Tanpa Judul – Part 5 [Cerbung IC / Idola Cilik / ICIL ]

“Alvin?” tanya Shilla pelan, sambil menunduk.
“Jangan macem macem sama Via..” ucap Alvin dingin, Shillapun menunduk, takut menatap bola mata Alvin.
“Maksud lo apaan?” tanya Agni membela Shilla.
“Gue tau Via itu preman.. Tapi, gue gasuka dia ganggu Via..” ucap Alvin membentak Shilla sambil menunjuk Shilla seakan ingin menerkamnya, dan dia pergi jauh, dari hadapan mereka. Menimbulkan tanda tanya besar diotak Zahra, Ify dan Agni!!

====================

“Vi..” tahan seseorang saat gadis itu keluar dari toilet. Memberontak. Hal itu yang ia lakukan sekarang tetapi percuma, tenaga pria itu lebih kuat daripada tenaganya.
“Apa?” tanya Sivia akhirnya mengalah.
“Maaf..”
“Yaudah..”
“Beneran?”
“Lepasin kek..”
“Gak akan..”
“Lo siapa gue sih, bisa nyuruh nyuruh gue?” bentak Sivia keras sambil menatap tajam mata pria ini. Gabriel.
“Temen..”
“Gak gua anggep juga sih..” ucap Sivia santai yang berhasil membuat mata Gabriel melotot dahsyat, kini Sivia berhasil melepaskan cengkraman Gabriel dan melipat tangan didepan dadanya. Dan kini ia mulai bersifat arogan dengan berkata,”Udah ya, gue mau ke Alvin dulu..” lalu dia pergi meninggalkan Gabriel yang masih bertumpuk tanda tanya.

“Lo kemana aja Vi?” tanya Alvin kepada Sivia to the point karena mereka janjian ke kantin tetapi Sivia telat 7 menit.
“Baru semenit Vin..” ucap Via cengengesan lalu duduk di bangku depan Alvin.
“Buyut lu semenit, gua udah hampir sejam nungguin elo..”
“Yaelah, kaga mungkin sejam juga keles. Kita keluar aja baru 15 menit yang lalu..”
“Ashh, gue serius. Lo nemuin si Gabriel ya?” tanya Alvin tajam. Sementara yang ditanya hanya diam, diam beribu bahasa, diam membeku seakan tak tahu harus berkata apa.
“Jawab kek..” ucap Alvin serius, membuat Sivia semakin menegang.
“Yaudahlah, tanpa lo jawab gue udah tau. Jangan tegang gitu..” ucap Alvin kini santai sambil mengacak acak rambut Sivia. Sivia tersenyum santai karena mulai sedikit lega, karena jujur ia belum bisa menerima Gabriel benar benar saat ini, memang logika yang aneh, menjadi benci padahal ngak berantem. Entahlah, hanya dia yang tau mengapa bisa begitu. Tetapi masalahnya, Sivia malas mencari tahu karena sesuatu, sesuatu itu adalah…
“Vin..” panggil seseorang dari belakang Alvin. Badan Alvin yang besar karena memakai jaket tebal atau karena tubuh orang itu yang mungil, yang jelas Sivia tidak dapat melihat siapa orang itu karena orang itu tepat berada di belakang Alvin. Sivia memalingkan wajahnya agak ke kiri, sementara Alvin hanya diam membeku. Dan ternyata dia adalah, Shilla..
Sivia langsung memasang muka tak enaknya, ia mencoba tersenyum, walau senyumnya lebih terlihat sebagai senyum pait atau senyum yang miris, tetapi itu adalah senyum terbaik yang bisa ia berikan saat ini.
“Maaf ganggu..” ucap Shilla maju sampai ditengah antar Alvin dan Sivia dan masih nunduk, tak berani menatap Sivia, ataupun Alvin.
“Iya Shill.. Gapapa, mau apa kesini?” tanya Sivia to the point tetap dengan senyum yang dipaksakan.
“Shilla cuman mau nanya, mmm… Sebnernya, Shilla bukan mau nanya tapi mau ngasih tau… Mmm, jujur deh lebih tepatnya.. Kal.. Kalo, Shilla itu… Mmm, Shilla itu sebenernya… Sebenernya…”
“Sebenernya kenapa?” potong Sivia menaikkan satu alisnya, kini tersenyum sinis karena berfikir apa yang ia fikirkan akan terjadi, bahwa Shilla akan merasa cemburu dengan kedekatan Alvin dan Sivia dan lambat laun, Shilla akan mencintai Alvin lagi.. Tapi, apakah mungkin? Padahal, rencananya baru berjalan sehari.
“Shilla mau jujur. Sebenernya Shilla cuman main main..” ucap Shilla bergetar, antara tak siap mengatakannya atau bagaimana, entahlah..
“Maksudnya?” tanya Sivia heran.
“Maksud Shilla itu. Shilla sebenernya tau kalo Shill..”

BRAKK

Ucapan Shilla terhenti karena bunyi bangku yang terdorong ke belakang dan meja yang sedikit digebrak, atau lebih tepatnya, Alvin berdiri dari bangkunya sambil menggebrak meja. Alvin diam sebentar, membeku disana, sementara Shilla sudah menggigit dengan keras bibir bawahnya agar air matanya tak keluar deras. Walaupun sudah ditahan, rintik rintik tetesan kecil keluar dai kelopak matanya. Alvinpun menarik nafas, lalu membuangnya dan akhirnya melihat ke arah Sivia. Sivia kaget, mata Alvin merah, tidak bengkak, tetapi merah. Seakan belum tidur.. Sivia menatap Alvin dan Shilla dengan tatapan aneh, seakan ada satu hal yang tak beres akan terjadi, beberapa detik kemudian, Alvin angkat suara,”Vi.. Ikut gue..”
“Kema..”
“Ikut aja..” potong Alvin tajam. Karena mengerti keadaan dan kepo dengan apa yang terjadi, Sivia mengikuti Alvin dan meninggalkan Shilla yang diam mematung disana, membiarkan air matanya jatuh di pipinya yang pernah dicium oleh Alvin sebelumnya.

“Sebenernya kenapa sih Vin? Gue ngak ngerti..” ucap Sivia saat Alvin memberhentikannya di depan lab ipa.
“Gue peka Vi..” ucap Alvin datar.
“Peka maksudnya?”
“Shilla lagi bermain dengan skenarionya Vi. Dia sebnernya tau lo itu couplean sama Gabriel, tapi dia mau main main dulu..” ucap Alvin singkat.
“Maksud lo?” tanya Sivia kurang peka dengan perkataan Alvin.
“Shilla itu Drama Queen. Dia lagi pura pura gitu, dia seakan lo sama gue, dia sama Gabriel..”
“Kok lo bisa ngerti?”
“Gue peka, ngak kayak lo..” ucap Alvin tak acuh, sementara Sivia hanya mangut mangut mengerti.

====================

“Gila..” ucap pria ini masih berkutat dengan soal yang ada di hadapannya.
“Ini apaan ya?” ucapnya lagi, menguras otaknya karena ia benar benar tidak mengerti dengan materinya, kimia.
“Yah elah, masa ini campur ini sih? Aishh..” ucapnya meletakkan beberapa sampel yang ada di hadapannya, ia sekarang hanya sendiri di ruangan itu, ditemani oleh CCTV dan udara. Ruangan itu sudah 5 menit yang lalu dihuni oleh teman terakhirnya, sebelum akhirnya ia yang terakhir keluar dari ruangan itu. Pria ini memang tidak mengerti, tetapi kejujuran tetap ada dalam dirinya, ia tidak berani menyontek atau bertanya, karena ia bukan tipe seperti itu.
“Bu, saya nyerah..” ucap pria itu ngomong sendiri sambil menaruh dagunya di atas meja. Memang di ruang itu tidak ada apa apa, tapi ia tidak takut ya memang karena tidak ada yang harus ditakutkan disitu.
“Ah, yakali ini dicampur ini jadi netral? Basa kan harusnya? Ini Ph-nya 7 kan? 7 kan netral.. Arrrrhhh…” ucapnya tetap tidak mengerti. Iapun mengedarkan pandangan ke arah sekitar ruangan, lab ipa yang lebih banyak tentang biologi daripada kimia apalagi fisika.
“Kalo gini sih gue musti curang..”
“Eh tapi..” gantungnya lagi, mempertimbangkan perkataannya.
“Ntar malahan jadi masalah, masalah gua sama Shilla Alvin Sivia aja belom selesai, astaga..  Dunia ribet banget sih..” ucapnya lagi sekarang menjambaki rambutnya pelan.

Drrrrrttttt

From : Rio
Gab, sini kantin. Katanya si Debo mau kasih PJ..

To : Rio
Jadian sama siapa?

From : Rio
Gatau, dia baru mau bilang kalo kita udah kumpul, sekalian cari si Alvin ya..

“Shit…” ucap pria tidak suka mendengar nama Alvin untuk saat ini.

To : Rio
Ah, lo aja Yo yang ajak si Alvin

From : Rio
Gw sms ga di bales, udah cepet kesini..

To : Rio
Halah, iyalah otw. Gw taro kertas ujian dulu, lagi di lab ipa nih

From : Rio
Yaudah, cepat..

“Shilla lagi bermain dengan skenarionya Vi. Dia sebnernya tau lo itu couplean sama Gabriel, tapi dia mau main main dulu..” ucap suara samar samar menghentikan langkah pria ini. Perlahan, ia mengurungkan niatnya untuk keluar lab dan bersembunyi di balik tembok tempat obrolan itu terjadi.
“Maksud lo?” tanya cewe dari arah suara yang sama.
“Sivia..” desis pria ini, Gabriel, pelan.
“Shilla itu Drama Queen. Dia lagi pura pura gitu, dia seakan lo sama gue, dia sama Gabriel..” langsung juga, mata Gabriel melotot hebat. Tak peduli percakapan apapun yang terjadi, ia hanya memendam amarahnya sendiri.
“Sialan si Shilla..” ucap Gabriel lagi, iapun kembali menjalankan tujuan utamanya, yaitu keluar dari dalam lab ipa.
“Tapi, Vin kok Shilla bisa ngelakuin itu?” tanya Sivia yang tepat sekali disitu, Gabriel muncul dari balik pintu. Menampakkan dirinya dihadapan 2 manusia itu. Sivia kaget, berharap Gabriel ngak denger percakapannya tadi. Sementara Alvin hanya diam memperhatikan Gabriel dengan tatapan dingin.
‘Sialan, gua keluar disaat yang ngak tepat. Coba gua ngak keluar, gua bisa tau alesan si Shilla..’ umpat Gabriel menyesali perbuatannya itu.
“Gab?” tanya Sivia akhirnya saat beberapa menit keheningan tercipta.
“Dipanggil Rio, katanya Debo mau kasih pj..” ucap Gabriel lalu mengode supaya Alvin cepat pergi ke kantin, sementara Gabriel sudah duluan pergi, walaupun pikiran yang tak karuan ada dimana merajalela.

“Gue juga ngak bisa terima kalo kita cuman diem!!” ucap Agni mengomandoi teman temannya.
“Iya, pokoknya kita harus bisa nonton Transformers yang baru, walaupun XXI deket sini lagi renov!!” ucap Ify ikut ikutan.
“Walaupun kita harus naik angkot beberapa kali, yang penting gue bisa nonton…” ucap Agni mulai gila dengan film bioskop itu.
“Emang kita bisa pergi kapan?” tanya Zahra tak tertarik dengan topik pembicaraannya.
“Ah, gue ngak ikut ah..” ucap Shilla yang diangguki oleh Zahra.
“Nah, gue juga..”
“Ah, kalian ngak ada jiwa adrenalinnya..” ucap Agni ngelantur.
Tiba tiba, Shilla merasakan ada yang menepuk bahunya. Iapun melihat ke belakang dan terdapat tamparan keras mendarat di pipinya. Baik Agni, Zahra dan Ify langsung melihat ke arah orang yang menampar Shilla.
“GABRIEL?” teriak Agni tak percaya.
“Sialan tau gak sih lo Shill..” ucap Gabriel masih fokus kepada tujuannya.
“Maksud lo apa sih?” tanya Agni bingung, sementara Shilla hanya diam menunduk tak berani menatap Gabriel.
“Asal lo tau ya Ag..” ucap Gabriel mengalihkan pandangannya ke arah Agni.
“Dia sebenernya tau kalo gue itu suka sama Sivia, tapi dia pura pura lupa ingatan. Inget Ag, pura pura!!” lanjut Gabriel dengan amarah sudah diluar kepala.
“Hah?!” tanya Agni tak percaya. Zahra membulatkan matanya, sementara Shilla dan Ify hanya menunduk, menyimpan ketakutan yang mendalam.
“Kok bisa gitu Shill?” tanya Agni tak percaya.
“Maaf…” ucap Shilla menunduk dan mengangkat tangannya.
“Tampar gua lagi, tangan gua potong aja kalo bisa, gua bener bener minta maaf.. Gue.. Gue..”
“Tapi lo gak bisa seenaknya nampar Shilla..” potong Agni dan kini mulai mengalihkan pandangan pada Gabriel.
“Gue marah Ag, gue marah!!”
“Gue tau..” ucap Agni kalem. “Tapi tetep aja lo yang salah..” lanjutnya.
“Apa apaan sih?”
“Shilla cewe, lo pernah ngelakuin hal yang lebih parah daripada yang Shilla lakuin..”
“Contohnya?”
“Dengan cara ngebiarin Sivia dan Alvin makin mendekat..” ucap Agni mulai serius.
“Gue ngak ngerti maksud lo..” ucap Gabriel yang lalu pergi meninggalkan meja mereka karena tak mau terpancing lebih dalam.

====================

“Siapa sih Deb? Kepo nih gue..” ucap Rio terus bertanya.
“Tunggu Gabriel sama Alvin lah..” ucap Debo memainkan ponselnya.
“Tapi yang lo kasih tau cuman kita doang?” tanya Dayat heran karena yang ada disitu hanya dirinya, Rio, Cakka, dan Debo.
“Iyalah, siapa lagi..”
“Tunggu tunggu.. Tapikan…”
“Udahlah..” potong Debo. “Yang lain udah tau, gue kasih taunya pergenk..” lanjut Debo. Dayat hanya mangut mangut mengerti, sementara Cakka terus memutar pikirannya. Ia merasakan ada hal yang tidak beres yang ada dalam diri Debo.
“Ahh, Deb.. Siapa sih?” tanya Rio penasaran.
“Oke.. Oke..” ucap Debo tersenyum menanggapi permintaan Rio.
“Jadi, gue itu jadian sama…” ucap Debo gantung, 1 menitpun terjadi keheningan.
“Siapa sih? Lama amat..” ucap Rio tak sabaran.
“I EF YE..” ucap Debo tersenyum puas. Sementara Rio melotot hebat, refleks, Dayat dan Cakka melihat ke arah Rio.
“Kok gak ada yang ucapin selamat?” tanya Debo lagi.
“Oh, bagus deh.. Selamat ya Deb..” ucap Cakka perwakilan dari mereka semua, sementara Rio hanya diam. Dayat yang memang di awalnya merasa ada yang tak beres itupun kemudian melihat Rio khawatir, takut amarah Rio tumpah disitu juga.
“Kok cuman Cakka? Emang kenapa? Kalian ada yang suka sama Ify?” tanya Debo lagi.
“Selamat ya..” ucap Rio. “Kita gak ada yang jadi tukang tikung kok..” lanjutnya.
“Oh, baguslah.. Karena kalian udah tau, diambil gih mie ayamnya. Bilang aja dibayar Debo..”
“Sorry..” ucap Gabriel yang lalu duduk berkumpul diantara teman temannya.
“Eh, untung lo dateng Gab, sana ambil gih..” ucap Debo kepada Gabriel.
“Lo traktir apa nih?” tanya Gabriel biasa saja, tetapi setelah melihat ekspresi teman temannya, iapun bingung dengan apa yang terjadi dan menampakkan raut wajah bingungnya.
“Kenapa?” tanya Gabriel kepada mereka.
“Gue dipanggil Bu Winda, bentar ya..” ucap Rio pergi dari perkumpulan itu. Gabriel melihat Cakka seakan bertanya,”kenapa sih?” tetapi dengan raut muka serius, Cakka seakan mengatakan,”nanti aja” Dayat yang bisa membaca kode percakapan Gabriel dengan Cakkapun mengambil alih keadaan.
“Eh Deb, sorry nih ya tapi kayaknya pjnya gabisa sekarang deh.. Gue Cakka sama Gabriel kayaknya dipanggil Bu Winda juga..” ucap Dayat yang samar samar melihat Rio menghilang dari lorong dekat kantin, iapun mengode kepada Cakka agar segera menyusulnya. Sementara ia sudah pergi duluan.
“Deb, sorry ya..” ucap Cakka pergi sambil mengode kepada Gabriel supaya ikut dengannya.
“Gue ngak ngerti dengan apa yang terjadi..” ucap Gabriel pelan, berfikir sebentar.
“Yaudah ya Deb, ntar aja. Gue ngak ngerti maksud mereka apa..” ucap Gabriel mengangkat bahunya dan beranjak dari situ. Setelah yakin Gabriel tak ada di dekatnya lagi, Debo memandang kepergian Gabriel sambil berkata,”Lo hutang informasi sama gue Fy..”

“Kenapa sih sebenernya?” tanya Gabriel bingung, saat mereka sampai di kelas.
“Pacarnya si Debo itu.. Ify, Gab!!” ucap Cakka kepada Gabriel sementara Rio dan Dayat sibuk dengan fikiran masing masing..
“Kok bisa?” tanya Gabriel lagi. “Gue kira dia suka sama lo Yo..” lanjutnya.
“Apaan sih? Gue sama Ify ngak ada apa apa..” ucap Rio melawan.
“Kalo ngak ada apa apa, kenapa lo harus marah?” tanya Dayat tak suka dengan kebohongan Rio.
“Siapa bilang gue marah?”
“Kita temen Yo.. Lo masih mau nyangkal?”
“Oke Day.. Oke.. Gue jujur.. Gue gatau perasaan gua ke si Ify tapi yang jelas gue gasuka ada yang rebut perhatian dia. Gue gak suka kalo ada orang yang bercanda sama dia, apapun alesannya, gue gasuka!!” ucap Rio mengeluarkan unek-uneknya.
“Itu nama lo suka sama dia..” ucap Cakka. “Suka tahap kedua Yo..” lanjutnya.
“Tau darimana lo?”
“Hukumnya emang begitu Yo..” ucap Cakka. “Kalo lo baru nyaman deket dia itu baru tahap pertama..” lanjutnya.
“Tapi, sekarang lo udah sampe tahap kedua, dimana lo mau milikin dia..” ucap Cakka lagi.
“Ah, gue ngak ngerti..” ucap Rio.
“Calm aja bro..” ucap Cakka menenangkan, sementara Rio terlihat gusar, entah apa yang terjadi yang jelas hatinya tidak terima jika Ify berpacaran dengan Debo.

====================

“HAH?” tanya Ify kaget saat Debo memberitahu kejadian tadi pagi di sekolah.
“Kapan lo kasih tau Deb?” lanjutnya.
“Istirahat pertama Fy..”
“Kok lo bisa kasi..”
“Sttt, tenang aja Fy..” potong Debo. “Gue cuman mau test dia suka sama lo apa enggak..” lanjutnya.
“Idih, buat apaan sih?”
“Kan udah gue bilang, gue mau te…”
“Ya ngapain lo test?” potong Ify. “Lagian gak ada gunanya juga buat gue..” lanjutnya.
“Kan lo suka sama dia Fy..” ucap Debo memainkan alisnya.
“Hih, apaan sih maksud lo!!” ucap Ify tak terima dengan perkataan Debo. “Lagian lo kurang kerjaan amat ngaku kita pacaran..” lanjutnya.
“Ify..” ucap Debo gantung. “Kalo ngak dengan cara gitu, lo digantung.. Oke, keliatannya dia suka sama lo. Dia kayak gak terima gitu Fy, cuman ntar gue bakal..”
“Gue tetep gamau Debo..” potong Ify.
“Fy, dengerin. Dia ngak suka gue deket sama lo. Tugas lo cuman jalanin scenario ini.. Udah, itu aja!!” ucap Debo serius.
“Ah, buat apa sih Deb?”
“Gue kasian liat sepupu gue ngejomblo mulu.. Betah ya?” ledek Debo. Ify memanas, tetapi seketika, Debo menarik tangan Ify, sambil mengelusnya.
“Nanti malem, kita nonton yuk..” ucap Debo dengan nada agak dibesarkan. Ify yang merasa aneh dengan keadaan itupun menaikkan sebelas alisnya, merasa tak mengerti.
“Fy, ada Rio disono..” ucap Debo ngode.
“Ah Deb, gue ngak peduli. Mau dia suka apa enggak juga gue ngak peduli..” ucap Ify cuek sambil melepaskan tangannya.
“Ya seenggaknya, lo mau kan bales dendam sama dia? Lo mau kan ngerjain dia?”
“Tapi ngak gini juga..” ucap Ify membantah. Ifypun melihat ke arah Rio, bingung. Dilema merasuki hatinya, apakah aka mengikuti skenario Debo atau tetap mengikuti kata hatinya? Tak lama, seorang perempuan masuk ke dalam Cafe itu dan duduk disamping Rio. Ify mengerutkan keningnya, heran. Siapa cewe itu? Pertanyaan itu yang terlintas di fikiran Ify. Dia terus memperhatikan, sampai ketika, Rio melihat ke arahnya, Ify cepat cepat mengalihkan pandangannya kepada Debo yang asik bermain ponselnya.
“Deb..” panggil Ify pelan.
“Ya Fy?”
“Itu cewe disamping Rio siapa sih?” tanya Ify penasaran. Debo memalingkan pandangannya, lalu menaikkan bahunya. “Gatau Fy..” ucapnya.
“Nah, lo cemburu kan Fy?” tanya Debo lagi kini menyelidiki Ify.
“Heh? Apaan? Enggak kali..”
“Fy, bisa aja dia pacarnya..”
“Ya terus kenapa?”
“Lo gak mau ikutan punya pacar walaupun boongan?” tanya Debo yang sudah memainkan ponselnya.
“Ah, gue bingung..” ucap Ify kembali melihat ke arah Rio.
“Kenapa?”
“Ngak jadi..” ucap Ify pelan.
“Dasar aneh..”

“Kenapa lo mau Ify……” ucap Zahra geram mendengar pernyataan Ify tentang percakapannya dengan Debo sore tadi.
“Ya mau gimana lagi dong Ra? Debonya main bilang aja sih, kan gue gabisa apa apa lagi..”
“Ck, gini deh, lo jalanin tapi jangan smpe lo yang jadi tumbal..”
“Maksudnya?”
“Kan si Debo itu merencanakan supaya si Rio yang jadi mangsa, lo tumbalnya!! Jangan sampe lo yang jadi tumbal, mending lo bales dendam pake cara lo sendiri, jangan jadi tumbalnya si Debo!!”
“Ashhh… Udahlah Ra, besok aja diomongin. Makasih udah mau ngedenger, sono tidur..”
“Yaa, bawel!!!” ucap Zahra mematikan ponselnya. Mendengar sambungan sudah terputus, Ify melemparkan ponselnya ke atas kasur dan membanting dirinya ke atas kasur juga.
“Ify bego.. Ify bego..” ucap gadis itu sambil menjambaki rambutnya, lalu ia menaruh kedua telapak tamgannya di atas mukanya mengusapnya dan akhirnya merenung sejenak. Melihat atap langit langit kamarnya dan membayangkan sesuatu.
“Rio?” gumamnya. Ia tak tahu menahu mengapa ia memikirkan nama orang itu, Mario Stevano. Entah setan apa yang memasuki fikirannya sehingga ia membayangkan nama Rio.
“Ashh, kenapa gue mikiran anak gelo itu sih..” gerutunya lagi.
“Heehhh Iffyyyy!!!!!” teriaknya menjerit tak beralasan.
“Ify bego, Ify bodoh.. Ngapain mikirin Rio, oke, sekarang mikirin Sivia aja..” ucapnya lagi. Iapun membayangkan Sivia dan Alvin yang sedang pura pura “jatuh cinta” padahal jelas, bahkan sangat jelas Sivia suka pada Gabriel dan Shilla suka pada Alvin. Saat memikirkan Alvin dan Sivia, bayangan Rio kembali merasuki pikirannya.
“Lo kenapa sih Yo? Enak aja masuk masuk ke otak gua..” ucap Ify ngomong sendiri.
“Ashhh…” desisnya lagi.
“Rio bodoh, lo tuh ya, udah item pesek jelek krempeng, banyak lah kekurangannya.. Tapi kenapa bisa masuk ke pikiran gua, jujur lebih baik mikirin Alvin atau Cakka atau siapa kek. Walaupun gua tau mereka udah couple sama sahabat sahabat gua, tapi kenapa harus elo sih? Ashh dasar voldemort kawe!!” cerca Ify sendirian.
“Ashh, daripada mikirin orang gatau diri itu mendingan gua tidur aja deh..” ucap Ify mengambil guling dan memeluknya, lalu memendam kepalanya di atas guling.
“Ify mau bobo cantik dulu..” teriak Ify entah kenapa dengan riangnya dan kembali keposisi semula, posisi ternyaman jika dia mau tidur..

“Cie Ify..” ucap Lintar yang tiba masuk kelas, disana ada Rio dan kawan kawan, Ify menaikkan satu alisnya, heran.
“Apa?” tanya Ify aneh.
“Debo debo..” ucap Lintar memainkan alisnya, Ify membulatkan matanya sementara Rio dkk menampakkan raut muka aneh yang berbeda lalu Lintar mengambil buku di atas meja guru dan melangkah keluar.  “Gue ga dikasih peje Fy sama Debo!!” lanjut Lintar dan akhirnya keluar kelas. Ify melihat ke arah Rio yang akhirnya memalingkan mukanya, ia menunjukkan muka kesal, entah kenapa, teman teman Rio menunjukkan wajah khawatir, berharap Ify mengerti dan peka atas perubahan raut muka Rio itu..
“Apa?” tanya Ify karena Dayat dan Cakka melihatnya dengan wajah serius.
“Enggak..” ucap Rio perwakilan. Tak lama, Alvin datang dengan Sivia sementara Gabriel datang dengan Shilla, membuat semua orang mempunyai tanda tanya besar di otak mereka masing masing..
“Tumben..” desis Dayat. “Ara sama Agni mana?” lanjutnya.
“Ara temenin Agni makan..” ucap Shilla sebagai perwakilan.
“Kok bisa?” tanya Ify heran.
“Bisa apa?” tanya Shilla.
“Lo sama Gabriel, Alvin sama Sivia, tanpa tatapan benci apapun?”
“Kenapa enggak?” tanya Shilla menaikkan bahunya.
“Gapapa sih..” ucap Ify kembali menatap tempat duduk Rio yang berada di pojok kanan, sementara ia ada di pojok kiri.
“Ehemm..” potong Shilla duduk di sebelah Ify. “Gak ngalangin pemandangan kan gue kalo duduk di sebelah lo Fy?” lanjutnya.
“Apaan sih lo..” ucap Ify menonjok pelan bahu Shilla.
“Lagian jaman sekarang masih jaman diam fiam suka?”
“Diam diam suka apaan.. Buyut lo tuh dds sama Rio!!” ucap Ify marah dan akhirnya melihat ke arah papan tulis.
“Eh Fy, 3 hari lagi kan bakalan ada Open House, lo mau dateng sama siapa?” tanya Shilla merajuk Ify.
“Sama setan..”
“Yah, lo masih marah..”
“Bodo ah..”
“Gue serius Fy, lo ikut musik kan? Lagian parkiran penuh kalo lo bawa kendaraan sendiri, taxi gabakalan bisa anterin lu sampe depan sekolah, pasti di blokir tuh depan sekolah, soalnya penuh..”
“Iyalah, gue kan ekstra musik.. Bodo ah..”
“Tapi katanya ya, kan kita kelas 2, gak bisa semuanya ngeband, yang kelas 1 khusus band, kelas 2 sama 3 katanya cuman bisa MC atau pertunjukkan lainnya, lo mau ngambil itu gak? Gue sih cheers aja, yang lainnya enggak..”
“Sama..”
“Ih, marah mulu sih..”
“Gue gak marah..”
“Yaudahsih..” ucap Shilla kini melamun memikirkan sesuatu, keheningan tercipta.
“Lo nanti dateng sama siapa Shill?” tanya Ify memecah keheningan.
“Gabriel..” ucap Shilla.
“Kok lo bisa jadi akrab sama Gabriel gitu sih?”
“Gabriel bilang, dia mau maafin gue..”
“Maksudnya?”

-Flashback On-
“Shill..”
“Ya?”
“Maaf ya..” ucap Gabriel melihat mata Shilla dalam, iapun memegang pundak Shilla.
“Gue tau lo sengaja bilang Alvin sama Sivia itu pacaran, gue tau. Maaf gue pernah ngelabrak elo, gue pernah benci banget sama lo. Tapi gue akhirnya ngerti maksud lo..” ucap Gabriel.
“Maksudnya?”
“Gue setuju, kalo Sivia emang suka sama gue, dia pasti bakalan setia sama gue..”
“Mmmmm…”
“Gue mau kita buat strategi, kita itu deket supaya gue bisa tau kalo Sivia beneran suka sama gue apa enggak. Tapi jangan terlalu jauh ya, sebatas depan Sivia aja..” ucap Gabriel, Shilla mengerutkan keningnya.
“Gimana ya Gab, kalo gue mau, gue takut Sivia marah sama gue..” ucap Shilla ragu.
“Percaya sama gue..”
“Yaudah, gue juga mau balik sama Alvin..”
“Sip, gue harap lo partner yang pinter, care, dan profesional!!”
-Flahback Off-

====================

“Iya nih Day. Lusa udah mau PN..” ucap Zahra di telfon, ia mengambil teks skenario dan tiduran di atas kasur, mencoba menghafalkan teks perannya.
“Tahun lalu lo sama siapa Ra ke acara Open House?” tanya Dayat di sebrang telfon.
“Sendirian..”
“Haha, kasian..”
“Emang.. Arrhh, peran gue susah banget lagi buat drama, nyesel gua masuk ekskul drama..”
“Semangat Araaa…” ucap Dayat di sebrang sana.
“Makasih Day..”
“Sama sama Ara..”
“Day, kayaknya yang ekstra olahraga enak ya, ga perform apa apa..”
“Harus lah..”
“Agni ga tampil sama sekali, eww ah..”
“Hahaha, makanya jangan mau ikut seni..”
“Bakat gue di seni..”
“Tapi denger denger Agni jadi MC deh, perwakilan kelas 2. Kan yang jadi MC itu kelas 2 sama kelas 3..”
“Mungkin sih..”
“Hayo, kan mendingan kamu main drama daripada MC..”
“Kamu?” tanya Zahra terheran heran dengan perubahan kata kata Dayat kepadanya.
“Yaa, anak baik lah. Ngomongnya aku kamu aja, biar masuk surga..”
“Halah, modus..” ucap Zahra, padahal di dalam hatinya menunjukkan sebuah rasa bahagia, jantungnya berdetak dan pipinya memerah.
“Hehe, gak apa apa kan Ra? Kita ngomong pake aku kamu..”
“Enggak!!”
“Yah, kenapa?”
“Alay tau..”
“Ayolah Ra..”
“Tapi ada syaratnya ya..”
“Apa?”
“Traktir aku waktu Open House..”
“Ah, itu kecil.. Eh..lah, kamu udah duluan bilang aku kamu..”
“Yaudah gak jadi..”
“Yah, maaf deh.. Jadi ya, jadi..”
“Iya Dayat!!!!”
“Haha, oke..”
“Oh ya Day, tadi kok waktu aku sampe kelas Alvin Sivia sama Gabriel Shilla gak sinis sinisan?”
“Ngak tau deh Ra..”
“Ada yang aneh ini..”
“Mm, iya sih..”
“Kira kira apa ya?”
“Ngak tau deh, aku bukan peramal..”
“Yaudah deh..”
“Dirumah kamu ada siapa?”
“Ngak ada siapa siapa..”
“Yaudah, aku kesana ya, sekalian temenin ngafalin..”
“Yaudah..”
“Ada kakak kamu?”
“Enggak..”
“Mama?”
“Enggak..”
“Papa?”
“Enggak..”
“Yaudah, tunggu ya.. Paling 10 menit deh..”
“Oke..” Zahra mematikan obrolan. Dia tersenyum senyum sebentar, menatap langit langit kamarnya dan mulai membayangkan Dayat akan mengajaknya untuk pergi bersamanya pada acara Open House nanti. Pasalnya, di SMA Indische ini, pada saat Open House, mereka menutup jalan di depan sekolah untuk parkir dan pertama kali memulai Open House, para murid datang bersama pasangan agar bisa mendapatkan sebuah pita couple dengan corak yang berbeda, kalo ngak ada pita, berarti tidak punya teman berpasangan. Lalu di SMA Indische juga, mengadakan ajang band/girlband saat Open House, sekalian perkenalan sekolah mereka kepada para tamu dan anak anak dari sekolah lain.
“Zahraaaaaa!!!!” teriak seseorang dari arah luar, Zahra melangkahkan kakinya ke arah jendela dan melihat siapa yang memanggil namanya.
“Agni?”
“Ra, gue bosen nih, gue main di rumah lo aja ya..”
“Tapi Ag-”
“Yah, lo nolak gue nih?”
“Mmm, bukan itu maksud gue Ag.. Tapi..”
“Apa?” Zahra berfikir sejenak, apakah dia harus memilih berbohong agar Agni tidak merusak momennya dengan Dayat, atau harus membiarkan Agni akan menjadi obat nyamuk? Kalau ia berbohong, yang ia takutkan Agni akan marah bila tau Dayat masuk ke rumahnya tetapi Agni tak boleh.
“Gimana Ra?” ujar Agni lagi.
“Yaudah deh gapapa.. Tunggu dulu ya, soalnya dikunci..” Agni mengangguk, Zahra melangkahkan kaki menuju tangga dan membukakan pintu dan gerbang supaya Agni bisa masuk.
“Nyokap kemana?”
“Jalan jalan..”
“Kemana?”
“Plaza Senayan..”
“Sama?”
“Kak Irva..”
“Wedeh, lo gak diajak?”
“Enggak ah.. Gue harus ngafalin ini!!” ucap Zahra menunjukkan skenario team drama sekolah.
“Oh, yaudah gue bantu..” ucap Agni. Zahra bimbang antara akan memberitahu bahwa Dayat akan datang atau bagaimana yang jelas, Agni boleh jadi obat nyamuk sekarang, kalau Agni mau.
“Yaudah yuk keatas..” ucap Zahra menaiki tangga dengan perasaan khawatir.
“Ag..” ucap Zahra di tengah tangga.
“Ya?”
“Dayat rencananya mau dateng, lo gapapa kan?”
“Enggak apa apa Ra.. Gue udah lama gak liat orang pdkt depan gue..”
“Ish.. Apaan sih..” ucap Zahra berusaha menarik lengan Agni yang ada selangkah anak tangga dibawahnya. Tetapi fail, dan akhirnya Zahra terjatuh sampai ke anak tangga paling bawah, dan terjatuh ke lantai. Wajahnya lumayan seakan babak belur, di kepala dan badannya terdapat darah segar mengalir dan kacamata yang sedang ia pakai, retak di bagian bawah..
“ARAAA???!!!” ucap Agni bersamaan dengan seorang pria yang muncul di ambang pintu.

Bersambung

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: