangennya dengan pria ini, atau perasaan kangennya dengan kecupan di pipinya atau percakapan ringan seperti ini.
“Nah, lo bohong kan..”
“Kalo lo bener bener suka sama Alvin, lo ngak mungkin merubah warna pipi lo itu Vi..” lanjut Gabriel.
“Kalo lo bener bener suka sama Alvin, lo ngak mungkin – ” omongan Gabriel terpotong dengan tubuh Sivia yang kini memeluknya. Sudah lama aku tidak merasakan hal ini, fikir Sivia dan Gabriel bersamaan. Gabriel diam sambil tersenyum, kemudian perlahan tapi pasti, ia memegang rambut Sivia dan mengusapnya. Lalu membalas pelukan Sivia sebentar dan melepaskannya.
“Gue bener bener sayang sama lo.. Maaf buat penantian lo yang panjang, gue harus berterimakasih sama Alvin. Kalo ngak gini, gue ngak mungkin bisa deket lagi sama lo..” ucap Gabriel singkat. Sivia tersenyum sambil mengangguk. Gue seneng liat sifat lo yang begini Vi, batin Gabriel.
“Yaudah yuk pulang..” ucap Gabriel. Sivia mengangguk, lalu Gabriel mengenggam tangan Sivia menuju parkiran dan pulang bersamanya.
“Besok ke acara Glady Resik-nya aku jemput ya..” ucap Gabriel saat Sivia sudah naik di atas jok motornya.
“Iya, jangan telat ya..” ucap Sivia. Gabriel mengangguk dan menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, sedikit gerogi memang karena sudah lama tak membonceng wanita di belakangnya ini.

====================

“Shill..” panggil Alvin saat Shilla menunggu Gabriel di arah parkiran.
“Ya?” ucap Shilla berusaha sedatar mungkin.
“Sini aku anterin pulang..” ucap Alvin, Shilla menggigit bibir dibawahnya.
“Gue.. Sama Gabriel..”
“Yakin?” tanya Alvin. Shilla mengangguk, “Gabriel udah sama Sivia duluan loh..” lanjut Alvin. Shilla menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah Alvin.
“Shill..” ucap Alvin sambil memegang wajah Shilla. Shilla deg-deg-an ngak karuan.
“Aku capek begini melulu..” ucap Alvin.
“Aku sama Sivia udah mutusin buat mengakhiri semua drama ini..” lanjut Alvin.
“Aku juga..” ucap Shilla. “Aku udah ngerencanain bakalan mengakhiri ini semua hari ini, dan kamu memulainya duluan..” ucap Shilla. Tanpa disadari, Shilla memeluk Alvin. Baik Shilla maupun Alvin merasakan dejavu yang sangat berat. Dan akhirnya mereka terlarut dalam kisah cinta mereka yang sudah lama tak mereka asah.

Bersambung..

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Tanpa Judul – Part 6 [Cerbung Idola Cilik / IC / ICIL ]

  1. kenapa tanpa judul nih? ayoo lanjut lagi dong..

    numpang promo yaa kunjungi blog gue yaa: obat kista tradisional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: