New Feeds Info – What’s Webtoon? 

Hai semuanya.

Ini saya, veby. 

Iya.

Iya, veby. 

Biar lebih akrab dan nggak pengen terkesan kenal pribadi banget, gue punya nama panggilan blog. 

Cindereby

Hehehehhh

Alay yah? Hehe

Ah gue bingung. 

Udahlah panggil veby aja. 

Line 2000 nih hehehh salken.

Gue cuman mau bilang, saat kalian fikir  gue tak perduli terhadap blog percayalah wordpress ga gua hapus, gua bahkan ga pindah ke wetpet buat nulis cerita. 

Karena satu sisi gue ga faham cara mainnya dan sudah tidak bergairah. You must know, kalo gue udh nulis cerita tuh kemana mana dan pasti panjang takut mager dan takut ga bertanggung jawab hehehe.. 

Jadi, mulai sekarang….

         

          

    
Gue bakalan adain new feeds
Mungkin sesekali cerpen.

 Jujur gue lemah banget bikin cerpen, gue bisanya membuat cerita yg lumayan panjang kek cerbung atau naskah skenario gitu, kalo ngebuat cerpen/drama kurang bisa karena gue belum terlatih membuat suatu cerita dimana konfliknya itu sederhana dan penyelesaiannya bisa diketik kurang dari 2 lembar halaman. 

Sorry gue bener bener gabisa, tapi akan gua coba #najisloveb

Dan jujur akhir2 ini gue lebih suka membaca webtoon. 

Dan… 

       

            

          

           

        

GUE PENGEN BANGET BISA GAMBAR



Karena, gue pengen banget bisa bikin webtoon. 

Gue udah ada 4 alur cerita yg udah siap gue jadiin webtoon kalo gue bisa ngegambar tapi nyatanya sampe sekarang gue belum bisa gambar. 
Daripada menunggu harapan terlalu lama, sementara ini gue akan membuat feeds gue muncul lagi dengan tema feeds gue sekarang akan ada varian lain selain cerita, yaitu

MEREVIEW ISI ISI KOMIK WEBTOON. 

Yah, bukan kesannya spoiler cuman gue rasa banyak yang berpendapat bahwa webtoon itu cerita dengan gambar seksi seksi. Bukan sobat. 

Jadi, webtoon itu kebanyakan authornya korea.

Jadi kalau cover komiknya itu gambar wanita dengan dada yang besar, itu wajar menurut gue. 

Karena.. 

Authornya bukan orang Indo. 

Tapi bukan berarti semua orang korea yang bikin webtoon. Orang Indo juga ada kok, banyak malah. 
Banyak yang menghujat webtoon karena nggak jelas. 



Ekhem.. 

Menurut gua sih

Itu salah lu karena ga faham. 

Karena ingin isi post ini panjang gue akan kasih tau beberapa cara pake webtoon for beginners. 

1. Download Aplikasi Webtoon

Lo harus download, kalo gak ya gak usah. Walau webtoon ada di web, jadi tanpa di download bisa baca,  tapi menurut gue lebih ashoy kalo pake aplikasi. Serius. 

2. Register

Bisa pake acc Line, buat acc webtoon, pake acc facebook ataupun twitter. Kalau gue pake acc Line karena biar kalo hapus webtoon karena penyimpanan yang terlalu besar (terakhir 1.3GB) akun webtoon gue ga akan kehapus. 

3. Buka Webtoon

Ketika kalian membuka webtoon kurang lebih akan ada tampilan seperti ini

Nah kurang lebib seperti itu. 

Sebelumnya gua akan ajari cara dan info apa aja yang harus kalian tau. Yuk kita bahas satu satu dari atas. 

Yang paling atas adalah Iklan. Dalam iklan ini tersedia list webtoon baru atau webtoon populer. Kalau kalian bingung mau baca yang mana baca aja dulu yang ada di iklan itu.

Dibawah Iklan, kita bisa lihat ada Komik Komik Terpopuler. Nah seperti judulnya, ini bisa dibilang komik komik terpopuler/yang sering dibaca di webtoon. Biasanya ini isi dari webtoon yang ratenya lumayan tinggi/paling sering dibaca. Kalau kita klik tulisan ‘Komik Komik Terpopuler’maka akan keluar hal seperti ini.

Nah pilihannya ada dua, hot dan new. Karena ini temanya terpopuler, maka jika kalian memencet tombol Komik Komik Terpopuler, kalian akan langsung muncul di page hot, bukan new. Lalu kalau kalian mau mulai baca dari webtoon dengan peringkat pertama hot di minggu ini silahkan. Tapi jangan ngeluh kalo episode nya sudah bejibun. 
Lalu dibawah komik terpopuler ada Komik Komik Terbaru. Sesuai judul, ini adalah list komik yang baru terbit akhir akhir ini. Bisa dibilang umurnya masih muda, masih beberapa minggu ataupun bulan. 

Kalau sebelumnya langsung terbuka ke halaman hot, sekarang kalau meng- klik tombol baca webtoon baru ya langsung terhubung ke page new. 

Lalu dibawahnya ada webtoon hari ini. Ya seperti namanya ini adalah daftar webtoon yang terbit di hari hari tertentu. Berbeda dengan wattpad dan blog yang update semaunya. Di webtoon ini updatenya harus teratur berdasarkan jadwal, karena sang komikus yang sudah masuk halaman webtoon akan di bayar oleh pihak NAVER LINE sendiri. Kalau kita buka, maka akan muncul seperti ini

Nah, disitu ada jadwal update webtoon dari senin-minggu bahkan webtoon yang sudah tamat. Jadi kalau mau tanya “komik webtoon ada apa aja?”  jawabannya adalah, liat aja di jadwal harian.


Setelah jadwal harian, kita bisa menemukan webtoon favorite. Yah sama berdasarkan namanya, ini adalah daftar webtoon yang sudah kalian klik tombol ‘favorite’. Contoh tomboh favorite :

Ada yang di bagian profil komik seperti

Lihat kan tulisan ‘favorite’ yang ada di atas? Kalau kalian klik tombol itu maka akan berubah menjadi

Fyi kenapa warna abu abu, itu artinya sudah dibaca. Kalau episode nya belum dibaca maka kolomnya akan berwarna putih. 

Dan cara kedua untuk meng-favorite komik di webtoon ada di akhir cerita. Contohnya

Credits; Tahi Lalats

Hubungan Webtoon itu bisa dibilang cuman rekomendasi komik webtoon lain.

Lalu dibawah webtoon favorite ada Genre. Page itu berisi pengelompokan webtoon berdasarkan genre. Isinya kurang lebih seperti ini

Nah kalau kalian mau horror bisa langsung cari di tempat horror kalo mau yang romantis bisa cari di romance. 

Dibawah genre, ada Populer  atau lebih disebut top-list. Jadi selama seminggu/sebulan posisi 1-10 di bagian populer akan berbeda karena tergantung viewers, likers dan perkembangan favorite dan rating. 

NAH! DAN YANG PALING BAWAH ADALAH. 

buat webtoon mu sendiri. 

Jadi gini loh kawan, 

Kalian bisa buat webtoon tapi harus masuk ‘webtoon challenge’ dahulu sebelum terbit di halaman webtoon. Di webtoon challenge kalian bisa update kapan aja, tapi kalian belum dibayar sama pihak NAVER LINE tersendiri. Jadi, kalau kalian sudah membuat komik di webtoon challenge saranku  kalian harus membuat sesuatu yang beda. Karena isi webtoon challenge itu nggak kalah asik dari webtoon resmi. Kalau isi cerita kalian menarik nanti lama kelamaan akan banyak yg view, rate, like dan akhirnya pihak NAVER LINE ngelirik karya kamu dan akhirnya akan dipindahkan ke webtoon resmi dan kamu dibayar deehhh. 

Mau lihat webtoon challenge? Gini caranya.

Klik tombol 3 garis di tampilan paling atas. Akan keluar seperti ini

Nah begitu. Saran gue walaupun terbuasa bahasa inggris jangan ubah profil webtoon kalian ke bahasa inggris karena kalau kalian buat language di webtoon kalian inggris UK jadi munculnya webtoon webtoon yang ada di daerah london, kalo US yg ada di amerika, kalau kalian klik language nya jerman yaaaa webtoonnya ya beneran kayak webtoon karya orang jerman. Transelatean gitu. Intinya mah jangan soalnya kita ini orang indo dan kalau ganti bahasa dan balik lagi ke bahasa indonesia, maka riwayat komik yang sudah kalian baca dan unduhannya akan terhapus begitu saja. 

Isi webtoon challenge kurang lebih begini

Terakhir adalah Terjemahan Penggemar. Di webtoon ini adalah komik karya orang luar yang diterjemahkan orang indonesia menjadi bahasa Indonesia. Beberapa komik di Terjemahan Penggemar ini sudah menjadi webtoon resmi dan sebagaian belum. Dan kalau kalian mau meningkatkan skill bahasa inggris kalian, kalian bisa mampir ke Terjemahan Pembaca dan pilih terjemahan ke bahasa Inggris. 

Nah terimakasih sudah mau mampir dan saya harap saya bisa mereview dan membuat cerita lagi dengan lebih baik. 

Saya kembali aktif karena kalian yang membaca ini. Setiap buka wordpress pasti ada aja orang yang hari ini baca blog saya, dan paling sedikit viewers sehari itu 27 dan visitors 40. Jadi penasaran kalian ini mengharapkan apa dari blog saya? Terimakasih sekali lagi, saya bukan apa apa tampa viewers ini. 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Fate – Part 5 [Last Part // Cerbung IC]

Its very very different. Yeah, different.

-Bogor, Indonesia, 17:30, 2020-
Chelsea membuka mulutnya lebar lebar. Ia tak sanggup melawan kantuknya saat mengerjakan tugas dari sang dosen. Sudah berjam-jam ia berada di perpustakaan namun ia tak kunjung pulang. Ia belum menemukan jawaban dari tugasnya itu. Ia sudah melamun sejak satu setengah jam sebelumnya, tak fokus mencari jawaban tugasnya. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke kost-annya.

Dijalan ia benar benar seperti orang mabuk. Berjalan saja ia merasa sangat sulit. Ia merasakan tak ada tenaga lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk menaiki becak menuju kostannya.

Chelsea tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa. Ia tidak terlalu manja lagi sekarang. Ia bisa mengerjakan pekerjaan rumah, ia bisa memasak, dan ia bisa mengerjakan apapun yang dia inginkan tanpa meminta bantuan kepada orang lain.

Ia sadar bahwa inilah masa depannya. Disinilah ia harus melangkah. Ia sadar bahwa ia tak bisa terus bergantung pada orang lain.

Di dalam becak, ia benar benar setengah tertidur. Ia menaiki becak yang rumah tukang becaknya dekat dengan kostannya.

Hampir saja ia memasuki alam mimpi. Tiba tiba tubuhnya bergetar. Ia merasakan guncangan hebat. Ia terbangun dari kantuknya untuk memastikan keadaan. Tetapi keadaannya memang seperti itu. Iya, seperti itu. Becak itu, ataupun dia, ataupun apapun yang ada disekitarnya bergoyang. Gempa bumi.

“Neng, gempa neng.. Gempa..” ucap tukang becak itu kepadanya. Ia turun dari becak itu dan berlari menuju tempat terbuka. Bukan hanya dia, orang banyak juga berlarian menuju tempat itu. Beramai ramai menuju tempat terbuka dan berusaha menghubungi orang terdekat.

Tetapi tidak ada sinyal sama sekali.

Ia berusaha menghubungi orang orang terdekatnya. Ia berusaha menghubungi orangtuanya, sahabatnya maupun orang yang tersayang namun tak terhubung sama sekali.

Setengah jam gempa itu berlalu dengan guncangan yang dahsyat mencapai 7,6 SR. Bangunan bangunan besar hancur. Untung saja sudah jauh dari kampusnya. Beberapa jalan terbelah dua dan lain sebagainya.

Chelsea sampai di kostan. Ia baru saja mandi dan memakai baju. Dengan handuk yang masih menggantung di kepalanya, ia memasak beberapa buah chicken nugget untuk disantapnya. Saat ia selesai menggoreng, ia menaruh makanan itu di meja sebelah kasurnya.

Tak lama, ponselnya berdering. Tak ada nama orang yang menelfonnya disitu. Ia mengangkat telfon itu.

“Hallo?” ucap Chelsea. Namun, sambungan itu dimatikan oleh orang yang ada di seberang sana. Ia hanya menaikkan bahunya dan melanjutkan makannya.

Ia melanjutkan makannya namun tak lama, ponsel itu berdering lagi. Dengan nomor yang sama, Chelsea mengangkat telefon itu lagi.

“Hallo?” ucap Chelsea lagi. Namun untuk yang kedua kalinya orang itu mematikan sambungan telefon itu.

“Apaan sih iseng banget..” lanjutnya lalu memakan kembali makanannya. Sesudah itu ia menaruh piringnya di wastafel ia mencuci piring itu beserta gelas dan yang lainnya. Ponsel itu berbunyi namun Chelsea belum selesai mengerjakan pekerjaannya itu. Ia mengabaikan deringan ponsel itu.

Setelah ia selesai mencuci piring, telfon itu berbunyi lagi. Kali ini dengan sabar Chelsea menjawab telefon itu.

“Hallo?” ucap Chelsea tak sabaran

“Hai Chel..” ucap seseorang di seberang sana. Chelsea terdiam, tak percaya orang ini menghubunginya lagi.

“Eh.. Iya.. Hai..” ucap Chelsea sedikit gugup.

“Ngg… Saya.. Saya.. ” ucap orang disana tergagu sendiri. “Saya mendengar bahwa di Bogor tadi terjadi gempa bumi dengan skala yang besar. Kamu tidak apa apa?” lanjut orang itu berusaha senetral mungkin.

Saya khawatir..” ucap orang itu melanjutkan kata katanya setelah lama tak ada jawaban dari Chelsea.

“Oh ya?” tanya Chelsea.

“Iya..” ucapnya. “Siapa lagi yang bisa saya khawatirkan selain kamu?”lanjutnya.

“Thank you but.. I’m fine..” ucap Chelsea dengan suara senetral mungkin. Ia mengusap sudut matanya yang secara tak sadar akan tumpah beberapa butiran bening menuju pipinya.

“Hahhh.. Feelin’ happy to hear that..” ucap yang disebrang sana. Chelsea melangkahkan kakinya keluar kostannya. Menuju suasana outdoor ditemani bintang bintang menghiasi langit malam.

“I.. I.. I wanna say… I.. I miss you..” ucap yang disebrang sana lagi. “Sorry saya terlalu lancang untuk berkata demikian tapi-”

“No problem..” balas Chelsea cepat. “I feelin’ it too when i hear your voice again. Its almost five years yeah..” balas Chelsea.

“I’m sorry, I.. I.. I cant be a good friend for you.. I was do a big mistake..” ucapnya.

“No problem and i think isnt your mistake. It is God’s plan, yeah i think..” balas Chelsea.

“Chelsea..” ucap yang disana lagi. “Saya mau minta maaf. Maaf pernah ngecewain kamu, pernah ngebuat kamu kesel, saya emang bukan orang yang terbaik buat kamu. Saya-”

“Sudah saya maafkan dari dulu..” potong Chelsea.

“Kamu lagi dimana?”

“Dirumah ka..”

“Jangan panggil aku kakak, aku ingin kita berteman saja. Panggil nama saya saja..”

“Okay if you want that..” ucap Chelsea. “Im in home, Bagas Rahman Dwi Saputra..” lanjutnya.

“Rumah? Emang lo punya rumah di Bogor? Bilang aja di kostan..” ucap yang disebrang sana yang ternyata adalah Bagas. Mencoba merangkai kaca yang sudah menjadi serpihan beling, berusaha mencairkan itu kembali, mengulangnya dari awal.

“Iyadeh. Lagi di teras kostan..”

“Me too..” ucap Bagas. Keheningan tercipta diluar sana. Keadaan kaku sunyi sepi dan segalanya bersatu.

“Ga nanya..” ucap Chelsea pelan, Bagas mendengarnya hanya tersenyum, gadis ini benar benar memaafkannya.

“Jujur, gue iri sama orang yang ada disana..” ucap Bagas.

“Dimana?” tanya Chelsea.

“Yang ada di balik bulan, orang orang dunia paralel..” jawabnya. “Mereka yang menjadi ‘aku dan kamu’ pasti sedang bahagia..” lanjutnya.

“Ya, saya juga iri..” jawab Chelsea melihat ke arah bulan purnama di langit kostannya. Butiran bening itu mengalir lagi.

“Mereka pasti sedang dinner bareng..” ucap Bagas.

“Mereka lagi ledek ledekan bareng..” jawab Chelsea.

“Ya mereka lagi pegangan tangan..” ucap Bagas lagi.

“Dan mereka lagi merasakan rasanya cinta sejati..”

“Mereka lagi memuji pakaian satu dan yang lain..”

“Mereka menanyakan tugas satu sama lain..”

“Mereka curhat curhatan tentang dosen..”

“Dan yang penting.. Mereka masih pacaran..” jawab Chelsea mengakhirinya. Ia mengusap air matanya yang tak gengsi untuk jatuh.

“Atau mungkin tunangan..” jawab Bagas. Mereka terdiam satu sama lain. Suasana mellow membuat mereka semakin.. Hmm, kalian tahu bagaimana suasananya.

“Can you be-”

“Im sorry i think no..” jawab Chelsea cepat, menghapus air matanya lagi. Ia mematikan sambungan telefon itu dan menangis sejadi jadinya.

“Kenapa sih.. Kenapa..” ucap Chelsea lirih. “Lo dateng disaat yang ngak pas kak..” lanjutnya.

Chelsea memasuki kostannya lagi dan berbaring di atas tempat tidurnya. Menangis sejadi jadinya.

“Kenapa lo baru dateng sekarang..”

“Kenapa lo ngak dateng lima tahun yang lalu..”

“Atau kenapa lo ngak dateng sama gue tahun lalu..”

“Sebelum gue punya ini..” akhir ucapan Chelsea melihat jari manisnya yang sudah dilingkari oleh sebuah cincin.

-2 month a go, Jogjakarta, 12:30, 2020-
Bagas mengangkat toga-nya tinggi tinggi. Ia baru saja lulus kuliah sekarang. Setelah menyelesaikan skripsinya. Ia sekarang lebih aktif dalam bidang tulis menulis cerita dan menyebarkannya di blog pribadinya.

Ia menulis kisah kisah anak SMA Idola, teman temannya dulu.

Ia sedang ada di choco cafe, tempat nongkrongnya sewaktu SMA. Pasalnya, setelah kejadian itu hubungan Chelsea dengan Bagas membaik. Ia dan Chelsea sudah membangun silaturahmi dari awal lagi. Saling sapa saling mengingatkan satu sama lain.

“And thats how i tell to him ’bout… Rhhh gimana ya gue nulis surat ini..” ucap Bagas sedikit frustasi dengan surat lamaran kerjanya sebagai pengacara pribadi perusahaan asing.

Bagas meminum kopinya lagi. Ia menikmati setiap detik di hidupnya sekarang. Ia mensyukuri hal yang harus ia syukuri.

Tiba tiba ponselnya berbunyi.

Oh dari Chelsea.

“Hallo ada apa? Saya sibuk nih..” ucap Bagas bercanda.

“Hmm sedikit menganggu sih tapi ngak apa apa deh. Memang ada apa sih? Kangen ya?” jawab Bagas lagi.

Namun jawaban gadis itu membuat Bagas terpaku. Bagas terdiam. Tak tau harus berbuat apa.

Bagas tak menjawab suara gadis itu. Ia mencerna kata kata yang diucapkan gadis itu.

“Congratulation..” ucap Bagas dengan senyum yang dipaksakan.

Telfon itu dimatikan oleh Bagas. Dan tak lama sms masuk berbunyi. Ya, Bagas tak percaya akan situasinya sekarang.

-Jakarta, 10:45,2020-
Bagas membetulkan dasinya. Ia berkaca pada kamar di rumahnya yang lama.

“Gas ayo..” ucap 2 orang memasuki kamarnya. Ia adalah Fattah dan Salma, teman SMA-nya. Ia mengangguk dan memasuki mobilnya dan menuju suatu tempat.

Tempat itu ramai sekali oleh anak Idola dan teman teman kampus orang itu. Bagas duduk di meja bundar bersama Fattah dan Salma, tak lama datang Difa, Rafli, Marsha, Angel dan yang lainnya.

“Gila gua fikir Chelsea bakalan nikah sama Bagas ternyata enggak..” ucap Rafli kepada kumpulan anak anak itu.

“Gue sih kalo jadi Bagas ngak akan kuat..” ucap Difa.

“Loh harusnya kan kalian mendoakan supaya Chelsea bahagia..” ucap Salma.

“Lo ngak tau sih kalau kita udah cinta terus ditinggal kawin gini rasanya ngak enak..” ucap Fattah, beberapa orang mengangguk mengiyakan. Bagas hanya terdiam, tersenyum sudah berkumpul bersama anak anak Idola.

“Lo sih rese..” ucap Marsha kepada Bagas. Bagas menjawabnya dengan senyuman khasnya.

Oh iya tentang Cindai. Cindai sekarang sudah bekerja di luar negeri maka dari itu ia tak bisa berkumpul bersama mereka.

Tak lama, Chelsea datang dari arah pintu bersama pasangan hidupnya, Aga.

Bagas sadar, orang itu mirip dengannya. Ia sadar Chelsea masih menyimpan rasa untuknya. Ia sadar bahwa Chelsea menjadikan pria itu pelampiasannya.

Chelsea berjalan dari arah pintu menuju panggung dari tempat itu. Semua orang bertepuk tangan, menyorakinya dengan kata selamat. Chelsea terlihat dewasa, tak terlihat seperti anak anak lagi.

Saat Chelsea lewat di sebelah Bagas, Bagas bertepuk tangan. Ia sadar bahwa ia masih mencintai Chelsea. Tetapi, jika ia mencintai Chelsea, ia tak merasa tersakiti atau merasakan apapun. Ia bahkan berharap Chelsea dan pasangannya akan bahagia selamanya. Ia berharap mereka akan menjalani hidup yang bahagia.

Bagas bertepuk tangan dengan senyum tertulus yang pernah ia pasang.

~~~

Anak anak Idola sudah berfoto dengan Chelsea dan pasangannya. Kini tinggal Bagas, Alvin, maupun Debo. Yang pernah mempunyai hubungan dengan Chelsea.

“Selamat ya babe..” ucap Alvin cipika cipiki dengan Chelsea.

“Thanks ko..” jawabnya.

Merekapun berfoto. Bagas hanya memasang tampang normalnya. Sesudah itu Bagas hanya melihat Chelsea. Ia merasakan sesuatu yang sangat ikhlas saat melihat wanita itu mengenakan pakaian pengantinnya.

“Chels, forgeted my mistake to you. Oke?” ucap Debo mengeluarkan jari kelingkingnya. Chelsea menyahutnya dan mengangguk.

Kini Chelsea melihat ke arah Bagas, Bagas hanya tersenyum ikhlas kepadanya. Chelsea melihat wajah itu lalu memalingkannya. Ia tak kuat jika harus menangis disitu.

“Eh kita boleh cium Chelsea sebagai tanda perpisahan ngak?” tanya Alvin.

“Boleh saja, asal dia mau..” ucap pasangannya Chelsea.

Chelsea mengangguk namun saat Alvin dan Debo akan mendekati Chelsea, Aga menghalanginya.

“Tapi harus cium gue dulu..” ucap Aga.

“Yah kok gitu. Ngak adil..” ucap Alvin.

“Itu bukan perjanjian kita dari awal..” ucap Debo.

“Ah ringankan sedikit..”

“Tidak bisa..”

“Boleh ya..”

“Tidak..”

“Kenapa lu pelit banget..”

“Karena-”

Ucapan pasangannya terhenti karena Bagas langsung mencium Aga. Entah apa yang terjadi Bagas malah teringat saat ia masih bersama Chelsea. Kenangan mereka. Suka duka mereka. Semuanya sudah ia jalani dan sekarang ia menyia-nyiakannya. Ia sangat menyesal namun turut berbahagia.

‘Masakan lo ngak enak’

‘Nih gue punya gelang couple kita’

‘Gue takut lo dapet yang baru kak..’

‘Ngak akan kok sayang..’

‘Gue akan setia sama lo..’

‘Gue akan menjadi pasangan yang baik buat lo..’

‘Saya khawatir..’

‘Kamu tidak apa apa?’

‘Aku mencintaimu kak..’

‘Aku sayang kamu..’

‘Jangan lupa balas BBM ku ya..’

‘Jangan lupa makan..’

‘Jangan lupa buka skype tiap jam 7 malem..’

‘I miss you..’

‘Sorry tapi kita ngak bisa ulang semua dari awal..’

Dan yang lainnya. Bagas menyudahi mencium Aga. Ia melihat ke arah Chelsea yang menangis terharu. Ia yakin, baik ia maupun Chelsea masih memiliki perasaan yang sama. Ia masih mencintainya. Ia berhasil membuktikan bahwa ia masih mencintainya. Ia berhasil melakukan tantangan yang diberikan oleh pasangannya. Alvin maupun Debo tercengang.

“Aku emang egois dan konyol.. Aku ngak akan berhenti membuat kamu terkejut dengan sikapku..” ucap Bagas di hadapan Chelsea. Chelsea mengelap matanya lagi. Dan akhirnya mereka berpelukan bersama. Bagas tak berniat mencium Chelsea, hanya membuktikan bahwa ia mencintai Chelsea. Ia masih memiliki rasa kepada gadis ini.

Bagas sadar ini jalannya. This is his fate, his destiny. Seberapapun ia cinta kepada Chelsea, jika Tuhan bilang mereka ngak bisa bersatu, ya mereka tak akan bersatu. Ia mencintai gadis ini sejak lama. Saat mereka masih duduk di bangku kelas 6 SD. Ia masih polos.

Bagas tak menyesal pernah kenal Chelsea. Ia bersyukur penah kenal Chelsea. Penah punya hubungan sama Chelsea. Karena ia sadar tak selamanya apa yang ia ingini akan terwujud. Chelsea mendapatkan pria yang lebih baik darinya dan ia percaya ia akan mendapat wanita yang lebih baik dari Chelsea karena sudah diatur oleh Tuhan. Tetapi walaupun begitu, ia tetap mencintai gadis ini.

You will always be.. My endless love..

Tamat~

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Fate – Part 4 [ Cerbung IC ]

I’m comeback. Sorry for late, i hope you like this story..

nb : sorry for many typo

~~~~~~~~~~

#3 Month Later#

-Kampus UGM, 12:45-
“Ih Bagas..” rengek wanita itu kepadanya. “Kasih tau gue dong ini gimana caranya..” lanjutnya. Bagas melihat wanita itu lalu tersenyum simpul.

“Lo pea banget sih ini aja gak bisa..” balas Bagas.

“Iya nih, otak gue kan memar gara gara ngasih buku catetan lo dulu..” ucapnya lagi. Bagas terdiam, ia tak suka diledek seperti itu. Sama saja mengatakan bahwa ia adalah pecundang, yang membuat celaka seorang perempuan. Ia memang menyukai olahraga tinju, taekwondo, judo, dan lain lain. Tetapi dirinya lemah melihat seorang wanita terluka *eak* apalagi mamanya.

“Bengong lo? Mikirin gue?”

“Walaupun lo the last girl in the earth yang bakal jadi jodoh gua. Gua tetep ogah mikirin lo..” balas Bagas enteng.

“Huihh.. Lo nganggep gue the last girl in the earth juga gue ngak akan mau milih lo..” ucap wanita ini lebih enteng. Bagas diam, dia kalah sekarang.

“Jadi, gimana?” tanya wanita itu lagi. “Gue sih mau mau aja tapi lo bantuin gue supaya gue faham materi semester 1 ini..” lanjutnya.

“Hih, baru semester satu aja gak bisa lo. Mau lulus semester berapa? Tiga puluh?” ledek Bagas kemudian beranjak dari bangkunya. Gadis itu menarik lengan Bagas.

“Gas.. Pliss bantu gue..” ucapnya. “Gue kan udh berkorban banyak buat lo..” lanjutnya. Bagas diam, tak menunjukkan reaksi apa apa.

“Gue kan udah kasih lo catetan lo..” ucap wanita ini lagi. Bagas tetap terdiam.

“Gue kan juga dulu udah pernah rela gak masuk kuliah demi ngejenguk lo waktu kemaren kemaren itu.. Hmmm.. Waktu bulan Oktober..” ucapnya lagi. Bagas tetap diam.

“Dan gue juga yang nemenin lo saat lo lagi kesel, lo lagi marah, lo lagi begadang. Semuanya udah kita jalanin bareng bareng. Bahkan gue ketiduran waktu jam fisika di kampus gara gara malemnya temenin lo ngalong nonton bola. Gue juga rela pake baju merah supaya lo ada temen berbaju merah waktu si Nindy gak masuk. Gue juga rela dateng pagi ke kampus buat nemenin lo ekstra kan? Gue juga setia nungguin lo disamping lapangan sampe lo selesai main bola, gue bahkan rela lo tinggal sebentar supaya lo bisa nganter Salma pulang..” ucap wanita itu panjang lebar.

“Gue juga rela kan nyalin catetan waktu lo sakit. Waktu lo sakit, nyokap lo gak dateng kan? Siapa yang ngejaga lo? Gue.. Gue juga gak ngerepotin lo dengan kemanjaan gue, gue ga manja malah. Dan yang terakhir yang bikin gue malu banget.. Gue berpakaian layaknya banci ke ruang TU supaya tau alamat kos kos an lo, gue mau anterin catatan sama makanan waktu lo sakit. Lo tau kan? Saat gue lari lari kejar kejaran sama satpam kampus, gue dikira banci nyasar, dan ibu ibu TU malah pingsan ngeliat gue? Akhirnya gue buka sendiri tuh data siswa..” akhir gadis itu.

“Lo salah..” ucap Bagas membalikkan tubuhnya. “Sebuah ke-rela-an tidak akan dipamerkan dalam kondisi apapun..” lanjutnya. Gadis itu terdiam.

“Maaf..” ucapnya. “Gue bener bener ikhlas tapi gue ngak tau mau ngerayu lo pake cara apa lagi.. Tapi emang bener kok kita udah laluin semua bareng bareng.. Gue seneng kok, gak terpaksa.. Tapi pliss Gas bantuin gue..” ucap wanita itu akhirnya menyerah. Merayu pria di hadapannya tidak membuahkan hasil apapun.

“Satu hal yang belum pernah kita lakuin bareng..” ucap Bagas gantung. “Makan bareng di tempat yang pernah kita perebutkan di AW..” ucapnya. Gadis itu tersenyum simpul.

“Oke gue terima tawaran lo. Gue ajarin lo, tapi harus di tempat itu. Jam 01.30 ya, gue ke kosan dulu.. Bayy!!” ucap Bagas lalu keluar dari kelas itu. Tak lama, ia muncul lagi.

“Jangan lupa ya, Cindai..”

-SMA Idola, 13:15-
“Gimana kak ujiannya?” tanya pria itu saat sedang minum es campur di kedai kecil dekat sekolah.

“Lumayan susah, soalnya sejarah. Gue paling idiot untuk kategori satu itu..” balas Chelsea. “Lo sendiri gimana?” lanjutnya.

“Mm.. Sejarah sih gampang gampang aja..” ucapnya. “Asalkan tau aja alur, kronologi dan latar belakangnya..” lanjutnya.

“Itu sih gue udah tau..” ucap Chelsea lalu melahap es campurnya lagi. Bulan ini bulan Desember, dimana ulangan akhir membebani kepala siswa SMA Idola dengan soal soal yang tidak hanya berasal dari buku catatan, buku paket, dan buku LKS, tetapi juga mengambil soal dari internet, beberapa kursus yang terkenal ‘The Best’ dan juga pertanyaan logika yang dikuasai oleh umum. Maka dari itu, untuk mendapatkan nilai tinggi di sekolah ini sangat-sangat-sangat sulit.

“Chel!!” hampir seseorang di belakangnya, Chelsea menengok.

“Sha? Oh iya gue lupa.. Sorry sorry..” ucap Chelsea langsung berdiri dari tempat duduknya.

“Eh? Mau kemana kak?” tanya Aga kebingungan.

“Sorry Ga, gue tadi ada janji mau jalan sama Marsha. Sorry sorry, aku lupa banget.. Maaf ya Ga..” ucap Chelsea mengambil buku yang berada di atas meja kedai itu.

“Besok jadi?”

“Iya jadi kok.. By the way, makasih ya Ga.. Aku duluan ya, byee..” ucap Chelsea lalu pergi bersama Marsha.

“Aduh Sha.. Gue minta maaf, sorry..” ucap Chelsea di dalam taxi karena Marsha masih tetap diam dan melipatkan tangannya di bawah dada.

“Duh Sha, gue bener bener lupa kita mau jalan bareng. Sha, pliss maafin gue.. Kita – ”

“Gue nunggu lo di kelas, pas gue selesai dari kantor guru. Kelas udah kosong, gue kira lo ke toilet Chel. Udah gitu, gue ke toilet dan gak ada lo, toilet lantai 1-3 Chel, bahkan semua toilet SMA udah gue datengin dengan jarak yang jauh banget antar toilet..” ucap Marsha tetap dengan posisinya.

“Ya gue bener bener lupa Sha, gue – ”

“Dan lo tau, gue ke kantor guru, gue malu maluin muka gue dengan nanya apakah ada guru yang lagi nyuruh Chelsea sesuatu. Ternyata enggak, terus gue ke perpus, yang lo tau jaraknya berapa jauh Chel. Dan lo gak ada juga disana. Dan kemudian, gue ke kantin keliling keliling nyariin lo, lo tetep gaada..” ucap Marsha seakan benar benar menderita saat ini.

“Gue – ”

“Lutut gue pegel Chel, gue hampir mau pingsan. Dan yang terparah adalah.. Kak Misel, yang dulu ngejar ngejar Kak Bagas, bahkan sampe sekarang, dateng ke sekolah buat jemput adiknya. Dan dia sapa gue, tanya hubungan lo sama Bagas, gue jawab baik baik aja. Dan lo tau dia bilang apa, dia bilang lo lagi jalan berdua sama cowo, mirip Bagas tapi di seragamnya terpampang jelas tulisan kalo dia kelas XI dan mereka makan di kedai depan sekolah..” akhir Marsha agak sinis. Chelsea terdiam, dan meluruskan posisi duduknya sembari menunduk.

“Lo ada masalah ya cerita dong sama gue Chel. Gue selalu siapin kuping buat lo. Ngak dengan menjadikan Aga pelampiasan lo..” ucap Marsha lagi.

“Maaf..” hanya kata itu yang keluar dari mulut Chelsea.

“Lo liat deh hasilnya. Lo pulang bareng dia terus, lo ngak ada waktu buat jalan sama gue, lo makan sama dia yang sebelumnya lo nolak tawaran makan sama gue. Lo lebih sering smsan atau bbman atau apa aja sama dia, ketimbang Ka Bagas. Ka Bagas masih pacar lo Chel, gimana sih sekarang hubungan lo sama dia? Masih aman? Dengan cara lo sembunyi sembunyi gitu? Dan asal lo tau, nyokap lo sering bbm gue dengan nanya, Chelsea punya pacar baru ya? Kok gak dikenalin ke tante? Kok gak pernah masuk ke rumah? Kok ngak kayak waktu dia pacaran sama Bagas? Dia udah putus sama Bagas? Dan gue hanya bisa jawab bahwa Aga temen sekelompok yang rumahnya deket sama rumah lo..” ucap Marsha. “Sekarang jelasin gimana hubungan lo sama Ka Bagas..” lanjutnya.

“Ngg.. Gue juga.. Bingung..” ucap Chelsea pelan. “Gue masih berhubungan sih, tapi ngak seerat dulu. Cuman ngeline udah makan apa belum, terus nanya lagi apa, terus selanjutnya gak gue baca atau dia read aja. Seakan Ka Bagas gak ngerasa kehilangan gue. Dia seakan gak apa apa ngak gue bawelin atau apapun itu namanya.. Dan dia ga pernah nelfon gue lagi. Bahkan pernah seminggu gak kasih kabar dan antara gue sama dia gak ada yang khawatir. Lo tau, Aga seakan membuang posisi Bagas selama itu. Gue rasa Ka Bagas selama ini itu masih labil suka sama gue apa enggak. Apa dia lagi sama cewe lain disana selama gue bareng Aga? Gue gatau harus apa Sha, gue seakan ngikutin alur dan tiba tiba gue jadi begini.. Bahkan 3 minggu ini gue bener bener ga ngapa ngapain sama Ka Bagas..” ucap Chelsea mengeluarkan uneg unegnya.

“Oke..” ucap Marsha mengambil kesimpulan. “Minggu depan lo ikut gue..” lanjutnya.

“Ikut? Kemana?”

“Gue dapet tiket gratis ke Jogja naik pesawat.. Mama papa gue lagi sibuk dan gue gabisa ajak mereka.. Let’s try it together..” ucapnya. Mata Chelsea berbinar.

“Lo serius?” tanya Chelsea memalingkan pandangan ke arah sahabatnya yang sedang tersenyum itu.

“Gue serius..” ucapnya. Kemudian ia membuka tasnya dan mengeluarkan dua buah lembaran kertas. “See? Gue punya dua, bahkan tiga sebenernya..” lanjutnya menunjukkan tiket itu pada Chelsea.

“Lo menang kuis? Atau sayembara? Atau?”

“Gue beli lah dodol..” ucap Marsha. “Mumpung diskon, ya penawaran olshop gitu..” lanjutnya.

“Lo emang bener bener maniac banget ya sama olshop sampe sampe beli tiket aja olshop..”

“Jujur, ini sebenernya hadiah dari olshop itu. Yaa, gue dianggep pelanggan setia dari tahun lalu yang setiap bulan selalu belanja disana minimal 3 barang..” lanjutnya. Mereka kemudian tertawa bersama dan kembali akur lagi sampai akhirnya sopir taxi itu memberhentikan mereka di salah satu Mall terkenal di Jakarta.

-A&W Jogjakarta Plaza, 13:30-
“Hai Ndai.. Udah lama nunggu?” ucap pria itu langsung duduk di depan wanita itu, di tempat yang ia minta.

Wanita ia melihat ke arah Bagas sebentar, lalu berkata,”Eh enggak kok..”

“Yaudah lo mau makan apa?”

“Makan?” tanya wanita itu heran. “Bukannya lo ngajak belajar?”

“Tapi gw sekalian mau makan..” ucap Bagas. “Jadi, lo mau pesen apa?”

“Ah, gue gak usah..”

“Yaudah kalo gitu disamain aja ya..” ucap Bagas lalu berdiri dan menuju kasir. Wanita itu hanya geleng geleng kepala, melihat kelakuan teman SMPnya yang masih kekanak-kanakan.

“Nih..” ucap Bagas datang dari arah kasir.

“Gue bilang kan gausah..”

“Yah, udah sempet gue beli.. Gimana dong?” tanyanya.

“Dasar lo..” ucap wanita itu lalu mengambil sepaket ayam, pepsi, kentang, dan juga Float dari talenan itu. Pesanan mereka sama.

“Jadi, ini gimana Gas?” tanya wanita itu.

“Oh ini.. Ini tuh cuman lo kali aja baru lo bagi sama yang ini. Terus lo ambil dua desimal dibelakang koma, terus yang ini lo akarin dulu, baru lo kaliin sama yang ini. Terus ini dikali, di eliminasi, dan itulah jawabannya..” ucap Bagas ringan sambil menunjuk angka yang dimaksud.

“Hmm..” ucap gadis itu sebentar, lalu mencerna perkataan Bagas.

“Tadi yang ini dikali sama yang mana?” tanya wanita itu lagi.

“Ini..” jawab Bagas.

“Oh gitu.. Terus yang ini..”

“Diakarin baru dikali ini..” jawab Bagas. Mereka kemudian makan bersama dengan kesibukan masing masing. Wanita itu mulai mengerjakan soal, dan pria itu mengeluarkan ponselnya.

1 New Message
From : 081234567890
Hoy, gue punya berita penting -misel

“Misel?” tanya Bagas pelan. Wanita itu melihat ke arahnya.

“Apa?” tanya wanita itu lagi.

“Enggak ini Diego Misel masuk berita..” ucap Bagas ngarang banget. Wanita itu hanya ber-o-ria. Akhirnya, Bagas membalas pesan itu.

To : 081234567890
Ap? Lo tau nomor gue dr siapa?

Bagas kemudian membuka mengunci kembali layar handphone-nya. Tak lama, handphonenya bergetar lagi.

From : 081234567890
Gue tau dari anak anak alumni. Beritanya adalah, pacar lo, Chelsea, gue liat lagi makan berdua sama anak kelas XI, di kedai depan sekolah. Lo masih taken kan? Kok dia bisa bisanya begitu?

DEG!!
Jantung Bagas berdegup kencang. Ia baru ingat akan Chelsea, sekarang.. Sejak 3 minggu lalu ia tidak menghubungi Chelsea lagi, begitupun juga Chelsea.

“Ngak mungkin..” ucap Bagas pelan lalu memasang earphone ke telinganya.

“Sedikit lagu bisa ngebuat gua ngerasa nyaman..” ucapnya lagi.. Tetapi, ternyata tidak.. Lagu ini, adalah lagu yang sering mengingatkannya kepada Chelsea. Atau ini adalah lagu terakhir yang ia dengar sebelum ia membuka playlist lagu lagi. Atau lebih tepatnya, lagu yang belum selesai ia dengar, sekarang ia dengar lagi.

Aku disini dan kau disana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa
Meski kau kini jauh disana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun kau dekat di hati
Jarak dan waktu takkan berarti
Karna kau akan selalu di hati
Bagai detak jantung yang kubawa kemanapun ku pergi
Oh oh oh

“Stop.. Hentikan..” ucap Bagas. Ia mematikan pemutar musik di ponselnya dan meyakini bahwa semua baik baik aja.

‘Sekarang mungkin masa masa Chelsea ulangan. Mungkin dia sibuk dan tidak bisa menghubungi gue sekarang..’ ucap Bagas dalam hati. Dia lalu melihat ke arah wanita yang sedang berkutat dengan tugasnya itu.

‘Semacam ngak rela ninggalin Chelsea, dan semacam tidak rela melepas wanita ini..’

-CityWalk Sudirman, 15:50-
Gadis ini bersama temannya memasuki kawasan tempat makan. Ia hanya memesan sebuah beef burger dan float kesukaannya. Berbeda dengan temannya yang membeli spagethi dan milkshake kesukaannya. Mereka duduk di salah satu bangku dengan banyak kantong plastik di tangan mereka.

“Masih jam 15.53 Chel..” ucap gadis berkacamata kepada sahabatnya, Chelsea. “Kok kita cuman 2 jam ya belanjanya?” lanjutnya.

“Hah serius?” ucap Chelsea mengecek ponselnya. “Dih iya ya, biasanya 3 jam juga terlalu cepet..” lanjutnya.

“Ngg, gimana Chel?” ucap Marsha kepada Chelsea yang sedang menyantap beef burgernya.

“Apanya?” tanya Chelsea.

“Lo mau kan ikut gue kesana?”

“Ya mau lah.. Mau banget malah..”

“Lo gak kabarin Ka Bagas dulu?” tanya Marsha hati hati. Gadis ini terdiam, berfikir keras memutar otaknya. Pertanyaan ini lebih sulit daripada ulangan sejarahnya.

“Kenapa sih Chel?” tanya Marsha lagi. “Lo ngak suka kalo Ka Bagas harus tau?” tanyanya lagi.

“Sebaiknya enggak..” ucap Chelsea tanpa berfikir dahulu. “Eh, gimana ya? Yaudahlah gausah.. Biarin aja, gue juga ngak terlalu pengen disambut kok..” lanjut Chelsea. Marsha mengangguk mantap lalu pandangannya beralih pada ponsel Chelsea.

“Jadi, lo tetep ga mau hubungin Ka Bagas?” tanya Marsha lagi. “Selama 3 minggu ga kasih kabar?” lanjutnya.

Chelsea hanya mengangguk sambil berkata,”Sebaiknya enggak deh..”

“Kenapa?” tanya Marsha cepat.

“Gak tau sih..”

“Jadi lo pilih Ka Bagas apa Aga nih?” tanya Marsha. Chelsea terdiam, tak melakukan apa apa, ini pertanyaan yang lebih sulit daripada pertanyaan sebelumnya yang lebih sulit dari ulangan sejarah/?

“Gue masih sayang sama Ka Bagas. Hanya saja, Aga terlalu mengerti perasaan gue sekarang. Dia seakan berniat mengubahnya..” ucap Chelsea dengan suara tegar.

“Jadi..”

“Hati gue seluruhnya hanya ada Ka Bagas. Mungkin hanya 2% atau 3% untuk Aga sebagai penghibur..” ucap Chelsea datar. Marsha mengangguk dan mereka makan bersama lagi.

My love..
There’s only you in my life
The only thing that’s right

My first love
You’re every breath I take
You’re every step I make

And I
I want to share
All my love with you
No one else will do

And your eyes (your eyes, your eyes)
They tell me how much you care
Oh, yes
You’ll always be
My endless love

Two hearts
Two hearts that beat as one
Our lives have just begun

And forever (forever)
I’ll hold you close in my arms
I can’t resist your charms

And I
I’d play the fool
For you, I’m sure
You know I don’t mind
(No, you know I don’t mind)

And yes baby
You mean the world to me
I know I’ve found in you
My endless love

And love
I’d play the fool
For you, I’m sure
That you know I don’t mind
(Whoa, you know I don’t mind)

Oh, yes
You’d be the only one
‘Cause no, I can’t deny
This love I have inside
And I’ll give it all to you
My love (my love, my love)
My Endless Love..

Lagu ini berputar dengan sendirinya di otak wanita ini. Teringat saat terakhir ia bertemu dengan pria pujaan hatinya, Bagas, dengan perasaan yang sumringah karena ia dijaili dengan cara diputusin. Ia lalu diam saja, dengan burger yang masih ia genggam, hampir mau ia masuki ke dalam mulutnya. Marsha menyadari perubahan sikap wanita itu langsung melambai lambaikan tangannya di depan wajah gadis ini.

“Eh..” ucap Chelsea tersadar dan langsung menunduk. Ia sedikit meneteskan air matanya, rasa rindu yang ia rasakan sekarang sangat sakit. Sangat menyiksa dirinya sekarang.

“Chel? Lo.. Kenapa?” tanya Marsha khawatir melihat raut wajah Chelsea.

“Pulang yuk Sha..” ucap Chelsea dan ia menghabiskan burgernya sesaat. Ia kembali mengambil barang barang belanjaan dan berjalan sambil meminum floatnya. Marsha hanya mengikutinya pasrah karena tau bagaimana suasana hati sahabatnya sendiri.

‘Gue yakin lo setia kok.. Maafin gue ya kak..’

-Jl. Malioboro, 16:30-
“Gue kenapa?” ucap Bagas pelan saat ia tiduran di atas kasur kosnya.

“Gue kok jadi kepikiran Chelsea?”

“Dia gimana sekarang?”

“Apa kata si Misel bener ya ?”

“Tapi ngak mungkin.. Dia udah janji ke gue bakal jaga hati..”

“Apalagi dia kan gak suka ade kelas..”

“Hm..” ucap pria itu menghembuskan nafas beratnya. Ia kemudian meraih ponselnya.

“Akun sosmed gue banyak tapi yang gue pake cuman whatsapp..” ucapnya meratapi layar ponselnya tanpa menyentuh tombol apapun.

“Dan itu buat berkomunikasi sama Cindai..” lanjutnya. “Bukan Chelsea..” ia kemudian mengunci layar ponselnya dan menaruh ponselnya disampingnya.

“Udah 3 minggu gue ga ngasih kabar ke dia..”

“Dia juga tapinya..”

“Tapi.. Apa dia bener bener masih anggep gue?”

“Hmm..” ucapnya lagi. Kemudian ia membuka kunci layar ponselnya dan membuka akun LINE..

Ia melihat nama itu terpasang dalam kontak paling bawah itu, tenggelam diantara chat broadcast ‘Get Rich’ ataupun ‘Cookie Run’. Sudah lama tidak bersapa sapa lewat LINE, sudah lama tak menyebar sticker, tak menelfon gratis via LINE, tak memberikan voice note, dan rasa kangen itu datang. Bahkan lebih besar dari rasa kangen yang biasanya. Ia kemudian membuka percakapannya dengan gadis itu.

“Hai..” ucap Bagas sambil mengetik kata itu pada kotak pengirim.

“Eh, jangan..” ucapnya lalu menghapus kalimat itu.

“Hoy apa kabar?” ketiknya lagi..

“Jangan deh jangan gitu..” ucapnya lalu menghapusnya lagi.

“Chel? How are u?” ketiknya lagi. Ia menggelengkan kepalanya lalu menghapusnya lagi.

“Hmm..” ucapnya lalu menarik nafasnya.

“Kalau gua chat dia duluan, ntar dia read doang..”

“Masa gua chat duluan sih? Harusnya dia dong yang chat ke gue duluan..” ucapnya dengan gengsi tinggi. Darimana perasaan gengsinya itu? Entahlah, pria itu juga bingung. Ia lalu mengunci lagi layar handphonenya dan membantingnya sebentar ke sisa wilayah kasur disebelahnya.

“Gue belum siap..” ucapnya lalu mengusap mukanya dengan kedua tangannya. Tak lama, terdengar bunyi bahwa ia mendapatkan satu percakapan. Ia berharap bahwa itu adalah pesan dari Chelsea. Ternyata salah, itu adalah pesan dari Cindai.

“Thx ya Gas, udah ajarin gue..” ucap Bagas membaca isi Whatsapp dari Cindai.

“Huh.. Chel..” ucap Bagas mengeluh sebentar.

“Gue gatau harus ngapain sekarang..” ucapnya lagi. Lalu membalas pesan dari Cindai itu.

-One Week Later-
Bagas dan Chelsea, masih dalam rasa gengsi yang tinggi. Dan akhirnya masih belum mengabari satu sama lain. Sampai akhirnya, Chelsea ikut dengan Marsha liburan ke Jogja, tempat Bagas menuntut ilmu. Dengan perasaan yang degdegan ia melangkahkan kaki menuju hotel tempat ia dan Marsha menginap.

Chelsea menikmati itu, suasana santai dan damai tercipta disana. Tanpa memikirkan Aga ataupun Bagas, ia hanya memikirkan dirinya sendiri yang sudah kelelahan memikirkan kedua orang itu.

“Chels sorry.. Ready?” ucap Marsha membangunkan Chelsea dari bawah selimutnya.

“Must now?” jawab Chelsea dengan malas. “Give me time for 30 minute again..”lanjutnya.

“Please.. You’re the best bestie i ever have!”

“Arhh, okey..” ucap Chelsea lalu bangkit dari atas kasurnya dan bersiap siap untuk berbelanja dengan Marsha. Ia rencananya akan ke Jogjakarta Plaza, dengan Marsha untuk melihat lihat koleksi batik disana.

Chelsea dan Marsha datang dengan suasana menaikkan derajat mereka. Hot pants, black long cardigan, crop tee without tanktop? That’s their style! Sangat terlihat bahwa mereka adalah anak ibukota, bukan anak daerah. Berbeda dengan sekitar mereka, kaos dan jeans panjang? Uhh, disgusting, pasti itu pemikiran anak SMA Idola jika melihat mereka. Karakter Chelsea yang memang sedikit high class, membuat sikapnya menjadi sedikit sombong. Ia dan Marsha, berkeliling mall dengan wajah wajah bersukanya. Pergi ke Minimal Store dengan komen ‘Ini edisi 2 bulan lalu di Citywalk’ atau pergi ke outlet Nike dengan komen ‘Flykit ngak se kusut ini, kawe ya?’. Marsha hanya bisa menggelengkan kepalanya karena tujuan mereka awalnya hanya ingin membeli batik. Tapi, yah namanya juga Chelsea, pasti mampir sana sini membeli sesuatu yg sudah pasti bisa ia dapatkan di Jakarta. Ummm, shopaholic.

Sesudah puas berbelanja hal hal yang tidak penting, akhirnya Chelsea dan Marsha pergi ke McDonald’s, salah satu tempat makan favorite mereka. Disana, Chelsea masih berlagak layaknya ratu -efek antara berpisah dengan Aga atau merindukan Bagas- sehingga ia ingin menunjukkan bahwa ia itu ada. Marsha mengerti akan hal itu karena Marsha tidak tau apa yang harus ia lakukan jika di posisi Chelsea. Satu sisi salah tapi nyaman, satu sisi masih sayang tapi ngak nyaman. Marsha terus berpikir apa yang harus ia lakukan sampai akhirnya, Chelsea berteriak,”This is fuck.. I hate you!”

Marsha menengok ke arah Chelsea, begitupun kasir mcd, karena hanya ada mereka disana, tak ada pembeli yang lain. Marsha melihat sesosok pria pujaan hati sahabatnya itu, Bagas, sedang lunch dengan wanita lain. Yang bukan Salma. Tetapi seperti… Cindai!

Marsha mendekati Chelsea dan kepo dengan apa yang terjadi. Marsha semaikin dekat dengan sosok itu dan ternyata benar, Cindai disitu. Ia sedang ‘lunch’ dengan Bagas yang menampakkan muka sangat bersalahnya.

“Jadi 3 minggu ga ngasih kabar begini?” ucap Chelsea datar tetapi sinis. “Gue kira lo bakal save gue kak.. Lo bakal pertahanin gue..”

“Sorry..” ucap Bagas menunduk, tak berani menatap Chelsea.

“Sorry? Cih!” Chelsea membuang muka “Gue dorong lo ke jurang lalu hanya membalas dengan kata sorry tetep dosa kan? Tetep SAKIT kan?” lanjutnya dengan penekanan pada kata ‘sakit’

“Gue ngak bisa nahan..”

“Apa?”

“Gue.. Gue ngak bisa nahan..” Chelsea langsung menghampiri Bagas dan sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bagas.

“Basi lo!” ucap Chelsea sambil menahan air matanya.

“Endless Love? Makan tuh endless love!” lanjut Chelsea. Ia menatap Bagas dengan tatapan ingin menerkam Bagas detik itu juga.

“Lo kok bego ya? Jelas jelas lo yang sms gue suruh gue cepet cepet tamat SMA supaya bisa satu kampus sama lo.. Tapi.. Lo begini?” ucap Chelsea tak menyadari butiran halus kecil itu berjatuhan.

“Gue cuman suka lo Chel, ngak ada yang lain.. Gue cuman cinta lo, lo cinta pertama gue Chel.. Lo ngak akan tergantikan.. MANA WOY MANA?” ucap Chelsea dengan sedikit mendorong tubuh Bagas ke belakang. Bagas masih terdiam dari bangkunya. Ingin berdiri, tak kuasa melawan anak itu.

“Maaf..”

“Ah bedebah lo!” ucap Chelsea sambil menampar Bagas lagi.

“Gue ngak bisa tahan Chelsea. Cindai selalu ada buat gue, terus lo? Lo apa? Bahkan kata Misel lo jalan sama adik kelas..” bela Bagas. Chelsea terdiam, ia merenungkan kata kata itu sebentar dan melamun lama.

“Ikut gue..” ucap Bagas sambil menarik Chelsea keluar.

“Ngak..” ucap Chelsea menepis tarikan itu. “Jangan pegang pegang gue, lo hina bagi gue!” lanjutnya.

“Sekarang..” ucap Bagas mencoba melembut.

“Ga! Haram!”

“Sekarang Chelsea!” ucap Bagas tetap mencoba lembut namun sedikit tegas, lalu mencoba meraih tangan itu dan.. Dapat!

“GA MAU!” teriak Chelsea sedikit memberontak namun genggaman itu diperkuat oleh Bagas.. Terlihat beberapa pelayan mendekat ke arah mereka, dengan wajah kebingungan mencari alasan. Alasan untuk tidak ribut karena mengganggu pengunjung yang lain? Hey, disana cuman ada mereka berempat!

“Saya bayar semua kekacauan ini. Kembalilah!” ucap Bagas melihat raut pelayan itu yang sudah penuh mencari alasan. Pelayan itu mengangguk lalu berbalik ke belakang kasir. Beberapa pelayan yang lelah karena memang tak seorangpun datang kesana, malah menyaksikan adegan yang seperti telenovela itu.

“Lepas!” ucap Chelsea membuang kasar genggaman Bagas.

“Ga! Ikut gue..” Bagas meraih lagi tangan yang sempat tertepis itu.

“Gue bilang lepas ya lepas..”

“Ga.. Ikut gue..”

“Lepas!”

“Gak!!”

“Lo ngapain sih kurang kerjaan udah tau lo milih dia masih pegang pegang tangan gue. Lo ngak takut PACAR KEDUA lo cemburu?”

“Dia bukan siapa siapa gue.. Ayo ikut gue..”

“Bukan siapa siapa? Lo liat dia? Dia makan sama lo! Apa lo pernah ajak gue makan bareng? Pernah sih, sering. Tapi itu dulu. ATAU.. Tangan yang biasa lo pake untuk ngusap tangan gue sekarang lo lakuin ke dia?”

“Chelsea diem! Ikut aku sekarang!”

“Atau sekarang kata kata manis lo dikasih ke dia?”

“Chelsea-”

“Atau lo malah ngehibur dia dengan kata kata ‘endless love’ atau kalimat lainnya?”

“Chelsea-”

“Atau lo nyanyiin dia lagu tiap hari di kafe kafe atau di kampus, layaknya anak alay yang lagi pacaran?”

“Chel please-”

“Atau lo jadi tukang ojeknya? Disetiap saat harus nganter sana sini?”

“Chelsea-”

“Atau lo malah suap suapan sama dia?”

“Chelsea. Ayolah gua mohon-”

“Lo mau mohon apa sih sama gue? Mau mohon ninggalin gue demi dia?”

“Chelsea.. Please-”

“Atau lo mau ngegantungin gue?”

“Chel-”

“Atau lo mau macarin kita berdua sekaligus?’

“Chel, lo – ”

“Lo liat doang.. Gue, dengan gaya gue yang begini dibandingin sama dia? Dia? DIA?” ucap Chelsea sambil menunjuk Cindai dengan tatapan penuh hina. “Gue rasa ngak seimbang.. Dia 99% dibawah gue..”

“Jaga omongan lo! Lo belajar ngomong gitu dari mana? Siapa yang ngajarin lo begitu?”

“Waktu yang ngajarin gue! Waktu yang kasih gue kata kata buat cowo sok keren kayak lo, yang malah milih cewe kayak dia..”

“Emang salah?”

“Apa lo bilang? Emang salah? Apa maksud lo hah? APA? Lo tetep mau sama cewe murahan kayak dia? Atau lo-”

“Cukup..” ucap Cindai berdiri dari bangkunya. Terlihat matanya merah karna menangis, entah kenapa.

“Gue ngak butuh apa apa lagi dari lo Gas.. Makasih!” ucap Cindai langsung pergi dari tempat itu.

“Cindai, jangan pergi.. Aku bisa jelasin, ini semua-”

“Aku kamu? Duh ileh, sweet banget lo kak. Bahkan sama gue aja cuman 0,1% lo pernah ngomong aku kamu..”

“Chelsea, jaga omonganmu ya..”

“Baguslah dia pergi, berarti dia tau diri..”

“Chelsea-”

“Kalau lo masih punya otak. Murahan gitu lo save. Lo punya-”

PLAKK

Bagas refleks menampar Chelsea seketika. Chelsea terdiam, memegangi pipinya itu. Marsha kaget sekali dengan kejadian itu. Ia langsung pergi mencari Cindai untuk meminta maaf tentang kelakuan Chelsea.

“Lo.. Lo..”

“Maaf Chel.. Maaf..” ucap Bagas sangat menyesal dan mencoba memegang pipi Chelsea.

“Lepas! Jangan sentuh!”

“Tapi Chel.. Tapi..”

“GUE BILANG JANGAN SENTUH GUE, FUCK!”

“Lo belajar kata kata itu darimana? Come on, my little sweety Chelsea, where are you? Mana kamu yang dulu manis saat kelas 7?”

“Gue bukan ORANG BODOH yang waktu kelas 7 sering ditipu, dikerjain, bahkan diboongin!”

“Chelsea..”

“Mau ngomong sama gue? Ga pake basement basement! Gue pergi sekarang dan gue gamau ketemu sama lo lagi!” ucap Chelsea pergi dari sana. Bagas terdiam, lalu mengejar.

“Mas!” teriak pegawai disana. “Uangnya bel-”

“Nih. Kembaliannya ambil..” ucap Bagas menyodorkan 5 buah kertas seratus ribuan di atas meja.

-Keesokan harinya-
Bagas kembali bimbang. Ia bertanya setengah mati pada Marsha dimana hotel tempat mereka menginap, tetapi Marsha hanya diam. Tidak memihak siapa siapa. Dan Cindai, hanya diam dan menjauh darinya. Sudah hampir sehari, ia menjalani hal ini. Waktu menunjukkan pukul 17.00 sore, iapun nekat pergi ke bandara dan meraut raut informasi tentang paket travel atas nama Marsha dan Chelsea, manatau mereka mencari hotel dari bandara. Dan yap! Bagas mendapatkannya.

Jogjakarta International Hotel. Bagas berdiri tegak didepan hotel itu. Dan ternyata itu adalah hotel tempat Chelsea dan Marsha menginap. Bagas menuju receptionist dan menanyakan soal pengunjung bernama ‘Agatha Chelsea’ tetapi tidak ada.

“Bener bener ngak ada mbak?” tanya Bagas lagi dengan penuh harap.

“Maaf mas, tetapi disini tidak ada pemesan dengan nama Agatha Chelsea..” ucap mbak mbak receptionist itu.

“Yakin mbak? Coba check lagi. Manatau – ”

“Tidak ada mas. Saya daritadi sudah ngecheck 5 kali dan hasilnya tidak ada..” ucap pelayan itu dengan sabarnya.

“Hmm..” ucap Bagas pelan. “Kalau Videmarsha?”

“Videmarsha? Coba sebentar saya cari..” merasa ada harapan, wajah berseri telah tersiur di wajah Bagas. Ia benar benar berharap bahwa usahanya tak akan sia sia..

“Videmarsha penumpang dari Djakarta Airlines? Kalau itu ada mas. Penumpang yang memenangkan ticket voucher hotel ini..”

“Mungkin itu mbak. Ada di kamar berapa?”

“603..” ucap mbak mbak itu ramah.

“Itu dimana ya mbak?”

“Lantai 7 mas..” ucap mbak mbak itu. Bagas menelan ludahnya. Lantai 7? Rhh, telalu tinggi. Tetapi ia tetap optimis dan berjalan menuju lift hotel itu.

“Mampus sial..” ucap Bagas perlahan karena liftnya masih di lantai 20 dan lift itu berkapasitas maksimum 10 orang. Bagas melihat sekitarnya. Banyak orang yang ‘tiba tiba’ datang menggerumpul di dekat lift sekitar 20 orang.. Bagas berdecak kesal. Bagaimana ia bisa cepat sampai disana. Dan dengan tekadnya yang besar, ia akhirnya menaiki tangga mencapai lantai 7.

Bagas sampai di lantai 7 dan tepat sekali Marsha baru keluar kamar untuk menaruh baju untuk di laundry oleh hotel ini.

“Sha..” teriak Bagas dengan setengah ngos ngosan. Marsha melihat ke arah Bagas dan kaget bukan main. Bagaimana bisa Bagas ada disini?, fikirnya.

“Ka.. Ba-gas?” Marsha menaikkan sebelah alisnya, heran.

“Chelsea.. Chelsea mana..” ucap Bagas. Chelsea

“Di.. Dalem..” ucap Marsha masih bingung. Bagas langsung masuk ke kamar hotel Marsha dan Chelsea. Terlihat jelas disana Chelsea sedang duduk di kursi makan dengan bubur ayam di depannya. Tatapannya kosong. Ia hanya mengaduk aduk bubur itu tanpa memakannya.

“Sakit tu anak, malem malem makan bubur..” ucap Bagas pelan. Lalu Bagas menghampirinya, ia mendekati Chelsea dan duduk di hadapannya. Chelsea kemudian tersadar dari lamunannya.

“Rhh..” gerang Chelsea sambil menggerakkan tangan di depan wajahnya. Berharap bahwa di depannya adalah banyangan Bagas tapi itu benar benar Bagas. Chelsea menghela nafas beratnya. Ia menutup matanya dan perlahan tangannya menjalar ke depan, menuju wajah Bagas. Sedikit lagi dan.. Arhh, itu bukan bayangan. Itu adalah Bagas yang asli. Ia sedang menyentuh hidung dan bibir Bagas yang sudah sangat jelas ia hafali bentuknya. Chelsea membuka matanya. Dan mengaduk kembali buburnya dengan tampang tenang.

“Chelsea.. Aku mau ngomong..” ucap Bagas lalu menggenggan tangan Chelsea.

“Apa?” ucap Chelsea dan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Bagas.

“Pertama, maaf sedalem samudra lebih gue minta maaf. Bahkan diukur dari atas pesawat sampai dasar palungpun kata maaf gue lebih dalam..”

“Oh..”

“Gue tau lo bete, tapi please.. Gue ngak bisa tinggalin dia..” Chelsea membelakkan matanya, kata kata yang keluar dari mulut Bagas bagaikan pisau yang mengiris iris perasaannya saat itu juga.

“Gue udah dapet dare untuk ngejagain dia..” lanjut Bagas. Chelsea mengelap air matanya, sebentar, lalu menatap Bagas lagi.

“Maksud lo apa?”

“Gue mau sama dia..”

“Terus.. Gue?”

“Lo.. Lo – ”

“STOP!” teriak Chelsea keras. “Gue ngak suka cara lo gini..”

“Lo janji mati sama gue kak buat setia.. Terus, lo sendiri yang ngingkarin itu? Maksud lo apa sih? MAKSUD LO APA?!”

“Lo kalo mau bunuh gue, jangan gini caranya woy.. Gue ngak tau dia lebih baik atau gimana daripada gue tapi yang jelas..” ucapan Chelsea menggantung. Ia menarik nafasnya perlahan dan mengucapkan sebuah kata mematikan bagi Bagas..

“Gue cinta sama lo dan lo udah janji sama gue buat setia sama gue..” tetes airmata Chelsea sudah berada di ujung matanya sehingga tak bisa ia tahan lagi dan akhirnya mengalir di wajahnya yang kecewa.

“Gue.. Gue disini.. Nunggu janji lo. Gue cuman ngecek, ada salahnya?”

“Terus semua penantian gue. Semua pikiran yang udah gua positifin itu.. Sia sia?” Chelsea masih tak percaya dengan apa yang terjadi dan kemudian mengaduk aduk kembali buburnya.

“Lo tau kan Chel arti Truth or Dare? Gue dapet dare buat ngejagain Cindai. Buat selalu ada bersama dia. Masa gue ingkar? Dan lo tau Chel, gue disini – ”

“DARE? CIH! LO UTANG 1000 JANJI SAMA GUE!!”

“Chelsea.. Gue tau, tapi lo juga harus ngerti..”

“Udah malem kak, mending lo pergi aja daripada dicap negative orang orang hotel..” ucap Chelsea dingin lalu mengalihkan pandangan ke arah kaca besar atau bisa dibilang jendela yang menghubungkan kamar hotel ini dengan teras luar kamar hotel. Chelsea terdiam, melihat ke arah malam hari yang gelap. Terdiam cukup lama diantara mereka dan akhirnya Bagas dengan berani angkat suara..

“Kita putus ya..” Bagas menelan ludahnya, apakah ia sejahat itu harus mengakhiri hubungan mereka? Chelsea menggigit bibir bawahnya super kencang agar air matanya tidak jatuh. Tetapi apa yang terjadi, air mata itu tetap jatuh. Sekuat apapun ia menahannya, itu tak bisa dicegah oleh apapun.

“Kenapa..” hanya kata itu yang bisa terlontar dari mulut gadis ini. Dengan suara yang terdengar sangat tersiksa, ia masih memberanikan diri bertanya kenapa.

“Gue lebih sayang sama Cindai… Daripada lo..” Bagas terang terangan berkata demikian. Namun bagaimana dengan Chelsea? Seakan mendapatkan kekuatan, ia melihat ke arah Bagas dengan tatapan serius.

“Lo yakin?” ucap Chelsea tanpa terpotong sedikitpun walau matanya sudah sembab.

“Yakin.. Maafkan gue.. Maafin gue yang udah ngecewain lo. Maafin gue yang berengsek ini.. Maafin gue – ”

“Oke gapapa. Gausah minta maaf, lo bisa keluar sekarang..” kedua insan ini terdiam cukup lama dalam fikiran mereka masing masing.

“Gue bakal pulang besok. Makasih udah jadi orang yang pernah ngisi hari hari gue..”

“Chelsea lo bisa move on dari gua kok. Lo pas-”

“Makasih udah sering hibur gue.. Yah, dulu..”

“Lo kuat.. Gue yakin, lo pasti-”

“Semoga gue ngak nemuin yang omong doang kayak lo..” Bagas menggerutu dalam hati, ini bukan waktu yang tepat tetapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur.

“Chelsea..”

“Keluar kak, gua cape..” ucap Chelsea membanting sendok yang sedaritadi ia pegang ke dalam mangkuk dengan sangat keras. Ia berjalan dengan tatapan kosong menuju kasur dan tidur diatas kasur itu. Bagas terlihat cukup berat untuk meninggalkan kamar itu tetapi apalah daya, ini sudah menjadi keputusannya.

“Makasih Chels, udah ngerti..” ucap Bagas di ambang pintu. Chelsea masih terdiam di posisi tidurnya namun mengangkat tangan dan menaikkan jempolnya yang membentuk kata ‘sip’. Dan akhirnya Bagas benar benar keluar dari kamar itu. Marsha yang sedaritadi menunggu diluar langsung masuk dan memeluk Chelsea erat yang sudah mulai berposisi duduk.

“Gue ngak nyangka dia begitu sha..” ucap Chelsea lirih. “Bahkan untuk ngerti kalau gue sakit banget aja enggak..” lanjutnya.

“Sabar ya Chel. Lo pasti bisa menghadapi semua ini..” Chelsea mengangguk sambil memelum Marsha dengan erat lagi.

“Semoga gue ngak pernah ketemu orang kayak dia lagi selama lamanya..”

“Amin.”

Bersambung…

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Fate – Part 3 [ Cerbung IC ]

Hai saya balik.

Maaf sempet vakum, lagi sok sibuk *ga nanya* dan akhirnya, bagian 3 selesai. Dimana di setiap cerbung saya pasti part 3 yang paling abstrak dan gak jelas. Maafkan maafkan. Hope you like it guys!! Check itu out

|
|
|
|
|
V

-Lusa,Choco Cafe, 17:45-
“Lo serius mau balik?” tanya Chelsea karena Bagas mengajaknya untuk pertemuan perpisahan di Choco Cafe, tempat dimana Bagas pertama kali bertemu Chelsea saat Chelsea baru pulang dari German.

“Yeah..” ucap Bagas mengaduk aduk kopinya. “Lagian gue ngak ada lagi yang mau dikerjain kan?” lanjutnya.

“Hmmm..” ucap Chelsea ragu sembari menyembunyikan sesuatu.

“Emang bener kan? Nyokap gue udah selesai ulang tahun.. Gue juga harus nanya nanya ke Salma apa yang harus gue bawa..” ucap Bagas seakan serius.

“Ngak bisakah lo pulang lusa aja? Atau besok deh..” ucap Chelsea. Bagas menggeleng lemah.

“Kayaknya enggak deh..” Chelsea menghembuskan nafas beratnya. Mengalihkan matanya ke arah panggung.

“Nggg…” ucap Chelsea pelan. “Lo bisa nyanyiin satu lagu buat gue?” lanjutnya.

“Nggg, no..” ucap Bagas singkat lalu meminum kopinya. Chelsea sangat kesal, bahkan sangat sangat kesal. Entah kenapa ia jengkel dengan pria ini, pria yang seakan tidak ingat tentang hari bersejarah mereka disini.

“Kenapa sih lo?” tanya Bagas karena raut muka Chelsea yang mendadak lemas.

“Ngak apa apa..” ucap Chelsea sambil memperhatikan kopi yang ia aduk. Hening tercipta, entah sudah berapa kali ia mengaduk kopi itu, tanpa meminumnya.

“Gak diminum Chel?” tanya pria di depannya itu.

“Cape kak..” jawab Chelsea. “Cape hati..” lanjutnya. Bagas terdiam sebentar, bahkan cukup lama. Berfikir apakah ia pantas untuk melakukan hal ini kepada Chelsea?

“Kak, gue pulang aja ya..” ucap Chelsea saat Bagas tak kunjung membuka suaranya. Chelsea bangkit dari bangkunya, sementara Bagas hanya bisa diam. Kini, Chelsea sudah sampai di depan pintu cafe, melihat ke arah belakang yang ternyata Bagas masih terdiam disana.

“Bahkan lo cuman diem ya kak.. Ngak ngejar gue..” tatap Chelsea pedih sebelum keluar dari pintu.

“Jangankan ngejar..” ucap Chelsea menarik nafas sebentar. “Lo nanya kenapa gue pergi aja enggak..” lanjutnya. Akhirnya Chelsea keluar dari Cafe itu, dengan keadaan gontai.

Chelsea membanting dirinya ke atas tempat tidurnya. Fikirannya sudah entah kemana sekarang, ia sudah berfikir keluar dunia khayalannya. Merasakan sebuah perasaan yang pernah ia rasakan sebelumnya.

“Hmmm…” ucapnya pelan.

“Lo masih nganggep gue kan?” tanya Chelsea pelan. Dia menutup matanya sebentar, dan mulai sedikit terlelap. Sampai akhirnya, seseorang mengetuk pintu kamarnya.

“Siapa?” ucap Chelsea malas. Mendengar tak ada jawaban, Chelsea terpaksa harus membuka pintu itu.

“Bodo amat..” pilihan akhirnya karena ia benar benar malas membuka pintu itu. Sampai akhirnya, ia benar benar masuk ke dalam ambang mimpinya.

-21:55-

“Hah?” ucap Chelsea. “Lo.. Lo..”

“Iya, gue mau ke bandara dulu ya..” ucap Bagas bersiap siap di depan mobilnya. Chelsea yang baru keluar dari rumahnya pun kaget, karena baru ia bangun, Bagas sudah ada di depan rumahnya.

“Yah.. Tap.. Tap..”

“Udah ya, gue harus ke jogja nih..” ucap Bagas mengecek arlojinya. “Nitip salam buat semuanya nanti..”

“Tapi kan kak – ”

“Chel.. Gue harus pergi..” ucap Bagas memotong ucapan Chelsea. “Ngerti dong..” lanjutnya. Chelsea terdiam, ia tak mengerti kenapa Bagas bisa memperlakukannya seperti ini, yang pertama kalinya.

“Kak? Lo beneran lupa?”

“Lupa apa sih?” ucap Bagas mulai kesal. “Ngomong to the point dong..” lanjut Bagas.

“Lo ngak bisa besok aja?”

“Lo egois ya Chel?” ucap Bagas tiba tiba. “Gue udah bilang ngak bisa ya ngak bisa..” lanjutnya.

“Ya tapi kan – ”

“Ahh.. Lo ngak bisa nerima gue kalo gue harus balik? Lo ngak mau gue sukses nanti? Lo mau gue dibully gara gara MOS?” ucap Bagas mulai serius. Chelsea terdiam, tak berani menatap mata Bagas yang sebenarnya tersirat wajah main main.

“Yaudah.. Cape gue ngomong sama lo.. Gue mau pergi aja..” ucap Bagas lalu pergi mengendarai mobilnya menjauhi rumah Chelsea. Chelsea terdiam, lalu perlahan, kakinya seakan terjatuh di atas tanah. Chelsea terdiam menunduk. Tak tau apa yang harus ia lakukan sekarang.

“Lo tau kak? Baru aja 2 hari ini kita seneng.. Kita damai, kita bareng.. Sekarang kita harus pisah lagi? Lo bener bener ga mikirin perasaan gue kak? Lo.. Lo..” ucap Chelsea tak kuasa melanjutkan kata katanya. Ia terdiam, tak lama ia menangis. Ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, agar tak terlihat airmatanya turun. Suasana di perumahan sepi hari ini, tak tau mengapa. Sudah cukup lama ia menangis, hampir sekitar setengah jam. Dan tak ada mobil/motor yang lalu lalang di dekatnya, tak seperti biasanya. Udara dingin yang masuk ke dalam tubuhnya karena ia menggunakan hot pants, dan baju kaos biasa yang hanya sampai setengah lengan saja. Perlahan, ia bangkit dari tempatnya dan masuk ke dalam rumahnya, dengan langkah agak tertatih karena lututnya cukup sakit saat itu.

Ia masuk ke dalam kamarnya, mama dan papanya belum pulang dari kerjaan mereka. Chelsea mengambil segelas air yang ada di meja kecil itu, lalu meminumnya. Mengecek jam dinding kamarnya, lalu menyelesaikan minumnya.

“22.25, pantesan aja ngak ada yang lewat. Biasanya jam 21.30 aja udah sepi kayak kuburan..” ucapnya singkat. Ia lalu keluar kamar, mengecek lantai bawah, kamar pembantu dari ia kecil, Mbak Dina. Ia membuka pelan pintu kamar itu, dan terlihat pembantu itu sedang tidur. Pembantu yang lumayan cantik, yang sudah Chelsea anggap kakak sendiri. Dirinya dengan Mbak Dina hanya berbeda 3 tahun. Ia menutup kembali pintu kamar itu. Lalu kembali ke kamarnya.

Chelsea lalu mengecek handphonenya setelah setengah jam menangis di depan rumahnya. Chelsea membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang terjadi. Lalu menelfon Marsha sesaat dan membuang handphonenya ke arah pintu kaca besar, tempat menuju teras kamarnya, teras lantai atas rumahnya. Tak peduli handphonenya lecet atau rusak, ia hanya menangis sambil memeluk Avel, boneka pemberian Bagas itu.

“El..” ucapnya pelan. “Gue harus apa sekarang El?” lanjutnya lalu memeluk Avel seakan tak mau ikut kehilangan boneka itu.

Marsha ikut terkejut dengan pesan singkat Bagas kepada sahabatnya, Chelsea itu.
‘Chel, gue udah nelfon lo 15 kali tapi ngak lo angkat?’
‘Lo benci sama gue?’
‘Lo manja banget sih, Childish tau..’
‘Angkat telfon gue..’
‘Pliss, kalo lo ngak angkat telfon gue, gue mau kita putus..’
‘Lo bener bener mau putus?’
‘Oke, kita putus.. Ngak ada lagi kata KITA diantara gue sama lo sekarang..’
‘Bye..’

Marsha membelai rambut Chelsea pelan, lalu mengusapnya secara perlahan
“Sabar Chel.. Sabar..” ucap Marsha pelan.

“Sabar gimana Sha? Lo kira ngak sakit jadi gue? Ini untuk yang pertama kalinya gue berantem besar sama dia gara gara gue ngak angkat telefon dia, emang gue ngapain Sha? Gue nangis Sha! Bukan ngapa ngapain!! Dan dia minta putus Sha? Padahal besok gue anniv Sha!! Mungkin teori gue salah, dia ngak akan dapet cewe lain, tapi gue bener tentang dia bakalan ninggalin gue.. Gue sakit Sha.. Gue ngak pernah berantem gini sebelumnya sama dia, 2 tahun gue sama dia Sha.. Tapi sekarang? Lo kira ngak nyesek hah? Gue cape Sha.. Cape..” ucap Chelsea membuang semua unek uneknya kepada sahabatnya ini, Marsha.

Marsha tersenyum, lalu kembali memegang kepala Chelsea pelan,”Lo kuat Chel.. Tuhan tau lo kuat..” ucap Marsha dan kemudian memeluk Chelsea pelan.

“Gue ngak butuh saran lo Sha..” ucap Chelsea. “Dan gue bener bener harus sendiri sekarang..” lanjutnya. Marsha menaikkan alisnya, bingung dengan perkataan Chelsea ini.

“Lo ngusir?”

“Tapi ini yang terbaik buat gue saat ini..” ucap Chelsea lalu beranjak dari tempat tidurnya. Lalu menarik tangan Marsha agar keluar.

“Tapi Chel – ”

“Pliss Sha..” ucap Chelsea membawa Marsha sampai depan kamarnya. Marsha terdiam di depan pintu Chelsea. Lalu, keluar kamar Chelsea dan membalikkan badannya. Anak itu benar benar menangis.

“Maaf ya Sha.. Gue bener bener butuh sendiri..” ucap Chelsea lalu tersenyum. Persis seperti senyum seseorang yang sedang rapuh.

“Oh ya Sha satu lagi..” ucap anak itu sebelum bener bener menutup pintu kamarnya itu.

“Sekarang 1 September kan? Belum tanggal 2?” tanya Chelsea agak serius. Marsha mengangguk lemas, seakan merasakan apa yang dirasakan anak itu.

“Wake me up when September end!!” ucap anak itu lalu membanting pintu kamarnya. Terdengar suara bahwa ia menangis dan Chelsea kembali tidur di atas kasurnya. Tidur sembari menangis..

Marsha berjalan menuju ruang tamu Chelsea sambil mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. “Hallo kak.. Rencana lo bener bener sukses bikin dia gila!!”

Tok tok tok..

Untuk yang kesekian kalinya pintu kamar gadis ini diketuk oleh seseorang. Gadis ini terbangun dengan malasnya.

“Papa mama ngapain sih ngetok pintu malem malem? Biasanya juga pulang besok..” ucap gadis itu lalu beranjak dari tempat tidurnya. Dengan malas, ia membuka pintunya daannn…

“Happy Anniversary to Us!!” teriak pria itu di depan gadis itu. Gadis itu terdiam, ia membeku. Pria di depannya itu memegang kue dengan lilin berangka 2 dan 3 buah lilin batangan di sekelilingnya. Pria di depannya masih tersenyum sabar melihat reaksi selanjutnya dari gadis ini.

“Ayo tiup lilinnya..” ucap pria ini lagi. “Happy anniversary 2 tahun 3 bulan sayang!!” lanjutnya.

“Satu.. Dua.. Ti – ”

BRAKK!!

Ucapan pria itu terpotong karena gadis ini membanting pintu kamarnya dengan teramat kencang, hampir tidak bisa tertutup sempurna lagi. Gadis ini menghembuskan nafasnya berkali kali, mengatur emosinya, antara ingin menangis, atau ingin tetap marah.

“Chelsea!!” teriak pria diluar kamar.

“Chelsea.. Lo kenapa sih?” tanya pria itu lagi.

“Chelsea apa – ”

“Kita udah putus bego!!” potong gadis itu dengan setengah teriak. Gadis itu berusaha menuangkan amarahnya, kekecewaannya, kekesalannya kepada mereka semua tetapi apa yang bisa terjadi, ia tak mampu melampiaskannya. Karena ia sudah terlanjur cinta kepada pria itu.

“Chelsea.. Aku cuman becanda tadi. Aku – ”

“Bacot!!” amarah gadis itu lagi. “Lo udah mutusin gue, udah sukses buat gue hancur, udah pas bikin gue nangis sia sia..” lanjutnya.

“Tapikan, gue – ”

“Sesuai kata lo, ngak ada lagi istilah kita dalam hubungan gue dan lo!!” bentak gadis itu lagi. Semua terdiam.

“Gue cape, jangan ganggu gue lagi!! Sana pergi ke Jogja dan jangan balik lagi ke hadapan gue..” ucap gadis itu lagi. Lalu beranjak ke tempat tidurnya. Ia menangis sendirian, menjerit sendirian. Ia menarik rambutnya dengan keras, sementara dari luar terdengar suara teriakan minta maaf, tetapi gadis ini tetap mendiamkannya.

“Chelsea please..” ucap Bagas lagi. Chelsea tetap menangis di atas kasurnya. Akhirnya, Bagas memilih masuk ke dalam kamar Chelsea yang pintunya sedikit rusak itu. Bagas menepuk pundak Chelsea perlahan. Chelsea sempat menengok, dalam kesempatan itu, Bagas tak mau menyia-nyiakan kesempatannya dan ia langsung memeluk Chelsea saat itu juga. Tangis Chelsea semakin kuat, sekuat pelukan yang diberikan Bagas kepadanya.

“Lo tau gue ngak bisa nahan hati gue kak..” ucap Chelsea tiba tiba. “Lo tau kalo gue sayang banget sama lo kak..” lanjutnya. Bagas tersenyum, tak ada pemberontakan dari gadis ini sama sekali.

“Gue cuman bercanda..” ucap Bagas pelan. “Gue tau lo ngak bener bener mau hubungan ini berakhir..” lanjut Bagas.

“Iya kak.. Iya..” ucap Chelsea. “Gue cuman takut perasaan lo berbeda saat lo suka sama gue dengan saat sekarang..” lanjut Chelsea. Bagas tersenyum sekilas.

“Perasaan gue ngak akan hilang ke lo..” ucap Bagas. “Tapi bakalan semakin bertambah..” lanjutnya. Merekapun menikmati malam terakhir mereka bertemu, sebelum besok Bagas benar benar akan kembali ke Jogjakarta.

-One Week Later, UGM,16:45-
“Ah elah Salma.. Ngertiin gue bentar dong..” keluh pria itu karena Salma terus bertanya kepadanya bagaimana cara penyelesaian soal yang diberikan dosennya kepadanya. “Gue belum ada hubungin Chelsea hari ini..” lanjut Bagas. Salma mengerutkan alisnya.

“Oh, ada yang lebih mentingin pacar daripada temen..” ucap Salma sambil mengambil bukunya yang berada di depan Bagas. Bagas merebut kembali buku Salma dari tangan Salma dengan tatapan mengalah.

“Iyalaha iya.. Sini sini..” ucap Bagas lalu kemudian mengerjakan beberapa tugas yang diberikan oleh dosennya Salma.

“Gila!!” keluh Bagas memijit kepalanya pelan. “Yakali tugas anak sastra dikerjain sama anak hukum..” lanjutnya. Salma melihat ke arahnya sekilas. Bagas nyengir ngaco,”Eh Salma.. Becanda Sal.. Becanda..” lalu Bagas melanjutkan mengerjakan tugas Salma di perpustakaan sekolah, sementara Salma membaca kumpulan sastra terkenal Indonesia.

“Salma?” ucap seseorang dari kejauhan. Salma menyipitkan matanya, lalu mengerutkan keningnya, berfikir siapakah wanita yang sedang menghampirinya. Kemudian, matanya berbinar dan mendekati wanita itu sambil memeluknya.

“Cindaii!!” teriak Salma tak kalah senang dengan ekspresi gadis itu. Bagas menaikkan kepalanya, lalu mengerutkan keningnya sejenak.

“Lo kan?” ucap Bagas agak keras membuat mereka melihat ke arah Bagas.

“Lo?” ucap Cindai kini melepas pelukannya dengan Salma.

“Lo cewe nyebelin yang ngambil tempat duduk gue di AW lagi itu kan?” ucap Bagas.

“Oh jadi lo, cowo childish yang ngotot mau duduk di meja makan biasa gw makan..” ucap gadis itu. Sementara mereka adu mulut, Salma menunjukkan wajah polos, benar benar tak mengerti arah percakapan mereka.

-SMA Idola, 17:15-
Chelsea lengkap dengan seragam cheersnya menunggu dijemput di depan pagar sekolah. Masalahnya, sudah dari 2 jam yang lalu ia minta dijemput tetapi jemputannya belum datang sama sekali sampai sekarang.

“Ahh sial..” ucap Chelsea mengotak atik handphonenya. “Bosen banget, bingung mau apa..” lanjutnya.

“Ah ka Bagas ga ngebales line gue lagi..” ucapnya sambil sesekali selfie. Beberapa menit kemudian, sms masuk datang dari supir Chelsea sendiri yang memberitahu bahwa supirnya tidak dapat menjemput Chelsea dikarenakan suatu hal.

“Ah madafaka..” ucap Chelsea hampir membanting ponselnya. “Gue nunggu sampe lumutan tapi gajadi di jemput?!” lanjutnya. Ia kemudian berjalan menuju taxi dimana berhenti. Di tengah perjalanan, seseorang memberhentikan motornya di depannya.

“Naik ka..” ucapnya. Chelsea melihat ke arah helm anak itu, ia tak mengenali anak itu sama sekali.

“Lo siapa?” tanya Chelsea tidak menyentuh motor anak itu sama sekali. Kemudian, anak itu membuka helmnya. Chelsea dapat melihat jelas anak yang pernah membuatnya lelah berjalan mencari dimana Miss Dry yang ternyata tidak memanggilnya.

“Lo ade kelas yang berani nipu gw kan? Gue ngak dipanggil Miss Dry lagi itu kan?” ucap Chelsea menuju ke arah bagian depan motor dan bersiap memarahi adik kelas itu.

“Hehehe.. Sorry kak..” ucap anak itu menggaruk garuk kepalanya.

“Sorry sorry aja lo. Lo kira enak apa jalan dari kantin ke kantor guru dan ternyata Miss Dry ada di perpustakaan? Lo kira – ”

“Shutt.. Diem ka..” ucap anak itu sambil meraih dagu Chelsea agar ia terdiam. Sementara anak itu melihat ke kiri kanan memastikan tidak ada siapapun yang melihatnya disitu, jantung Chelsea berdegup kencang. Lumayan tampan, pikirnya. Matanya, alisnya, dan bentuk mukanya mirip sekali dengan si dia. Si dia yang jauh disana. Saat anak itu mengalihkan pandangannya ke depan, dimana Chelsea ada di depannya, jantung anak itu juga berdegup cepat. Pipi chelsea memerah, sementara anak itu malah tersenyum memasang tampang cool.

“Eh..” ucap anak itu melepaskan tangannya dari dagu Chelsea. “Sorry kak..” lanjutnya. Chelsea mengangguk lemah, entah apa yang ada di fikirannya tentang anak ini, dia merasa aneh.

“Mau aku anter kan kak?” tanya anak itu lagi melihat Chelsea terdiam di sampingnya.

“Eh? Kemana?” ucap Chelsea menoleh ke arah anak itu.

“Ke rumah kakak..”

“Emang lo tau rumah gue dimana?”

“Aku tau lah kak.. Kalo enggak ngapain aku nawarin..” ucapnya. Chelsea mengangguk, lalu kemudian naik ke atas motor itu. Entah kenapa saat berada di atas motor itu, Chelsea merasa bahwa yang mengendarainya adalah Bagas, seseorang yang jauh disana, ia merasa aneh dengan anak itu.

Akhirnya mereka sampai di rumah Chelsea setelah sepanjang perjalanan keheningan tercipta. Chelsea turun, lalu berdiri di depan anak itu sebentar sebelum membuka gerbangnya dan masuk ke dalam rumahnya.

“Mmm, kak.. Besok mau aku jemput ngak?” ucap anak itu memecah keheningan.

“Eh? Ngak tau deh.. Tergantung..” ucap Chelsea menggigit bibir bawahnya pelan.

“Ngg.. Yaudah deh kak..” ucap anak itu. Chelsea mengeluarkan ponselnya lalu berniat memegang spion motor anak itu, tetapi tak disangka tangan anak itu sedang ada di spion sekarang. Chelsea refleks menjauhkan tangannya, dengan muka memerah, ia menunduk.

“Sorry ya kak.. Maaf..” ucap anak itu melepas tangannya dari spion motornya. Chelsea mengangguk, berusaha menyembunyikan rasa anehnya ini.

“Gw cuman mau nanya line lo dong. Manatau besok mau nebeng..” ucap Chelsea sok akrab kepada anak ini. “Sorry bukannya gw manfaatin tapi kan emang tadi lo yang nawarin gue buat – ”

“Ya gak apa apa kak..” potong anak itu. “Kakak ngak cari muka kok, aku yang cari muka..” lanjut anak itu.

“Oh.. I.. Iya…” balas Chelsea berusaha netral.

“Nama aku Aga Rama Putra kak. Line aku agaptr21..” balas anak itu. Chelsea menggigit bibirnya lagi.

‘Ampas!! Kenapa harus Aga Rama Putra sih namanya..’ ucap Chelsea dalam hati.

“Ngg.. Kakak ngak masuk?” tanya anak itu. Chelsea menganggukkan kepalanya.

“Iya.. Kamu pergi dulu aja..”

“Oke kak.. Aku pulang ya..” pamit anak itu. Chelsea mengagguk, lalu anak itu kemudian memakai helmnya dan melaju pergi dari rumah Chelsea itu.

-Malioboro, 18:30-
“… Nggg.. Ya.. Oh.. Ya..” ucap cowo itu sambil memainkan pspnya lagi.
‘Yayaya.. Daritadi ohya ya doang..’ ucap suara di sebrang sana.
“Ya terus gue harus jawab apaan..”
‘Lo kenapa sih? Daritadi tau ngak. Gue line gak lo bales, lo ga nelfon gue. Bahkan gue yang nelfon lo duluan.. Dan lo – ‘
“Ah shit.. Kalah kan..” potong Bagas berusaha konsentrasi kepada pspnya.
‘Hah? Lo lagi main game ya?’
“Hehehe..” ucap Bagas nyengir seadanya.
‘Ah yaudah ya, gue mau ngeline orang dulu..’
“Heeh..”

Dan percakapanpun berhenti dengan sebegitunya saja. Bagas biasa saja, ia masih sibuk dengan pspnya. Beberapa menit kemudian, dia mulai bosan dengan pspnya.

“Hmm..” ucap Bagas pelan. “Kenapa gua ketemu lagi ya sama cewe gak jelas tadi..”

“Ah elah najis gua sama dia..” ucap Bagas pelan. “Gue kan yang duluan duduk di meja AW itu..” lanjutnya kemudian membenamkan kepalanya di atas kasur dan tertidur melewati tugas tugas yang lupa ia kerjakan.

Dering telfonku membuatku tersenyum di pagi hari
Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi
Entah mengapa aku merasakan hadirmu disini
Tawa candamu menghibur saatku sendiri
Aku disini dan kau disana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa
Meski kau kini jauh disana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat dihati..

Hanya lagu itu yang bisa membuat mood Bagas naik. Hari ini, ia sangat kesal. Ia merasa sangat sial hari ini, dari ia bangun kesiangan, lalu ia telat masuk kelas, dan sialnya, ia ternyata satu kelas dengan gadis ‘perebut meja di AW’ itu. Dan kesialan tak berhenti di situ saja, bangku kosong hanya ada di samping gadis itu. Dari tadi, ia tidak mendengarkan dosen berbicara, ia memasang earphone dan ia mendengarkan lagu itu dalam dalam, dan membayangkan sosok Chelsea disana.

“Woy..” teriak seseorang sambil menguncang badan Bagas sedikit. Bagas dengan malas menoleh ke arah orang itu.

“Apaan sih lo..” ucap Bagas yang semakin kesal karena yang meneriakinya adalah gadis itu.

“Lagi disuruh ngerjain soal itu..” ucap gadis itu sambil menunjuk papan tulis. Bagas melihat ke arah papan tulis lalu dengan acuh tak acuh kembali menutup matanya dan menikmati lagu itu lagi.

“Woy, lo budeg?” ucap gadis itu lagi.

“Gua males ngerjain soal..” ucap Bagas singkat.

“Males?” ucap gadis itu bingung. “Sepinter apa sih lo waktu SMP sampe songong banget sekarang..” lanjutnya.

“Bukan urusan lo kan?” ucap Bagas lagi, lalu mengencangkan volume itu dan tak perduli dengan siapapun yang berbicara kepadanya.

Bel pulang sudah berbunyi sejak beberapa jam yang lalu, tetapi pria ini masih duduk di tempatnya dan masih mendengar lagu itu. Tiap putaran, tak pernah ia bosan mendengar lagu itu. Mungkin ini adalah putaran ke seribu ia memutar lagu itu. Dan ia menikmati putaran dengan putaran dengan sangat serius, sampai akhirnya ia mematikan lagu itu dan melihat ke sekitarnya. Sudah kosong. Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar kampus dan kemudian langsung beralih ke parkiran dan memasuki mobilnya. Bagas lalu menghubungi Chelsea, kekasihnya.

‘Ya kak? Ada apa?’

“Lo selesai UN kapan?” tanya Bagas langsung to the point.

‘Hah?’ ucap yang di sebrang sana. ‘Maksud lo nanya itu apa?’

“Lo ngak lagi sama cowo lain kan?” tanya Bagas. “Pokoknya lo harus kuliah di UGM. Gue ngak betah jauh jauh dari lo..” lanjut Bagas. Tak terdengar suara dari sebrang sana.

“Chel.. Jawab..” ucap Bagas lagi.

‘Ya bulan April gue UN..’ jawab wanita disebrang sana.

“Hmm..” ucap Bagas pelan. “7 bulan lagi Chel.. Lo bisa kan jaga hati?” lanjut Bagas.

‘7 bulan?’ tanya orang itu kaget. ‘Gue kesana ya bulan Juli lah..’ lanjutnya.

“Cih..” ucap Bagas pelan. “Yang jelas lo bisa kan setia sama gue?”

‘Lo apa apaan sih?’ tanya Chelsea. ‘Pertanyaan lo gak logika tau gak..’

“Lo tinggal bilang bisa..” jawa Bagas. “Lo bisakan? Lo janji?”

‘Hrr.. Apa coba..’

“Chel gue serius..”

‘Mm, ya.. Gue bisa..’

“Janji?”

‘Janji..’

“Hmm..” ucap Bagas menghembuskan nafas beratnya.

‘Lo juga janji dong..’

“Iya gue janji..” ucap Bagas. “Janji mati gue..” lanjutnya.

-SMA Idola, 16:20-
“Kak..” ucap seseorang saat Chelsea baru saja keluar dari kelasnya.

“Eh elo..” ucap Chelsea lalu terdiam, tak jadi melangkah jauh dari kelasnya.

“Ngg.. Kakak hari ini pulang sama siapa?” tanya anak itu. Jantung Chelsea berdegup kencang, ia merasakan hal yang beda saat anak ini bertanya seperti itu.

“Ngak tau deh..” ucap Chelsea cepat.

“Aku anter aja kak..” ucap anak itu. “Sekalian aku traktir deh..” lanjutnya.

“Traktir?” ucap Chelsea heran.

“Iya..” ucapnya. “Kita makan mie ayam aja ya kak..” lanjutnya. “Maaf ngak bisa traktir pizza..” ucapnya lagi.

“Eh iya..” ucap Chelsea merasa tak enak. “Gue ngak maksud mengarah kesono..” lanjut Chelsea.

“Jadi.. Bisa ngak kak?” tanyanya lagi.

“Hmm.. Oke bentar..” ucap Chelsea lalu mengetik pesan untuk seseorang.

“Yah sorry.. Gue dijemput..” ucap Chelsea pelan. Anak itu terbesit rasa kecewa di wajahnya.

“Yah..” ucap anak itu. “Pliss kak.. Pliss..” ucap anak itu lagi. Chelsea kembali mengetik pesan untuk supirnya dan akhirnya berkata,”Oke.. Gue pulang sama lo..”

“Hah?!” ucap anak itu membulatkan matanya. “Beneran kak?” tanyanya lagi. Chelsea hanya mengangguk.

“Oke deh kak ayo!!” ucap anak itu lalu menggandeng tangan Chelsea.

“Eh? Aga?” ucap Chelsea bingung dengan maksud gandengan tangan Chelsea. Aga langsung melepaskan tangan Chelsea dan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.

“Eh sorry..” ucapnya. “Gak sengaja..” lanjutnya.

“Yaudah ayo..” ucap Chelsea tak ingin menikmati suasana seperti ini. Ia langsung berjalan di depan Aga sampai ke parkiran.

“Kak..”panggil Aga dari belakang. Chelsea menoleh.

“Apa?” tanya Chelsea mulai kesal karena Aga tak beranjak sedikitpun dari tempatnya.

“Maafin Aga ya kak. Maafin Aga kalo kakak ngak suka sama sikap Aga. Maafin Aga kalo sikap ini ngebuat kakak kesel. Serius, Aga cuman – ”

“Halah berisik. Ngapain sih minta maaf? Udahlah ayo cepetan..” potong Chelsea lalu melanjutkan perjalanan menuju parkiran motor.

Aga lalu mengantarkan Chelsea ke kedai mie ayam langganannya. Tak terlalu besar memang kedai itu, tetapi rasanya enak dan harga yang ekonomis sehingga membuat kedai ini dipenuhi oleh anak anak sekolah. Tetapi ada yang berbeda. Hampir semua orang yang ada disana tidak ada yang berasal dari sekolah elit setara international seperti sekolah Chelsea. Chelsea dan Aga masuk dengan seragam sekolah mereka, dapat terlihat jelas emblem sekolah mereka di lengan sebelah kanan mereka. Semua pandangan mengarah ke arah mereka, seakan heran mengapa anak sekolah elit seperti mereka berada di kedai seperti ini, bukannya di mall mall besar ibukota.

“Eh mas Aga..” ucap sang penjual mie ayam. “Eh dia siapa mas?” tanyanya lagi.

“Oh dia. Kakak kelas pak.. Oh iya pak mie ayamnya dua ya, yang enak buatnya..” jawab Aga sambil tersenyum. DEG, Chelsea terdiam. Senyum lelaki itu mirip seperti senyum seseorang yang sedang ia rindukan sekarang, senyuman seorang ‘Kak Bagas’

“Kak? Kenapa? Ada yang salah ya? Tempatnya kecilnya? Atau – ”

“Gue gapapa gausah bawel..” potong Chelsea pelan. Sementara anak itu hanya mengangguk faham.

“Ngg kak. Maaf ya kayaknya kakak ngak pantes deh makan disini..” ucap Aga tiba tiba.

“Eh? Emang kenapa?”

“Soalnya sepanjang sejarah gak ada anak Idola yang masuk sini. Baru aku doang dan satu satunya. Ya kakak taukan mereka mainnya ke mall mall besar, pake mobil mewah. Lah aku mainannya kesini kak, pake motor. Motornya gak yang mahal lagi..”

“Apaan sih. Biasa aja kali.. Gue juga mau nyobain gimana rasanya makan disini..” ucap Chelsea kemudian mengeluarkan ponselnya dan asik memainkannya.

“Kak? Kakak betah ya main ponsel terus?” tanya Aga tiba tiba setelah beberapa menit terjadi keheningan.

“Eh? Emang kenapa?”

“Ya aneh aja. Aga tau hp Aga emang jelek tapi walaupun temen temen Aga bawanya yang mahal Aga gak suka aja ngeliat ponsel lama lama..”

“Hmmm..” jawab Chelsea pelan.

“Kok cuman hmm kak?”

“Lagian gue bingung mau jawab apaan. Bawel banget deh lo jadi anak..”

“Yah elah gitu amat kak. Lagian handphone lama lama diliatin buat apaan sih? Coba sini kita main. Gimana kalo selama kita makan gak ada yang boleh megang handphone. Kalo ada yang pegang dia nraktir makan besok deh..” ucap anak itu lalu mengeluarkan ponsel touchscreen yang bermerek Samsung Galaxy Ace 3 dan menaruhnya di atas meja. Chelsea melihat handphone itu sebentar lalu pandangannya beralih ke arah pria itu.

“Serius?”

“Seriuslah. Ayo, kakak berani?”

“Siapa takut!!” ucap Chelsea lalu menaruh Iphone 5s Goldnya di atas meja itu. Mereka terdiam sampai akhirnya mie ayam datang.

“Mas Aga maaf ya lama soalnya tadi banyak yang mesen mas..”

“Iya pak. Ngak apa apa..” ucap Aga lalu mengambil mie ayam yang diberikan bapak tua itu. Kemudian memakannya. Chelsea memakannya pelan. Matanya mengalih kepada ponselnya. Tangannya bergerak pelan kearah sana tetapi Aga dengan sigap menepis tangan Chelsea.

“Baru beberapa menit udah nyerah..” ucap Aga.

“Apasih. Lagian buat apa sih ada game ginian?”

“Biar kita terbiasa berbicara. Bukan ngetik..”

“Halah, apadeh..” ucap Chelsea lalu memakan mie ayamnya cepat.

“Gausah cepet cepet kak. Kakak kenapa sih? Bosen? Ayo kita ngobrol aja..” ucap Aga melihat ke arah Chelsea. Chelsea pasrah, ia mengikuti kemauan anak itu dan bercanda dengannya. Anak itu seru juga, pikir Chelsea. Tak lama, ponsel Chelsea menyala. Ada yang menelfonnya. Dan itu adalah…… Kak Bagas.

“Kak. Kalo kakak pegang ntar kakak traktir akuloh besok..” ucap Aga mengingatkan.

“Bodo amat..” ucap Chelsea agak jutek. “Gue ga peduli kehilangan beberapa uang buat traktir lo daripada didiemin kak Bagas..” ucap Chelsea lalu mengangkat telfon Bagas.

“Ya kak ada apa?” ucap Chelsea. Aga hanya diam, dan pasrah. Apadaya dia ingat kalau Chelsea masih memiliki kekasih, yaitu Bagas. Kakak kelas yang dulu ikut nge-MOS dia. Tak lama Chelsea menutup pembicaraannya dengan Bagas.

“Kenapa kak?” tanya Aga penasaran dengan telfon singkat itu.

“Entahlah Kak Bagas aneh hari ini..”

“Kenapa kak?”

“Dia nanya gue mau kuliah dimana dan nyuruh gue kuliah di UGM..” ucap Chelsea menaruh ponselnya dan memakan kembali sisa mie yang belum ia habiskan. Aga sedikit tersedak mendengar itu.

“Hah? Kakak kuliah di Jogja?”

“Iyalah. Dimana lagi..” ucap Chelsea. “Gue sebenernya bisa dimana aja, tapi gue kepengen sama Kak Bagas aja..” lanjut Chelsea.

‘Yah elah garagara Bagas lagi..’ ucap Aga dalam hati sambil tersimpan rasa kesalnya.

“Oh begitu kak..” ucap Aga seadanya. Chelsea hanya mengelengkan kepalanya dan kembali memakan mienya.

‘Maaf Kak gue bohong. Gue lagi makan sama Aga. Tapi buat apa lo cemburu sama Aga? Gue gak akan suka sama dia kali..’ ucap Chelsea dalam hati sambil sesekali melihat ke arah Aga.

~

Sinar terang masuk melalui jendela dan mendarat tepat di wajah gadis ini. Gadis yang mencoba menikmati harinya, gadis yang mencoba menjalani hari harinya yang pasti berbeda dari 2 tahun yang lalu, tanpa seorang yang bisa membuatnya merasa sempurna. Ia akhirnya bangun dari tidurnya dan membuka gorden jendela, menarik nafas udara pagi yang benar benar bersih.

“Hai. Pagi.” ucap gadis itu agak kaku. Dia merasa ada sesuatu yang menjanggal di pikirannya hari ini. Dia lalu pergi ke kamar mandi kamarnya, melihat ke arah kaca dan membasuh mukanya di wastafel bawah kaca itu. Dia kembali melihat ke arah kaca. Pucat. Wajahnya pucat. Dia bingung dengan.apa yang terjadi. Apa dia ada masalah? Dia rasa tidak, siapa yang akan menjadi lawan masalahnya? Apakah orang tuanya? Tidak. Ia jarang bertemu orang tuanya. Atau adik? Pembantu? Orang seisi rumah? Dia rasa juga tidak. Aga? Tidak mungkin, baru kemarin ia makan mie ayam dengan pria itu. Atau mungkin… Bagas? Itu juga tidak mungkin menurutnya, karena kemarin dia dan Bagas masih telfon telfonan, chatting dan malahan hal yang jarang sekali mereka lakukan. Saling mendoakan.

“Gue kenapa ya hari ini?” ucap gadis itu lalu menaruh tangannya di atas pipinya.

“Gue kok ngerasa lemes? Apa gua sakit?”

“Hmmm…” ucap gadis itu lalu menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya.

“Gue yakin gue gapapa..” ucap Chelsea lalu mandi dan bersiap siap menjalani harinya.

-Kampus UGM, 10:45-
“Kenapa harus lo sih?” tanya Bagas saat sampai kelas dan yang tersisa hanya bangku disamping wanita yang sangat ia kesali.

“Yamana gue tau, siapa suruh telat..” balas wanita itu. Bagas mau tak mau terdiam, ia lalu duduk di bangku samping cewe itu.

“Gue perasaan gak ada cari masalah sama lo deh Gas..” ucap cewe itu, Cindai, saat Bagas duduk di sampingnya. Bagas menoleh sebentar, lalu memalingkannya lagi.

“Terus?” ucapnya.

“Ya kenapa lo sensi banget sih sama gue?” tanya Cindai.

“Gak..” ucap Bagas singka lalu memakai earphone dan mendengarkan lagu favoritenya.

“Huh, kalo gue nanti mati penasaran lo yang gue gentayangin..” ucap Cindai. Bagas hanya mendiamkannya, malas mencari urusan.

Jam kelas Bagas telah usai. Buru buru, dia berjalan keluar kelas menuju parkiran. Ia masih menggunakan earphone dengan gaya coolnya, tanpa mendengar suara gadis meneriakkan namanya sambil berlari. Bagas melewati tangga kampus, gadis itu masih berlari, dengan jarak yang lumayan jauh dengan Bagas, saat ia hendak turun, ia terjatuh. Dan akhirnya sampai dibawah dengan suara yang lumayan keras dan berada 6 meter dibelakang pria itu.

Bagas menoleh ke belakang, dilihatnya Cindai terjatuh dengan darah segar mengalir dari beberapa bagian tubuhnya. Bagas menghampirinya dan bertanya,”Lo kenapa?”

“I..ni..” ucapnya sambil menyerahkan sebuah buku catatan milik Bagas yang tertinggal. Ia lupa, besok pelajaran itu akan diujiankan.

“Gas..” ucap Cindai pelan. Bagas tersadar bahwa disana ada Cindai yang tergeletak. Suasana kampus cukup sepi mungkin karena kelas lain belum pulang, maka dari itu tidak ada seorangpun disana kecuali mereka berdua.

“Oh iya gue hampir lupa.. Lo gimana? Lo.. Lo.. Lo gue bawa ke UKS aja ya..” ucap Bagas panik sambil mengangkat Cindai dari lantai.

“Disini. Mana ada. UKS. Pea.” ucap Cindai sambil tersenyum kecil. Kemudian Cindai terdiam, darah segar masih mengalir dari kepala, badan, dan kakinya. Ia berkata sesuatu dengab perlahan.

“Gas.. Gue.. Ga salah. Kan. Sama.. Lo?”

“Ngak dai, lo ngak salah..” ucap Bagas lalu sampai di tempat peristirahatan anak anak fakultas kedokteran, disana sudah ada dokter kampus, salah satu mahasiswa fakultas kedokteran di kampus itu.

“Jatuh dari tangga, tolong..” ucap Bagas langsung menaruh Cindai di atas kasur disitu. Dokter itu memeriksanya sebentar.

“Wah ini harus membutuhkan donor darah dan jahitan mas..” ucap mahasiswa itu. Bagas memegang jidatnya agak frustasi.

“Jadi gimana?” tanya Bagas.

“Ke dokter mas. Disini tidak ada peralatannya..” ucapnya.

“Oke tolong panggil ambulance sebelum ia kehabisan darah..” ucap Bagas. Mahasiswa itu mengangguk.

“Gas..” ucap Cindai dengan pelan.

“Ya?”

“Lo janji ya. Jangan. Ngejutekin gue. Lagi.” ucap Cindai perlahan.

“I.. Iya..” ucap Bagas. “Gue janji..” lanjutnya.

“Janji ya. Beneran.”

“Iya..” ucap Bagas. “Gue ngak akan ngejutekin lo, Cindai..” lanjutnya.

“Makasih ya..”

“Gue akan ngejaga lo, sampai gue ngak ada..” ucap Bagas. “Gue janji..” lanjutnya.

Bersambung~

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Fate – Part 2 [ Cerbung IC ]

-SMA Idola, 06:55-
Gadis ini duduk di kursinya dengan wajah cemberut. Masuk ke dalam kelas dengan wajah tak niat bersekolah. Marsha yang akan duduk di sebelah gadis ini menampakkan wajah penasaran bercampur aneh, aneh dengan sikap sahabatnya ini.

“Lo kenapa?” tanya Marsha memberanikan diri bertanya kepada sahabatnya itu.

“Gue bego.. Bego banget..” ucap Chelsea menjambaki rambutnya pelan.

“Eh? Kenapa?” tanya Marsha dengan muka serius.

“Gue lupa cass hp gue Shaa…” ucap gadis itu dengan muka serius.

“Hishh..” ucap Marsha agak kesal. “Gue kira kenapa..” lanjutnya.

“Ahh gue kesel..” ucap Chelsea memajukan bibir bawahnya setengah centi. “Kalo dia jalan lagi sama cewe gimana?” lanjutnya.

“Cuek aja..” ucap Marsha. “Kalo dia buat lo, dia pasti balik..” lanjutnya.

“Shhh… Dia belum pergi ninggalin gue!!”

“Ya manatau..”

“Sialan..” ucap Chelsea lalu merasa bosan, jarinya tak beraktifitas seperti biasa. Tak ada yang bisa ia marahi, ia tanyai, maupun ia hubungi. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Gue bisa..” ucap Chelsea pelan. “Gue bisa ngak hubungin dia sebentar..” lanjutnya. Kemudian fokus belajar di sekolah, membuang jauh jauh perasaannya dan meluangkan waktunya dahulu kepada pelajaran.

Chelsea mengedarkan pandangan kepada sekelilingnya. Kantin sekolah berasa sedang mengawasinya, memata matai dirinya. Ia selalu menengok ke kanan, kiri, belakang bahkan atas, selalu gelisah di setiap saat. Marsha yang sedang memakan bakso itu selalu melihat ke arah Chelsea yang celingak celinguk gelisah, sambil meminum juice jambunya. Kini, ia meminum dengan sedotan panjang dan tak henti melihat ke arah kanan kiri belakang dan lain lain.

“Lo kenapa sih?” tanya Marsha bingung dengan perubahan sikap Chelsea, yang tak bisa diam.

“Hah? Oh gue pasti – ”

“Kak..” potong seseorang sambil menepuk pundak Chelsea.

“AAAA…” teriak Chelsea pelan lalu menepuk nepuk dadanya, kaget bukan main.

“Upss, sorry kak..” ucap anak itu. Chelsea menaikkan alisnya, merasa heran siapakah anak itu.

“Lo sia – ”

“Aku disuruh Miss Dry buat manggil kakak..” ucapnya. Chelsea mengangguk nganggukkan kepalanya. Anak itu sempat mengintip sedikit ke arah kantong rok Chelsea, tak tau mengapa di mukanya ada rasa kecawa. Lalu ia pergi keluar dari kantin, meninggalkan Chelsea dan Marsha yang bergegas pergi ke kantor guru.

“Yah..” ucap seseorang mengeluh setelah merongoh laci meja pujaan hatinya ini.
“Gimana?” tanya teman disampingnya.
“Kayaknya dari 2 minggu lalu ngak ada satupun yang diambil deh..” balasnya.
“Yaudah deh, lo kirim aja surat terus taruh di atas mejanya biar dia bisa ambil semua yang lo kasih..”
“Bener juga..” ucap lelaki itu lalu menulis sebuah surat yang ia selipkan di tempat pensil pujaan hatinya.
“Ayo cepet ntar ada yang liat lohh..”
“Iya bentar..” ucap pria itu lalu bergegas menulis. “Selesai..” lanjutnya. Setelah itu mereka pergi meninggalkan tempat itu sebelum ada yang melihatnya.

Chelsea telah sampai di kelas dengan semua hinaannya, caci makinya, sumpahnya kepada anak tadi. Anak yang berkata bahwa ia dipanggil Miss Dry, padahal yang dimaksud bukan Chelsea dirinya melainkan Chelsea kelas lain.

“Sumpah ya anak itu.. Coba aja gue tau dia siapa, kelas mana, bahkan rumahnya dimana.. Gue samperin kesana..” amarah Chelsea masih tak terima. Faktor pertama karena keadaan kantin jauh dari ruang guru, jika mau ke ruang guru harus melewati lapangan basket dan selanjutnya lapangan upacara yang super duper luas banget!! Bisa kali ya, 3ha lapangan doang, soalnya kisaran siswa SMA Idola +/- 3600 orang, itu baru SMA belum SMP/SD/TK. Lalu di ruang guru ngak ada Miss Dry, dikatakan Miss Dry berada di ruang perpustakaan lantai 3. Perpustakaan itu di lantai 3 pas banget diatas kantin. Gimana mereka ngak ngeluh, ngak ada jalan adem lain selain lewat lapangan lagi..

“Nggg… Chel?” tanya Marsha di sela sela amarah Chelsea.

“Apa??”

“Lo punya secret admirer?” tanya Marsha. Chelsea memutarkan pikirannya. Dia punya SA?

“Hah masa Sha? Kenapa emang, ada yang ngirim gue note dari SA gitu?” tanya Chelsea. Marsha menyerahkan sesuatu, kemudian Chelsea buru buru mengecek tempat yang dimaksud SA, dan ia mendapatkan banyak sekali coklat, di bawah laci meja belajarnya.

“Gila..” ucap Chelsea, sementara mata Marsha hanya berbinar kaget melihat coklat sebanyak itu.

“Dia tulis, dia udah 2 minggu dia ngasih itu Chel..” ucap Marsha.

“Entahlah Sha..” ucap Chelsea. “Gue cuman merasa aneh dan mual dengan semua ini. Ini konyol, terlalu norak..” lanjutnya sambil memegang perutnya dengan tatapan entahlah.

-Jl. Malioboro, Jogjakarta, 16:30-

“Yayaya..” balas pria ini masih fokus terhadap rubiksnya. Padahal, dari 8 jam sebelumnya, ia khawatir karena gadis ini tidak membalas pesan di semua akun yang ia kirim, dan padahal dia juga telah memberikan gadis ini pulsa.
‘Yayaya aja terus.. Lo ngak kangen?’
“Enggak ah..” ucap pria ini masih asik memainkan rubiksnya.
‘Ah terserah lo..’ ucap gadis itu. Beberapa detik, keheningan tercipta.
‘Gas kalo lo ga mau ngomong apa apa lagi gue matiin aja ya..’ ucap Chelsea tak suka dengan kedinginan Bagas ini.
“Ye.. Bentar dulu, gue lagi main rubiks..”
‘Ngapain lo nelfon gue waktu lo main rubiks?’
“Etdah.. Iye, Chel besok gue persiapan MOS. Gue kayaknya gabisa deh bales chat lo sebelum jam 4-an.. Soalnya gua kan harus di sekolah..”
‘Yah kak.. Tap – ‘
“Chel.. Gue baru persiapan MOS. Baru pembagian kelompok atau mungkin dikasih tau bahan bahan MOS.. Gue ngak mungkin langsung se-liar itu kan?”
‘Ah tau deh.. Terserah lo..’
“Percaya sama gue Chel.. Gue – ”
‘Iya..’
“Yah, jangan gitu, gue kan belum selesai ngomong..”
‘Gue udah tau tujuan omongan lo..’
“Yah tap – ”
‘Udah ah.. Gue mau kerjain pr dulu..’
“Yah Chel tap – ” omongan Bagas terhenti karena Chelsea sudah mematikan sambungan telfon terlebih dahulu.

“Dasar manja..” ucap Bagas ringan lalu memainkan rubiksnya lagi.

“Apa gue ngak usah ikutan MOS dulu aja ya?” tanya Bagas pada keheningan kamar kosnya.

“Gue takut ada apa apa sama Chelsea..”

“Nggg… MOS ngak terlalu penting sih..”

“Ngg… Yaudah deh, gue ngak ikutan MOS aja..” ucap Bagas, lalu ia mencari tiket ke Jakarta di ponselnya lalu menggumam sebentar. “Tapi gue cuman bisa seminggu doang..” ucap Bagas, ia memijit kepalanya pelan.

“Tapi gak apa apa deh..” ucap Bagas lagi. ” Gue bulan lalu Anniv gak ketemu, 5 hari lagi gue anniv..” lanjutnya.

“Ahh.. Emang ini waktunya gue pulang dulu ya..” ucap Bagas lagi. “Tapi gue ngeles alesan apaan ya..” lanjut Bagas.

“Hmm, gimana kalo alesannya gue mau ketemu nyokap dulu?” Bagas terus memutarkan pikirannya. Sampai akhirnya mendapatkan jawaban yang tepat untuk bolos kegiatan MOS itu. Tak lama, ia menelfon Pak Bambang, omnya sekaligus guru pengawas MOS calon mahasiswa baru.

“Halo om…” ucap Bagas saat disebrang sana sudah mengangkat telfonnya.
“Om, Bagas izin ngak ikutan MOS, boleh kan ya?”
“Om tau kan sebentar lagi mama ulang tahun? Jadi Bagas mau di rumah aja..”
“Boleh om? Baguslah om, terimakasih ya om..”
“Iya om, terimakasih lagi ya om..” Bagas mematikan sambungan telefonnya dan berteriak di dalam kamarnya. “Yeayy, Jakarta i’m coming.. Chelsea, wait me for a hours baby!!”

“Gue udah sampe Salma..” jawab Bagas saat Salma menanyakannya mengapa ia tidak datang ke acara persiapan MOS itu.
“Iya, gue lagi tiduran di kamar gue yang lama..”
“Iya, lo baik baik deh disana ya.. Gue titipin deh kangen lo sama orang sekitar..”
“Oke byee..” ucap Bagas lalu mematikan sambungan telefonnya. Ia kemudian menikmati suasana kamar yang sudah entah berapa minggu ia tinggalkan.

“Kamar gue tetep sama dari 6 minggu yang lalu ya..” ucap Bagas lalu bersantai di tempat tidurnya sambil menonton acara televisi yang ada di tv-nya.

“Bagassss!!!!!” teriak seseorang dari luar kamar. Bagas buru buru mematikan televisi dan memperagai pose orang yang sedang tidur.

“Bagas bangun…” ucap orang itu saat memasuki kamar Bagas.

“Gas..” ucap wanita itu lalu menggocangkan sedikit badan Bagas.

“Ada apa ma?” ucap Bagas lalu mengucek-ucek matanya, seakan benar benar baru bangun tidur.

“Bangun dong..”

“Sabar ma, baru bangun nih, susah berdiri..”

“Maksud kamu baru bangun dari 5 jam lalu ya?” ucap mamanya, Bagas membuka matanya lebar lebar.

“Kok?”

“Nah, ketauan kan.. Udah sana bangun, udah jam 12 nih, ngebo banget ya..” ucap mamanya lalu mengusap kepala Bagas pelan.

“Ckk, gaseru ah.. Mama serba tau..” ucap Bagas, lalu ia bangun dari tempat tidurnya lalu mengambil ponsel yang ada di meja samping kasurnya.

“Anterin mama yuk..” ucap sang mama. Bagas mengerutkan keningnya. “Ke CityWalk Sudirman..” lanjut mamanya.

“Buat?”

“Mama mau ke outlet temen mama, katanya dia jual baju baju bagus Gas.. Biar bisa lah kamu bawa ke Jogja nanti..” ucap mamanya, Bagas terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya. “Yaudah deh, ayo..” ucap Bagas. Setengah jam kemudian, Bagas mengeluarkan mobil dari garasi rumahnya, dan mengantar mamanya ke tempat yang mamanya minta.

“Rrrhhhh…”gumam Bagas untuk yang keseribu kalinya. Mamanya tak bilang bahwa mamanya mau mengajak teman lainnya pergi bersama mereka. Yang mengganggu Bagas adalah anak teman mamanya itu. Bagas yang sedang fokus menyetir itu, diganggu hebat oleh anak itu. Kadang, anak itu memencet ini, itu, buka ini, itu, dan lain lain.. Bagas hanya diam diam menebar aura benci, sementara kedua wanita dibelakang sedang asik ngobrol ria.

“Hey.. Jacklyn, please..” ucap Bagas penuh penekanan pada anak gadis yang tak bisa diam itu.

“Ma..” ucap Bagas agak manja. “Jacklyn nih..” lanjutnya sembara mengadu kepada mamanya.

“Ah Bagas dia kan masih anak anak.. Biarkan saja lah..” ucap mamanya lalu mengbrol lagi. Bagas menunjukkan muka tak sukanya kepada Jacklyn itu.

“Bagus, lo udah ngenganggu gue ya..” ucap Bagas. Jacklyn yang masih berusia 4,5 tahun itu tetap mengacak-acak mobil Bagas. Sampai akhirnya ia membuka laci untuk yang keseribu kalinya karena Bagas langsung menutupnya.

“Shut up!!” ucap Bagas tajam. Jacklym menatap lebih tajam lagi, lalu menggigit tangan Bagas. Bagas menjerit sedikit lalu kembali fokus ke arah jalanan.

“Untung jalanannya lagi macet. Kalo lagi normal gue udah nabrak mobil kali ya..” ucap Bagas lagi. Ia menaruh tangannya ke sandaran jog mobilnya, lalu menarik nafas sebentar dan mengeluarkannya. Di tempat ini memang selalu macet, dan Bagas ingat kapan terakhir kali ia pergi kesini, bersama pujaan hatinya, menuju mall yang sama.

CKREEKKK

Terdengar suara robekan terjadi di sebelah Bagas. Bagas lalu melihat ke arah sampingnya, dan menemukan Jacklyn sudah merobek….

“JACKLYNN!!!” teriak Bagas penuh amarah. Baik mamanya, ataupun teman mamanya ini langsung melihat ke arah Bagas.

“Bagas diam dulu dong..” ucap mamanya. Bagas yang ingin mengambil hasil sobekan Jacklyn itupun tidak diizinkan oleh Jacklyn, terjadilah tarik menarik antara Bagas dengan Jacklyn demi mendapatkan robekan kertas itu.

“Kasih ke gue.. Sekarang..”

“No!!” jawab Jacklyn dengan ganasnya. Jacklyn memang pintar berbahasa Inggris, maklum dari Jacklyn berumur 5 bulan, ia tinggal di Amerika bersama teman mamanya Bagas ini.

“Hhhrrr, children!! From i was child until now, i dont like any children!!” balas Bagas dengan tatapan kesalnya. Jacklyn membalas tatapan Bagas tak kalah tajam.

“Give it to me!!”

“No!”

“Give it or – ”

“No!!”

“Jacklyn..” ucap Bagas serius. Kali ini, Jacklyn menggigit tangan Bagas. Bagas melepaskan robekan itu. Kemudian, Jacklyn merobeknya lagi. Bagas bagaikan dirobek robek saat itu juga, bagaimana bisa ia membiarkan hal yang ia jaga selama ini, dirusak oleh tangan orang yang tak dikenalnya.

“Give it..” ucap Bagas lagi, Jacklyn tetap tidak memberikannya.

“No..”

“Give it or – ”

“You’re stupid!! It’s just paper..”

“Oh child, you can’t read? It’s my homework..” ucap Bagas ngeles, agar anak perempuan ini memberikan kertas itu kepadanya.

“Lie!!”

“Give it or – ” ucapan Bagas terhenti karena Jacklyn merobeknya menjadi lebih kecil lagi. Dan Bagas sudah geram dibuat seperti ini langsung membuat tindakan kecil yang berharap membuat anak ini jera.

“HAAAAAAAA!!!” teriak Jacklyn karena Bagas menjambak rambut Jacklyn. Rambut hitam yang lumayan panjang dan lurus itu, sedang ditarik oleh Bagas, sangking jeranya.

“Give it!!” teriak Bagas. Entah setan apa yang merasuki mama Bagas dan temannya sehingga tak beraksi apa apa, tetap asik ngobrol. Jacklyn akhirnye memberikan kertas itu, lalu terpancarlah wajah ingin menangis dari wajah imut Jacklyn itu.

“I dont care!!” ucap Bagas karena menurutnya Jacklyn minta ia kasihani. Bagas melihat kertas kertas yang dirobek, ia sekarang merasa sangat marah. Itu adalah surat Chelsea untuk dirinya saat Chelsea baru duduk di bangku SMA, saat Chelsea baru pulang dari luar negeri untuk menajalankan operasinya, saat Chelsea masih polos dan Bagas masih sedikit kekanak-kanakan.

Jacklyn memberikan satu buah tangannya kepada Bagas, tanda ia mau meminta maaf. Bagas menyahuti tangan Jacklyn lalu menaruh kertas itu di dalam dompetnya lalu menjalankan mobilnya karena macet mulai berkurang.

Bagas terus menampakkan ekspresi kesal. Bagaimana bisa, mamanya menyuruh dia dan Jacklyn untuk berjalan jalan di Mall sementara mamanya berbelanja dan melihat outlet temannya itu? Bagas terus menggendong Jacklyn, karena jika dilepas, Jacklyn mungkin bisa hilang entah dimana. Bagas memilih tempat yang tepat yaitu di Mc Dona*** terdekat.

Bagas membeli sebuah es krim sementara Jacklyn hanya melihatnya penuh memelas, berharap Bagas memberikan sedikit es krim itu untuknya.

“You wan’t it?” tanya Bagas kepada Jacklyn. Jacklyn mengangguk-angguk dengan muka memelas.

“Buy with your money!!” ucap Bagas lalu tetap asik memakan es krim itu. Selesai makan es krim, Bagas masih menggendong Jacklyn, dengan mengancam jika Jacklyn tidak bisa diam, maka Bagas tak akan segan segan menjambak rambut Jacklyn. Sampai akhirnya Bagas melihat dari belakang seorang wanita dengan rambut panjang yang hitam. Bagas tahu jelas siapa si empunya rambut itu. Bagas lalu mendekatinya dan menutup matanya. Wanita itu hanya kaget, sementara temannya membelokkan duduknya lalu juga kaget dengan apa yang terjadi.

“Stupid, you make she blind!!” ucap Jacklyn saat Bagas menutup mata gadis ini dari belakang. Jacklyn yang mau jatuh karena Bagas dempet dengan ketiaknya itupun melanjutkan kata katanya,”Let me sit down on the chair..”

“Ini siapa sih?” ucap gadis itu benar benar tak mengenali siapa yang menutup matanya.

“The boy who make you can’t see..” balas Jacklyn tak suka Bagas jepit.

“Shut up Jacklyn.. I dont make she blind, i only – ”

“Ka?” ucap wanita itu lalu bergetar hebat, tak lain adalah Chelsea. Bagas bisa merasakan air mata yang jatuh dari mata Chelsea karena tangannya yang berada di mata Chelsea.

“Yah, ketahuan deh..” ucap Bagas lalu membuka mata Chelsea. Chelsea lalu melihat ke arah Bagas, seakan tak percaya pria ini ada di hadapannya sekarang.

“Jacklyn, sit in here!!” ucap Bagas lalu menujuk tempat duduk di depan temannya Chelsea, yaitu Marsha. Lalu, Bagas duduk di depan Chelsea.

“If i dont do it?”

“I dont give you ice cream..” lanjut Bagas. Jacklyn terdiam lalu duduk di samping Bagas.

“So.. Where’s my ice cream?” ucap Jacklyn saat ia sudah duduk di samping Bagas.

“Hell..” balas Bagas. Bagas yang baru saja duduk itu, terpaksa harus berdiri lagi dan memesan es krim.

“Kak, gue aja yang beliin..” ucap Marsha saat Bagas akan keluar dari kursinya itu.

“Ngg.. Oke deh Sha, ini uangnya ya..” ucap Bagas lalu menyerahkan 2 lembar 100 ribuan kepada Marsha. “Beli 4 ya, gue sama kayak Chelsea. Lo tau kan rasa favorite dia apaan..” ucap Bagas. Marsha mengangguk, dan matanya tertuju kepada Jacklyn.

“Mau ikut?” tanya Marsha sambil memberikan tangannya kepada Jacklyn, Jacklyn meraih tangan Marsha lalu menganguk dan berjalan bersama Marsha menuju tempat pemesanan. Marsha ingin memberikan waktu berdua untuk Bagas dan Chelsea.

“Hai Chel..” ucap Bagas lalu meraih tangan Chelsea dan memegangnya. Chelsea terdiam membeku, perlahan butiran butiran kecil keluar dari matanya.

“Kok nangis?” tanya Bagas. “Lo ngak suka gue disini?” tanya Bagas lagi.

“Gue.. Gue kira.. Mmmm… Gue kira..” jawab Chelsea agak tidak yakin.

“Apa Chels?”

“Gue kira kemaren lo bikin alesan supaya ngak hubungin gue. Gue kira lo capek hubungin gue terus.. Gue kira – ”

“Jadi lo gini karena pikiran negative lo?” tanya Bagas memotong pembicaraan Chelsea. Sementara Chelsea hanya mengangguk. Bagas menarik nafas sebentar dan melihat wajah Chelsea yang tadi diwarnai dengan air mata.

“Terus kenapa lo nangis?” tanya Bagas lagi.

“Gue takut gue berhalusinasi, soalnya gue udah ngira dari semalem kalo lo udah ketemu yang lain. Gue kira lo udah mau mutusin gue, gue takut karena ketakutan gue jadi gue ngeliat orang serasa ngeliat lo.. Gue – ”

“Stop..” potong Bagas.

“Chelsea sayang..” ucapnya lalu mengelus elus tangan Chelsea dengan jempolnya, masih memegang tangan Chelsea. “Segala sesuatu yang diawali dengan berfikir negatif, akan membuat yang punya fikiran tersebut tertekan..” lanjut Bagas.

“Lo harus bisa berfikir positive Chel. Lo harus bisa berfikir kalo gue sayang sama lo..” ucap Bagas lagi. “Buktinya kemaren gue ngeLINE lo, BBM, WA, DM, nge sms, nelfon, tapi ngak lo angkat.. Dan akhirnya, gue ngisiin lo pulsa kan..” ucap Bagas. “Karena gue yakin lo bukan mengabaikan gue, gue yakin ada sebab yang ngak menuju pada kalimat ‘lo marah sama gue’ atau ‘lo bosen sama gue’ dan hasilnya bener kan? Lo lupa bawa hp..” lanjut Bagas. Bagas melepas genggamannya dari tangan Chelsea, lalu mengelap pipi Chelsea dengan tangannya.

“Ta.. Tapi.. Kok lo bisa.. Disini?”

“Gue males MOS.. Mending gue pulang, sekalian besok lusa nyokap ulangtahun..” ucap Bagas.

“Oh..” ucap Chelsea singkat. Bagas mengangkat satu alisnya. “Kenapa?”

“Enggak..” balas Chelsea melihat ke arah Marsha yang membawa es krim dari arah sana.

“Kok cuman jawab oh?”

“Terus mau jawab apa lagi?” tanya Chelsea. Bagas, tau arah pembicaraan Chelsea, malah ingin mengerjainya.

“Mmm, habis mama ulang tahun sih gue langsung balik..” ucap Bagas. Chelsea sedikit kaget lalu bersikap normal.

“Yaudah..” jawab Chelsea lalu menanti Marsha datang, sementara Bagas hanya senyum kemenangan.

“Wah, asik nih rasa blueberry..” ucap Bagas. Marsha membagikan jatah makanan kepada mereka satu satu. Lalu perhatian Chelsea menuju kepada Jacklyn.

“Dia siapa kak?” tanya Chelsea ke arah Jacklyn.

“Anak temennya nyokap..” jawab Bagas lalu kembali memakan Ice Cream itu.

“Hey, kamu siapa?” tanya Chelsea lalu menyentuh kepala anak itu. Sementara anak itu hanya diam, malu malu kucing.

“Malu? Lo bisa malu? Dimobil kelakuan lo kayak kucing garong aja sekarang malu malu kucing..” ucap Bagas. Jacklyn melihat ke arah Bagas tajam.

“Hah? Kucing garong?” ucap Chelsea lalu melepas tangannya dari kepala anak itu. “Ngak mungkin lah, anak cewe yang cantik, rambutnya panjang, poninya tebel, matanya bagus, hidungnya mancung, putih, dan badannya bagus ini punya kelakuan kayak kucing garong..” lanjut Chelsea.

“Emang dasar anaknya aja yang sok imut..” ucap Bagas.

“Shut up donkey!!” balas Jacklyn. Bagas kaget, baru kali ini ada anak kecil yang mengatainya dengan kata kasar seperti itu. Pasalnya, di Amerika sana, keledai adalah hewan paling bolot, lemot, dan ditunjukkan sebagai kata kasar untuk berkata ‘goblog’.

“Hey…” ucap Bagas tak terima. “Respectful, please..” lanjut Bagas geram.

“Dia pinter Inggris kak?” tany Chelsea saat Jacklyn hanya membalas omongan Bagas dengan mengeluarkan lidahnya.

“Lumayan..” jawab Bagas. “Dia dari kecil dibawa mamanya ke Amerika..” lanjut Bagas.

“Dia bisa bahasa Indonesia?” tanya Chelsea lagi.

“Ngak bisa ngomong jelas, tapi faham..” jawab Bagas.

“Hey, what’s your name?” tanya Chelsea kepada Jacklyn.

“Jacklyn.. But you can call me jack-jack..” jawab Jacklyn dengan imutnya. Bagas bergedik ngeri melihat Jacklyn berkata se-imut itu.

“Oh Jacklyn..” ucap Chelsea. “A beautiful name..” lanjutnya.

“Thankyou.. And your name is Chelsea, right?” tanya Jacklyn kepada Chelsea. Chelsea tersenyum heran.

“Yes.. You know from?”

“The donkey..” potong anak kecil itu sambil menunjuk Bagas.

“Rrhhh..” geram Bagas lagi.

“He’s so stupid..” ucap Jacklyn ingin membuat Bagas marah.

“Ha? Seriously?” tanya Chelsea bercanda.

“Yes..” ucap Jacklyn. “His IQ low than donkey..” lanjutnya. Sementara Marsha, Chelsea dan Jacklyn memojokkan Bagas. Bagas hanya diam. Tidak mau ikutan percakapan cewe cewe yang ia anggap gila di sebelahnya.

Bersambung…

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Fate – Part 1 [ Cerbung IC ]

– SMA Idola, 06:45 –
Gadis ini melangkahkan kakinya menuju ruang kelasnya. Gadis bertubuh tinggi yang sedang menggunakan cardigan hitam dan tas ransel serta sepatu sport bermerek itu melewati koridor dengan wajah kesalnya. Sudah sejak ia keluar dari kamarnya tak berhenti ditatap ponselnya itu. Anak anak kelas 12 lainnya yang tak sekelas dengan gadis ini pun mengangguk paham, akhir akhir ini, kebiasaan inilah yang dilakukan gadis ini.

“Kak Bagas bales LINE gue cepet!!!” ucapnya dengan voice note-nya. Ia terus mengetik kata per kata, mengirim banyak voice note, dan juga menelfon di LINE kepada pacarnya itu, Bagas. Gadis yang bernama Chelsea ini mulai geram, ia akhirnya marah marah sendiri walaupun tak bersuara. Akhirnya ia sampai di kelasnya. Tak heran sahabatnya, Marsha, tak merasa aneh dengan sikap Chelsea yang setiap pagi selalu membawa ponselnya kemana-mana. Yah, Marsha tau bahwa Chelsea sedang LDR dengan cinta pertamanya itu.

“Sha.. Gue kesel banget hari ini!!! Kak Bagas gak bales LINE gue, gue BBM gadeliv, terus suka pending.. Sms gak dibales, rhhh pokoknya gue kes – ”

“Berisik.. Pagi pagi udah marah marah aja lo..” potong Marsha tak suka dengan kebiasaan Chelsea yang satu ini.

“Tapi ini beda Sha, beda.. Ini yang pertama kalinya dia ngak bales chat gue..” ucap Chelsea. Marsha menangguk faham dan membulatkan mulutnya berbentuk huruf ‘o’.

Chelsea terlihat terdiam, merenungkan sesuatu, tak lama ia kembali mengetik sesuatu kepada Bagas, lalu ia berhenti memainkan ponselnya. Ia menggigit bibirnya bagian bawah dan mengedarkan pandangan ke arah sekitar.

“Kenapa?” tanya Marsha heran dengan perubahan sikap Chelsea ini.

“Walaupun udah 6 minggu dia pergi, walaupun udah 2 minggu ngak ketemu di sekolah, gue tetep merasa ada yang beda Sha..” ucap Chelsea akhirnya menaruh wajahnya di atas meja.

“Kenapa? Harusnya lo udah terbiasa..”

“Entahlah Sha.. Gue merasa ada yang beda aja, ada sesuatu yang ngeganjel.. Ada sesuatu yang beda.. Ada – ”

“Shutt.. Udahlah Chel.. Tenang..” potong Marsha mulai tak suka kalau Chelsea mulai negative thinking.

“Tapi Sha – ”

“Bawel banget sih lo yaampun….” ucap Marsha mulai serius. “Lo berfikir negative malahan nanti negative beneran keadaannya..” lanjutnya.

Chelsea memutar pikirannya. Ia mulai bisa menenangkan dirinya. Beberapa menit kemudian bel berbunyi, kemudian ia mengetik line terakhirnya untuk Bagas dan mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tasnya.

– Jl. Malioboro, Jogjajarta. 07:30 –
Alarm pria ini sudah berdering dari 1 jam sebelumnya. Tetapi, ia tetap tidak bangun. Dengan malas ia membuka matanya, lalu berjalan menuju kamar mandi dan mencuci muka. Lalu ia kembali ke kasur, tiduran, dan mengecek ponselnya.

“Astaga..” ucapnya kaget. Ia mendapat 45 LINE, 35 Voice Note, 3 BBM, 25 SMS, 50 Missed Call dan 35 Whatsapp Chat. “Seberapa kangennya lo sama gue sih Chel..”lanjutya. Ia lalu membuka satu per satu sms dari pacarnya tersebut. Ia hanya tersenyum senyum saja, sambil menatap hasil amarah pacarnya itu.

“Dasar childish.. Lo kira disini gue bangun pagi? Enggaklah.. Gue ngebo.. Mumpung masih libur soalnya lusa gue masuk mos keles..” ucap Bagas setengah cekikikan dengan gaya alaynya karena berbagai chat yang masuk awalnya sapaan berakhir ambekan. Bagas terkaget dengan 10 chat terakhir Chelsea di Line yang tak pernah ia sangka sebelumnya,

‘Kak, lo beneran ngak mau bales line gue? Gue sms ga lo bales, sampe pulsa gue habis kak.’

‘Kak, lo kenapa sih?’

‘Apa lo udah nemu yang lain?’

‘Kak, janji lo pliss..’

‘Kak, lo beneran ngak suka gue tanya tanya lagi ya?’

‘Kak, lo kenapa sih? Lo ngak cari cewe lain kan? Enggak kan?’

‘Kak, Marsha bilang sama gue, gue harus berfikir positif tapi gue gabisa :”)’

‘Kak, gue sayang sama lo. Lebih dari apapun kak..’

‘Kak, lo beneran lagi sama yang lain? Lo ngeabaikan line gue sampe segininya? Pulsa gw habis kak.. Paketan gw juga mau habis..’

‘Kak, gue udah masuk sekolah, Pa Duta yang ngajar, ngeri gw. Jaga hati, jaga fikiran, jaga mata ya sayang. Gw nunggu lo disini, sampe kapanpun..’

Bagas membulatkan matanya. Ia mulai tak suka dengan sikap pacarnya yang selalu berfikir negative ini. Dia mulai mengetik sebuah message untuk Chelsea, sebuah kata kata yang pasti membuat hati gadis ini nyaman.

‘Hai sayangg.. Aku baru bangun niech, wkwk.. Semalem begadang nonton bola, maaf ngak bilang bilang ke kamu yahh.. Aku sayang sama kamu, ngak mungkin ada cewe lain dihati ini, cuman ada kamu, kamu seorang. Aku udah janji, bahkan aku bersumpah bakalan mertahanin kamu. Aku bakalan jaga hati, mata, bahkan jaga diri buat kamu, kamu seorang. I love you more than everything. See you my lovely, my endless love :* ‘

—–

Bagas bersiap siap untuk berkeliling Jogja, walaupun sudah 6 minggu disini, ia masih saja tak hafal jalan jalan disini. Iapun mencari sarapan, dan akhirnya memasuki rumah makan padang, ia belum terbiasa dengan makanan jogja.

“Ada yang bisa saya bantu mas?” ucap pelayan itu ramah.

“Rendang sama nasi sama peyek-nya satu ya. Minumnya es teh manis..” ucap Bagas. Pelayan tersebut mengambilkan makanan Bagas sementara Bagas pergi ke suatu meja makan.

“Ini mas..” ucap pelayan itu kepada Bagas.

“Ya, terimakasih..” balas Bagas. Iapun memakan makanan itu, dan mulai tersenyum sendiri saat mengingat kejadiannya dengan Chelsea dulu.

‘Kak, gue bawain lo makanan nih..’
‘Widih, siapa yang masak?’
‘Gue dong..’ lalu pria ini mencoba masakan pacarnya, yaitu rendang.
‘Enak kak?’ tanya pacarnya. Pria ini dengan terpaksa mengangguk dan membuat muka dengan tampilan meyakinkan.
‘Yay, habisin ya..’
‘Chel, gue ke si Salma bentar ya..’
‘Yah kak, kenapa? Masakan gue ngak enak ya?’
‘Enggak Chel.. Enak kok, nih gw bawa ya bekel lo, ntar gw balikin..’
‘Yah kak.. Kenapa sih? Jujur aja..’
‘Serius Chel. Ini demi nilai Fisika gw, gw sekelompok sama dia soalnya..’ ucap pria ini meyakinkan pacarnya. Pacarnya pun mengangguk dan berusaha berfikir positif.
‘Gak apa apa kan Chel?’
‘Ngak kak.. Ngak apa apa.. Lagian kalo lo susah, gw ngak rela kak..’
‘Makasih.. You’re the best i have..’ ucap Bagas lalu mencium kening Chelsea dan meninggalkannya dengan senyum kepastian.

“Lo fikir masakan lo sama kayak masakan orang orang hebat?” ucap Bagas ngomong sendiri.

“Enggak..” jawabnya lalu tertawa pelan. Ia tersenyum, tersirat rasa kangen kepada cewe itu, cewe yang ngak bisa masak, cewe yang suka berfikir negative, cewe yang suka bermain dengan fikirannya sendiri, cewe yang bisa menciptakan dunianya sendiri, cewe yang bisa ngebuat Bagas kesel banget kalo udah ngomongin tentang cowo sekolah lain yang cool saat main basket, cewe yang punya phobia yang aneh yaitu takut sama topeng monyet, dan lain lain. Tak lama, seseorang duduk di sampingnya.

“Hoy..” ucapnya. Bagas membulatkan matanya, lalu sebuah senyuman terlukis di mulutnya.

“Salma? Ngapain lo kesini?”

“Ahh.. Gue ngak diterima di UI..” ucap Salma menunjukkan ekspresi datarnya. “UnPad, ITB, IPB, UT, hampir semua yang ada di daerah Jakarta – Bandung yang bagus ngak nerima gue..” lanjutnya.

“Yaampun Sal..” ucap Bagas. “Terus lo ngapain kesini? Jangan bilang lo kerja?” lanjutnya.

“Enggaklah.. Anehnya gw diterima di UGM, haha.. Entahlah, UGM juga bagus tapi sekolah dibawah UGM gw ngak diterima..”

“Yaampun, gila.. Lo satu kampus sama gue Sal..”

“Hah iya? Yaampun Gas, gw kira lo disini jalan jalan..”

“Ngapain jalan jalan, ini ini aja yang mau diliat..”

“Terus lo sama Chelsea?”

“LDR lah.. Gw masih ngak rela kehilangan dia..”

“Yaampun gila, lo masuk fakultas apa?”

“Hukum..” ucap Bagas berharap bahwa Salma juga sama sama fakultas hukum.

“Yah, gue masuk sastra..” ucap Salma. Bagas menaikkan bahunya lalu berkata,”Yasudahlah ngak bisa ngubah juga kan..”

“Yah elah Gas, gw sama lo kan bisa pulang bareng astaga..”

“Hmm, iya juga sih.. Iya..” ucap Bagas lalu menghabiskan makannya.

“Eh, lo ngak makan?”

“Udah tadi..” ucap Salma. “Eh Gas, temenin gw ke gramed yuk, mau beli buku nih gw..” lanjutnya.

“Ayo..” ucap Bagas. Bagas mengecek ponselnya, Chelsea membalas LINE-nya. Padahal ini baru jam 09.00, Bagas menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dasar bandel..”

– SMA Idola, 08:52 –
Pelajaran Pa Duta selesai, kini digantikan dengan pelajaran Bu Okky. Chelsea mengganti ke pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan Bu Okky. Menunggu cukup lama guru masuk, sampai akhirnya Miss Uchie, guru bahasa Inggris yang masuk ke kelas mereka.

“Morning class..” ucap Miss Uchie masuk kekelas Chelsea dkk.

“Morning Miss..” ucap seluruh kelas dengan wajah takut salah bawa jadwal.

“Bu Okky sekarang tidak masuk. Jadi kalian diberi tugas mencari puisi lama dari pengarang terkenal Indonesia yang berhubungan dengan Alam Indonesia..” ucap Miss Uchie berwibawa di depan anak anak kelas 12.3 ini.

“Miss..” ucap Josia mengangkat tangannya.

“Iya Josia?”

“Boleh cari contohnya di ponsel kami?” tanya Josia. Miss Uchie tampak berfikir sejenak dan mengangguk.

“Oke, boleh cari di ponsel kalian masing masing. Tapi kalian harus mencari minimal 20 dan isinya ya..” ucap Miss Uchie tak karuan. Semua murid membulatkan matanya, tak percaya. Lalu Miss Uchie berjalan menuju pintu keluar.

“Jangan berisik, saya akan mengajar di kelas sebelah..” ucapnya lalu keluar kelas Chelsea. Dengan semangat seluruh murid mengeluarkan handphone mereka, Chelseapun mengeluarkan IPhonenya. Tapi ia tak langsung mencari, ia malahan nge-LINE dengan Bagas.

“Kak? Gila, gw sayang banget sama lo..” ucap Chelsea saat membaca mess terakhir Bagas. Chelsea membalas line Bagas, tapi tak lama kemudian, Bagas malahan nelfon Chelsea. Mungkin, kangen dengan suara cerewet gadis ini.

“Apa kak?”
‘Lo bandel ya.. Lo pelajaran apa sekarang?
“Kosong..”
‘Bohong sekali, pasti lo dikasih tugas kalaupun guru ngak masuk..’
“Iya.. Gue emang dikasih tugas..”
‘Yaudah kerjain jangan main hp..’
“Tapi boleh kok cari di hp..”
‘Cari tugasnya bukan di line kan? Tugasnya juga bukan ngeline gue kan?’
“Hati gue nugasin gue gitu..”
‘Udah sana kerjrain tugas lo. Ntar hp lo disita ribet kan..’
“Gapapa gue ngak mau ngerjain tugas dulu..”
‘Bandel banget sih.. Gue matiin aja ya..’
“Yah jangan..”
‘Gue matiin nih..’
“Lo dimana sih?”
‘Gramed sama si Salma.. Udah ya, gue gamau lo kenapa napa..’ ucap di sebrang lalu mematikan telefonnya.

“Gila..” ucap Chelsea memegangi kepalanya. “Ngapain dia sama Ka Salma?” lanjutnya.

“Kenapa Chel?” tanya Marsha menyadari perubahan sikap Chelsea itu.

“Ka Bagas.. Ka Bagas.. Jalan sama Ka Salma..”

Marsha menjatuhkan pensil yang ia pegang, terdiam sendiri. Lalu dengan cepat melihat ke arah Chelsea, memastikan bahwa gadis itu baik baik saja. “Chel..” ucapnya. “Mereka cuman temenan kok..” lanjut Marsha.

“Gimana kalo Ka Bagas kena karma? Dia malahan suka sama Ka Salma?”

“Ngak mungkin Chel.. Percaya gue..” ucap Marsha memegang bahu kanan Chelsea.

“Tapi Sha.. Tapi – ” belum selesai Chelsea melanjutkan kata katanya, Marsha langsung memeluknya dari samping.

“Lo cantik, lo baik, lo ngangenin, lo emang kadang egois kadang childish, tapi kalo lo ngak gitu, lo bakalan ngebosenin. Ka Bagas ngak akan mungkin ninggalin lo, demi Salma..” ucap Marsha masih memeluk Chelsea.

“Lo yakin kan Sha?”

“Yakin seyakin yakinnya..” ucap Marsha lalu melepas pelukannya ke Chelsea. “Percaya sama gue.. Dia ngak akan ngelepas lo..” lanjutnya.

“Iya gu – ”

“Kecuali cewenya lebih cantik, atau ngak manja, ngak suka negatif thinking kayak lo!!” potong Marsha sambil tersenyum kemenangan, lalu pergi keluar kelas. Dari dalam kelas Chelsea sudah memikirkan hal hal lain dengan gaya kekanak kanakannya, sementara diluar Marsha sudah senyum senyum sendiri membayangkan bentuk wajah Chelsea yang pasti ngambek banget.

-Gramedia Jogjakarta Plaza, 12.30-
“Ahh Gass.. Gue udah pernah baca yang ini…” ucap Salma menolak buku yang ditawarkan Bagas. Bagas tersenyum kecut. Ia menahan kesal yang ia rasakan saat ini.

“Sal, kita udah 3 jam di Gramedia dan lo belum nemu satupun buku?”

“Yah, gimana lagi dong?”

“Yaudah deh gini aja.. Gue ke AW dulu deh ya.. Kalo lo udah, samperin gue di AW…” ucap Bagas, Salma mengerutkan keningnya.

“Yah?”

“Lo lama sih..”

“Ya terus gue harus gimana? Emang ngak ada novel yang bagus..”

“Sama aja lo kayak Chelsea, seneng novel, lama banget belinya..”

“Cewe Gas, cewe..”

“Alah, lo cewe gadungan juga..”

“Sialan..” balas Salma lalu memukul Bagas pelan dengan buku yang ada di tangannya.

“Yaudah ya Sal, gue makan dulu..” ucap Bagas. Salma menganggukkan kepalanya dan kembali memilih-milih novel. Bagas melangkahkan kakinya keluar dari Gramedia dan melangkah menuju A&W.

-A&W Jogjakarta Plaza, 13:05-
“Ekhem…” ucap Bagas bedehem. “Sorry mba, bukannya saya kurang sopan tetapi saya duluan duduk disini..” ucap Bagas kepada seorang wanita yang duduk di meja yang sudah ia tempati.

“Yasudah duduk saja..” balas wanita itu menunjukkan mukanya. Bagas merasa familiar dengan muka tersebut, tetapi ia tak mau terlalu kepo dengan siapakah cewe itu. “Lagian saya juga ngak keberatan jika tempat saya di duduki orang.. Toh saya cuman sendiri..” lanjutnya.

Bagas mengambil tas kecilnya yang ia taruh di bangku di depan bangku yang diduduki gadis ini. “See?” ucap Bagas. “Gue duluan disini, pliss biarkan gue sendiri..” lanjut Bagas agak nyolot.

“Lo daritadi kemana ha?” balas gadis itu tidak kalah nyolot.

“Gue mesen makanan!!” ucap Bagas tambah nyolot. Gadis itu tak terima dinyoloti oleh Bagas dan akhirnya membalas ocehan Bagas sampai akhirnya keributan terjadi diantara mereka.

“Fine, lo bisa pindah kan? Masih banyak meja kosong disana!!” ucap Bagas tak suka menjadi pusat perhatian 2-3 meja disekitarnya.

“Kenapa ngak lo aja yang pergi?” balas gadis itu tak kalah sewot. “Lo cowo kan? Ngalah dong..”

“Hey, ngaca dong!! Gue kan yang pertama kali duduk disini.. Ngak tau diri dasar..” ucap Bagas. Terpancar aura tak suka di wajah gadis ini. Tetapi, ia malah memilih duduk dan kembali makan.

“Kalo lo mau disini, lo bisa duduk sama gue.. Gue ngak mau tinggalin tempat ini sampai gue puas!!” ucap gadis itu tak sedikitpun melihat ke arah Bagas.

“Lo.. Lo..” ucap Bagas terbata tak percaya dengan sikap gadis di hadapannya itu. “Lo kenapa sih? Gue bersikeras disini, gue udah milih tempat yang adem, gue – ”

“Selfish!!” komen gadis itu tetap kalem. Ia lalu mengambil earphone di tasnya agar seakan tak mendengar ocehan Bagas sama sekali.

“Rhhh…” ucap Bagas lalu pergi dari situ, ke tempat yang jauh dari meja itu agar tak tercipta kekesalan lagi di dalam dirinya. Salma tak lama datang dan tak terdiam dengan tatapan seakan bertanya apa yang terjadi.

“Ngak..” ucap Bagas pelan lalu memakan burgernya lagi. Salma mengangkat bahunya dan memakan ice flood yang ia beli dan makan bersama Bagas dengan muka yang sulit ditebak.

-Halaman Belakang Gerbang SMA Idola, 15:10-
Gadis ini masih bergelut dengan ponselnya. Ia berusaha semaksimal mungkin menghubungi siapa yang bisa ia hubungi. Ia terus mencoba sampai akhirnya bener bener ngak bisa sama sekali..

“Ka Bagasss….” ucap gadis ini setengah teriak. “Pulsa gue habiss.. Paketan gue habiss.. Gue mau nelfon jemputan pake apa kakkk??” lanjutnya. Ia menaruh sebelah tangannya diatas jidatnya dan mengusapnya pelan. SMA Idola, khusus kelas 12, jadwal pulang seharusnya pukul 15:30 tetapi karena hari ini ada rapat mendadak, jadi dipulangkan pukul 14:45..

“Chel.. Gak pulang?” tanya Difa, teman Chelsea saat lewat depan gerbang keluar.

“Dijemput jam biasa..” balas Chelsea.

“Yaudah, naik gih..” ucap Difa. Mata Chelsea berbinar, ia mendapatkan sebuah pengharapan, tanpa ragu, ia menaiki motor Difa dan mereka berjalan menjauh menuju rumah masing masing.

“Lo lama amat pulangnya Dif?” tanya Chelsea memecah keheningan.

“Biasalah, OSIS..” balas Difa, Chelsea hanya meng”o”kan saja. “Gue anter lo sampe mana nih?” tanya Difa.

“Gerbang perumahan aja..” ucap Chelsea.

“Yakin?”

“Iyalah, gue perumahan apa lo apa.. Lagian kan kalo lo mau ke rumah lo, lewat perumahan rumah gue kan?”

“Yaudah ngak usah bawel..”

“Yee.. Gue cunan kasih tau..” ucap Chelsea lalu memukul punggung Difa pelan.

“Dasar jones..”

“Heh, gue LDR ya..”

“Paling bentar lagi juga pegat..”

“Sialan..” ucap Chelsea sama sekali tidak memasukkan perkataan Difa kedalam hatinya.

“Bisa aja kalo dia nemu cewe yang lebih dewasa, seangkatan, sekelas lagi, yang pinter masak, ngak bawel, dan ngak manja..” ucap Difa. Chelsea seakan langsung lemas mendengar perkataan Difa. Chelsea memutar keras otaknya, sampai akhirnya keputusan akhirnya adalah mengecek IPhonenya..

“Becanda Chelsea.. Jangan pundung dong!!” ucap Difa melihat Chelsea yang terlihat pucat dari spion.

“Iya..”

“Gue becanda Chel..” ucap Difa merasa bersalah.

“Heeh..”

“Yah elah, Bagas cuman cinta sama lo. Ngak mungkin dia ngehianatin lo.. Percaya sama gue..”

“Marsha juga bilang gitu..”

“Nah..” kata Difa. “Lo harusnya makin percaya Chel.. Buktinya udah 2 orang yang ngomong gitu..”

“Heeh..”

“Yah elah, nih ya.. Cobaan pasti ada tapi kesetiaan ngak akan pudar gara gara cobaan doang..”

“Ah bawel.. Cepetan aja deh, gue ngantuk..” komen Chelsea lalu memutuskan melihat ke arah jalanan saja. Sementara Difa hanya geleng geleng melihat perlakuan temannya ini.

-Perumahan Harsen blok F12 no 15, 21:26-
‘Jadi pulsa lo habis?’ tanya suara disebrang sana. Gadis ini hanya menangguk sambil tiduran, melamun dan memeluk Avel, boneka pemberian pacarnya ini.
‘Jawab..’
“Udah gue jawab..”
‘Kapan?’
“Tadi gue ngangguk..”
‘Bego..’ komen pacarnya ini. ‘Lo mau ngangguk sampe kepala lo patah juga gue ngak akan tau jawaban lo pea..’ lanjutnya. Chelsea memukul jidatnya pelan, menyesali perbuatannya itu.
“Hehe.. Maaf..”
‘Lo kenapa sih?’
“Ngg.. Ngak kenapa napa sih..”
‘Bohong..’ elak pacarnya ini. ‘Cerita woy..’ lanjutnya.
“Iya serius ngak apa apa..”
‘Gue kenal lo.. Ngak mungkin semuanya berjalan sempurna..’
“Yeh dibilangin..”
‘Ayolah..’
“Ckk.. Yaudah deh, gue cuman mau bilang kalo gue tadi kepikiran tentang jan – ”
‘Gue bakalan nepatin janji gue..’
“Mmmmm…”
‘Percaya sama gue.. Gue cuman cinta sama lo..’
“Ya..”
‘Serius..’
“Kan gue udah bilang ya..”
‘Gue ngak percaya lo baik baik aja..’
“Nggg?”
‘Gue janji Chel, gue tau lo ngak percaya sama gue. Lo bisa pegang janji gue, bahkan – ‘
“Ahh udah ya, gue mau bikin pr dulu..”
‘Eh Chel – ‘
“Bye Bagas Rahman Dwisaputra!!!” ucap Chelsea lalu mematikan telfon dari Bagas itu. Kemudian, ia menutup wajahnya dengan Avel, boneka hadiah ulang tahun dari Bagas itu.

“Hai Avel..” ucap Chelsea sambil mengangkat Avel ke atas hadapannya.
“Gue sayang ka Bagas loh..” ucap Chelsea memandang Avel, tak terasa Chelsea melukis sebuah senyuman di mulutnya.
“Ka Bagas sayang ngak ya sama gue?”
“Haha, pasti lah..”
“Ngg, kalo ngak gimana ya?”
“Kamu percaya kan Vel kalo ka Bagas cuman suka sama aku? Sayang sama aku?”
“Atau..”
“Ahh Avel…” ucap Chelsea lalu memeluk bonekanya itu. Ia lalu merubah posisi Avel menjadi di sampingnya, menidurkan Avel di sebelahnya sambil tetap berpegangan tangan. Chelsea melihat langit langit kamarnya.

“Ka Bagas?” desis Chelsea pelan karena seakan melihat sosok Bagas di langit kamarnya.

“Nggg…”

“Gue takut kehilangan lo kak..”

“Atau..”

“Gue takut gaada lo?”

“Ahh, gue cape mikirin lo terus..”

“Mikirin kalo misalnya lo bener bener cari cewe lain..”

“Sakit kak.. Sakit..”

“Ah Chelsea lo ngomong apaan sih? Ka Bagas itu sayang sama lo..”

“Cinta sama lo..”

“Ahh, gue tidur aja deh daripada ngomong sendirian..”

“Night kaa..”

“Avel..” panggil Chelsea sambil membalikkan pandangannya kepada Avel.

“Tolong dong, kasih tau Ka Bagas..”

“Gue sayang dia..”

“Gue takut kehilangan dia..”

“Gue takut dia jadi milik orang lain..”

“Hanya lo yang bisa ngebuat gue inget Ka Bagas Vel..”

“Night Vel..”

“Tolong bilang Night ke Ka Bagas ya Vel..”

“Chelsea gapunya pulsa nih..” ucap Chelsea setengah tersenyum.

“Bye..”

“Aku sayang kamu Vel..”

“Apalagi Ka Bagas..”

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Fate – Prolog [ Cerbung IC ]

Ini adalah cerita lanjutan ‘Kita Berdua Bahagia’

Lulusan SMA Idola merayakan perpisahan sebesar besarnya. Mereka terpancar wajah bahagia. Tak terkecuali Bagas, murid kelas IPA yang meraih tingkat ke-2 sesekolah, tingkat ke-2 se Jakarta dan tingkat ke-4 se Indonesia. Semua sudah rapih dengan jas -pria- dan kebaya -wanita- masing masing. Semua tampak rapih, sambil sesekali melontarkan senyum berat untuk berpisah.

Semenjak SMA, keadaan banyak yang berubah di SMA Idola. Mulai dari Cindai yang pindah sekolah ke Jogja, ataupun Fattah yang telah putus dengan Marsha dan melanjutkan sekolah di Australia. Ataupun Naoca yang pindah kembali ke Bandung karena papanya pindah pekerjaan. Atau Novi yang ikut sang papa mama kembali ke Manado karena neneknya sakit-sakitan. Atau Ivan yang pindah ke SMA Negeri. Dinda yang pindah sekolah ke Pulau Dewata. Atau juga tragedi Marsha yang malah jadian dengan Rafli, teman sekaligus tetangga Chelsea. Atau tragedi Difa yang sekarang mengincar Angel, sang kakak kelas. Atau Gilang yang sudah putus hubungan dengan Cindai tetapi sekarang tinggal di rumah Chelsea karena ternyata punya ikatan saudara dan kebetulan ia tinggal jauh dari orangtuanya. Dan banyak lagi..

Salma, gadis tomboy yang daritadi siap untuk membacakan puisi terakhir di sekolah ini, menangis sebentar. Tak kuasa sudah 3 tahun ber-SMA disini, 3 tahun menjadi baik, 3 tahun tau arti dari kebaikan, sekarang hanya terdiam di atas panggung. Menunggu waktu yang tepat untuk membacakan puisi.

Waktu demi waktu berjalan, acara telah selesai. Bagas berniat untuk menghampiri pujaan hatinya, ya!! Siapa lagi kalau bukan Chelsea, wanita terkenal dengan sosialita yang tinggi, manja, golongan anak mampu, pintar dan memiliki paras yang tak sembarang orang bisa memilikinya. Di bangku belakang kiri paling pojok, Chelsea terdiam. Bagas berusaha melewati barisan bangku yang lumayan panjang, satu satunya jalan agar bisa mendekati Chelsea, karena samping dan belakang Chelsea sudah tembok aula. Sudah tinggal beberapa detik lagi Bagas akan sampai, tiba tiba Bagas terdiam. Tanda tanya besar memenuhi kepalanya. Ada apa dengan anak ini, fikirnya.

“Chel? Kamu kenapa?” tanya Bagas mendekati Chelsea dengan hati hati. Chelsea terdiam, lalu menghapus air matanya segera, seakan akan ia sedang kelilipan. Yap, Chelsea sedang menangis.

“Eh kakak…” ucap Chelsea. “Aku ngak kenapa napa kok kak..” ucapnya lagi.

“Kenapa nangis kalo gitu?” ucap Bagas lalu duduk di samping Chelsea. Chelsea terdiam, beberapa detik kemudian, Chelsea menangis sejadi-jadinya di bahu Bagas. Bagas jelas heran, ini pertama kalinya ia melihat Chelsea nangis tanpa sebab. Bagas membiarkan Chelsea melakukan hal itu dan menunggu Chelsea selesai. Sembari menunggu, Bagas memegang pundak kiri Chelsea, yang tidak menempel pada pundaknya, dan mengelusnya, agar bisa sedikit menenangkan Chelsea. Banyak orang melirik ke arah Bagas seakan bertanya, ada apa? Tetapi Bagas hanya menjawab dengan menaikkan sebelah pundaknya. Sudah 15 menit mereka disana, aula sudah sepi. Hanya tinggal mereka berdua, dan akhirnya Bagas memberanikan diri memulai percakapan dengan Chelsea.

“Chel… Kamu kenapa?” tanya Bagas tetapi tak dijawab oleh Chelsea.

“Chel?” tanya Bagas yang bingung dengan tingkah Chelsea. Lalu, Bagas memeluk Chelsea dari samping kemudian ia baru mengetahui bahwa Chelsea tertidur.

“Tidur? Halaahhh…” ucap Bagas tak percaya dan akhirnya ia menggendong Chelsea di belakangnya. Lalu menuju parkiran sekolah dan akhirnya menidurkan Chelsea di bangku depan mobilnya atau lebih tepatnya di sampingnya. Bagas kemudian naik ke dalam mobil dan menjalankan mobil, keluar dari area sekolah.

Jakarta, adalah Ibukota Indonesia yang tak henti-hentinya diselimuti oleh kemacetan. Seperti sekarang, mobil yang digunakan oleh kedua pasangan remaja ini terjebak macet total di dekat Bundaran HI. Sudah lama Bagas menunggu kemacetan yang benar benar total, mobilnya tak bisa bergerak sedikitpun. Akhirnya ia menyetel lagu ‘Mariah Carey ft Luther V- Endless Love’ yaitu lagu favorite Chelsea dan Bagas. Musik mulai menyala dan Bagas ikut bernyanyi. Perlahan, kemacetan mulai bisa hilang. Sedikit semi sedikit mobil Bagas bisa berjalan diantara kemacetan ini.

“My love..” nyanyi Bagas sedikit menyetir mobilnya maju 6cm, lalu 6cm lagi, dan seterusnya.

“There’s only you in my life.. The only thing that’s bright..” ucap Bagas lalu menatap Chelsea yang masih tertidur.

“My first love, you’re every breath that I take.. You’re every step I make.. And I.. I want to share.. All my love with you.. No one else will do…” nyanyi Bagas lalu mengenggam satu tangan Chelsea. Chelsea sedikit tersentak tetapi kemudian tetap tidak bangun dari tidurnya.

“And your eyes.. Your eyes, your eyes. They tell me how much you care. Ooh yes, you will always be.. My endless love..” nyanyi Bagas diakhiri dengan mencium punggung tangan Chelsea.

“Two hearts, two hearts that beat as one.. Our lives have just begun..” nyanyi Bagas kemudian membelai tangan Chelsea dengan jempolnya.

“And Forever.. Forever.. I’ll hold you close in my arms. I can’t resist your charms..”

“And love.. Oh, love. I’ll be a fool, for you.. I’m sure. You know I don’t mind. Oh, you know I don’t mind.. Cause you, You mean the world to me..”

“And yes.. You mean the world to me. I know I’ve found in you. My endless love and love. I’d play the fool. For you, I’m sure
You know I don’t mind..”

“Whoa, you know I don’t mind. Oh, yes. You’d be the only one. Cause no, I can’t deny. This love I have inside. And I’ll give it all to you.. My love.. My love, my love..”

“My.. Endless Love…” akhir nyanyian Bagas lalu mencium lagi punggung tangan Chelsea. Tak lama setelah itu, Chelsea terisak sedikit. Bagas menyadari hal itu dan bertanya,”Kamu sudah bangun?”

“Ya..” ucap Chelsea singkat lalu memalingkan mukanya ke arah jendela mobil untuk melihat keadaan luar, tetapi masih membiarkan Bagas memegangi tangannya.

“Tadi kenapa” tanya Bagas lalu melepaskan tangan Chelsea dan mulai mengelus-elus rambut Chelsea. Kemudian kembali fokus ke jalan karena kemacetan mulai hilang. Chelsea tidak menjawab, keheningan tercipta diantara mereka, dengan ditemani lagu tadi yang tersetel dari awal lagi.

“Aku tau kamu udah bangun dari tadi..” ucap Bagas karena tak mendapat jawaban sama sekali dari Chelsea.

“Yaudah..” ucap Chelsea singkat masih tak mau suasana cair.

“Kamu kenapa sih? Aneh banget..” tanya Bagas tak mengerti dengan perubahan sikap Chelsea. Tetapi Chelsea masih diam.

“Bukannya aku ngak peka Chelsea, cuman untuk kali ini aku ngak ngerti kamu kenapa. Oke, kamu kecewa aku ngak bisa nebak seperti biasanya tetapi ya mau bagaimana? Aku bener bener ngak tau..” ucap Bagas ingin segera mendapatkan wajah ceria Chelsea. Chelsea menghembuskan nafas beratnya dan mulai membuka mulutnya.

“Aku takut kak..”

“Takut apa?” tanya Bagas. Chelsea memejamkan matanya dan menggigit bawah bibirnya sambil menahan agar air matanya tidak mengalir.

“Aku takut kamu dapet cewe lain yang lebih cantik di Jogja nanti..” ucap Chelsea. Bagas terdiam, memang benar, Bagas memang akan melanjutkan kuliah di Jogja, kota pelajar. Tetapi hal yang mustahil kalau Bagas akan mendapatkan cewe lain, dan menghianati Chelsea, gadis yang paling sempurna di matanya.

“Chel, jangan gitu…” ucap Bagas pelan. “Aku ngak mungkin ngelakuin itu..” lanjutnya.

“Aku cuman takut kak..” ucap Chelsea. “Karna aku pernah ngerasain disakitin kamu.. Dengan kepura-puraan kamu aja udah sakit. Kamu pura pura ngegodain cewe lain kalo kita lagi ke mall, atau kamu pura pura siul kalo ada cewe lain lewat. Aku tau itu cuman bercanda. Tapi kamu bercanda aja aku sakit, apalagi kamu beneran dapet yang lain disana?”

“Chel!! Kamu kok jadi negative gitu sih pikirannya? Kita udah pacaran 2 tahun Chel.. Aku fikir ngak akan ada bedanya setelah aku pindah. Aku yakin, kita bakalan tetap bersama..”

“Kenapa kakak yakin?”

“Karena kakak hanya suka sama kamu!! Kakak merasakan cinta pertama itu sama kamu.. Bukan yang lain..”

“Tapi kan – ”

“Kalau kamu omongin itu lagi, hati hati aja Tuhan beneran kasih kakak kesempatan buat bareng yang lain..”

“Tuh kan..” ucap Chelsea bete. Bagas tersenyum penuh kemenangan, dan dia memegang kembali tangan Chelsea sambil berkata,”Thats one of the billion impossible things ever i do.. Trust me, believe me!! I’m a royal man.. I will give all my feel to you. And only you..”

“Promise?”

“More than promise!!”

-Bandara Halim Perdana Kusuma, 13:45-
Bagas terus membawa kopernya sementara Chelsea tak henti hentinya berbicara dan tak mau melepaskan gandengan tangan Bagas. Hari ini, hari terakhir mereka bertemu secara langsung.

“Jangan nakal ya disana..”

“Jangan lupa makan ya..”

“Jangan lupa bales BBM aku ya..”

“Jangan lupa bales LINE juga..”

“Tiap jam 7 malem aktifin Skype ya..”

“Jangan jadi pemales ya..”

“Jangan mabuk mabukan ya..”

“Jangan pernah ke diskotik ya..”

“Jangan jadi orang ngak bener ya..”

“Jangan berantem mulu ya, kerjaannya..”

Bagas menjawab semua perintah Chelsea dengan perkataan,”Iya..” atau “Iya sayang..” atau juga “Heeh, Chelseaa…” atau juga,”Iya.. Aku janji..” atau juga,”I dont forget it!!” Tetapi saat Chelsea bertanya, “Jangan lupa sama janji kamu ya..” Bagas melotokan matanya. Bingung dengan sikap Chelsea yang mengungkap kejadian tentang kisah mereka kemaren.

“Aku ngak akan inkar..”

“Aku serius sayang sama kamu..” ucap Chelsea menatap mata Bagas dalam.. Sangat dalam

“Aku lebih sayang sama kamu..” ucap Bagas. “Ingetin aku supaya jangan lupain janji aku..” lanjutnya main main.

“Ish.. Orang lagi serius..”

“Iya sayang.. Iya..” ucap Bagas lalu mencium kepala Chelsea.

“Udah ya aku pergi dulu.. Jaga diri kamu baik baik.. Dan kamu juga harus janji jangan cari yang lain disini..”

“Iya.. Gue ngak – ”

“Apalagi yang brondong..” ucap Bagas bercanda.

“Ishh.. Ogah amat sama ade kelas..” ucap Chelsea lalu melipat tangannya di atas perutnya.

“Yauda aku mau pergi dulu ya..” ucap Bagas lalu mengelus pelan rambut Chelsea. Seakan tak mampu pergu jauh darinya.

“Iya.. Baik baik ya..” ucap Chelsea. Bagas hanya melihat Chelsea dalam, kemudian memeluk Chelsea erat. Sangat erat.. Tak terasa Chelsea meneteskan air matanya dan membalas pelukan Bagas lebih erat.

“Satu hal yang harus lo inget Chel..” ucap Bagas berbisik kepada Chelsea.

“Gue sayang sama lo..” lanjutnya.

“Iya kak, gue juga..” ucap Chelsea. Beberapa menit kemudian mereka melepaskan pelukan mereka. Bagas melambaikan tangan ke arah Chelsea seakan sudah mau berangkat dan air mata Chelsea jatuh lagi. Ia melambaikan tangan juga, Bagas memberhentikan langkahnya dan membiarkan kopernya berdiri tegak disana lalu kembali menghampiri Chelsea.

“Gue lupa satu hal..” ucap Bagas. Chelsea hanya terdiam dan menaikkan satu alisnya. Bagas langsung mencium pipi Chelsea dan kembali ke kopernya. Chelsea diam, dia senyum haru. Tak lama mereka kembali melambaikan tangan bersama-sama dan akhirnya Bagas berteriak,”I LOVE YOU CHELSEA…” sambil melambaikan tangannya lagi. Chelsea mengacungkan jempolnya, tak kuat untuk berteriak. Dan Bagas akhirnya mulai mendekati pesawat. Chelsea melihat kepergian Bagas dari jendela.

“Ini kayak dulu ya kak.. Tapi ketuker, dulu gue yang mau pergi..”

“Semoga lo ngak ngecewain gue kak.. Semoga..” ucap Chelsea menghapus air matanya.

“Oh iya kak, gue juga sayang sama lo..” ucap Chelsea kemudian melambaikan tangan lagi karena Bagas melambai lagi saat akan memasuki pesawat.

“Pliss, gue berharap lebih sama lo.. Jangan kecewain gue..” ucap Chelsea menunggu hingga pesawat benar benar pergi.

Bersambung..

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Tanpa Judul – Part 7 {Ending} [Cerbung Idola Cilik / IC / ICIL ]

SMA Indische, Jumat pagi sangat ramai dengan adanya glady resik untuk Open House hari Sabtu besok.. Mulai dari anak kelas 1 SMA yang mengadakan gelar musik dan anak kelas 2-3 SMA yang memeriahkan berdasarkan ekstra yang mereka pilih. Beberapa perwakilan kelas 2 dan 3 akan ada yang menjadi MC, mm sekitar 4 orang saja, termaksud Agni.
“Ya, sekarang kita akan menja… Ahh, salah salah.. Maaf maaf.. Ulang..” ucap Agni mulai frustasi karena tidak hafal hafal dengan teks yang akan ia bacakan, ia tak sepintar Sivia dalam merangkai kata kata, di kartu yang ia pegang hanya ada daftar acara, bukan perkataan yang harus ia ucapkan.
“Iya, keren banget kan ya tadi penampilan anak kelas X.7 dengan ngeband lagu Semputna..” ucap Kak Angel memulai percakapan sebagai MC.
“Iya, sekarang kita akan melihat penampilan dari ekstra IPA dengan percobaan mereka..” ucap Agni dengan cepat.
“Arhhh, salah Ag.. Terlalu cepat.. Salah, kamu fokus dong..” ucap Pa Dave sebagai pembina para MC ini. Agni menjambaki rambutnya sendiri, ia dan 3 orang lainnya berdiri di sudut panggung dengan kelas lain yang sedang pertunjukkan di belakang mereka.
“Fokus Agni, fokus..” ucap Pa Dave. “Kamu pasti bisa, bapak yakin.. Pelan pelan aja, jangan terlalu terburu-buru..” lanjutnya.
“Mmm, iya pak..” ucap Agni kemudian menghembuskan nafas beratnya. Agni mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, tatapannya terdiam pada lapangan basket, Cakka sedang bermain basket bersama Rio, Alvin, Gabriel dan semuanya. Ia tersenyum sejenak, lalu ia melihat ke arah Shilla yang sedang latihan Cheers di lapangan upacara dan Ify yang sedang menghafal not not piano yang akan ia mainkan sementara Sivia beserta tim mading asik menghias sekolah mereka. Agni menghembuskan nafasnya, kemudian tersenyum, entah kenapa kekuatan dalam dirinya balik lagi.
“Ni, siap siap..” bisik Ka Angel pelan karena Pa Dave menyuruh mereka mengulang dari awal. Agni mengangguk, lalu ia berusaha membuat kata yang pas..
“Iya, keren banget kan tadi penampilan anak kelas X.7 dengan acara ngeband mereka?” ucap Ka Angel.
“Pastinya dong Ngel, anak Indische..” balas Ka Septian membalas perkataan Ka Angel, Pak Dave mengangguk-angguk seakan mengatakan bagus, kini giliran Agni berbicara.
“Ya.. Pastinyalah harus bagus, kita juga pasti bangga sekolah di Indische nah sekarang kita akan melihat penampilan dari ekstra kulikuler IPA dengan percobaan mereka yang pasti akan menarik dan sayang untuk kalian lewatkan..” ucap Agni dengan santai, di bawah, Pa Dave mengacungkan jempol pas sekali para anak ekskul IPA naik ke atas panggung lalu mereka turun ke bawah, menghampiri Pa Dave.
Agni menghembuskan nafas lega, kini ia masih melihat daftar daftar acara yang harus ia karang ceritanya..
“Gue baru tau kenapa nyewa MC itu mahal. Ternyata susah banget ya jadi MC..” ucap Agni, ia memegang dahinya untuk mengelap keringatnya.
“Nih..” ucap orang menyodorkan pocari sweat di hadapannya, Agni melihat ke arah orang itu, Cakka.
“Makasih..” ucap Agni tersenyum kepada Cakka.
“Iya sama sama, capek kan ya?”
“Banget.. Jadi MC aja harus mikir segala..”
“Biarin, biar otaknya ngak berdebu..” ucap Cakka mengejek Agni. Agni menunjukkan wajah sinisnya. Lalu cakka menjepit lengannya ke leher Agni, sambil berbisik di telinga Agni,”Ngak usah sinis gitu lah..”
“Aaaarrrr, lepasin..” ucap Agni berusaha melepas lehernya yang dijepit oleh Cakka.
“Iya, udah nih..” ucap Cakka lalu melipat tangannya sambil memejamkan matanya.
“Ck, kenapa lo?” tanya Agni sambil meminum pocari pemberian Cakka.
“Ag..”
“Apaan?”
“Mmm, besok.. Besok..”
“Apa?”
“Besok lo ke acara pesta dansa dan topeng bareng gue ya..”
“Emang ada?”
“Ada lah, biasanya juga setiap open house acara terakhirnya pesta dansa dan topeng..”
“Yah yasudahlah..”
“Beneran Ag?”
“Iya..”
“Ngak bohong?”
“Yaudah deh ngak jadi..”
“Yahh Agniiiii….”
“Makanya jangan banyak nanya..”
“Iya.. Maaf..” ucap Cakka masih cengir cengir sendiri. Kembali, Agni dipanggil ke atas panggung. Yah, mau tidak mau dia memang harus kembali latihan.
“Semangat Agsay..” ucap Cakka pelan lalu pergi dari sana. Agni hanya senyum, ucapan pelan Cakka bisa terdengar hingga gendang telinganya. Ia menggelengkan kepala lalu kembali naik ke atas panggung.

====================

“Hey…” ucap Dayat saat Zahra membuka matanya. “Sudah bangun? Nyenyak banget..” lanjutnya.
“Eh Day..” ucap Zahra memegangi kepalanya, ia ingat semua yang terjadi dan ia rasa, ia tak perlu tanya apa yang terjadi menurut sudut pandang Dayat.”Makan ya..” ucap Dayat lalu membukakan bubur yang diberikan rumah sakit untuk Zahra.
“Ngak laper ah..”
“Yah, tapi seenggaknya makan dong..”
“Ngak..” ucap Zahra menolak mentah mentah.
“Mmm, yaudah sih..” ucap Dayat menutup bubur itu dengan tutup tupperware, “Tapi besok ngak boleh ikut Open House dan jangan minta jajanin ya!!” lanjutnya.
“Yahhh..” keluh Zahra lalu dengan cepat berdoa dan memanyunkan mulutnya.
“Jelek ah.. Jangan begitu..” ucap Dayat lalu mengelus pelan rambut Zahra.
“Lagian ngak mau makan dipaksa..”
“Makanya jangan sakit..”
“Kamu kok jadi bawel sih, kayak Rio?”
“Apa?” tanya Dayat. “Kamu?” lanjutnya. Zahra terdiam, ia baru sadar bahwa ia seharusnya tidak mengucapkan kata ‘kamu’ sekarang. Kini, ia merasa harga dirinya rendah, sangat rendah.
“Udah ngebet banget ya?” goda Dayat sambil mengaduk aduk bubur Zahra.
“Ah, males ah..” ucap Zahra langsung menutup kepalanya dengan selimutnya.
“Hey..” ucap Dayat pelan. “Ngak apa apa kamu bilang begitu.. Aku ngak pernah nganggep kamu rendah hanya karena kamu duluan bilang aku kamu..” lanjutnya. Zahra terdiam, lalu dengan perlahan membuka selimut yang menutupi kepalanya.
“Yaudah..” ucap Zahra cepat. Lalu, ia membuka mulutnya. Dayatpun memasukan bubur yang ada di sendok ke dalam mulut Zahra.
“Day..” ucap Zahra pelan.
“Ya?”
“Habis ini anterin aku ke sekolah ya..”
“Buat apa?”
“Aku mau latihan drama..”
“Kamu udah digantiin kok, ngak usah khawatir..” ucap Dayat berusaha menyembunyikan kepanikannya.
“Ngak ah..”
“Ih, bebal ya..” ucap Dayat greget dengan kelakuan gadis di depannya ini.
“Kan biar bisa kamu traktir waktu Open House..” ucap Zahra. Dayat menaikkan satu alisnya, heran.
“Tanpa kamu ikut drama juga bisa kok..”
“Ngak ah.. Ngak spesial nanti..”
“Kok?” tanya Dayat pelan, tak mengerti dengan jalan fikiran gadis ini.
“Kalo habis drama, aku bisa kasih kamu upah sebagai bayaran makanan itu..” ucap Zahra ngaco.
“Kok kamu ngak nyambung?”
“Sudahlah..” ucap Zahra menengahi. “Ikutin aja Day..” lanjutnya.
“Hmm, okelah.. Makan aja ya sekarang..” ucap Dayat lalu kembali menyuapi Zahra. Hati mereka berdua bergetar, merasakan sesuatu yang berbeda. Saling suka, tetapi tak berani mengungkapkan kepada satu sama lain.
‘Gue sayang lo Ra.. Sampai kapanpun..’ batin Dayat tersenyum, sangat ikhlas.
‘Gue sayang lo Dayat..’ batin Zahra juga ikut tersenyum.

====================

“We are INDISCHE.. Give we I.. Give we N.. Give we D.. Give we I.. Give me S.. Give we C.. Give me H.. Give – ”
“Stop.. Kurang kompak..” potong pelatih Cheers kepada tim Cheersnya.
“Ucapan diawal keras, tapi akhir akhirnya melemah..” lanjutnya. Tim Cheers hanya mengeluh kesal. Mereka sudah mengulang hampir 20 kali gerakan ini, gerakan dasar. Tetapi memang sang pelatih yang perfectionis, yang ingin segala sesuatu sempurna.
“Come on guys.. Kita pasti bisa.. Semangat!! Go go cheers go go cheers go!!” ucapnya menepuk tangannya berkali kali memberikan arahan kembali.
“We are INDISCHE!! Give we I.. Give we N.. Give we D.. Give we I.. Give we S.. Give we C.. Give we H.. Give we E.. Go Indische go Indische GO!!!” teriak mereka tak ingin mengulang lagi. Sang pelatih mengerutkan kening. Mempertimbangkan keputusannya untuk berkata ‘ya’ atau ‘ulang’.
“Ulang..” ucapnya lagi. Tim Cheers mau tak mau harus mengulang lagi gerakan mereka.
“We are INDISCHE… Give we I.. Give we N.. Give we – ”
“Stop… Aren, kamu ngak kompak..” ucapnya.
“Arhh..” gerutu Shilla lalu menarik nafas dan membuangnya. Membuat dirinya se-rilex mungkin. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dan terdiam pada lantai 3 sekolah. Dimana ia mendapati Alvin sedang melihatnya dengan senyum mautnya. Shilla terdiam membeku, beberapa detik kemudian, ia membalas senyuman pria itu.
“Shilla.. Apa yang kamu lakukan? Fokus please!!!” ucap sang pelatih karena teman temannya sudah mulai tetapi ia masih melihat ke arah Alvin.
“Sorry Miss Uchie.. Sorry..” ucapnya lalu kembali fokus.
“Fokus fokus fokus…” ucap Miss Uchie yang lalu memberikan aba aba.
“We are INDISCHE… Give we I.. Give we N.. Give we D.. Give we I.. Give we S.. Give we C.. Give we H.. Give we E.. Go Indische go Indische GO!!!!” teriak mereka dengan semangatnya. Miss Uchie tersenyum dan memberi tepuk tangan.
“Good Job girls.. Oke, istirahat sejenak.. Lalu kita akan latihan gerakan terakhir oke..” ucapnya lalu pergi dari lapangan upacara itu. Shilla duduk di pinggir lapangan dengan tim Cheers lainnya. Tak lama, Alvin datang membawa sekotak makanan.
“Nih makan Shill..” ucap Alvin memberikan kotak makan itu kepada Shilla.
“Yah Vin.. Ini belom kelar, masa dikasih makanan.. Enggak ah..” ucap Shilla menolak halus.
“Kenapa? Ntar ngak ada energi loh..”
“Kalo makan ntar diulang bisa sampe 100 kali..”
“Yaudah deh kalo begitu.. Ada yang bisa aku bawain?” tanya Alvin ramah sambil menaruh tempat makan itu di belakangnya.
“Mmm, minuman berenergi aja deh..”
“Ya udah, aku beli dulu di kantin ya..” ucap Alvin lalu beranjak pergi. Saat Alvin datang, Miss Uchie sudah menyuruh Shilla dan Tim Cheers untuk kembali latihan.
“Nih Shill..” ucap Alvin.
“Yah, udah ada Miss Uchie..”
“Udah biarin aja..”
“Yah nanti kamu dimarahin..”
“Gapapa, aku ngak takut sama dia. Lagian kalo – ”
“Alvin!!!” teriak Miss Uchie kepada Alvin karena ia mengganggu Shilla dan Tim Cheers lainnya.
“Siap Miss..” ucap Alvin lalu berdiri dengan tegak, maklum, Alvin adalah salah satu anggota upacara sekolah ataupun pramuka dan keorganisasian lainnya dan Miss Uchie adalah pembinanya.
“Lari keliling lapangan 7 putaran..”
“HAH?” tanya Alvin kaget. Bagaimana bisa ia dihukum hanya karena mendekati Shilla.
“Cepat atau – ”
“Iya Miss..” ucap Alvin lalu dengan malas bergerak menjauh.
“Yah setidaknya gue masih bisa ngeliat Shilla..” ucap Alvin pelan dan mulai berlari. Terkadang saat ia melihat wajah Shilla, semangatnya seakan ada dan ia seakan tak mau mengakhiri kegiatannya itu.

“Eh Vin.. Ngapain lo disono?” tanya Gabriel menghampiri Alvin yang sedang berlari tak jelas di lapangan upacara.
“Miss Uchie hukum gue Gab..”
“Gara gara?”
“Gue caper ke si Shilla..” ucap Alvin lalu masih tetap berlari. Gabriel mencari sosok Shilla yang dimaksud oleh Alvin.
“Dasar..” ucap Gabriel pelan lalu mengarah ke arah Sivia.
“Vi.. Sini gw bantu..” ucap Gabriel mendekati Sivia yang sedang menggantungkan hiasan di langit langit koridor utama.
“Eh Gab jangan..”
“Ngak apa apa..”
“Eh tapi Gab.. Eh Gab.. Gabbbb!!!” teriak Sivia saat Gabriel akan naik ke atas kursi dan kursinya goyang, lalu menyebabkan Sivia terjatuh. Gabriel dengan reflex langsung menangkap Sivia dengan satu tangannya, alhasil, Sivia tidak jatuh tepat sekali di lantai.
“Rhhh.. Batu banget sih lo!!” ucap Sivia kesal dan menepuk-nepuk celananya.
“Maaf..” ucap Gabriel lalu turun dari kursi yang tinggi itu.
“Lo gak apa apakan?” ucapnya lagi.
“Tanya sama ini nih..” ucap Sivia menunjuk tangannya yang agak berdarah sedikit.
“Yah.. Sivia..” ucap Gabriel tak percaya dengan apa yang terjadi.
“Apa yah yah mulu?” tanya Sivia kesal. Lalu, Gabriel dengan cepat membopong Sivia yang tak kenapa-napa itu menuju UKS. Sivia hanya diam, ia membeku. Melihat wajah Gabriel yang fokus akan membawanya ke UKS dia tersenyum pelan tapi pasti hingga membentuk sebuah senyuman manis.
“Yah Vi.. UKSnya tutup..” ucap Gabriel melihat ke arah Sivia yang sedang ia bopong itu. Perlahan, ia merasakan hal yang sama. Ia membeku karena senyuman Sivia itu.
“Gue sayang sama lo..” ucap Gabriel yang berbicara dari hatinya.
“Gue juga..” balas Sivia tak menyadari apa yang ia ucapkan. Mereka bertatapan sampai beberapa lama dan akhirnya, tersadar karena bel tanda usai latihan dibubarkan.
“Eh.. Maaf..” ucap Gabriel lalu menurunkan Sivia. Sivia hanya tersenyum tersipu malu. Lalu, mereka diam, salting sendiri, menggaruk-garukkan kepala mereka yang tidak gatal dan akhirnya merubah warna muka mereka.
“Gue.. Turun duluan ya Vi..” ucap Gabriel akan berjalan. Sebelum akhirnya ia pergi, Sivia mendaratkan kecupan di pipi Gabriel. Gabriel terdiam membeku sementara Sivia langsung kabur saat itu juga.
“Emang cuman elo, Via..” ucap Gabriel memegang pipinya itu.
“Yang bisa ngebuat gue lupa diri..” lanjutnya lalu berjalan menuju lapangan upacara. Berniat menyusul Alvin dan akan balapan motor dengannya.

====================

Ify terus memainkan tuts tuts pianonya. Kini, nadanya semakin cepat dan akhirnya, ia menyelesaikan lagunya.
“Cape?” tanya Rio saat Ify memegang dahinya dan meminum air putih di sampingnya itu..
“Lumayanlah..”
“Udah boleh pulang belum?”
“Sebenernya udah dari setengah jam lalu..”
“Mau pulang?” tanya Rio duduk di dekat Ify.
“Hmm, ayok lah..” ucap Ify. Ify dan Rio pergi menuju parkiran.
“Naik Fy..” ucap Rio. Ify mengangguk dan akhirnya menaiki motor Rio. Sepanjang perjalanan, keheningan tercipta sampai akhirnya, Rio menarik tangan Ify agar melingkar di pinggangnya. Ify terkaget, tapi akhirnya ia menerimanya juga. Sudah setengah jalan mereka lalui, sampai akhirnya Rio melawan arah menuju rumah Ify. Ify mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan apa yang dilakukan Rio.
“Yo? Kok?”
“Shuuuttt.. Kita jangan pulang dulu..”
“Jangan culik gw Yo..” ucap Ify pelan. Rio hanya terkekeh pelan, lalu tersenyum dan berkata,”Hanya gue kan yang bisa nyulik lo?”
“Lo beneran mau nyulik gue Yo?”
“Menurut lo?”
“Enggak..”
“Yaudah, diem dulu..” ucap Rio lalu membawa Ify ke suatu tempat. Tempat dimana Ify impi impikan bisa masuk kesana tanpa uang orangtuanya, dan kini terkabul.
“Yo, lo serius?”
“Yapp..” ujar Rio lalu menggandeng tangan Ify masuk ke dalam tempat itu. Ia mengarah ke arah kasir.
“Selamat datang di Theater JKT48. Ada yang bisa dibantu?”
“Mba, saya mau beli tiket Handshake sama Shanju dan Nabilah..” ucap Rio lalu mengeluarkan dompetnya.
“Ada lagi?”
“Ngak mbak..”
“Kita lagi ada promo untuk konser Theater pribadi mas..”
“Apa itu mbak?” tanya Rio. Mbak mbak itu menjelaskan dengan teliti, dan Rio mengerutkan keningnya. Tertarik untuk membeli tiket itu..
“Berapaan ya mbak?” tanya Rio benar benar ingin membeli.
“Yang paling murah 14 juta mas.. Yang paling mahal 50 juta..” ucap mbaknya. Rio menegukkan ludahnya. 14 juta? Apa ia memiliki uang sebanyak itu? Lalu pandangannya mengarah kepada Ify. Ia mempunyai tabungan sekitar 20 juta, tetapi itu adalah impiannya untuk membeli motor ninja kesukaannya. Tapi sepertinya, senyum gadis itu adalahnya semangatnya sekarang.
“Oke, saya beli yang 14 juta mbakk..” ucap Rio lalu mengeluarkan kartu kreditnya.
“Oke mas, sekitar jam 4 sore, mas akan menonton konser ini dahulu lalu akan dijalankan sesuai kesepakatan tadi.. Tetapi acara handshake akan dimulai jam 3.30 mas..” ucap mbak mbak itu lalu memberikan tiket itu kepada Rio.
“Oke deh mbak.. Makasih ya..” ucap Rio lalu mendekati Ify. Ia mengecek jam tangannya, ternyata masih jam 14.00, ia harus menunggu sekitar 1 setengah jam lagi.
“Fy..” panggil Rio kepada Ify yang sedang duduk di ruang tunggu.
“Ya Yo?” ucap Ify bangkit berdiri.
“Makan dulu yuk.. Masih lama..” ucap Rio lalu menggandeng tangan Ify menuju suatu rumah makan favorite Rio di sekitar situ.

====================

“Serius Pak, bisa?” tanya Zahra tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia diperbolehkan oleh sang pembina ekstra Drama untuk mengambil perannya lagi.
“Iya.. Lagian saya yakin kamu pasti sudah hafal..” balasnya kepada Zahra.
“Wahh.. Makasih ya pak.. Makasih..”
“Iya, kamu tidak usah ikut glady resik.. Saya yakin kamu pasti bisa walaupun tidak mengikuti glady resik ini..” ucapnya lagi.
“Terimakasih pak.. Terimakasih..” ucap Zahra lalu menyalami tangan guru itu. Lalu keluar dari ruang guru. Ia memberitahukan Dayat tentang apa yang diberitahu oleh pembina ekstra drama tadi.
“Baguslah.. Bagus.. Ayo kita pulang sekarang..” ucap Dayat.
“Ngak ke agni via ify shilla du – ”
“Mereka udah pulang..” ucap Dayat tersenyum. Lalu dengan senang hati Zahra mengikuti kembali Dayat menuju parkiran dan pulang ke rumah.

“Lo seriusan Zaa?” tanya Agni di kamar Zahra saat mereka sedang main bersama.
“Iya.. Gue serius..”
“Ahh.. Cie yang udah dipercayakan di Ekstra Drama..”
“Jangan mulai Ag, pliss..”
“Haha, tapi lo beneran ngak apa apa?”
“Iya Ag.. Bantuin gue ngehafal aja yuk..”
“Ayo..” ucap Agni sambil menilai acting Zahra dalam hal ini.

====================

“Gue suka sama lo..” ucap Alvin saat Shilla sedang meminum jus jeruk di restaurant favorite mereka.
“Gue.. Gue..” ucap Shilla tergagu. Shilla bingung, apa yang harus ia katakan.
“Shill..” ucap Alvin memegang tangan Shilla.
“Would you be mine?” lanjutnya. Shilla terdiam, ia tak bisa berkata apa apa lagi. Dia hanya menunduk.
“Hey..”ucap Alvin memegang dagu Shilla dan menaikkannya ke atas.
“Apa jawaban lo?”
“Gue juga suka sama lo..” ucap Shilla pelan. Tak terasa pipi Shilla memerah dan Alvin tersenyum entah artinya apa yang jelas mereka sangat senang hari ini.
“Vin..” ucap Shilla.
“Ya Shilla?”
“Bisakah kamu meyakinkan aku bahwa kamu benar benar suka sama aku?”
“Apa yang bisa aku lakukan?”
“Bisakah kamu jujur, apakah kamu beneran suka sama siv – ”
“Enggak.. Aku  cuman suka kamu. Itu semua hanya acting semata..”
“Serius?”
“Iya..”
“Ada bukti?” tanya Shilla. Alvin memainkan alisnya lalu perlahan mendekat ke arah Shilla. Menatap wajah Shilla dan semakin dekat.. Semakin dekat.. Sedikit lagi, dan saat Shilla menutup matanya, Alvin berbicara di telinga Shilla,”Buktinya aku bisa bikin kamu deg-deg-an gini..”

Shilla terdiam, ia merasakan malu yang luar biasa hebat. Ia kira Alvin akan menciumnya tapi..
“Ngak usah malu.. Aku hanya ingin kamu sudah tau bahwa aku benar benar suka sama kamu..” ucap Alvin lalu kembali memegang tangan Shilla.
“Jadi jawabannya?” tanya Alvin penuh harap.
“Jangan bikin aku berfikir untuk yang kedua kalinya..” ucap Shilla. Alvin menaikkan alisnya tak mengerti, Shilla mengangguk mantap dan akhirnya, mereka bersama menyantap es krim kesukaan mereka, dimana dari sinilah mereka bisa saling kenal.

====================

“Yuk Fy.. Udah mau mulai handshake nya..” ucap Rio kepada Ify saat mereka sedang duduk di Cafe sebelah Theater. Ify mengangguk mantap lalu ia digandeng Rio menuju Theater.
“Selamat datang di Theater JKT48. Ada yang bisa dibantu?” ucap mba mba yang lain, ramah.
“Saya mau ikut handshake..” ucap Rio.
“Handshake siapa mas?” tanya mba mba tersebut kepada Rio.
“Nabilah sama Shanju mbak..” ucap Rio.
“Oh disana mas. Nanti tinggal berikan tiket di setiap stand yang ada disana..” ucap mba mba itu ramah lalu menunjuk sebuah stand.
“Siap mbak..” ucap Rio. Mereka ke arah stand masing masing dan handshake dengan idola masing masing.

“Yo, mau kemana lagi?” tanya Ify saat mereka selesai handshake, Rio membawanya kedalam sebuah tempat seperti aula tetapi terdapat panggung.
“Nonton aja..” ucap Rio lalu duduk di sofa yang disediakan pas untuk dia dan Ify. Mereka duduk di atas sofa dan menonton panggung tersebut, tak lama, para anggota JKT48 berdatangan dan menyanyikan dan menari sekitar 3 lagu. Ify takjub, ia tak pernah merasakan sensasi seperti ini. Dilihatnya Rio, Rio hanya tersenyum sambil berkata,”Nikmatin aja..”
JKT48 terus beraksi. Sampai akhirnya pada lagu yang kelima, Melody menuju ke depan panggung dan berkata.
“Selamat sore, Kak Ify dan Kak Rio. Saya Melody. Saya leader disini, di team J generasi pertama. Sesudah ini, saya dan teman teman saya akan menyanyikan sebuah lagu, tetapi mohon maaf jika kurang memuaskan, semoga kalian suka..” ucapnya lalu kembali kedalam barisan. Musik dinyalakan dan akhirnya terdengar suara nyanyian mereka.

Jika kamu merasa bahagia
Semoga saat ini kan berlanjut
Selalu selalu selalu ku akan terus berharap

Walaupun ditiup angin
Kuakan lindungi bunga itu

Cinta itu suara yang
Tak mengharapkan jawaban
Tapi dikirimkan satu arah

Dibawah mentari tertawalah
Menyanyi menari sebebasnya

Karena kusuka suka dirimu
Kuakan selalu berada disini
Walau didalam keramaian
Tak apa tak kau sadari

Karena kusuka suka dirimu
Hanya dengan bertemu denganmu
Perasaanku jadi hangat
Dan menjadi penuh

Disaat dirimu merasa resah
Berdiam diri aku mendengarkan
Kuberi payung yang kupakai tuk hindari hujan

Air mata yang terlinang
Kan ku seka dengan jari di anganku

Cinta bagai riak air
Meluas dengan perlahan
Yang pusatnya ya dirimu

Walaupun sedih jangan menyerah
Kelangit!
Impian!
Lihatlah!

Kapanpun saat memikirkanmu
Bisa bertemu kebetulan itu
Hanya sekali dalam hidup
Kupercaya keajaiban

Kapanpun saat memikirkanmu
Akupun bersyukur kepada tuhan
Saat kutoleh ke belakang
Ujung kekekalan

Karena kusuka suka dirimu
Kuakan selalu berada disini
Walau didalam keramaian
Tak apa tak kau sadari

Karena kusuka suka dirimu
Hanya dengan bertemu denganmu
Perasaanku jadi hangat
Dan menjadi penuh
Ujung kekekalan

JKT48 membungkuk dengan hormat lalu Ify berdiri sambil terus bertepuk tangan.
“Terimakasih..” ucap mereka.
“Keren yo.. Keren banget..” ucap Ify menitikkan air mata. Rio hanya tersenyum ringan.
“Kak.. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh teman kakak yang bernama Rio ini..” ucap Nabilah, oshinya Ify. Ify heran. Rio mendekati panggung lalu memberikan instruksi kepada mereka.
“Mmm. Hai Fy..” ucap Rio diatas panggung.
“Yo? Kok?”
“Lo ngak usah heran Fy..” ucap Rio menggaruk kepalanya itu. “Gue sebenernya mau ngomong sesuatu..”
“Hah? Apaan?”
“Sebenanya, gue suka sama lo..” ucap Rio kemudian membungkuk di atas panggung dan mengeluarkan seikat bunga. Dibawah panggung hanya ada Ify yang membeku. Tak tau apa yang harus dilakukannya.
“Lo mau ngak jadi pacar gue Fy?” saat Rio menyebutkan kata kata itu, para member JKT48 langsung menyanyikan sebuah lagu. Lagu kesukaan Ify.

Walaupun diri ini menyukaimu
Kamu seperti tak tertarik kepadaku
Siap patah hati kesekian kalinya
Yeah! Yeah! Yeah!

Ketika kulihat di sekelilingku
Ternyata banyak sekali gadis yang cantik
Bunga yang tak benar tidak akan disadari
Yeah! Yeah! Yeah!

Saat ku melamun terdengar music
Mengalun di Kafetaria
Tanpa sadar kuikuti iramanya
Dan ujung jari pun mulai bergerak

Perasaanku ini tak dapat berhenti
Come on! Come on! Come on! Baby!
Tolong ramalkanlah

Yang mencinta Fortune Cookies
Masa depan tidak akan seburuk itu
Hey! Hey! Hey!
Mengembangkan senyuman kan
membawa keberuntungan

Fortune Cookie berbentuk hati
Nasib lebih baiklah dari hari ini
Hey! Hey! Hey! Hey! Hey! Hey!

Janganlah menyerah dalam menjalani
hidup
Akan datang keajaiban yang tak
terduga
Ku punya firasat tuk bisa saling
mencinta denganmu

Ingin ungkapkan perasaan padamu
Tetapi aku tak percaya diri
Karena reaksimu terbayang di benakku
Yeah! Yeah! Yeah!

Meski cowok bilang gadis ideal
Yang punya kepribadian baik
Penampilan itu membutuhkan
Selalu hanya gandis cantik saja
Yang kan dipilih menjadi nomor Satu
Please! Please! Please! Baby
Lihatlah diriku

Yang mencinta fortune cookies
cangkang itu ayo cepat pecahkan saja
Hey! Hey! Hey!
Apa yang kan terjadi siapapun tak ada
yang tahu

Air mata fortune cookies
Aku mohon jangan menjadi hal yang
buruk
Hey! Hey! Hey! Hey! Hey! Hey!

Dunia ini kan dipenuhi oleh cinta
Esok hari akan berhembus angin yang
baru
Yang membuat kita terlupa akan hal
yang menyedihkan

Come on! Come on! Come on! Baby!
Tolong ramalkanlah
Yang mencinta Fortune Cookies
Masa depan tidak akan seburuk itu
Hey! Hey! Hey!
Mengembangkan senyuman kan
membawa keberuntungan

Fortune Cookie berbentuk hati
Nasib lebih baiklah dari hari ini
Hey! Hey! Hey! Hey! Hey! Hey!

Janganlah menyerah dalam menjalani hidup
Akan datang keajaiban yang tak terduga
Ku punya firasat tuk bisa saling mencinta denganmu

Ify tersenyum menyeka air matanya. Tak pernah terfikirkan bahwa Rio akan nembak dia dengan cara seperti ini.
“Lo boleh kedepan sekarang Fy..” ucap Rio di atas panggung, kini berdiri dan masih memegang bunga itu. Ify menurut, ia berjalan menuju panggung.
“Fy.. Gue suka sama lo.. Lo mau ngak jadi pacar gue?” tanya Rio sekali lagi. Para member terdiam. Kemudian, Nabilah bersorak,”Terima.. Terima.. Terima..” dan akhirnya semua member bersorak seperti itu.
“Gimana Fy?”
“Gue.. Gue mau Yo..” ucap Ify menyeka kembali air matanya. Para member bertepuk tangan dan Rio lompat ditempat sekali kemudian mendekati Ify dan memberikan bunga itu.
“Gue harap, kita bakalan abadi Fy..”
“Gue juga maunya begitu Yo..” dan really, seperti pada akhir cerita yang menyenangkan. Mereka berpelukan..

====================

“Kalo aku suka kamu gimana?” tanya Sivia saat dirinya dengan Gabriel sedang asik melempar batu ke danau tempat mereka biasa bersama.
“Gue udah tau kok..” ucap Sivia lembut, lalu tersenyum.
“Terus gimana?”
“Apanya?”
“Lo mau ngak jadi pacar gue?”
“Ahh Gab..” ucap Sivia masih asik melempar batu ke danau. “Gue belum mau pacaran..”
“Yah..”
“Maaf ya..”
“Iya Vi, gak apa apa.. Gue bakalan selalu nunggu elo..”
“Aishh lo baik banget..”
“Demi lo Vi..”
“Tapi Gab.. Gue ngak mau kalo lo nembak gue terus dan tanya kapan gue siap jadi pacar lo..”
“Terus lo maunya gimana?” Gabriel menggigit bibirnya keras. Ia merasa belum siap untuk menghadapi ini semua.
“Tapi gue mau lo langsung nikahin gue..” ucap Sivia bercanda. Gabriel membuang nafasnya lega.
“Yaudah habis SMA langsung kawin aja yuk..”
“Eh.. Enak aja, lo fikir gue mau apa pernikahan dini..”
“Kan tadi lo yang minta..”
“Lo kayak ngak ada harapan banget sih mukanya.. Udah jelas gue mau..”
“Hah? Serius?”
“Kenapa enggak?”
“Masa sih?”
“Lo ngak mau?”
“Beneran Vi?”
“Ah ngak jadi deh..” ucap Sivia lalu berhenti melempari batu ke danau.
“Yah Via.. Gue becanda..”
“Cape ah becanda sama lo, dibawa serius terus..”
“Yah yaudah deh.. Maaf..”
“Ada syaratnya..”
“Apa?”
“Nikahin gue ya habis gue tamat S1..” ucap Sivia mencari kesibukan.
“Kalo Tuhan izinin sih ya gue mau mau aja..”
“Beneran?”
“Iyahhh..”
“Yaudah, gue mau jadi pacar lo..”
“Ah ciee.. Besok gue ada temen deh ke Open House..”
“Lo nembak gue buat gitu doang?”
“Enggak Via.. Enggak..”
“Janji ya?”
“Iya yaampun..”
“Yaudah, jangan bohongin gue. Gue ngak suka janji palsu..”
“Iya, i’ll promise…”
“Yaudah ah.. Gue mau pulang..” ucap Sivia lalu bangkit dari bangku danau.
“Bentar..” ucap Gabriel.
“Apa?”
“Mendung nih.. Ngak mau main hujan dulu aja?” tanya Gabriel kepada Sivia.
“Boleh ah..” ucap Sivia lalu melepaskan jaketnya dan berlari merasakan gerimis yang lama lama menjadi hujan.
“GUE SAYANG SIVIA….” teriak Gabriel diantara derasnya hujan.
“GUE JUGA SAYANG SAMA GABRIEL…” teriak Sivia kemudian disambut oleh pelukan hangat Gabriel disela hujan turun.

====================

“Ag..” ucap Cakka saat mereka sedang di depan A&W. Mereka yang awalnya berniat membeli buku kemudian akhirnya makan juga di restaurant cepat saji, A&W.
“Apaan?”
“Lo serius kan mau pergi ke Opem House bareng gue?”
“Iya..”
“Kalo gitu, kita sekalian pacaran aja ya..” ucap Cakka. Agni tersedak saat akan meminum lemon tea-nya. Dan saat itu juga, pandangan Agni dan Cakka saling bertemu. Agni mencari kebohongan di mata Cakka, tetapi tak ada. Cakka benar benar tulus, fikirnya.
“Lo bener bener ngak suka ya Ag sama gue?” tanya Cakka saat melihat ekspresi Agni tersedak.
“Kata siapa?”
“Terus, lo ngapain – ”
“Lo aja sendirinya belum bilang suka sama gue..”
“Ya kalo gue nembak lo berarti gw suka sama lo..”
“Belum tentu..” ujar Agni lalu memakan ayamnya lagi.
“Yaudah..” ucap Cakka menghembuskan nafasnya.
“Gue suka sama lo, Agni. Lo mau ngak jadi pacar gue?” tanya Cakka serius. Agni terdiam cukup lama sampai akhirnya dia berkata,”Kenapa lo suka sama gue?”
“Lo itu unik. Gue udah lama suka sama lo, lo itu beda. Lo bukan tomboy, tapi peduli. Lo itu ngak – ”
“Stop.. Gw ngak suka disanjung tinggi gitu..”
“Tapi itu beneran.. Lo emang begitu..”
“Yaudah, gue mau. Tapi jangan sanjung gue lagi..”
“Tapi Ag – ”
“Lo ngak mau?”
“Bukannya gitu. Tapi.. Lo emang pantes disanjung. Lo keren, lo hebat, lo – ”
“Cak, pliss… Demi gue..” ucap Agni, Cakka terdiam. Entah kenapa ia tak bisa berhenti memuji gadis ini.
“Kita udah pacaran oke Cak.. Gue ngak keberatan dengan keberanteman kecil kita, tapi yang jelas, kita harus bisa Cakk ngelawan rasa egois kita.. Gue juga sayang lo..” ucap Agni enteng sambil memegang pipi Cakka lalu iseng menepuknya.

====================

SMA Indische penuh dengan orang yang berdatangan. Baik siswa maupun tamu. Jalan di depan sekolah dipaksa ditutup agar memenuhi tempat parkir, tentunya dengan izin polisi setempat. Gadis ini dengan anggunnya menaiki panggung dan bersiap siap untuk menjadi MC.
“Selamat datang di Sekolah Menengah Atas Indische.. Untuk pertama tama kami ingin mengucapkan terimakasih karena kalian sudah datang kesini. Kami mau mengadakan pembukaan dengan acara potong pita dan pelepasan balon oleh kepala sekolah SMA Indische..” ucap Agni membawa enjoy tugasnya saat ini. Sementara Cakka dibawah sudah memberikannya jempol dan asik merekam moment dimana Agni aktif menjadi MC sekolah.

Shilla, Agni, Ify dan Zahra melaksanakan pentas mereka dengan sukses. Sampai akhirnya malam telah tiba. Acara yang mereka tunggu-tunggu telah datang, yaitu Acara Pesta Topeng SMA Indische. Semua asik mengganti pakaian mereka sehingga toilet dan ruang ganti dari lantai 1-3 penuh. Ada juga yang mengganti baju di kelas yang telah terisi dengan kaum masing masing, tak terkecuali kelas 12-8 yang kini diisi oleh kaum hawa oleh SISAZ dan kawan kawan.
SISAZ keluar memancarkan aura yang berbeda. Semua pandangan mengarah kepada mereka. Dan akhirnya mereka menghampiri DCRAG yang menunggu mereka didekat meja panjang untuk mengambil minum. Sebelum mengarah kepada mereka, SISAZ memakai topeng mereka terlebih dahulu dan mulai mendekati DCRAG yang sudah memakai topeng dahulu.
“Lo Agni?” tanya Cakka tak percaya dengan gadis yang berada di sampingnya itu.
“Menurut lo?” tanya Agni. Cakka tersenyum, dia benar benar Agni, fikirnya.
DCRAG dan SISAZ terdiam cukup lama di bawah pohon, karena kaum adam tak berani mengajak pembicaraan dengan kaum hawa terlebih dahulu karena menurut mereka, pasangan mereka sekarang cukup cantik.
“Mmm.. Sebelumnya, gue mau ngaku dulu sama kalian..” ucap Dayat mencairkan suasana, semua pandangan mengarah kepada Dayat.
“Apa?” tanya Alvin ikut tidak betah dengan kebekuan ini.
“Sebenernya.. Gue.. Mmm, gue…” ucap gugup sambil melihat ke arah Zahra.
“Apa?” tanya Alvin lagi.
“Sebenernya aku suka sama kamu, Zahra..” ucap Dayat yang kemudian membuang muka. Semua melihat ke arah Zahra dan kembali melihat ke arah Dayat.
“Gi… Gi… Gimana Ra?” tanya Dayat kembali gugup.
“Lo malu maluin gue ah…” ucap Zahra singkat.
“Lo bisa kan sms gue, gak usah didepan mereka..” ucap Zahra hampir mau nangis.
“Gue malu, diledekin mereka nanti. Mereka belum pacaran, baru kita doang Day..” ucap Zahra. Dayat salah tingkah, menyesal dengan perbuatannya. Semua saling tatap satu sama lain.
“Maafin gue Day.. Gue juga suka sama lo. Maaf udah buat lo kecewa… Maaf..” ucap Zahra akan pergi dari sana, tetapi tangannya ditahan oleh Agni.
“Jujur Ra.. Gue udah jadian kemaren sama Cakka..” ucap Agni cepat. Semua memelototkan matanya.
“Kok bisa?” ucap Rio pelan.
“Bisalah, emang kenapa?” tanya Agni.
“Gue juga jadian kemaren sama Ify..” ucap Rio.
“Gue juga kemaren sama Shilla..” ucap Alvin.
“Kita juga kemaren..” ucap Sivia dan Gabriel bersamaan. Semua memasang tatapan cengo, apalagi Zahra dan Dayat.
“Jadi, kalian janjian?” tanya Dayat heran.
“Enggakk!?!” jawab mereka kompak. Agni memasang muka frustasi.
“Kok bisa?” tanya Agni melepas genggaman tangannya di tangan Zahra dan memegang jidatnya.
“Tapi pasti beda…” ucap Alvin yakin.. “Pasti..” lanjutnya.
“Udah jelas jelas kita sama Vin!!” ucap Agni lagi.
“Gila, gue ngak ngerti kenapa bisa begini..” ucap Cakka menghembuskan nafas beratnya.
“Gue jam 03.30 siang..” ucap Alvin, berharap nasibnya tidak kembar dengan sahabat sahabatnya.
“Gue jam 04.30..” ucap Rio setelah Alvin.
“Gue jam 05.30..” ucap Gabriel sefikiran dengan Alvin.
“Gue jam 06.30..” ucap Agni. “Sambil dinner bareng..” lanjutnya.
“Yaampun..” ucap Dayat. “Kalian… Kok bisa?” lanjutnya masih heran.
“Ashhh.. Hidup gue ngak jauh jauh dari kalian..” ucap Gabriel kini mengangkat suara.
“Hah…” ucap Sivia sambil menghembuskan nafas beratnya.
“Yaudahlah masih mending dikasih space 1 jam.. Daripada bersamaan..” ucap Shilla.
“Yaudah.. Toh pasangannya juga beda beda kan.. Nikmatin aja malem ini bareng pasangan masing masing..” ucap Ify mengambil alih perselisihan itu.
“Bener kata Ify.. Ayo kita seneng senengin malem ini..” ucap Sivia. Lalu mereka turun ke lapangan pertanda siap mengikuti pesta dansa dan topeng.
“Ra..” ucap Dayat pelan.
“Hmm?”
“Kamu nerima aku ngak?”
“Heeh..”
“Apa Ra?”
“Iya..” ucap Zahra agak membesarkan suaranya.
“Hehehe.. Makasih ya Ra.. Gue sayang sama lo..”
“Gue juga Day.. Jangan kecewain gue ya..”
“Gue janji Ra..”
Lalu merekapun bertindak layaknya pasangan sesungguhnya dengan pasangan mereka masing masing.

Selesai…

Yeee akhirnya selesai. Makasih buat yang udah baca, i love you so much.. Makasih udah dihargain dengan like/comment, sehingga saya tidak merasa seperti membuat cerita bagi patung..

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Tanpa Judul – Part 6 [Cerbung Idola Cilik / IC / ICIL ]

“Ashh, sesuatu yang gue takutin terjadi juga kan..” ucap Ify sesudah mematikan panggilan dari Agni. Ia langsung mengganti baju tidurnya dengan baju layak dipakai keluar rumah dan mengecek jam tangannya.
“Ck udah jam 08.45 mana ada angkot lewat..” desis Ify pelan. Lalu, ia mencari orang yang pas yang bisa ia ajak ke RS Garmasi, tempat Shilla dulu dirawat.
“Cakka, lo dimana?” tanya Ify saat Cakka sudah mengangkat telefonnya.
“Udah di Garmasi, lo sendiri?”
“Aishh, gue mau otw tapi angkot pasti sepi.. Gue kepengen nebeng makanya..”
“Si Rio belom..”
“Kenapa harus anak itu sih?”
“Lo sensi bener sih Fy.. Tanya dulu sono, daripada lo gak bisa dateng?”
“Yahh…” ucap Ify kecewa dan langsung mematikan panggilannya dengan Cakka. Ify terdiam, apakah ia harus mengikuti saran Cakka atau ia menunggu taxi saja? Ah, jam segini taxi sudah sepi, takut ada penjahat, batin Ify bimbang. Ify memutarkan ponselnya dan menggigit bibir bawahnya, ia memejamkan matanya sambil berfikir lagi. Terus berfikir sampai akhirnya ia tak sadar seberapa lama ia berfikir..
“Fy..” panggil seseorang dari luar kamar. “Ada yang nyari kamu tuh..” lanjutnya.
“Ahh, Cakka lo emang baik..” desis Ify pelan. Iapun keluar kamarnya dan berkata,”Siapa ma?”
“Ngak tau deh Fy.. Dia maunya nunggu diluar..”
“Aishh tumben si Cakka..” ucap Ify pelan.
“Mau kemana sih Fy?”
“Aku mau ke Garmasi lagi ma..”
“Shilla kenapa lagi?”
“Bukan Shilla, Zahra..”
“Kenapa dia?”
“Ngak tau, makanya Ify mau nengok dulu.. Ify pergi dulu ya ma..” ucap Ify mencium tangan mamanya.
“Iya, hati hati ya Fy..” ucap mamanya memegang lembut rambut Ify, Ifypun pergi ke luar rumah dengan wajah biasa saja.
“Cakk, baik bener lu.. Untung aja gue ngak — Rio?” ucap Ify saat ia menepuk pundak orang yang ia kira Cakka ternyata Rio. Ify membuka matanya lebar lebar, tak percaya bahwa yang ada di hadapanny adalah Rio, iya, Mario Stevano.
“Naik..” ucap Rio memakai helmnya dan bersiap siap, Ify diam.
“Kenapa?” tanya Rio lagi.
“Kok bisa?”
“Naik aja susah banget sih lo..”
“Hhrrr, iya iya..” ucap Ify akhirnya naik motor Rio juga. Rio membawa motornya dengan keadaan biasa saja, takut dikira anggota genk motor oleh polisi. Selama perjalanan, keheningan tercipta. Baik Rio maupun Ify tak ada yang membuka percakapan duluan.
“Yo..” panggil Ify.
“Hmm?” balas Rio agak canggung.
“Kok lo bisa – ”
“Liat udah jam berapa..” ucap Rio agak dingin. Ify mengecek jam tangannya, jam 09.30
“Astaga..” desis Ify. “Selama itukah?” lanjutnya.
“Gue udah sampe sono, disuruh jemput lo..” ucap Rio datar.
“Yo..” ucap Ify lagi, kini Ify merasa ada yang berbeda dari Rio. Bukan Rio yang hangat, namun Rio yang cuek dan dingin.
“Apa?”
“Gue.. Gue..”
“Jangan bertele tele deh..” potong Rio tak suka dengan cara bicara Ify.
“Maaf..”
“Gak usah minta maaf. Lo mau minta maaf juga percuma, ini udah terjadi..” ucap Rio dingin. Ify berusaha setenang mungkin dan tidak menyuruh Rio terus seperti ini. Ify mencari akal agar Rio sok cuek lagi kepadanya.
“Mmm.. Sebenernya..” ucap Ify gantung.
“Gue gak beneran jadian sama Debo kok..” lanjutnya. Rio berhenti seketika itu juga, Ifypun memegang jog motor dengan sangat kuat supaya ia tidak terdorong kedepan karena rem Rio. Rio terdiam, masih dengan posisi seperti ini. Ia menarik dan membuang nafasnya berulang ulang, berusaha menstabilkan nafasnya yang masih terengah engah..
“Yo, lo kena – ”
“Lo kenapa bohong gini?”
“So.. Sorry Yo.. Gue.. Gue..”
“Basi cara lo!!” potong Rio cepat. Kini, Rio menghadap kearah Ify. Benar benar melirik Ify tajam. Ia tak tahu harus berkata apa lagi, ia sekarang sangat benci dengan gadis di hadapannya ini.
“Lo ngerasa hebat bisa ngebuat gua cemburu?” lanuut Rio, Ify kemudian menggeleng dengan cepat.
“Bukan gitu, masalahnya gue – ”
“Bacot..” potong Rio ringan, kini ia tak bisa mengontrol emosinya lagi. Ify merinding, ngeri dengan tikah laku Rio sekarang.
“Tapi Yo -”
“Turun dari motor gua..” potong Rio, Ify menaikkan alisnya, heran.
“Turun!!!” bentak Rio lagi. Ify mengeluarkan air matanya, ia tak tau harus berbuat apa sekarang.
“Lo bisa denger ngak? Gue bilang – ”
“Gue denger..” ucap Ify lalu turun dari motor Rio, ia menyeka matanya, berusaha menyembunyikan air matanya. Rio luluh, ia tak bisa membuat gadis yang ia suka menangis. Seketika, ia merasa dejavu dengan kejadian yang terjadi 6 tahun lalu..

“Ke, maaf..” ucap Rio saat dirinya dan Keke sedang ‘lunch’ di restoran cepat saji kesukaan mereka.
“Kenapa?”
“Aku belum bisa jadi yang terbaik..”
“Maksud kamu?”
“Aku terlalu hina buat kamu, kamu terlalu baik buat aku..” ucap Rio menggigit bibir bawahnya.
“Ja.. Jadi?” ucap Keke berusaha tak menunjukkan air matanya, ia menunduk dalam.
“Sebaiknya kita putus..” ucap Rio menggigit bibir bawahnya. Ini diluar dugaannya, ia hanya menjalankan tugasnya untuk mengerjai Keke karena besok ia akan ulang tahun, tetapi Keke menganggap ini serius. Ia meneteskan air matanya dan berkata,”Bisakah besok saja kita putusnya?”
“Ngg…”
“Pliss Yo..”
“Maaf Ke, ngak bisa..” ucap Rio. Keke memejamkan matanya sebentar. Ia mengarur nafasnya supaya stabil.
“Aku tau Yo..” ucap Keke pelan.
“Tapi.. Aku cinta sama kamu..” lajutnya. Rio merinding, ia seperti terpotong potong hatinya. Ia merasa ‘heart attack’ dengan ucapan Keke tadi.
“Maaf, belum bisa buat kamu nyaman..” ucap Keke lalu bangkit dari bangkunya.
“Tapi satu hal yang harus kamu tau..”
“Aku cinta sama kamu..” ucap Keke agak bergetar, terdengar jelas ia menangis, mengangis dengan terisak pelan. Lalu ia mencium pipi Rio. Rio terdiam, ia membeku. Merasakan suatu kesesalan yang merejalela dalam dirinya. Keke kembali berjalan keluar restaurant tersebut. Rio terdiam, ia berusaha mengejar dan menjelaskan, tetapi ia tak bisa. Ia merasakan hawa tak enak, merasa akan ada yang mengambil Keke.. Setelah setengah jam lebih Rio melamun, ia bangkit dari duduknya dan menyusul Keke.
Di arah jalan menuju rumah Keke, kemacetan terjadi. Riopun mengerutuki jalur yang ia lalui, ia hanya menggigit bibir bawahnya, berharap tidak terjadi apa apa.
“Gila.. Ternyata kecelakaan bro..” ucap orang disampingnya bercakap cakap, Rio berusaha tak peduli dengan omongan orang dan memikirkan sebuah kata kata yang cocok ia lontarkan kepada Keke.
“Iya bro, gue ngak bohong. Tukang ojek itu ngebawa cewe, cantik bro.. Tapi banyak banget darah di kepalanya, ngeri gue ngeliatnya..” lanjut orang itu. Rio tertarik untuk melihat orang itu dan memarkirkan motornya ke arah tritoar di pinggir jalan. Rio berjalan cepat menuju kemacetan, ia nyelip diantara motor dan mobil yang membuat jalanan penuh. Sesampainya, ia melihat sebuah mobil ambulance dan beberapa tim medis yang menangani korban. Motornya jauh terpental sekitar 20m dan sebuah tronton dipinggir jalan diperiksa oleh polisi. Rio mendekati tim medis itu dan langsung membeku melihat siapa sang korban. Keke, sedang dalam kondisi parah, sangat sangat parah.. Keke melihat ke arah Rio dan tersenyum. Rio merinding, merasa bersalah.. Keke masih menangis, kini tangisnya lebih banyak dari sebelumnya, darah yang keluar dari kepalanya juga ikut mengalir seperti air mata. Tim medis memasukkan alat bantu pernafasan pada kepala Keke dan memberikan perban di kepala Keke untuk pertolongan pertama. Lalu, saat mencoba untuk memakai perban, tim medis menggunakan alat pendeteksi jantung ‘mini’ (yang biasa dipakai pada saat darurat) kepada Keke. Rio menangis, merasa bersalah, tetapi ia tidak bisa berjalan walau hanya 1cm saja, ia hanya bisa mengedipkan matanya, tak percaya. Keke masih menangis, kini darahnya hampir menjadi air matanya, Keke menggerakkan tangannya sambil membuat bahasa isyarat yang berarti “aku cinta kamu..” dan pada saat itu juga, ia tersenyum sambil masih menangis.
“Gue juga cinta sama lo Ke, ini cuman tipuan kita kita buat besok. Kan besok kamu ulang tahun.. Ini kerjaan aku, bang Sion, Illey, Angga, Tissa, Obiet, dan yang lainnya kok Ke..” ucap Rio pelan sambil mendekati Keke.
“Kamu siapa?” ucap para tim medis.
“Saya kenal dengan gadis ini, lanjutkan saja pekerjaan kalian..”
“Ya, tetapi kamu siapa?”
“Saya pacarnya..” ucap Rio ringan. Pada saat Rio sampai di sebelah Keke, Keke mengangkat tangannya, Keke seakan berkata agar Rio memegang tangannya. Rio berfikir dahulu apakah ia akan meraih tangan Keke atau tidak. Dan pada saat Rio berniat memegang tangan Keke, tim medis selesai memperbankan kepala Keke. Riopun menggerakkan tangannya untuk memegang tangan Keke yang terangkat untuknya, alat pendeteksi jantung kecil yang dipakai Keke menujukkan tanda ‘garis’. Pada saat itu juga Rio menangis dan langsung memegang tangan Keke yang sudah dingin. Lalu ia memeluk Keke, tim medis hanya menjambaki rambut mereka, menyesal dengan perbuatan mereka yang terlalu lama memakaikan perbannya.

Rio tak ingin mengulangi kesalahannya untuk yang kedua kalinya, ia segera sadar dari lamunannya dan kembali naik ke atas motor..
“Yasudah, naik Fy..” ucap Rio. Tetapi, ia menunggu sampai 5 menit dan tidak ada yang naik juga. Jantung Rio deg-degan. Ia tak berani melihat ke arah belakang dan..
“Ify lo kemana?” ucap Rio pelan. Rio turun dari motornya dan mencari Ify yang sudah entah kemana. Rio mengedarkan pandangan ke sekitar, tetapi tetap tidak ada Ify. Iapun mencari dengan motor sampai akhirnya ia berhenti di sebuah tempat.. Yang tak pernah ia duga bahwa Ify akan masuk kesana..

====================

“Shill..” panggil Gabriel. “Kenapa mondar mandir melulu?” lanjutnya.
“Aku nyari Ify tapi dia ngak dateng dateng nih daritadi..” ucap Shilla. Baik Alvin maupun Sivia membulatkan matanya. Aku? Batin mereka. Sejak kapan mereka ngomong aku kamu? Batin mereka lagi.
“Yaudahlah, paling bentar lagi juga nyampe..” ucap Gabriel tenang. Cakka ikut memalingkan pandangannya pada jam tangannya.
“Waduh, jam 10.30 belum pada dateng juga?” ucap Cakka heran.
“Mereka kemana aja sih?” tanya Agni heran. “Apa mereka dinner dulu gitu?” lanjutnya.
“Impossible..” jawab Cakka.
“Apa mereka berantem dulu?” ucap Dayat membuka suara. “Kan Rio masih syok liat Ify jadian sama Debo..” lanjut Dayat. Cakka memutarkan bola matanya, berfikir dengan jernih apakah itu bisa saja terjadi.
“Mungkin aja sih..” ucap Cakka. Sementara Agni, Shilla, Alvin, Gabriel dan Sivia membulatkan matanya. Mereka tak percaya bahwa Ify benar benar jadian dengan Debo.
“Hah? Masa?” tanya Agni sangat tidak percaya.
“Iyalah, ngapain kita bohong..” ucap Cakka.
“Gila..” ucap Agni menarik nafas sambil memegangi jidatnya, berusaha tak panik.
“Pasti Rio broke banget..” lanjutnya.
“Pastilah, pasti banget..” ucap Gabriel. Kini baik Alvin, maupun Agni menunjukkan wajah khawatir, khawatir takut apa apa terjadi..
“Ngg..” ucap Shilla melihat ke arah Sivia yang juga heran. “Apa yang lo fikirin sama dengan yang gue fikirin Vi?” lanjut Shilla.
“Mungkin Shill…” balas Sivia.
“Apa yang lo fikirin Vi?” tanya Shilla lagi.
“Kan Debo sama Ify….” ucap Sivia melihat ke arah Shilla, seakan meminta pertolongan Shilla untuk menjawab secara bersama sama.
“Saudaraan?” ucap Shilla dan Sivia bersamaan.
“Hah?” ucap mereka membuka mulut mereka seakan tak percaya..
“Apa jangan jangan…” ucap Cakka gantung.
“Ashhh…” desis Agni. “Banyak banget yang suka jadi dramaqueen..” lanjutnya. Baik Gabriel Shilla Alvin Sivia terdiam, Agni seakan menyindir mereka juga. Entah kenapa Agni tak merasa menyindir mereka karena memang tidak menyindir mereka, dan Agni malah menanyakan pendapatnya pada Sivia.
“Ya kan Vi?” tanya Agni.
“Vi?” tanya Agni karena tak dapat jawaban.
“Eh, apa?”
“Banyak banget disini yang jadi dramaqueen..” ucap Agni.
“Yah, mana gue tau..” ucap Sivia berusaha tak acuh.
“Ck.. Lo kan tau kal – ”
“Telfon Debo aja minta keterangan..” ucap Shilla mencairkan suasana. “Toh nomor Ify sama Alvin ga bisa dihubungin..” lanjutnya.
“Ide bagus..” ucap Agni yang lalu membuka ponselnya dan menelfon Debo, mantan ketua kelas di kelas Agni waktu kelas 9.
“Tapi, gue ngak tau nomornya masih yang ini apa bukan..” lanjutnya.
“Selaw..” ucap Gabriel. “Yang penting ada..” lanjutnya. Agnipun menelfon Debo, benar, sudah tidak aktif lagi. Tak lama dokter keluar dari ruangan Zahra..
“Gimana dok?” tanya Dayat yang paling semangat.
“Kalian bisa melihat dia di dalam sekarang..” ucap sang dokter.
“Baik..” ucap Dayat semangat dan memasuki ruangan diikuti oleh teman temannya. Sementara Shilla diam dam tetap terdiam di tempat, saat semua sudah masuk ke dalam kamar rawat Zahra dia berkata dengan pelan,”Gue harus menyelesaikannya hari ini juga..”
“Iya, hari ini Shil..” lanjutnya.
“Ngak peduli apapun yang terjadi..”
“Lebih baik lo jujur daripada lo sesek Shil..”
“Iya, pulang dari sini gue harus jujur..” ucap Shilla lalu memasuki ruang rawat Zahra.

====================

“Fy..” panggil Rio saat ia menemukan bahwa Ify sedang berjalan di antara rel kereta api. Ify sepertinya tak mendengar teriakan Rio, ia tetap berjalan di atas rel itu. Rio berusaha mengejar Ify, sesampainya di atas rel pertama, seseorang berteriak,”Mbak, awas mbak!!!” Rio melihat ke arah orang itu, orang itu adalah satpam stasiun kereta jayakarta, stasiun terpadat dan tak pernah sepi pemberangkatan dari jaman dahulu. Tetapi sekarang situasi berbeda, hanya ada seorang satpam dan beberapa orang di dalam stasiun, menunggu kereta. Rio melihat ke arah kiri dan kanan, tepat Ify berada pada rel ke-enam dan kereta akan lewat pada rel ke-sembilan. Rio dengan sigap berlari mengejar Ify yang bisa dikatakan ‘seperti orang yang sedang mabuk’ saat ini tak mendengar teriakan satpam. Rio berlari sambil meneriakan nama ‘IFY’ dan berharap Ify mendengarnya. Tetapi, tidak!! Ify sudah berada di rel ketujuh sementara Rio masih di rel ke-empat. Jarak antara beberapa rel sekitar 5m, Rio merasa sedikit pegal karena jarak antara rel satu dengan lainnya itu jalurnya naik turun, bukan lurus, apalagi ditambahi bebatuan besar maupun jutaan kerikil yang menjadi penghalang antara kerikil satu dengan lainnya. Tetapi, semangat tak mau kehilangan orang yang ia cintai membuat Rio tak mengenal ‘pegal’ atau ‘lelah’ ia tak merasa percuma meneriakan dan mengejar Ify. Ify semakin dekat, kini Ify sedang berusaha melewati rel kedelapan, Rio dengan ‘super speed’nya mengejar Ify, kini ia berada di rel keenam. Dengan tenaga super ekstra ia melewati rel ketujuh, dan kedelapan. Tinggal dualangkah lagi Ify mencapai rel kesembilan dan tinggal beberapa detik lagi kereta akan sampai di depan Ify, Rio tak peduli seberapa keringat yang muncul pada dahinya, ia akhirnya sampai di rel kedelapan dan dengan sedikit melompat, ia menarik tangan Ify sehingga Ify tertarik ke belakang, menimpa badan Rio yang mendarat dahulu di atas rel penuh dengan batu dan kerikil. Kereta pun lewat dengan kencangnya di hadapan Rio maupun Ify, Rio tersadar dan masih memegang tangan Ify yang ia raih tadi, sementara Ify masih shock dengan yang terjadi.
“Fy, bangun dari badan gue dulu Fy..” ucap Rio kepada Ify. Ify berusaha menarik tangannya dari Rio tetapi Rio menggeleng dan berkata,”Jangan lepasin tangan lo buat gue Fy, lo cukup duduk dulu aja, gue cuman butuh bernafas dengan mengenggam tangan lo..” Ify menaikkan alisnya, heran dengan apa yang terjadi. Saat beberapa menit kemudian, Rio menaikkan wajahnya, sehingga Ify dapat melihat dengan jelas darah yang ada pada alis Rio atau pada pipi Rio atau dibawah bibir Rio, itu adalah darah pengorbanan diri Rio untuk Ify. Rio rela wajahnya terkena serpihan batu sehingga berdarah atau lebih parah lagi, ada kawat disana sehingga di pipi Rio terbentuk sebuah goresan panjang dari alis sampai dagu Rio, Ify terkejut, ia tak menyangka bahwa Rio melakukan ini untuk dirinya.
“Fy..”
“Gue ngak mau ngulangin kesalahan gue untuk yang kedua kalinya..”
“Gue ngak mau ngulangin kesalahan gue lagi Fy..”
“Maksud lo?” tanya Ify heran.
“Gue.. Ngak mau telat megang tangan lo, karena gue ngak mau kehilangan orang yang gue cintai untuk yang kedua kalinya..” ucap Rio lagi, kini ia bangun dari posisi ‘tengkurep’nya, Ifypun bangun dari posisi duduknya, kini Rio dan Ify berdiri, saling menatap satu sama lain, tanpa melepas genggaman tangan yang masih mereka lakukan.
“Lo kenapa ngelakuin ini Yo?” tanya Ify kaget. Rio hanya tersenyum, walau darah masih mengalir dari bawah ujung mulutnya, Ify menitikkan air matanya, ia tak percaya dengan apa yang Rio lakukan.
“Gue ngak mau kehilangan lo Fy..”
“Tapi… Kenapa Yo?”
“Gue sayang sama lo Fy..” ucap Rio kini memeluk Ify, tangan Rio terlepas memegang tangan Ify, dan memeluk Ify dengan kedua tangannya, Ify membalas pelukan Rio.
“Gue.. Gue juga Yo..” ucap Ify menitikkan air matanya dan jatuh di baju Rio. Lalu, samar samar terlihat cahaya dari arah kanan Rio, Rio menoleh, ternyata akan ada kereta yang akan jalan di rel itu, Riopun berbisik kepada Ify,”Gue rela mati jika itu di pelukan lo Fy, lo boleh mundur Fy.. Biarkan gue mati tapi jangan lepas pelukan lo Fy..” Ify menjatuhkan air matanya dan membalas ucapan Rio,”Gue baru aja merasakan rasanya perasaan gue terbalaskan. Apakah gue tetep harus ngebiarin lo, orang pertama yang melakukan itu mati sia sia? Yo, ikut gue, mundur Yo..”
“Ngak Fy, gue mending mati dengan keadaan begini daripada harus dirumah sakit segala..” balas Rio.
“Oke, gue ikut lo Yo.. Jangan lepas pelukan lo juga Yo..” balas Ify.
“Jangan gila Fy, lo ngak boleh gini..”
“Gue ngak mungkin rela kehilangan orang pertama yang ngebales perasaan gue dengan perasaan yang sama Yo..”
“Fy, beberapa detik lagi kereta bakal nabrak gue Fy.. Pliss mundur..”
“Gue ngak mau..” bebal Ify. Rio melihat ke arah kanannya, sekitar 40 detik lagi kereta itu akan menabraknya dengan Ify. Ia menghitung waktu, 40… 39… 38…
“Yo, lo serius?”
“Gue serius Fy, lo berubah pikiran boleh mundur. Gue cinta sama lo Fy, gue sayang sama lo..” balas Rio. Ify menangis, berfikir bahwa tak pernah melakukan hal yang lebih gila daripada hal ini.
“Tapi Debo Fy?”
“Gue sama dia cuman bercandaan doang Yo.. Debo itu sepupu gue, dia lagian udah jadian sama cewe lain kok Yo..” ucap Ify.
“Lo ngak jadian sama dia kan?” tanya Rio.
“Ngak Yo, dia cuman sepupu gue.. Gue ngak suka sama dia, gue suka sama lo..” Rio tersenyum, lalu ia berkata,”Gue cinta sama lo..” Rio terus menghitung waktu.. 12.. 11.. 10… 9…
“Gue juga cinta sama lo Yo..” ucap Ify, Rio perlahan merubah gerakannya menjadi mencium jidat Ify. Ify masih memeluk Rio. Rio melirik matanya ke aeah kanan, lalu Rio agak mendorong Ify kebelakang, Ify terdorong namun kemudian Rio berbalik mundur karena melihat sesosok cahaya, yang sedang berdebat dengan cahaya lainnya. 5… 4… 3… 2… Ify memejamkan matanya, Rio masih rileks daaannnnnnn……
“Selamat ulang tahun lebih 2 minggu, Alyssa…” bisik Rio. Ify membuka matanya lebar lebar, ternyata kereta itu berjalan dibelakang Rio. Ify terkaget dan melepaskan pelukan Rio. Ia memukul dada bidang Rio dan menangis dengan derasnya.
“Lo tega Yo..” ucap Ify, Rio menarik tangan Ify dan memeluknya lagi.
“Sorry Fy, sumpah demi apapun juga gue dari awal emang mau nyelametin lo.. Ini bukan skenario gue, gue baru sadar kalo kereta itu bakalan jalan di belakang gue pada saat detik ke 6..” ucap Rio sunggu sungguh, kini ia tak melepas pelukan Rio.
“Bohong..”
“Sumpah Fy, apa lo ngak ngerasa tadi gue ngedorong lo kebelakang?” tanya Rio. Ify mengangguk lemah, “Gue baru sadar kalo arah cahayanya di belakang gue..” lanjut Rio. Ify masih menangis, kini makin kencang. Ia mengangguk dan berkata,”Apa ucapan lo juga skenario lo Yo?”
“Asssshhhhh Fy, gue ngak punya skenario apapun, hanya 6 detik lalu skenario gua..” ucap Rio pelan, lalu Ify melepas pelukan Rio dan melihat ke arah Rio.
“Serius?” tanya Ify.
“Iya, hari ini gue serius..” Rio mengangkat tangannya, bermaksud supaya Ify meraih tangannya. Ifypun meraih tangan Rio, bersama Rio mereka berjalan menuju stasiun.
“Mmm, Fy..”
“Apa Yo?”
“Maaf gue tadi ngerjain lo..”
“Ngak apa apa Yo..” ucap Ify tersenyum tulus. “Tapi jangan keseringan juga..” lanjutnya.
“Yaa, kalo lo mulai sih ya gue ladenin..”
“Lah kok?”
“Iyalah, kita 1-1 sekarang.. Lo bohongin gue tentang Debo, gue tentang kejadian tadi..” ucap Rio. Ify mulai menaikkan alisnya dengan tatapan sinis, sedetik kemudian ia kembali seperti biasa dan tak memfikirkan perkataan Rio tadi.
“Kok ngak marah Fy?”
“Ngak apa apa.. Lo udah jujur kan tadi?”
“Mmm, iya Fy.. Gue bener bener suka sama lo..” ucap Rio. Pipi Ify memerah, dan akhirnya mereka berjalan dari rel empat menuju stasiun dengan keheningan tercipta. Dari jauh, dari rel kedelapan, seorang wanita berbaju putih dengan rambut panjang tersenyum, wanita dalam wujud roh itupun tersenyum puas dan berkata perlahan,”Kamu bener bener belajar dari pengalaman kamu Yo.. Aku ngak nyesel dulu nuker 2 hari terakhir aku buat meninggal agar suatu saat nanti aku bisa melakukan 2 hal demi kamu, Yo.. Emang seharusnya aku meninggal setelah ulang tahun, tetapi aku berani menukarnya supaya aku masih bisa jaga kamu, dan aku udah pake 2 kali, saat nyelametin kamu dan cewe itu tadi sekaligus merubah arah jalur rel kereta yang mau nabrak kamu..” Rio menengok ke arah belakang, ia melihat wanita itu dan wanita itu melambaikan tangan dan menghilang. Rio tidak merinding, ia malahan tersenyum sambil berkata,”Makasih Ke.. Aku tadi liat kamu agak nahan kereta yang bakalan nabrak Ify supaya aku bisa ngeraih tangan Ify dan kamu ngerubah jalur rel saat aku nengok ke arah kanan, maafin aku tentang kesalahan aku dulu…” Rio kemudian berjalan kembali dengan Ify dan menaiki motor Rio dan berangkat menuju RS Garmasi.

====================

“Kalian dari mana aja?” tanya Agni saat Rio dan Ify sampai di kamar rawat Zahra.
“Ada deh Ag..” ucap Rio masih mengenggam tangan Ify. Semua perhatian tertuju pada tangan Ify dan Rio.
“Ohhh..” ucap Sivia agak dikeras-keraskan. Ify bingung mengapa Sivia bersikap seperti itu, Sivia mengarahkan matanya ke tangan Ify dan Rio. Ify dan Rio menyadari arah tatapan Sivia dan langsung melepaskan genggaman tangan mereka, baik Ify maupun Rio salah tingkah dan mencari kesibukan masing masing.
“Baikkan?” tanya Sivia lagi.
“Apaan sih?!” ucap Ify.
“Dia udah tau belum kalo lu sama Debo it – ”
“Udah..” potong Rio. Ify mengalihkan pandangan kepada ranjang Zahra. Sementara semuanya langsung ber”o” ria karena mendapati bahwa Ify dan Debo tidak benar benar jadian.
“Dia kenapa?” tanya Ify melihat perlan di jidat Zahra.
“Kecelakaan kecil, besok katanya udah bisa siuman..” kata Dayat mewakilkan semuanya.
“Ahh, padahal jam 7-an gue masih telfonan sama dia..” ucap Ify.
“Jam 7?” ucap Dayat.
“Iya..” ucap Ify.
“Perasaan jam 7 gue yang nelfon dia..” ceplos Dayat, semua teman temannya memandang Dayat dengan pandangan menggoda.
“Ohh, jadi Dayat nelfon Zahra malem malem..” ucap Agni. “Pantes Zahra awalnya ngelarang gue maen di rumahnya..” lanjutnya.
“Astaga..” ucap Daya geleng geleng menyesali perbuatannya tadi.
“Eh iya deh Day, gue jam 06.45 selesai telfonan sama Ara..”
“Errr Ify, gue jadi keceplosan gara gara lo kan..” ucap Dayat tajam.
“Hehe, peace.. Dia kecelakaan gimana?”
“Yah, cuman jatoh dari tangga doang sih, tapi darahnya banyak yang kebuang Fy..” ucap Dayat. Ify hanya geleng geleng sambil bergumam ngak jelas.
“Oh ya, nih gue sama Ify tadi bawain nasi goreng..” ucap Rio. Rio menaruh nasi goreng itu diatas meja kamar rawat Zahra.
“Ah yo, ini udah jam berapa coba..” ucap Sivia mendekati Rio yang masih berdiri dekat meja itu. Rio mengecek ponselnya, matanya membulat sempurna dengan jam yang ditunjukkan oleh ponselnya itu.
“Gila, jam 11.45 ? Ahh, kita ngapain aja tadi Fy?” ucap Rio tak percaya.
“Gak apa apa lah Yo, yang penting gue ngerasa bahagia tadi..” ucap Ify. Semua menaikkan alis mereka.
“Bahagia kenapa Fy?” tanya Cakka, perwakilan.
“Ah Cakka, kepo sekali..” ucap Ify.
“Yah walaupun udah jam 11.45 malem tapi gak apa apalah ini daripada nganggur..” ucap Sivia lalu mengambil sebungkus nasi goreng yang Rio dan Ify bawa.
“Iya, gue beli banyak. Gue beli 10..” ucap Rio. “Manatau ada yang mau nambah..” lanjutnya.
“Gila, ini udah malem Yo.. Lo kira kita rakus?” ucap Cakka, Rio menaikkan alisnya, tidak seperti biasanya, batinnya.
“Ah, tapi karena Rio udah beli banyak yaudah gue 3 gak mau tau pokoknya gue 3..” lanjut Cakka. Rio membuang nafasnya dan mendapatkan inti bahwa, Cakka tidak benar benar kerasukan.
“Yaelah, Cakka sama Sivia rakus amat..” ucap Dayat geleng geleng kepala. “Lo gak ikutan Ag?” lanjutnya.
“Yah, apa boleh buat..” ucap Agni.
“Vin, makan jangan main hp mulu..” panggil Sivia.
“Bentar; gue masih hutang tugas kimia sama Pa Duta.. Ya kalo gue bisa kirim email sekarang ya sekarang aja..” ucap Alvin.
“Pinter.. Copy buat gue ya..” ucap Sivia.
“Yeh, enak aja.. Lo kira gue ngak stress daritadi ngedit sana sini?” ucap Alvin. “Gue ngak mau keliatan copas banget..” lanjutnya.
“Yaelah sekali kali baik gitu sama temen lu, apalagi yang paling canteks ini..” ucap Sivia sambil makan lagi.
“Iya canteks, tapi amberegul..”
“Yeh, ini semok, bukan amberegul..” lawan Sivia.
“Ayolah Vin, lo ngak usah urusin tugas itu mulu. Nih makan..” ucap Rio sambil melempar sebungkus nasi goreng, dengan sigap Alvin menangkapnya.
“Fy, Day.. Makan dulu nih..” tawar Rio.
“Iya ah, gue juga laper nih..”ucap Dayat lalu menghampiri Rio.
“Ah, gue nanti aja..” ucap Ify dan duduk di bangku samping ranjang Zahra.
“Lo mau berapa jatahnya?” tanya Rio.
“Ya elah satu aja lebih..” ucap Ify.
“Makan satu aja susah banget lo, pantes cungkring..”
“Hina aja terus..” ucap Ify, Rio hanya nyengir sebagai permintaan maafnya.
“Eh sisa 2 nih.. Siapa yang belom dapet?” ucap Rio.
“Buat tambah aja nanti..” ucap Dayat. Rio meng-iya-kan.
“Oh iya, Gabriel Shilla gak ada suaranya?” tanya Rio lagi. Sekarang, semua anak mencari cari sosok Gabriel Shilla. Dan benar, mereka tak ada disana. Seketika mimik wajah Alvin dan Sivia berubah.
“Eh Fy.. Liat?” tanya Agni kepada Ify.
“Nggg, liat..” ucap Ify. Semua melotot, apalagi Sivia dan Alvin.
“Dimana?” tanya Sivia cepat.
“Disana…” tunjuk Ify pada kursi di pojok yang bersebrangan dengan tempat tidur Zahra. Semua memalingkan pandangannya ke arah Gabriel Shilla. Baik Sivia maupun Alvin terbakar api cemburu. Gabriel tiduran atas kursi dengan kepalanya di atas paha Shilla. Sementara Shilla tertidur dengan posisi terduduk.
“Eh, jam 1 kita semua pulang ya..” ucap Agni mencairkan suasana. “Besok masih ada glady resik buat Open House..” lanjutnya.
“Gue disini deh..” ucap Dayat. “Gue ngak ikutan glady resik besok. Ngak ngisi acara..” lanjutnya.
“Yaudah kita semua pulang berarti ya.. Lo disini sendirian..” ucap Agni lagi. Baik Rio, Alvin, Cakka dan Sivia tidak angkat suara karena asik makan..
“Iya.. Gak apa apa..” balas Dayat.

“WOY!!!!” amuk Sivia setelah ia dan teman temannya berkali kali meneriaki Shilla dan Gabriel agar bangun. Baik Shilla maupun Gabriel setelah mendengar teriakan Sivia langsung terbangun. Terlihat jelas amarah di mata Sivia, sementara Gabriel dan Shilla merasa sangat bersalah.
“Kita semua pulang.. Cepat beres beres..” ucap Sivia datar dan langsung pergi dari ruangan rawat Zahra. Gabrielpun mengejar Sivia lalu semuanya keluar kamar meninggalkan Dayat disana yang akan bersama Zahra.
“Day, gue udah sms mamanya Zahra, besok dia kesini.. Jagain Zahra ya, jangan sampe kenapa napa..” ucap Agni. Dayat hanya mengangguk karena sudah mengantuk.
“Gue salah Vi.. Maaf..” ucap Gabriel kepada Sivia sambil meraih tangan Sivia saat mereka keluar dari rumah sakit. Alvin hanya membiarkan hal itu terjadi dan mendekati Shilla. Sivia diam, ia sedang memberontak tetapi tidak bisa. Ia tetap mencintai pria ini, pria yang sudah lama mencuri hatinya ini. Tak lama, Sivia memejamkan matanya, tak bisa berkata apa apa.
“Lo kenapa Vi?”
“Gue salah Vi? Emang..”
“Tap – ”
“Stop Gab.. Stop..” potong Sivia. “Gue udah maafin lo dari awal..” lanjutnya.
“Jadi, lo mau – ”
“Ngak..” ucap Sivia ringan. “Gue masih gamau deket sama lo, sorry.. Entah kenapa hati gue – ”
“Gue tau lo bohong..” potong Gabriel.
“Apa buktinya?”
“Ini buktinya..” ucap Gabriel lalu mencium pipi Sivia. Sivia hanya terdiam, ia tak bisa berkata apa apa sekarang. Jantungnya berdetak tak karuan, ia berusaha menyembunyikan senyumnya tetapi gagal. Ia tak bisa menyembunyikan bagian speechleess dirinya, ia tak bisa menyembunyikan sebuah rona yang ada di pipi putihnya, rona merah yang membuatnya semakin lucu, menurut Gabriel. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan kangennya dengan pria ini, atau perasaan kangennya dengan kecupan di pipinya atau percakapan ringan seperti ini.
“Nah, lo bohong kan..”
“Kalo lo bener bener suka sama Alvin, lo ngak mungkin merubah warna pipi lo itu Vi..” lanjut Gabriel.
“Kalo lo bener bener suka sama Alvin, lo ngak mungkin – ” omongan Gabriel terpotong dengan tubuh Sivia yang kini memeluknya. Sudah lama aku tidak merasakan hal ini, fikir Sivia dan Gabriel bersamaan. Gabriel diam sambil tersenyum, kemudian perlahan tapi pasti, ia memegang rambut Sivia dan mengusapnya. Lalu membalas pelukan Sivia sebentar dan melepaskannya.
“Gue bener bener sayang sama lo.. Maaf buat penantian lo yang panjang, gue harus berterimakasih sama Alvin. Kalo ngak gini, gue ngak mungkin bisa deket lagi sama lo..” ucap Gabriel singkat. Sivia tersenyum sambil mengangguk. Gue seneng liat sifat lo yang begini Vi, batin Gabriel.
“Yaudah yuk pulang..” ucap Gabriel. Sivia mengangguk, lalu Gabriel mengenggam tangan Sivia menuju parkiran dan pulang bersamanya.
“Besok ke acara Glady Resik-nya aku jemput ya..” ucap Gabriel saat Sivia sudah naik di atas jok motornya.
“Iya, jangan telat ya..” ucap Sivia. Gabriel mengangguk dan menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, sedikit gerogi memang karena sudah lama tak membonceng wanita di belakangnya ini.

====================

“Shill..” panggil Alvin saat Shilla menunggu Gabriel di arah parkiran.
“Ya?” ucap Shilla berusaha sedatar mungkin.
“Sini aku anterin pulang..” ucap Alvin, Shilla menggigit bibir dibawahnya.
“Gue.. Sama Gabriel..”
“Yakin?” tanya Alvin. Shilla mengangguk, “Gabriel udah sama Sivia duluan loh..” lanjut Alvin. Shilla menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah Alvin.
“Shill..” ucap Alvin sambil memegang wajah Shilla. Shilla deg-deg-an ngak karuan.
“Aku capek begini melulu..” ucap Alvin.
“Aku sama Sivia udah mutusin buat mengakhiri semua drama ini..” lanjut Alvin.
“Aku juga..” ucap Shilla. “Aku udah ngerencanain bakalan mengakhiri ini semua hari ini, dan kamu memulainya duluan..” ucap Shilla. Tanpa disadari, Shilla memeluk Alvin. Baik Shilla maupun Alvin merasakan dejavu yang sangat berat. Dan akhirnya mereka terlarut dalam kisah cinta mereka yang sudah lama tak mereka asah.

Bersambung..

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Question and Mysteri of Tanpa Judul Story

Hai maaf ada jeda sebentar sebelum dilanjutin part 6. Kan ceritanya sebentar lagi udah mau tamat, kalo ngak part 7 ya part 8.. Mungkin kalo lagi niat bisa part 9 atau 10 atau berapalah itu, liat nanti aja.. Jadi, aku tau kalian pasti berfikir bahwa cerbung “gaje” ini memiliki misteri tersendiri yang kalo dibaca dari part 1 gak akan nyambung ceritanya. Jadi, gue tampung semua pertanyaan kepo kalian yang masuk di akun socmed twitter (@Vebbyyy_) atau comment ig (@vebykristianty) ataupun comment di blog ini. Jadi, karena kalian ngingetin gue dengan pertanyaan itu, saya jadi sadar kalau cerbung saya memang memiliki misteri tersendiri.. Jadi, disini saya hanya akan memberikan konfirmasi untuk jawaban pertanyaan pertanyaan kalian. Dan doakan saja pada part 6-tamat bakalan nyambung dan klop kalo dibaca dari part 1 (termaksud ngebaca ini)

1.)Q =  Kok Ify dikatain jbl tapi dari sifat tokoh tokohnya ngak menunjukkan membenci Ify karena sifat jbl-nya?
Answer = Iya, Ify kan lagi itu ‘ceritanya’ dibenci temen temennya gara gara labil, antara suka Rio atau Alvin atau siapapun (part 1) tetapi lama kelamaan teman temannya sadar dan tau diri kalo menghina Ify sama saja akan membuat genk SISAZ hancur..

2.) Q = Kak, katanya Alvin di skors seminggu, tapi kok besoknya dia ikut ekskul basket terus ke kamar rawat Shilla? Makasih sebelumnya kak, maaf buat kakak tersinggung.
Answer = Iya, itu keteledoran aku.. Maaf ya sebelumnya jadi di part 3 itu, aku mau ceritain kalo Alvin itu dapet penghapusan skors karena saksi mata di kelas banyak dan bilang kalo Salma emang ‘biang kerok’nya. Nah, file cerpen ini kehapus jadi aku terpaksa buat file baru (yang skrng udh dipost) nah di file baru ini aku lupa buat adegan itu. Haduh maaf ya, maaf banget.. Iya gapapa, aku malahan berterimakasih karena kamu udah ngingetin..

3.) Q = Katanya Sivia privat tinju kok gak bisa ngedobrak pintu gudang?
Answer = Kan dikunci, mau diapain juga gabisa kalo ditonjok tonjok doang, hehe..

4.) Q = Kak, kok di part 2 dibilang Shilla patah tulang, kepala bocor, perlu dijait tapi di part 3 dibilang Shilla amnesia?
Answer = Hyaaa, setelah aku baca lagi emang bener bener aneh sih, tapi cuman kamu doang yang teliti, hehe. Kan aku baca lagi jaraknya dia kecelakaan sama amnesia kan 2 hari. Jadi dari sampe rumah sakit sampe hari pertama itu Shilla udah diperban di gips segala macem. Emang aku tau ngak akan mungkin patah tulang sehari selesai, jadi aku umpamakan RS Garmasi itu rumah sakit international yang pengerjaannya cepat, jadi sehari di operasi dan selesai, sudah ngak patah tulang. Dan kan dia terbentur jadi masih nyambung sedikit lah dia amnesia😉 Yah walaupun di cerita sehari setelah amnesia bisa sadar, seharusnya gak bisa jalan kan ada tulang yang patah tapi anggep aja RS Garmasi itu ajaib bisa cepet sembuh.. Haha, sorry ya buat keteledoran aku🙂

5.) Q = Kak banyak yang request cerbung BaDai noh, kapan dibuat?
Answer = Di cerbung Tanpa Judul ngak bisa nih ngasih peran baru. Walaupun di part 2 atau 3 ada peran Bagas jadi adenya Sivia tapi aku takutnya berbelit dan malah menimbulkan banyak misteri. Mungkin cerbung lainnya habis tanpa judul yaa..

6.) Q = Kak This Feel kapan dilanjut?
Answer = Hyaaa, aku males banget ngelanjut This Feel sebenernya udah part 4an filenya, tapi filenya dibuka terus isinya diganti sama ketikan random (ex : labwhdba.?+#hsjshxu) sama adik aku yang masih kelas 1 SD-_- Jadi harus ngulangin dari awal deh, tapi malahan jadi males. Lagi fokus nyelesain Tanpa Judul, hehe.. Sorry ya😦

7.) Q = Kak cinta sesama jenis kayaknya absurd deh, tapi aneh aja soalnya tokohnya bukan anak icil, coba deh ganti jadi anak icil pasti seru tuh, hahaha…
Answer = Sebenernya itu buat have fun aja buat seneng seneng sama temen temen sekelas, eh tokoh ‘Frans’ marah sama aku gara gara dibuatin tokoh begitu. Apalagi tokoh ‘Ronald’ yang bawel banget ngak sudi dibilang nembak si ‘Frans’ ya daripada aku dihajar mending udahin aja cerbungnya.. Wah, dibuat versi IC? Hyaa, kreatif juga tuh.. Haha, aku fikirin lagi sambil sesekali liatin lagi ya cocok apa enggak, makasih banget loh sarannya..

8.) Q = Kak di award topten ada nominate cerbung tanpa judul, katanya tokohnya Alvia kok jadi Siviel?
Answer = Mmm, setelah aku buka ternyata emang ada yah, yaampun jadi judulnya sama dong? Halaahh.. Yang di topten itu kayaknya cerbung oranglain deh bukan cerbungku, hehe..

9.) Q = Kak, di Tanpa Judul masukin DifAngel sama RaSha dong..
Answer = Aku juga maunya gitu tp ya gimana takutnya misteri di Tanpa Judul makin banyak lagi, maaf ya.. Maaafffff banget, kayaknya next cerbung aja, sorry😦

10.) Q = Kak, kok cerita Zahra Dayat lebih menarik daripada Rio Ify?
Answer = Jujur, awalnya ngebuat cerpen ini cuman buat ngilangin bosen aja jadi ngak ada perencanaan khusus atau apapun, hehe..

Cuman segitu? Ada lagi yang mau ditanya? Biar ditampung lagi nih, hehe.. Thanks before, kritik saran ditunggu yaa..

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.