Tanpa Judul – Part 2 [ Cerbung Idola Cilik / IC / ICIL ]

“Yang udah latihan pulang aja deh..” kata Bu Winda. Ify terlihat sangat senang. Karena dia latihan yang pertama tetapi menunggu hingga satu jam karena banyak sekali yang mengikuti ekskul Musik. Ify pergi ke ruang cheers dan mading. Tetapi tidak ada Shilla dan Sivia, lalu dia bertanya kepada Gita.
“Ehh Git.. Lo liat Sivia atau Shilla gak?”
“Barusan juga pulang kak.. 15 Menit lalu..”
“Oh yaudah makasih..” Ify berjalan dengan mencaci maki dirinya sendiri.
“Arrggghhhttt… Sial banget sih.. Kenapa gw jalannya lama tadi? Coba kalau gw cepet, gw bisa pulang bareng Sivia Shilla.. Arrgghhttt terpaksa naik angkot..” Lalu Ify menunggu angkot tetapi Pak Satpam sudah menegurnya duluan,”Nungguin angkot ya Neng? Kayaknya angkot 26A udah gak ada..”
“Oh, gitu ya pak? Taksi gimana?”
“Udah habis juga kayaknya..”
“Yaudah deh pak..” Lalu Ify meninggalkan satpam itu dengan jalan ogah ogahan.
“Jalan lagi, jalan lagi.. Males banget dah.. Rumah gw kan jauh..”
“Ahh.. Gila kaki gw keram lama lama.. Arh!”

Belum 1/4 jalan, Ify sudah mengeluh.. Tak lama, dia melihat ada orang berkumpul dan ada polisi dan police line yang berjarak 50m darinya.. Dia cuek cuek aja.. Cuman, didepannya terlihat gelang yang sepertinya pernah dia lihat.. Seperti gelang Shilla. Dia langsung mengambil dan mengecek gelang tersebut.. Setelah yakin itu gelang Shilla, dia berlari menuju sekawanan orang itu.. Saat dia sampai, ambulance datang.. Dia melihat itu adalah tas Shilla dan tas perlengkapan Cheers Shilla. Dia mendekati polisi dan petugas yang sedang mengangkat seorang cewe ke dalam ambulance. Dan dia melihat wajah cewe itu, dan itu Shilla!
“S..hil…la..”
“Itu Shilla? Ashilla Zahrantiara temen gw kan?”
“Shill.. Kok lo bisa be..gi..tu” Ucap Ify sangat pelan dan lambat.
“Kamu kenal sama dia?” tanya si polisi.
“Dia.. Dia teman saya pak!” dia masih tidak percaya itu Shilla, dia masih berbicara pelan dan lambat.
“Yasudah masuk. Temanin dia di dalam bersama petugas..” Tanpa basa basi, Ify langsung naik dan kaget.
“SHILLAAAA!! Ini beneran elo Shill??” kata Ify saat sadar itu Shilla langsung syok dan berteriak teriak..
“Bangun Shill… Bangun..” kata Ify sambil memeluk tubuh Shilla yang bergelumuran darah di kepalanya dan terus memeluk sampai ambulance tiba di Rumah Sakit Garmasi.
*****
“APA?” tanpa tersadar, handphone Zahra terlepas dari tangannya, dia mematung di tempat. Tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa bergerak.. Perlahan, air matanya berlinang keluar. Agni yang kebetulan lagi main gitar di kamar Zahra (karena rumah mereka dekat) langsung meletakkan gitar.
“Kenapa lo Ra?” tanya Agni khawatir. Zahra gak bisa melanjutkan kata katanya, dia tetap terdiam dan menangis. Agni memungut handphone Zahra dan melihat Zahra sedang telfonan sama Mamanya Shilla.
“Tante, ini Agni. Ada apa tan? Kok Zahra diem begitu sambil nangis?” tanya Agni yang penasaran dan ada rasa khawatirnya juga..
“Agni.. Shilla.. Shilla.. Kecelakaan.. Dia lagi dirawat di RS Garmasi.”
“HAH?? GAK MUNGKIN TAN..” teriak Agni syok.
“Tante juga gak percaya Ag..” Kata Mama Shilla sambil tetap menangis.
“Oke, Agni kesana sekarang sama Zahra.. Biar Agni kabarin Sivia sama Ify tan..” dengan cepat, Agni memutuskan sambungan telefon.
“Ra, kita harus ke RS Garmasi sekarang..”Agni tersadar dan dengan cepat mengangguk. Lalu minta izin kepada mamanya supaya dia melihat Shilla dahulu..

“Cakka.. Lo bisa anterin gw? Jemput gw sekarang..”
‘Kemana?’ kata Cakka terdengar karena speaker di loud.
“Ke RS Garmasi..”
‘Ngapain?’
“Shilla kecelakaan. Jangan kasih tau Alvin, Dayat, Rio sama Gabriel. Sivia juga ngak.. Gw pengen tau ekspresi mereka!”
‘Siap..’ tak menunggu lama, 10 menit kemudian Cakka datang dengan Mobil sedannya.

“Sivia..”
‘Apaan? Gw ngantuk banget..’ kata suara di sebrang sana karena telfonnya di bikin loud.
“Ke RS Garmasi sekarang..”
‘Males gw..’
“Coba ulangin kata kata lo sekarang!” kata Agni agak emosi. Untungnya, si Cakka yang bawa tuh mobil..
‘Agni sayang.. Gw ngantuk.. Emang siapa yang sakit?’
“SHILLA KECELAKAAN DAN KITA KE RS GARMASI SEKARANG.. GW BAKALAN BENER BENER BUNUH LU, KALO LU GA DATENG SEKARANG..”
‘Lo.. Lo.. Boong.. Kan… Fy?’
“LO PIKIR DENGAN CARA GW BENTAK LO, GW BOONG?”
‘Oke. Gw kesana’

Setelah menelfon Rio dan Dayat, Agni ingin menelfon Alvin dan Gabriel tetapi ditahan oleh Zahra. Dia tak ingin Agni terbawa emosi.
“Ag.. Gw aja..” tawar Zahra. Agni hanya mampu mengangguk. Pertama, Gabriel.
‘Iya Ra?’
“Shil, Shila.. Kecelakaan..”
‘Lucuu.’
“Gw serius.”
‘Dimana?’
“RS Garmasi.”
‘Gw kesitu sekarang.’
“Gimana Ra?” tanya Agni mulai lelah.
“Lancar, tinggal Alvin..”
‘Apa lo?’ kata Alvin marah marah sendiri.
“Shilla.. Vin.. Shilla!!!”
‘Kenapa?’ tanya Alvin mulai panik.
“Dia.. Dia.. Kecelakaan Vin..” Alvin terdiam cukup bahkan sangat lama..
“Vin..”
‘Dimana Ra?’
“Vin dengerin gw-”
‘DIMANA RA!!!’
“RS Garmasi gw tung-” neeeeeeeeetttttttt… Telepon terhenti.
“Gimana Ra?” tanya Agni lagi..
“Dia agak marah..” mereka bercakap cakap tentang Shilla hingga sangat lama..
*****
Ify, ya.. Satu orang yang mereka lupakan, Ify.. Saat semua berkumpul, mereka masuk ke dalam rumah sakit, dan mereka menemukan sosok Ify disana.
“Fy?” tanya Agni.
“Ag.. Shilla, Ag.. Shilla…”
“Kenapa Shilla?” tanya Agni mulai rapuh.
“Dia.. Dia.. Dia.. Kena tabrak..  Lari..”
“Siapa yang berani ngelakuin itu ke sahabat gw?”
“Truk besar Ag.. Truk besar.. Shilla mental 50m dari tempat.. Dan tulangnya patah sama kepalnya bocor.. Pipinya juga robek.. Kita harus gimana Ag?” tanya Ify mulai nangis.. Bukan hanya Ify, Sivia langsung nangis di tempat.. Gabriel mengusap usap pundak Sivia. Zahra duduk di lantai, lalu membenamkan kepalanya diantara kedua pahanya.. Dayat duduk di sampingnya dan Zahra menaruh kepalanya di pundak Dayat. Ify langsung terduduk menangis dan Rio memeluknya. Agni hanya diam seribu bahasa dan Cakka berusaha membujuknya.
“Ag..”
“Diem..”
“Ag gw tau tapi lo-”
“Diem.. Tau diem gak?” Agni tidak dapat menangis tetapi tubuhnya kaku dan bergetar. Tak bisa bergerak dan sesak.
“Agni.. Lo kan-”
“Udah.. Lo sana aja.. Jangan urusin gw..” lalu Cakka menuju ke arah Alvin yang sama seperti Agni. Alvin lebih parah, dia menitikkan air mata dan berdiri kaku seperti Agni, dia tadinya ingin membuka pintu ruangan, tetapi tidak jadi. Sekarang, dia bisa melihat Shilla yang diperban dengan selang oksigen di mulutnya. Agni mendekati Alvin dan berkata,”Vin.. Gw ngerti..”
Alvin tak bisa menoleh, ia hanya mengangguk sambil meraih kaca ruangan di depannya.. Dia mengusapnya dan berkata kecil,”Shil…la..”
“Vin.. Gw tau. Bukan lo doang yang sedih, kita semua sedih..” kata Agni melihat Alvin semakin heboh menangis.
“Shilla kesakitan..” ucap Alvin lirih.
“Vin tapi-”
“Shilla.. Dia kesakitan.. Gw payah.. Gw gak becus.. Kenapa gw tinggalin Shilla dijalan.. Kenapa ngak gw paksa aja? Ah.. Gw cowo bodoh..” kata Alvin memberontak dan suara mulai membesar. Ia tak lagi menangis, ia marah.
“Vin, kita tau.. Tapi kan-”
“GW COWO BEGO YANG GAK BISA JAGAIN SATU CEWEK. HARUSNYA GW YANG DISITU”
“Vin.. Udah do-”
“GW YANG SEHARUSNYA DISITU.. BUKAN SHILLA.. SHILLA GAK SALAH.. GW YANG SALAH.. ARRGGHHTT VIIIIN.. LO BEGO BANGET.. BEGO.. BEGO..” Ify makin menangis dan Sivia makin menangis juga. Semua merasa sedih dan kecewa. Sampai sang dokter pun datang..
“Teman Shilla kan?”
“Iya dok..” jawab Agni perwakilan.
“Saya sudah menjelaskan pada mamanya Shilla tadi, sekarang apakah kalian sudah tau kenapa?” semua mengangguk.
“Baiklah, maukan kalian melihat teman kalian?” semua kembali mengangguk dan menemani dokter masuk kecuali Alvin..
“Vin..”
“Duluan.. Gw ga boleh sedih.. Shilla gaboleh liat gw nangis..” Lalu semuanya masuk ke dalam ruangan itu. Mereka melihat Shilla memakai alat pendeteksi jantung, Ify shock sampai pingsan. Sivia makin menangis, Zahra juga menangis sementara Agni diam tetapi sangat rapuh.. Semua hening sampai Alvin datang..
“Shilla..” kata Alvin lesu..
“Shill.. Bangun Shill.. Demi aku..”
“Shilla kekurangan darah, nanti kita akan cari di PMI..” semua mengangguk.
*****
“Vi.. Aku anterin pulang, ya!” Sivia hanya bisa mengangguk. Saat di perjalanan, Sivia berkata,”Yel.. Anterin aku ke danau sebentar, ya!” Gabriel hanya mengangguk.
“Ada apa Vi?”
“Semua.. Semua.. Gara gara.. Akuu..”
“Tadi kata Alvin gara gara dia, terus kata Ify gara gara dia, sekarang kamu bilang gara gara kamu?”
“Ini gara gara aku Yell..”
“Ko bisa?”
“Harusnya aku pulang bareng Shilla. Aku dijemput Bagas dan gak bisa bareng Shilla.”
“Terus?”
“Ya.. Coba aja aku pulang bareng Shilla. Jalan bareng.. Mungkin dia gak akan kecelakaan Yel..”
“Vi.. Jangan salahin diri kamu gitu dong..”
“Ini emang salah aku..”
“Enggak Vi.. Enggak..”
“Udah Yel.. Anterin aku ke rumah aku sekarang, bisa?”
“Kenapa enggak?!” dengan sigap Gabriel mengantar Sivia sampai ke depan rumah Sivia.
“Makasih Yel..”
“Lo gapapa Vi?”
“Yeah..”
“Mau gw tem-”
“Gak.. Lo pulang aja..”
“Tapi Vi-”
“No! I’m tired and i want to sleep now!!” kata Sivia ngambek dan masuk ke dalam kamarnya. Gabriel hanya diam dan pergi dari rumah Sivia.

“Kak Via.. Bagas mau-”
“Diem lo.. Keluar..” kata Sivia sensitif saat Bagas ingin masuk ke dalam kamarnya.
“Gw mau iz-”
“Mau ke rumah siapa sih lu? Sono gih.. Silahkan.. Gw capek.. Gw gak mau diganggu.. Keluar sono!!!” Ujar Sivia. Bagas yang mengenali kakaknya kalo udah males itu bakalan jutek memilih untuk keluar saja dari rumahnya itu.

Semua anak sudah berkumpul di kelas. Semua anak kecuali seorang, Shilla. Entah kenapa, genk SISAZ itu menjadi sepi, hening saat Shilla sakit. Gak cuman begitu, Alvin berubah menjadi pendiem dan bahkan Alvin menjadi sensitif sekarang.
“Tumben ni kelas sepi. Biasanya banyak setan berkeliaran..” sindir Salma yang kebetulan disuruh mengambil perlengkapan bu Winda di mereka. Mereka hanya diam tidak menghiraukan.
“Berarti semua udah tobat semenjak si Shilla mati ye?” kata Salma lagi. Dengan serempak, semua anak melihat ke arah DCRAG dan SISAZ yang kebetulan duduk berjejeran di bangku belakang kelas.
“Yaudah gw balik duluan. Ngomong sama patung kali gw..”
“Heh! Tunggu dulu..” kata Agni yang ngomong sambil nunduk.
“Apa lagi?” tantang Salma
“Coba ulangin perkataan lo!”
“Yang mana?”
“Yang paling ngenes..”
“Oh, semua diem gara gara Shilla udah mati ya?”
“Berani banget lo ngomong gitu? Cari mati lo?” kata Agni sinis dengan tangan yang menggupal.
“Cari mati? Mati di tangan Tuhan kak..” kata Salma masih enteng
“Ade kelas songong banget sih lo!” kini Ify membuka suara.
“Masalah banget ya?”
“Pantesan gak punya temen. Kenapa sih lo urusin kita? Mau caper gara gara gapunya temen? Cian amat idup lo!! Keren kagak, preman kampungan malahan keliatannya! Bukan preman malahan, orang udik!” sindir Sivia yang menatap tajam wajah Salma.
“Gw punya temen kali kak!”
“Ga usah panggil kita kak ya! Lo itu gak pantes dan gak pernah gw sama temen temen gw anggap lo sebagai adek kelas. Jangankan itu, kami ngak nganggep lo sebagai warga sekolah ini!” kata Zahra agak kesal.
“Oh gitu.. Shilla keren ya, bisa bikin kalian tambah devil sejak dia udah mati! Hahaha..”
“Lucu ya?” kata Agni
“Banget!!” kini, Agni sudah kehilangan kesabaran, dengan pasti dia menghampiri Salma yang masih ada di depan papan tulis itu.
“Tau gak artinya cari mati?”
“Gak tuh!” jawabnya enteng padahal Agni sudah berada 30cm di hadapannya.
“Shilla belom mati, dan lebih baik yang mati itu elo. Rasain nih tonjokan gu-”
“Ag!!! Cukup!!” kata Alvin menghentikan perkelahian itu. Menghentikan saat Salma ingin ditonjok oleh Agni. Dan kalau kalian jadi anak SISAZ sekalipun, gak akan mau sosok devil dalam diri Agni keluar.
“Cukup? Dia udah ngata-ngatain Shilla Vin!”
“Gue tau, maksud gue, lo jangan serakah.. Kita hajar dia rame rame..” kata Alvin yang berdiri dari bangkunya. Lalu Sivia, Dayat dan Rio dengan sigapnya ikut ke depan.
“That’s a game..” kata Dayat..
“Setuju!! Ga maju Yel, Cakk?”
“Ga usah, I want to wacht the game!!” Kata Gabriel enteng. Mendengar itu, Ify dan Zahra cuman bisa menengguk ludah sanking takutnya.
“Sebelumnya Salma, kita mau kenalin diri. Gw Alvin, sabuk ijo Karate. Ini Agni, gak pernah les bela diri, tapi pernah keroyokin 10 preman sekaligus. Dan ini Sivia, sabuk ijo taekwondo dan private tinju juga. Mau yang mana dulu?” Salma terdiam lalu menunduk.
“Oh ya gw lupa, ini ada Rio dan Dayat. Pernahnya sih ekskul karate sampe sabuk kuning. Tapi, tiap minggu mereka fitness dan main tinju tanpa private.. Mau yang mana? Jangan diem!!”
“Cu..man se…gini?”
“Oh, kurang ya? Yang jago jago di belakang. Gabriel sama Cakka. Gabriel sih, cuman pernah bantuin guru private Sivia ngajarin Sivia tinju. Kalo Cakka sih, cuman sebatas udah lulus karate doang. Udah, itu doang. Cupu cupu kan? Ayo, mau yang mana duluan?” tanya Alvin yang sudah memasang kuda kuda. Dengan sigap, Sivia, Dayat dan Rio juga memasang kuda kuda. Sementara Agni menjauh dan berdiri sambil menyandarkan dirinya pada tembok.
“Ag, gamau dapet jatah?” Tawar Alvin.
“Gausah, gw dessert aja..”
“Siap boss!!”
1 2 3
“Hyaaaaaaa” kata Alvin menonjok papan tulis yang tepat berada di sebelah telinga Salma. Perlahan, Sivia mendekat ke telinga Salma dan berbisik,”Lain kali, kalo mau berantem dan cari ribut sama kita, mending lo pikir itu 2 kali dulu deh..” Sivia langsung memegang dagu Salma dan tersenyum licik lalu berdiri di sebelah Alvin. Sementara Rio dan Dayat menunjukkan wajah protesnya.
“Eh.. Kok?” Kata Dayat heran
“Kalau kita kasih kekerasan ke dia, lo bakalan dapet masalah..” kata Agni santai, Alvin tersenyum licik.
“Ya memang, sayangnya itu sandiwara gw tadi. Dan yang ini asli!!”
BUUGGHHTTT
Sebuah bogem-an keras diberikan oleh Alvin kepada Salma. Immediately, Salma memegang pipinya. Namun dewi fortuna belum berada di pihak Alvin dkk, pa Duta datang dan memarahi Alvin habis habisan.
“Alvin!! Ikut saya ke ruang BP sekarang juga!!” Dengan santai Alvin mengikuti.
Tak lama, Alvin kembali ke kelas dan memberesi perlengkapan sekolahnya.
“What happen Vin?”
“Gue sdi skors seminggu..” jawab Alvin sangat sangat slow.
“Vin?” Tanya Agni heran diikuti oleh tatapan aneh dan tidak terima dari teman teman lainnya.
“No prob guys!! Gue mau jagain Shilla dulu seminggu.. Bye..” kata Alvin tersenyum dan memakai tasnya dan berjalan ke luar kelas.
“Gw cabut, ada yang mau ikut?” Tanya Agni.
“Lo ga gila kan Ag? Ini baru jam 09.48 pagi, nanti ada ujian Sejarah jam 11, dan lo mau balik?” Kata Zahra histeris.
“Gamau juga gapapa kok.. Yang mau ujian disini aja, jujur juga gw belom siap ujian sejarah. Hehe” kata Agni nyengir.
“Gue ikut..”kata Sivia, lalu Cakka dan Gabriel berpandangan sambil berkata,”Gue juga..”
“Yaudah Fy, Ra, Yo, Day, kita cabut dulu, pulang sekolah langsung cabut ke RS, oke?”
“Sipp boss..” jawab mereka kompak..

Bersambung..

Gmn gmn?? Jelek yah??
Maaf deh kalo jelek, udah gitu ngaret lagi-…-
Comment likenya diperlukan yaa..
Mau dibaca tahun 2015 juga oke oke aja tapi jangan lupa L+C
Thanks,
Veby

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: