This Feel part 3

“APA??” Teriak Gabriel setengah kecewa.
“Gas lo serius? Ini masalah tambah gede dong?” Kata Ray ikut histeris.
“Iya, gue.. Gue.. Gue minta maaf..” kata Bagas sambil nunduk.
“Terus gimana dong Gas?? Misel udah ilang sekarang ditambah Chelsea.. Arrgghhttt, ntar rival gue siapa dong?” Kata Cakka agak mainmain.
“Masih sempet Cakk elo bercanda?” Kata Gabriel setengah dongkol.
“Hehe,peace Yel.. Selo macam kura kura aja..”
“Terus ini gimana sekarang?” Kata Ray cemas sambil membuka tangannya *kayak orang lagi bilang gimana gitu, tangannya di depan perut.. Gitu gitu deh #plakk*
WUSHH
Secepat kilat sebuah kertas sampai ke tangan Ray. Seperti sebuah kode.
“Apaan tuh?” Tanya Cakka penasaran.
“Tau deh..” jawab Ray
“Buka aja Ray..” kata Gabriel agak kepo. Dan Ray membukanya lalu membacanya..
“Hmmm…” kata Ray mengerutkan keningnya.
“Apaan isinya Ray?” Tanya Gabriel kepo.
“Umm.. Isinya ini..” Ray menunjukkan surat itu kepada Gabriel dan Gabriel membacanya.
“Gas, lo tau Arya?” Tanya Gabriel pada Bagas yang dari tadi diam.
“Dia kenapa? Dia mantannya Misel yang sempet ngebuat Misel galau 3 tahun dengan cara pergi dan pindah entah kemana”
PUFFF *suara apa ini-___-*
Ray yang sedang meminum *kapan Ray minum? Anggep aja Ray baru minum* aqua-nya langsung menyemprotkan ke depannya.
“Weh selo bang.. Untungnya di depan lo rumput bukan gue..” kata Cakka agak jiji gara gara airnya langsung dari mulut Ray yang jarang sikat gigi *brcanda.. Jangan marah ya RayReady, its just story :)*
“Gas.. Ade lo bahaya Gas.. Gue gamau pisah dari dia..” kata Ray agak cemas.
“Pisah? Emangnya lo berdua udah nikah apa?” Kata Bagas agak aneh dengan Ray.
“Gas, Ray bener. Coba lo baca ini sebentar..” kata Gabriel pada Bagas dan memberikan lembaran itu.
“Bacain Gas, kepo gue..” pinta Cakka pada Bagas.
Dear Bagas, Ray, Cakka dan Gabriel.
Gue Arya, mungkin cuman Bagas yang tau siapa gue. Oke, Misel aman sama gua. Misel tenang disini sama temennya yang kalo gasalah namanya itu Chelsea. Misel makin hari makin cantik ya Gas, gue jadi pengen deket dia lagi. Oke, buat cowonya Misel gue mau besok lo fight sama gue. Awalnya mau lusa, tapi lebih cepat lebih baik. Yang kalah, harus mau relain Misel. Oke gimana,setuju?  Inget, ini fight gue sama RAY bukan yang lain. Ini terserah lo, mau apa enggak. Tapi mau ga mau lo mau selamatin Misel temuin gue besok jam 5 sorean di depan air mancur. Makasih,
Arya” ucap Bagas agak begetar.
“Terus kita harus gimana?” Tanya Cakka.
“Fulltime kalo bisa hari ini Ray latihan persiapan. Lo pernah ikutan karate sama tinju kan? Lo latihan hari ini. Nanti kita bantu lo latihannya, gimana?” Tawar Gabriel.
“Heeuh” jawab Ray pasrah.
**********
“ARYA???!!!!” Teriak Chelsea ga percaya saat dia dibawa menghadap ke arah Arya dan Misel.
“Iya Chels. Kenapa? Jangan kaget gitu dong..” kata Arya santai.
“Ngapain lo ke kehidupan Misel lagi?”
“Gue kangen dia..”
“Lo fikir dia boneka apa? Yang bisa lo mainin saat lo mau dan butuh? Yang saat lo lagi mau lo mainin sepuasnya dan saat lo udah bosen lo tinggalin sampai akhirnya nanti lo balik lagi ke dia kalo-”
“Chel.. Lo bawel banget yah!!” Kata Arya memotong ucapan Chelsea.
“Daripada lo, banci!! Mental apaan lo?”
“Terserah lo, gue males debat. Liat besok aja siapa yang menang?!”
“Besok?” Tanya Misel ga percaya.
“Iya Sel.. Maaf ya mendadak. Kan biar lebih cepet aku nyulik kamu. Hehe..” kata Arya nyengir.
“Apa? Lo gila ya? Galucu tau ga..”
“Hahaha, terserah kamu..”
“Kakak bos, makanan udah siap..” kata si anak buah tadi.
“Kalian disini dulu, Arya mau makan dulu. Bye!!” Kata Arya sambil keluar dari gubuk itu..
“Chels..” kata Misel mendekati lalu bersandar pada pundak Chelsea.
“Sabar ya Sel.. Pasti ada jalan keluar kok..” kata Chelsea menenangkan Misel.

-1 jam kemudian-
KREEEKK
Terdengar suara sebuah jendela yang rapuh. Dan tiba tiba seorang anak laki laki masuk ke dalam gubuk itu. Lalu memperhatikan Misel dan Chelsea.
“Ayo.. Kalian bebas..” kata dia.
“Lo siapa?”
“Gue bakalan bantu kalian keluar, gimana?”
“Ayo.. Ayo..” kata Misel semangat.
“Tapi gue liat ada 4 orang cowo sedang berlatih bela diri.. Kalian kenal?”
“Ya.. Kami adalah salah satu dari hidup mereka..”

* * * * * * * * * *
Pria itu membawa Chelsea dan Michelle pergi ke suatu daerah, di sebuah rumah yang sederhana tetapi luas untuk dipakai ratusan orang..
“Nih, kalian tidur gih, gw kebagian belakang ya, kamar cewe di bagian kanan sana..” kata anak itu sambil menunjuk sebuah kamar bertuliskan ‘Girls Area’
“Terus lo mau kemana?” tanya Chelsea, tetapi pria itu tetap tidak menjawab pertanyaan Chelsea.
“Hey, lo budek?” teriak Michelle.
“Gua ke kamar buat anak cowo lah, yakali gue di kamar anak cewe..” jawab anak itu sambil berlalu melewati mereka.
‘Aneh ah.. Nyebelin’ gerutu Chelsea dalam hati.

-Girls Area-
Michelle membuka pintu kamar itu dan kaget seketika. Dan ruangan itu seperti rumah, besar sekali dan khusus untuk wanita. Dari luar, rumah itu terlihat sederhana, bahkan kecil. Tetapi di dalamnya, besarnya bukan main*eaakk*. Semua mata bertuju pada Chelsea dan Michelle yang membuka kamar itu.. Kira kira semuanya ada 10 orang di ruangan itu.
“Kalian siapa ya?” tanya salah satu dari mereka yang tadinya sedang membaca majalah di atas sofa dan sekarang menghampiri mereka.
“Mm, tadi kita di tangkep, terus ada yang nyelamatin dan dia ngajak gue sama temen gue kesini. Terus disuruh masuk ke ruang ini..” jawab Michelle gugup, sementara Chelsea hanya diam.
“Ohh, siapa orang itu?”
“Gue gatau namanya. Ciri cirinya agak pendek, putih, agak sipit, rambutnya keren, terus pake baju topi lonjong gitu, sepatu boots sama baju kaos tentara celana tentara..” ucap Michelle mendetailkan itu.
“Mm, dia punya lesung gak?”
“Enggak deh kayaknya..”
“Oh Difa..” jawab wanita itu pelan tetapi terdengar jelas di telinga Chelsea dan Michelle.
“Apa?!” jawab Michelle ingin memperjelas perkataan itu.
“Emmm, enggak.. Kalian anak nyasar apa gimana?”
“Kita awalnya mau jalan jalan disini. But, kita jadi diculik..”
“Kalian dari mana?”
“Jakarta Timur. Why?” tanya Michelle.
“Oh, enggak.. Mmm yaudah.. Selamat datang disini.. Ini markas penyelamat rahasia(?). Kita semua mata mata disini.. Kita bebasin orang yang biasanya diculik, diperas, ditipu, dimanfaatkan dan hal hal negative lainnya. Kalian boleh tidur, kalian mau tidur dimana?” kata wanita itu ramah.
“Dimana aja deh.. Hehe..” jawab Chelsea agak linglung.
“Yaudah, dikamar gue aja yuk..” ajak cewe tadi.
“Heeuh..” jawab Chelsea dan Michelle lengkap disertai anggukan. Lalu, wanita itu menunjukkan arah menuju kamar anak itu. Dan pintu kamar dibuka(?). Michelle sama Chelsea cengo. Kenapa? Gede amat kamarnya–”
“Kenapa?”
“Enggak.. Tapi, gede amat kamarnya.. Kamar gue aja kalah, ya ga Chels?” kata Michelle
“Yoi Chelle.. Bahkan ini segede kelas kita bisa kali ya?”
“Yoi, setuju gue..”
“Yaudah, ayo masuk..” ajak wanita itu lalu mempersilahkan Chelsea dan Michelle masuk.
“Eh, di kamar ini ada berapa orang?” tanya Michelle yang langsung duduk di sofa.
“5 orang.. Tapi tambah kalian jadi 7 deh..”
“Disini ada berapa kamar?”
“5 kamar doang..”
“5 kamar? Dikit dong orangnya?”
“Ya begitulah.. Cewe cuman 25 orang tapi cowo ada 70 orang..” kata cewe itu lalu merebahkan dirinya di kasur.
“Mm, by the way.. Nama lo siapa?” tanya Chelsea yang ikut tiduran di kasur cewe itu..
“Gue? Kalian pengen tau banget?”
“Yaelah, bukan gitu.. Kan ga enak gue gatau nama lo, manggilnya ‘elo’ terus nanti..” ucap Michelle yang tetap duduk di atas sofa.
“Nama gue.. Mmm, nama gue itu-”
“Elah lama, sebut aja siapa..” kata Michelle ga sabar.
“Sabar elah, gue kan mau dramatis..” kata cewe itu yang tertawa kecil.
“Yaudah, siapa?” tanya Chelsea.
“Gue Gloria Chindai Lagio, panggil Chindai aje..” jawab cewe itu..
“Oh Chindai..” jawab Michelle..
“Iya, hehe.. Jelek ya?”
“Enggak kok, bersyukur lo dikasih nama gak pasaran kayak Ani atau Nina atau siapa..” kata Michelle tersenyum.
“Eakk qaqa..” jawab Chindai lalu tertawa geli.
“Lo bisa alay juga eapz?” jawab Michelle.
“Eak dums qaq, chiendhaei gethoo..”
“Oh no.. Virus lo..” kata Michelle lalu ikutan tiduran di kasur.
“By the way, yang tidur di kamar ini siapa aja kak?” tanya Chelsea.
“Kak? Chindai aja kek.. Berasa tua nih gue..” jawab Chindai.
“Hehe, iya Ndai.. Siapa yang tidur disini?”
“Ada yang namanya Novi, Fena, Gladys sama Gabby Munthe..”
“Ohh..” jawab Chelsea.
“Eh, kalian laper? Makan yuk..” tanya Chindai.
“AYOOO..” teriak Chelsea dan Michelle semangat.
* * * * * * * * * * * *
“Arrrggghhhhttttttttt…..” teriak Ray sambil terus meninju bantal tinju(?)*apadeh gua gatau namanya* dengan penuh emosi. Dia bener bener takut dan marah gara gara orang yang dia gak kenal yaitu Arya.
“Busuukkkkkk….” teriak Ray lagi.
“Stop stop..” teriak Cakka sebagai coach..
“Apa lagi Cakk?”
“Lo gabisa main kalo lo emosian..” tegas Cakka.
“Houhhhh..” kata Ray mengeluh sambil membenamkan wajahnya di telapak tangannya(?) *ga ngerti? Sama saya juga. Udah, cerna bae baek*
“Gue bimbang Kka.. Gua takut kalah..” curhat Ray lalu duduk di kursi rotan yang terdapat di sekitar itu.
“Kalah? Lo cewe cowo Ray? Belom coba aja udah takut kalah.. Lo kayak bukan Ray yang gue kenal..” ucap Cakka dan ikut duduk di samping Ray.
“Betul Ray..” ucap Gabriel yang tiba tiba datang duduk di dekat Ray dan Cakka..
“Intinya lo harus semangat Ray.. Pokoknya lo harus menang Ray, demi ade gua!!” ucap Bagas yang juga tiba tiba datang sambil bawa Chitato.
“Makasih ya.. Pokoknya gue gaboleh Give Up.. Ya, gaboleh!!” ucap Ray penuh harapan(?)
“Iya Ray, tapi jangan embat chitato gua juga dong..” ucap Bagas protes.
“Gua butuh tenaga Gas..” ucap Ray nyengir.
“Yeah” jawab Bagas kayak di iklan M&M(?)
“Mulai males, mulai ngambek..” ejek Cakka.
“Apa dah lo Cakk..”
“Ray bener bener mirip Rio ya..” ucap Gabriel kepada Ray.. Seketika, wajah ceria Ray berubah menjadi wajah kesal, marah dan sedih.
“Jangan bahas dia bisa Gab?”
“Waiss.. Santai bro, kidding..” kata Gabriel cengengesan.

“Nite Ray, nice dream lo. Simpan energi lo buat besok.. Sono, tidur gih daripada lo capek.. Awas besok sampe kalah..” ucap Bagas kepada Ray saat Ray akan tidur.
“Iye.. Iye.. Duh, gue merasa dinasehatin emak gue Gas..”
“Apa deh lo.. Dah, gue ke kamar gue duluan ye..”
“Apa kalian yakin gamau ada satu orang tidur disini?”
“Ga usah Ray, takut ganggu tidur lo..”
“Satu kamar kan cuman bisa 2 orang, emang muat?”
“Santai bro, Gabriel gue sama Cakka selim kok.. Selow..” ucap Bagas lagi.
“Tapi Gas-” “Udeh jangan gitu, jangan kayak ibu ibu pengajian yang bawel.. Sono tidur..” ucap Bagas sambil menutup pintu kamar Ray..
“Ah, baiknya gue cepet tidur..” ucap Ray “Michelle, wait me for tomorrow(?) yeah– I will save you..” ucap Ray. Tapi tiba tiba, Ray memikirkan satu orang yaitu, Rio.
“Rio..” ucap Ray lirih sambil menutup matanya, mengingat masa itu kembali.
-Flashback On-
“Ray.. Jangan bandel dehh.. Cepetan turun..” ucap Rio yang dengan susah payah membujuk adiknya itu.
“Enggak ah.. Ray masih mau tiduran disini..” ucap Ray yang masih tiduran.
“Eh, ntar jatoh kamu Ray..”
“Biarin aja..”
“Ih, aku aduin ke mama nih..”
“Aduin aja..”
“MAMAAAAAAA-”

BRUKKKK

Ray jatuh dari atas pohon. Tetapi sialnya, Ray menimpuk Rio yang secara fisik Rio lebih kurus daripada Ray. Ray dengan datar jatuh terduduk di atas punggung Rio. Tetapi Rio jatuh dengan tengkurap di atas tanah dengan dahsyat(?) dan dia berteriak kesakitan.
“AAAAAAA….. SAKITTTT… MAMAAAA… SAKITTT MAAAAA…” teriak Rio. Tak lama, mama Rio dan Ray datang dan terkaget melihat kejadian itu.
“Rayy.. Kamu ngapain?” teriak mamanya sambil menghampiri mereka. Lalu, mamanya mengangkat Ray dan mengangkat Rio yang bisa dibilang ‘kesakitan’
“Kenapa sih? Ada apa?” tanya mama panik.
“Ray manjat mah.. Terus.. Terus.. Dia jatoh nimpa ini aku..” ucap Rio terisak isak sambil menunjuk punggungnya.
“Rayy??!!” kata Mama sambil melirik ke arah Ray. Yang dilirik cuman nyengir gaje.
“Maaf ma, Ray gak sengaja..”
“Aduh ma.. Sakit.. Ini Rio sakit..” ucap Rio kembali memegang punggungnya.
“Ayo kita ke kamar. Biar mama urut ya..”
“Rio gamau di urut. Maunya ke dokter aja.. Rio takut kenapa napa..” ucap Rio sambil masih terisak dan mengeluarkan air matanya.
“Semua baik baik aja Rio.. Kamu gak kenapa napa..” rayu mamanya.
“Rio gamau tau.. Kalo gak ke dokter, Rio gamau di urut..”
“Yaudah, kita ke dokter sekarang ya..” ucap mamanya dan mereka pergi ke dokter.

“Gimana dok? Rio gak apa apa kan? Saya yakin dia gapapa, cuman jatuh biasa. Dia maksa saya kesini dok..” ucap mama Rio panjang lebar.
“Sepertinya Tuhan memang menyuruh Rio untuk kesini..”
“Hah? Maksud dokter?”
“Ini hasil scan tulang punggung Rio bu, silahkan dilihat..” ucap sang dokter sambil memberikan amplop coklat pada mama Rio. Perlahan, mama Rio membuka amplop itu dan bertanya tanya dengan maksud aneh.
“Ini kenapa dok?” tanya Mama Rio ngak ngerti.
“Sepertinya Tuhan memang menyuruh Bu Manda kesini supaya ibu bisa tau kondisi Rio.. Rio sekarang mengalami patah tulang bagian punggung dan dia sekarang tidak bisa tegak ataupun berdiri karena ini bukan penyakit biasa, lambat laun Rio bakalan terkena kanker tulang, bu!!” ucap sang dokter. Ray yang mendengar itu langsung berlari menuju kamar Rio. Ternyata Rio sudah sadar dari suntikan tidur tadi.
“Eh Ray, kok sendiri? Mama mana?” tanya Rio. Tidak menghiraukan pertanyaan Rio, Ray memeluk Rio yang berbaring di tempat tidurnya dan berkata, “Kak Rio, Ray minta maaf kalo ada salah sama kak Rio. Kak Rio gaboleh benci sama Ray oke?” tanya Ray sambil terisak menangis.
“Kenapa sih Ray?”
“Ray sayang kak Rio..”
“Kak? Tumben?”
“Disekolah aku boleh panggil kakak ‘Rio’, tapi kalo di keluarga aku tetap harus panggil ‘kak'” jawab Ray masih menangis.
“Iya, kak Rio juga sayang Ray..” jawab Rio sambil membalas pelukan Ray.

“Apa? Kok kamu salahin aku?”
“Sudah jelas jelas kamu punya keturunan penyakit tulang dan kamu sering kasih dia susu ngak bermerek.. Jadi semua salah kamu..”
“Aku gak begitu, jangan salahin aku gini..”
“Terserah kamu, tapi aku mau ngerawat Rio sendirian..”
“Terus Ray gimana?”
“Gini aja deh, Rio ikut aku mas, Ray ikut kamu..” *sumpah gua geli pada saat kata Mas*
“Terserah kamu!!”
“Yasudah kalo kamu ga ada respek gitu.. Lebih baik kita cerai aja..”
“Apa? Kamu udah gila?”
“Enggak mas, aku minta cerai..”
“Gabisa..”
“Yaudah kalau gabisa.. Aku tetep pergi jauh sama Rio dan ngurusin Rio. Mas tanggung jawab ke Ray sekarang..”
“Baik, kita gak cerai tapi pisah..”
“Oke kalau begitu mas, aku pindah..”
“Enggak usah, aku aja sama Ray yang pindah. Rio masih butuh pengobatan” Mendengar pertengkaran kedua orangtuanya di lobby rumah sakit yang sepi, Ray lari dengan menangis ke kamar Rio. Setelah sampai, ia kembali memeluk Rio.
“Ka Rio…” ucap Ray terisak.
“Apa lagi Ray?” ucap Rio sambil memeluk dan mengusap rambut Ray.
“Kakak jangan lupain Ray ya, Ray sayang kakak..”
“Apa yang terjadi Ray?”
“Kakak gaboleh tau.. Ini rahasia Ray sama mama papa..”
“Kok Ray begitu?”
“Maaf kak..” tak beberapa lama, papa Ray masuk ke kamar Rio dan memeluk Rio dan Ray yang masih pelukan.
“Rio..” ucap papa sambil berlinang air mata di pipi papanya.
“Papa kok nangis?”
“Maafin papa nak.. Papa salah..”
“Papa salah apa? Rio ngak berasa papa salah..” sang papa tak menjawab malahan cuman memeluk dia dan ray sangat kuat untuk beberapa menit, lalu melepaskanya.
“Ray..” ucap mama, reflek Ray langsung menghampiri dan memeluk mamanya beberapa menit tanpa percakapan.
“Rio, papa sama Ray cari makan dulu ya..” ucap sang papa.
“Rio ikut pa..”
“Jangan, kamu masih sakit..”
“Rio kuat.. Eh.. Eh.. Awwww” ucap Rio menahan sakit saat ia mencoba untuk duduk.
“Kan, jangan dipaksa..”
“Papa, papa balik lagi kan?”
“…”
“Pa..”
“Iya Yo?”
“Janji ya, balik lagi..”
“Suatu saat Yo..”
“Kok suatu saat?”
“Udah ya Yo, papa cari makan dulu sama Ray..”
“Ia pa, jangan lama lama ya..” bukannya menjawab, sang papa cuman bisa terdiam dan mengenggam tangan Ray menuju keluar ruangan dan keluar rumah sakit dan pergi jauh dari kehidupan Rio dan mamanya.
-Flashback off-
Ray membuka matanya dan menjambak rambutnya sendiri.
“Ah sial gua jadi flashback..” tak lama, ia memandang keluar jendela. Dan melihat langit.
“Yo, lo masih hidup kan yo?”
“Haha, gue kangen elo..” gak berasa, butiran bening keluar dari mata Ray.
“Jagain mama ya Yo.. Disini gue sama papa fine fine aja..”
“Yo, cewe gua dalam bahaya dan gua harus ngeluarin semua kekuatan gua. Pelajaran tinju sama taekwondo gua Yo.. Lo tau rasanya? Berat..”
“Sama beratnya kayak tugas lo jagain Mama..”
“Gue kangen kalian Yo..” ucap Ray yang tak berhenti sambil menangis. Lalu, Ray berhenti berbicara.
“Nite Yo.. Lo juga tidur gih, istirahat..” ucap Ray sambil tidur dan tertidur di kasurnya.

Bersambung

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: